Browsed by
Month: August 2019

Menjadi kaya di hadapan Allah

Menjadi kaya di hadapan Allah

Mt 19:16-22

“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Injil hari ini mengingatkan kita akan apa yang menjadi harta yang sesungguhnya yang harus kita miliki dalam hidup.

Orang muda dan kaya serta berpengetahuan dalam injil yang kita baca hari ini menunjukan dengan jelas bahwa ia kaya di dunia tapi miskin di hadapan Allah.

Si pemuda itu terjebak oleh keyakinannya sendiri: barang kekayaan duniawi dianggap sebagai miliknya, namun lupa bahwa Allah adalah pemilik yang susungguhnya.

Karena perhatian akan barang-barang duniawi terlalu kuat terpusat dalam diri si pemuda kaya itu, Yesus coba melepaskannya dengan mengajak dia menjual segala yang ia miliki dan berikan kepada orang miskin.

Di sini kita berhadapan dengan sumber kesedihan yang membuat manusia tidak bahagia: terlalu mengikatkan diri pada dunia.

Sikap berbelas kasih untuk berbagi dengan orang-orang miskin akan membantu kita menyadari kekurangan-kekurangan dalam diri kita.

Semoga kita semakin disadarkan bahwa perjalanan hidup rohani kita adalah suatu proses aktif mengikuti Yesus melalui pertobatan dan pemurnian diri terus-menerus menuju kesempurnaan sejati.

Jangan bersedih dan jangan berputus asa.

Mari bangkit dan berjalan bersama Yesus, sumber hidup dan kesempurnaan sejati.

Magnify

Magnify


The Solemnity of the Assumption of Mary

August 15, 2019

Luke 1: 39-56

Today the Church is celebrating the solemnity of the Assumption of Mary. Rooted in the Scriptures and Tradition, the Church firmly believes that Mary was assumed into heaven body and soul after she completed her life here on earth. This belief is crystallized in the form of Dogma or the highest teaching of the Church. As a dogma, the Assumption requires the assent of faith from the faithful. The assumption itself is not the sole Marian Dogma. There are four dogmas related to her: Mary is the Mother of God, ever-virgin, immaculately conceived, and assumed into heaven. No other human, except Jesus, has accumulated that much honor in the Church and no other men or women have blessed conditions like hers.

However, we are mistaken if we think that all the Dogmas are about the goodness of Mary. When we are celebrating the Dogmas of Mary, we are not merely praising that Mary is good, gentle, and holy, but it is primarily about God and how through Mary, we are thanking God for His mercy toward Mary and all the wonders. Looking at Mary, we cannot but thank God for His mercy on her and His wonders done to her.

In the Gospel today, we listen to the song of Mary is traditionally called the Magnificat [Luk 1:46ff]. In her song,  Mary praises the Lord for the mighty deeds He has done to her and Israel. Mary herself acknowledges who she is, “God’s lowly servant.” She never lets pride get in her mind, but instead, she chooses to recognize what God has done to her that “God has looked with favor on her” and “God has raised the lowly.” Mary realizes that she was nothing without God.

The title is from the first Latin word that appears in the canticle, “Magnificat anima mea Dominum.”  The original Greek is “μεγαλύνω”

[megaluno]

, to make great. The idea is like the magnifying glass that intensifies the light and the heat of the sun, and thus, emits powerful energy. When I was a little boy, my friends and I used to play together outside. One time, a friend brought a magnifying glass. We were amazed that it had another function aside from making a small object looked big. It was able to gather the light and heat of the sun and to focus it into a single spot. It became so intense and hot that it may burn what it touched. Then, when we saw the ants nearby, we started burning them using the magnifying glass! 

Mary knows well that she is not the source of light, and she is the receiver. Yet, Mary does not merely receive it and keeps it to herself. Mary also is aware that she does not simply mirror that only reflect the light. Mary sees herself as “magnifying glass.” When she receives the light, she makes sure that light will shine even more brightly, intense, and powerful. Through Mary, the light of Christ becomes more intense, powerful, and penetrating. When we intently look at Mary, we cannot but see God Himself.

The Dogma of the Assumption, indeed all Marian dogmas, points to Mary, who points to God. Following her example, we are also called to make our lives as a signpost that points to God. But more than passive signpost, we need to learn to actively magnify God’s glory and mercy through our lives.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kamis, 15 Agustus 2019

Kamis, 15 Agustus 2019

Matius 18: 21-19:1

Renungan Rm Joko Setyo Pr
Rektor seminari Kentungan Yogya

Hari Biasa Pekan XIX

Injil hari ini berbicara tentang perlunya pengampunan. Memaafkan atau mengampuni adalah tindakan yang tidak mudah, mengapa? Karena kesedihan dan rasa sakit mudah membakar hati seseorang. Ada orang yang mengatakan, “Saya memaafkan, tetapi saya tidak akan pernah melupakannya!” Dendam, kemarahan, perasaan dihina, pengalaman dikhianati, provokasi, semuanya membuat pengampunan dan rekonsiliasi menjadi sulit. Mari kita coba merenungkan kata-kata Yesus yang berbicara tentang rekonsiliasi (Mat 18: 21-22) dan yang berbicara kepada kita tentang perumpamaan pengampunan tanpa batas (Mat 18: 23-35).

01. Mengampuni sampai tujuh puluh tujuh kali! Kemarin Yesus memberi gambaran tentang empat langkah dalam mensikapi saudari-saudara yang “berbuat dosa” dan bagaimana menerima saudara-saudari itu dan membantu mereka berdamai dengan komunitas (Mat 18: 15-20). Pada awal Injil hari ini Petrus bertanya kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Jawaban Yesus jauh melampaui pemikiran Petrus. Yesus menghilangkan segala kemungkinan pembatasan untuk pengampunan: “”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Artinya, pengampunan itu tanpa batas.

Perkataan Yesus di atas ingin membalikkan lingkaran kekerasan dan balas dendam yang memasuki dunia. Ketika kekerasan dan balas dendam yang tidak terkendali menyerbu kehidupan, maka semuanya menjadi salah dan kehidupan akan hancur.

Yesus mengajak kita untuk tidak membuat batasan dan perhitungan terkait dengan dosa-dosa yang dilakukan oleh saudara kita terhadap kita. Sisi negatif jika kita membatasi dan menghitung-hitung kesalahan seseorang yang telah kita ampuni adalah bahwa seolah-olah kita membiarkan dan membenarkan diri kita untuk membalas dendam bila jumlahnya sudah mencapai batasnya. Pembatasan pengampunan hanya akan menjauhkan kita dari rahmat Allah. Mari kita belajar dari pesan santa Faustina yang ditulis dalam Buku Harian Santa Faustina, no. 390: “Dia yang tahu memberi ampun menyediakan bagi dirinya sendiri banyak rahmat dari Allah. Seberapa sering aku memandang salib, sesering itulah aku akan memberi ampun dengan segenap hatiku” (BHSF 390).

2. Perumpamaan tentang pengampunan tanpa batas. Yesus menegaskan arti pentingnya pengampunan melalui perumpaan ini: “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Dinar adalah mata uang yang sehari-harinya digunakan pada saat itu. Satu talenta sama dengan 6.000 dinar. Jadi, hutang sepuluh ribu talenta adalah sekitar 60.000.000 dinar! Jumlah nilai uang yang tak terhingga! Bahkan jika si hamba yang berhutang itu bersama dengan istri dan anak-anaknya bekerja seumur hidup mereka, mereka tidak akan pernah mampu menghasilkan uang sebanyak ini. Hutang itu sudah dihapus oleh sang Raja.

Allah selalu memberikan pengampunan atas dosa yang paling keji sekalipun, jika manusia bersedia untuk bertobat. Walaupun utang hamba tersebut sangat besar, Ia membebaskan semuanya. Walaupun dosa kita sangat banyak dan berat, seluruh utang kita telah dihapuskan. Walaupun sangat banyak dan sangat hina, namun dosa—dosa kita diampuni.

Satu-satunya yang menganggu pemberian pengampunan Tuhan adalah ketidakmampuan kita untuk mengampuni saudara kita! Itulah yang terjadi dalam diri si hamba yang mendapat pengampunan dari Allah. Hal ini nampak dalam kisah selanjutnya: “Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Seorang hamba lain itu hanya berhutang padanya seratus dinar. Betapa kecilnya hutang kawannya itu dibandingkan dengan hutangnya pada sang raja yang berjumlah sepuluh ribu talenta. Betapa kejamnya tindakan hamba yang jahat tersebut, Ia menangkap dan mencekik kawannya itu. Sang Raja akhirnya mengingatkan hamba itu mengenai belas kasihan yang telah ia terima: “seluruh utangmu telah kuhapuskan.” Sang Raja menegur dan mengecam si hamba yang jahat itu karena ia menyalahgunakan kasih dan pengampunannya. Si hamba yang jahat itu tidak mampu menunjukkan kasih yang ia alami. Ia tidak mampu mencintai kawannya yang hanya sedikit hutangnya itu, padahal Raja telah mencintainya meski ia berhutang banyak. Ia menarik kasih pengampunan yang ia berikan dan menjebloskan si hamba yang jahat ke dalam penjara sampai hutangnya dipenuhi. Artinya, si hamba yang jahat itu dipenjara seumur hidup karena ia pasti tidak mampu membayar hutang-hutangnya.

Semakin besar pengampunan atas dosa-dosa kita, seharusnya semakin banyak pula pengampunan dan kasih yang kita berikan kepada sesama. Dat ille veniam facile, cui venia est opus – mereka yang ingin diampuni harus dengan murah hati memberikan pengampunan. Pengalaman akan Allah yang maharahim dan maha pegampun semestinya melahirkan keinginan untuk mencintai dan mengampuni sesama. Bunda Teresa berkata: “Jika kita benar-benar ingin mencintai, kita harus belajar cara mengampuni.”

Senin, 12 Agustus 2019

Senin, 12 Agustus 2019

Matius 17: 22-27

Hari Biasa Pekan XIX

oleh
Rm Joko Setyo Pr
Rektor seminari Kentungan Yogya

  1. Pengumuman kedua tentang kematian dan kebangkitan Yesus. Pengumuman pertama (Mat 16:21) membuat Petrus beraksi dan bereaksi negatif terhadap Yesus karena ia tidak tahu dan tidak mau Gurunya mengalami penderitaan atau salib. Yesus mereaskinya dengan tegas: dengan sama kuatnya, “Enyahlah, iblis!” (Mat 16:23). Di sini, dalam pemberitaan yang kedua, reaksi para murid tidak lagi agresif dan reaktif. Pernyataan Yesus membuat mereka sedih: “Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali.” Nampaknya mereka mulai memahami bahwa salib adalah bagian dari perjalanan hidup Yesus yang tak terelakkan. Dekatnya penderitaan dan kematian Yesus sangat membebani hati mereka, sehingga mereka sedih sekali.
    Penderitaan dan Salib Yesus membuat para murid menjadi putus asa dan sedih. Pernahkah pengalaman ini terjadi dalam hidup kita?
  2. Haruskah membayar pajak? Pertanyaan yang diajukan oleh pemungut pajak kepada Petrus tentang pajak. Ketika mereka sampai di Kapernaum, pemungut pajak Bait Suci bertanya kepada Petrus: “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” Petrus menjawab: “Ya, Ia membayar.” Sejak zaman Nehemia ( Abad 5SM), orang-orang Yahudi yang telah kembali dari pengasingan Babilonia berkomitmen dengan sungguh-sungguh di Majelis untuk membayar berbagai pajak dan iuran agar Bait Allah mereka dapat terus berfungsi dan menjaga pemeliharaan baik pelayanan keimaman maupun pembangunan para imam di Bait Allah (Neh 10: 33-40). Jawaban Petrus memberi gambaran bahwa Yesus membayar pajak seperti orang Yahudi lainnya.
    Selanjutnya, percakapan antara Yesus dan Petrus terasa agak aneh. Ketika mereka sampai di rumah, Yesus bertanya: “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus: “Dari orang asing!” Maka kata Yesus kepadanya: “Jadi bebaslah rakyatnya.” Mungkin, di sini kita dapat melihat diskusi di antara orang-orang Yahudi Kristen sebelum penghancuran Bait Suci pada tahun 70M itu. Mereka bertanya pada diri sendiri apakah mereka harus terus membayar pajak Bait Suci, seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Dengan tanggapan Yesus itu mereka menemukan jawabnya bahwa mereka seharusnya tidak membayar pajak ini: “Jadi bebaslah rakyatnya!” Mengapa bebas? Karena orang-orang Romawi memungut pajak dari rakyat mereka yang terjajah. Mereka tidak memungut pajak dari warganegara mereka sendiri. Mereka tidak menarik pajak dari anak-anak dan keluarga mereka sendiri. Dan memang, tidaklah masuk akal bila orangtua menarik pajak dari anak-anak mereka sendiri.
    Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa para murid-Nya yang adalah anak-anak Allah itu harus dibebaskan dari membayar pajak Bait Suci. Bagaimanapun, Bait Allah adalah rumah Allah dan Yesus adalah Putranya dan murid-murid-Nya adalah saudara-saudaranya, putra-putra dari Bapa yang sama. Karena itu mereka harus dibebaskan. Masakan Allah menarik pajak pada anak-anak-Nya. Tetapi meski pun mereka tidak seharusnya membayar pajak, Yesus mengusulkan untuk tetap membayar agar tidak menyebabkan skandal: “Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.”
    Mari kita ingat bagian ini sebagai warga negara dan pribadi. Di antara kita mungkin ada yang tidak menyukai semua langkah politik penguasa kita; kita mungkin tidak menyetujui beberapa pajak yang dikenakannya. Apakah ada kebenaran dasar dari Injil yang dipertaruhkan? Jika tidak, mari kita membangun kedamaian bersama: “jangan sampai kita menjadi batu sandungan.” Seorang pengikut Kristus diajak untuk tidak mengganggu kedamaian publik terkait dengan hal-hal yang sifatnya hanya penting untuk sementara waktu.
Faithful and Wise Servants

Faithful and Wise Servants

19th Sunday in Ordinary Time [C]

August 11, 2019

Luke 12:32-48

In ancient Israel, the masters of the house were often leaving their houses for business trips or attending social gatherings like weddings. They would entrust their houses and their possessions to chief servants. And this was the world without cellular phone, internet and GPS. Thus, the servants have no idea of the ETA (estimated time of arrival) of their masters. It could be 8 PM, midnight or even early in the morning. The best attitude of a servant in this scenario is to be always vigilant and prepared for the arrival of his master.

However, being prepared is not understood as being idle or passivity, like someone who does nothing but wait near the door, and just open the door when the master knocks. Jesus says, “Gird your loins and light your lamps… (Lk. 12:35)” In ancient Israel, people were wearing robe or tunic. It is a long dress that covers the entire body, from the neck down to leg. When people are working, they gird their loins with a robe or belt, to make sure that their tunic will not get in the way. In short, the servants are doing their jobs, making sure that the house are in order, and ready to receive any order just in case their masters arrive. This is a kind of readiness and preparedness that Jesus asks of His disciples.

This kind of preparedness naturally comes the humble recognition of who we are. If the servant accepts that he is a servant and he is aware that the house belongs to his master, he will not act as if he is the owner of the house and neglect his jobs, but perform his jobs well despite the absence of his master. So, we need also to recognize who we are and do the works that follow from our identity well. If our pride gets in the way and we fail to recognize who we are. We start playing God and we begin doing whatever we please, even to confidently predict the end of the world.

Based on the Scriptures, the Church always believes that Jesus will come for the second time in glory and bring the final judgment to the world. We do not know when Jesus will come as the King, and those who prophesy that they know when, turn to be dangerous hoax. In 1997, Marshall Applewhite predicted that the earth would be destroyed by the alien spaceships and the only way to survive was to “transfer” their souls to other planet by committing suicide. Marshall and 36 followers killed themselves, yet the earth’s destruction never happened. Marshall was playing God and he brought calamity to himself and his followers.

Be ready for the coming of Jesus means that we realize who we are before God. If we are God’s children, we love and obey our Father, and care for the other creations because God care for them as well. If we are God’s disciples, we faithfully follow Him and constantly learn from Him. If we are fathers, we love, protect and provide for their family. If we are mothers, we love, care and educate our children. And when the Lord truly comes, we may be one of those “Blessed servant who are faithful and prudent [see Lk. 12:42]”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »