Berdoa Sederhana
Matius 6: 7-15
Kamis, 20 Juni 2019
Hari Biasa Pekan XI
Oleh Rm. Djoko S. Prakosa Pr, Rektor Seminari Tinggi
Kentungan, Yogyakarta
1. Doa adalah ibadah jiwa, bukan ibadah mulut. Dalam kotbah di bukit Yesus mengajar tentang doa dan bagaimana berdoa : “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Ia menegaskan bahwa kekuatan doa tidak terletak pada banyaknya kata-kata. Lantunan doa yang panjang dan yang bertele-tele bisa menjadi doa yang membosankan dan kering dan akibatnya kehilangan maknanya. Yesus mengkritik praktek doa yang mejadi ajang pamer aneka perasaan dan permintaan. Yesus mengkritik praktek doa ini karena mereka menyangka bahwa Allah sama dengan diri mereka, sehingga membutuhkan banyak kata agar bisa memahami apa yang disampaikan kepada-Nya atau supaya dapat membuat-Nya menuruti permintaan mereka. Ia tidak melarang doa yang panjang. Ia mengkritik praktek doa yang menjadi ibadah mulut ketimbang ibadah jiwa. Doa bukan kerja mulut.
Di sisi lain Yesus memberi peneguhan dan mendorong kita, para murid-Nya, untuk terus-menerus mengarahkan diri kepada Bapa. Bapa adalah sosok Pribadi yang mengetahui persoalan dan keperluan kita, lebih baik daripada diri kita sendiri. Dia mengetahui apa yang kita perlukan.Tetapi mengapa jika Bapa kita sudah mengetahui kebutuhan kita, kita harus menyampaikannya dalam doa? Karena ketika kita berdoa, Bapa sedang membentuk hati dan jiwa kita sehingga kita akan siap untuk menerima hal-hal baik yang Dia berikan dan kita perlukan.
2. “Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan” atau “janganlah membiarkan kami jatuh ke dalam pencobaan”. Belum lama ini bahwa Paus Fransiskus telah menyetujui perubahan pada beberapa kata dalam Doa Bapa Kami. Menurut beliau ada “terjemahan yang cacat”, yang tidak sesuai dengan teks aslinya yang berbahasa Yunani. Dua tahun yang lalu beliau menyatakan sikap tidak setuju terhadap frasa ‘Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan’. Rumusan ini menyiratkan bahwa Allah, dan bukan Setan, yang menuntun orang ke dalam pencobaan. Perubahan pun terjadi dan frasa itu sekarang ini berubah menjadi “janganlah membiarkan kami jatuh ke dalam pencobaan”. Sampai saat ini doa yang sudah diperbaharui ini berlaku di Italia. Kita belum tahu kapan doa ini akan diberlakukan secara universal.
Paus Fransiskus mengajak kita untuk menyadari bahwa Allah tidak pernah menuntun kita ke dalam pencobaan. Allah tidak menggoda dan menjerumuskan kita. Gagasan ini sesuai dengan Surat Yakobus yang secara jelas menegaskan bahwa, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak akan mencobai siapa pun.” (Yak 1: 13). Yang dilakukan dan diinginkan Allah adalah menguatkan kita ketika kita dicobai oleh kejahatan. Pemahaman tentang Allah ini terungkap dalam doa Yesus bagi para murid-Nya: “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” (Yoh 17: 15).
Kita sangat membutuhkan Tuhan untuk melindungi kita dari si jahat, dan untuk menguatkan kita ketika kesetiaan kita pada jalan-Nya diuji. Bagaimana sikap kita terhadap perubahan frasa atau rumusan itu?
“Ungkapan “Bapa Kami”
tidak memiliki jejak rutinitas atau pengulangan belaka.
Sebaliknya, ungkapan ini mengandung perasaan yang hidup, pengalaman, dan keaslian. Dengan dua kata, “Bapa Kami”, Ia tahu bagaimana caranya menghidupi doa dan bagaimana berdoa yang hidup. Yesus mengundang kita untuk melakukan hal yang sama. “
– Paus Fransiskus-