Memberi dengan Sembunyi
Matius 6: 1-6.16-18
Rabu, 19 Juni 2019
Hari Biasa Pekan XI
Oleh: Rm. Djoko S Prakosa, Pr, Rektor Seminari Tinggi
Kentungan, Yogyakarta
1. Bersandiwara demi suatu tontonan dan pujian. Dalam bacaan Injil hari ini, Kristus menghadirkan tantangan yang sulit dan sekaligus penghiburan besar: “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orangsupaya dilihat mereka,karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Ajaran-Nya dapat disimpulkan dengan ungkapan sederhana: “Lakukanlah segala sesuatu bukan untuk ditonton dan dipuji orang.” Kebutuhan diri untuk dilihat dan dipuji orang lain adalah godaan yang merongrong tindakan kasih dan merusak ketulusan hati serta menghancurkan relasi kita dengan Allah.
Tantangannya jelas: “kita diajak untuk bertindak di hadapan Allah dengan niat yang murni.” Penghiburannya juga jelas, “Bapa surgawi kita “melihat secara tersembunyi.”
Suatu saat ada penyiar teve yang tampil meyakinkan. Ia ber-stelan dasi dan jas, ia menyampaikan berita dengan mantap. Siapa sangka bahwa sebenarnya ia memakai baju, dasi, dan jas pinjaman dan hanya bercelana pendek. Ia ternyata salah seorang teknisi teve yang terpaksa menggantikan penyiar yang jatuh sakit.
Tuhan Yesus memberi peringatan keras terhadap “tampilan kesalehan” yang seakan-akan kelihatan “baik” mirip seperti kisah tadi. Ia tidak ingin tindakan dan perilaku para murid-Nya hanya untuk menimbulkan kesan positif orang banyak, padahal keadaan hidup sebenarnya lain (baca: munafik) dan tidak sungguh terarah ke Tuhan.
2. Antara Anda dan Tuhan. Bunda Teresa menggemakan ajaran Injil dalam sebuah puisi singkat berjudul
“Antara Anda dan Tuhan.”
Jika Anda berjumpa orang yang pikirannya tidak masuk akal, tidak logis, dan egois.
Maafkan mereka.
Jika Anda baik, orang mungkin menuduh Anda mementingkan diri sendiri, dan mempunyai motif tersembunyi,
Tetaplah bersikap baik.
Jika Anda berhasil,
Anda akan memenangkan beberapa teman palsu
dan beberapa musuh sejati
Tetaplah berhasil.
Jika Anda jujur dan terus terang, orang mungkin menipu Anda.
Tetaplah Jujur dan berterus terang.
Apa yang Anda habiskan bertahun-tahun untuk membangun, seseorang mungkin menghancurkannya dalam semalam.
Tetaplah membangun.
Jika Anda menemukan ketenangan dan kebahagiaan,
mungkin orang lain akan iri.
Tetaplah bahagia.
Kebaikan yang Anda lakukan hari ini, orang akan sering lupa pada besok harinya.
Tetaplah berbuat baik.
Berikan dunia yang terbaik yang Anda miliki, dan itu mungkin tidak pernah cukup.
Berikanlah yang terbaik yang Anda miliki.
Karena dalam analisia terakhir,
semua ini adalah antara Anda dan Tuhan.
Ini sama sekali tak ada kaitannya antara kamu dan mereka.
Bunda Teresa mengajak kita untuk terus berjuang mengibarkan bendera kebaikan kepada orang lain, apa pun tanggapan mereka. Yang penting adalah bahwa segala sesuatu dilakukan atas dasar Allah yang mencintai kita dan kita ingin memuliakan nama-Nya serta berbagi cinta-Nya tanpa pamrih. Hari ini Tuhan mengingatkan kita akan arti pentingnya “ketulusan dan kemurnian hati” dalam bertindak dan berperilaku. Ketulusan dan kemurnian hati akan menjauhkan kita dari pencarian kemuliaan yang mementingkan diri sendiri - keasyikan dengan berpenampilan baik dan mencari pujian dari orang lain.
Kesalehan sejati adalah sesuatu yang lebih dari sekadar merasa baik atau terlihat suci. Kesalehan sejati adalah pengabdian yang penuh dengan ketulusan kepada Tuhan. Kesalehan sejati adalah sikap kagum, hormat, dan menyembah hanya untuk Allah. Kesalehan sejati adalah karunia dan karya Roh Kudus yang memungkinkan kita untuk mengabdikan hidup kita kepada Allah dengan keinginan suci untuk menyenangkan Dia dalam segala hal (Yesaya 11: 1-2). Ini semua adalah masalah relasi kita dengan Allah yang kita muliakan dan memuliakan kita.