Browsed by
Month: December 2019

Angkat Mukamu!

Angkat Mukamu!

Senin, 23 Desember 2019
Hari Senin dalam Minggu Adven IV

Maleakhi 3:1-4, 23-24
Mazmur 25
Lukas 1:57-66

Dalam Bahasa Jawa kita mengenal adanya tingkatan-tingkatan, dari kasar, menengah, sampai halus. Tingkatan Bahasa yang digunakan tergantung dari siapa yang diajak berbicara. Kalau orang di depan kita semakin tinggi statusnya, semakin halus pulalah bahasa yang mesti kita pakai.

Salah satu sopan-santun bahasa Jawa ini adalah ketika kita hendak menggunakan “kamu” atau “anda”. Dalam adat Jawa tidaklah sopan kalau kita menunjuk langsung ke orang di depan kita. Jadi kalau Jawa kasarnya kita menggunakan “kowe”, kalau Jawa madya kita memakai “sampeyan”. Pada akarnya, “sampeyan” berarti menunjuk pada kaki orang itu. Kalau status orang itu lebih tinggi lagi, maka lebih halus lagi kata yang digunakan: “panjenengan” yang berakar pada kata yang berarti “tongkat”. Ini berarti menunjuk semakin jauh dari orangnya langsung, tidak lagi ke kakinya tetapi pada tongkatnya. Sri Sultan dipanggil dengan sebutan “ngarso dalem” yang berarti menunjuk pada rumahnya, semakin jauh lagi dari orangnya. Tidak heran kalau menurut tata krama Jawa, dianjurkan tidak memandang langsung muka orang yang lebih tua atau lebih dihormati, melainkan kita harus menunduk muka.

Sebelum kedatangan Yesus ke dunia, umat Yahudi sangat menganggap tinggi kedudukan Tuhan mereka. Menurut Kitab Imamat, hanya imam keturunan Harun yang boleh masuk ke balik tabir di tempat paling kudus di Bait Allah. Musa diperingatkan oleh Tuhan supaya tidak melihat mukaNya karena tidak ada manusia yang bisa melihat muka Tuhan dan tetap hidup.

Semua ini berubah ketika Yesus datang. Refren dari Mazmur Tanggapan hari ini diambil dari Lukas 21:28: “Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat. Kita tidak perlu lagi menunduk muka. Tuhan sudah hadir di tengah-tengah kita. Dia menjadi manusia dan berbagi rasa dengan kita, supaya kita bisa meneladaniNya untuk menjalani hidup kita sesuai kodrat kita sebagai gambar dan rupa Allah. Marilah kita angkat muka kita dan menyambut dia sang Emanuel!


Joseph, the Man of Faith

Joseph, the Man of Faith

Fourth Sunday of Advent [A] – December 21, 2019 – Matthew 1:18-24

A few days ago, a nativity scene went viral. The image is called “Let Mom Rest”. The prominent character of this scene is that Joseph is taking care of the baby Jesus while Mary is resting. This image presents to us untouched yet powerful aspect of Jesus’ birth and thus, Christmas. Often, we focus our attention on Jesus with Mary, His mother. We honor Mary because of her willingness to carry Jesus on her womb despite so many dangers and difficulties and to remain a faithful disciple of Jesus till the end. However, the image brings us to another important character that we often overlook, St. Joseph, as the man of faith.

If God has chosen and prepared the most fitting woman in human history to become the mother of His Son, the same logic governs also the choice of the foster father of Jesus. The most suitable man is chosen for this massive yet wonderful task.

Unfortunately, we do not know much about Joseph. Matthew only gave us very little information, but from this little knowledge, we can extract some important truths. Firstly, Joseph is from the house of David. This means that any child that he begets or accepts legally shall be part of the house of David as well. Joseph is the link that connects between Jesus and David, and thus, Jesus’ birth shall fulfill the prophecy that the Messiah shall come from the line of David.

Secondly, he is a carpenter, and being a carpenter is not a promising job to survive first-century Palestine. Yet, Joseph well knows that hard-work, precision, and perfection are parts of his trade. A tough life is nothing but a daily routine for Joseph. God knows to raise His Son will require a tremendous amount of sacrifice, and Joseph, the carpenter, is up to the challenge.

To accept and to raise a child who is not his own, is certainly a tough call, but Joseph obeyed the will of God that has been expressed in his dream, “Do not be afraid to take Mary as your wife.” Yet, more than that, Joseph made sure that this mission would be brought to completion. From the image of “Let Mom Rest”, it seems that Mary just gave birth to Jesus and giving birth is certainly a draining and tough process. Mary was exhausted. Joseph takes over the responsibility to care for the baby Jesus, while Mary received her most-needed rest. This is just one small concrete example of who Joseph exercised the God-given mission to raise the Child of God. Certainly, his duty is not only manifested in that event. He protected Mary and her Child from dangers, especially from the threat from Herod the Great who would kill Jesus. For the rest of his life, Joseph would work hard to provide, educate and raise Jesus as a man who is ready to give His life for all.

Like Mary, Joseph did not understand also why he had to be a father who someone else’s child, why he had to put his life and future on the line for a son who is not his own? Yet, like Mary, Joseph had faith and accepted the will of God in his life. Not only simply accepting God’s will, but he also made sure that he gave his best and made God’s plan come to fulfillment.

We often do not understand why God’s plan for us. We do know where God will bring us. Yet, like Mary and Joseph, we are called to be the men and women of faith, to receive God’s plan as our own and bring His will into fruitful completion.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rabu, 18 Desember 2019

Rabu, 18 Desember 2019

Matius 1: 18-24

Dari Rm Djoko Prakosa Pr
Rektor Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta

Hari Biasa – Khusus Adven

1. Pergulatan Maria. Maria harus menghadapi tantangan besar bagi iman dan kepercayaannya pada Tuhan dan pada iman keluarganya dan Yusuf, pria yang ia pilih untuk dinikahi. Pertama, Maria diminta untuk memikul beban tanggung jawab yang luar biasa. Belum pernah terdengar sebelumnya bahwa seorang anak dapat dilahirkan tanpa ayah alami. Maria diminta untuk menerima pengecualian ajaib ini. Penerimaan itu membutuhkan iman dan kepercayaan pada Tuhan dan pada janjinya. Kedua, Maria belum menikah. Kehamilan di luar nikah tidak ditoleransi pada masa itu. Maria hanya didukung oleh Yusuf, dan pertunangan seperti itu harus berlangsung selama satu tahun penuh. Dia diminta untuk menanggung risiko besar. Dia bisa saja ditolak oleh Yusuf, oleh keluarganya, oleh semua bangsanya sendiri. Maria tahu bahwa Yusuf dan keluarganya tidak akan mengerti tanpa wahyu dari Allah. Meskipun demikian Maria percaya pada janji-janji Allah.

Kepercayaan Maria pada janji-janji Allah merupakan keputusan dan pertaruhan hidup yang luar biasa. Ia mempunyai iman. Imannya adalah inspirasi bagi kita saat mengalami “kegelapan hidup”. Santa Teresa Lisieux mengatakan: “Dalam pencobaan atau kesulitan, aku meminta bantuan kepada Bunda Maria, yang hanya dengan pandangan saja sudah cukup untuk menghilangkan setiap rasa takut.”

2. Pergulatan Yusuf. Yusuf, seorang yang adil dan takut akan Allah, tidak ingin mempermalukan Maria ketika dia menemukan bahwa Maria hamil. Kehamilan itu itu menjadi pelanggaran serius atas janji mereka untuk setia dan murni satu sama lain. Yusuf membawa masalah yang mengganggu ini kepada Allah dalam doa. Dia tidak tergesa-gesa menghakimi atau bereaksi dengan sakit hati dan amarah. Ia membuat pertimbangan: Dia bisa saja secara terang-terangan menceraikan Maria, karena dia berhak melakukannya, tetapi ia tidak ingin melakukannya karena keputusan ini akan mempermalukan Maria. Tetapi jika Yusuf tidak menceraikan Maria maka dia akan dipermalukan karena seakan-akan dia telah melakukan hubungan seksual dengan Maria sebelum mereka sepenuhnya menikah dan ini akan menjadi skandal dalam masyarakat. Namun lagi-lagi dia tidak melakukannya: Ia tidak mau mencemarkan nama isterinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Tuhan menghadiahinya tidak hanya dengan bimbingan dan penghiburan, tetapi dengan jaminan ilahi bahwa dia memang memanggil Yusuf untuk menjadi suami Maria dan untuk mengambil misi yang membutuhkan iman, keyakinan, dan kepercayaan penuh pada Tuhan Yang Maha Esa. Yusuf percaya pada pesan ilahi untuk mengambil Maria sebagai istrinya dan menerima anak di rahimnya sebagai Mesias yang dijanjikan: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.” Betapa hebatnya kebajikan ini: memikirkan yang terbaik dari dan untuk yang lain karena percaya pada janji Allah.

Apakah kita siap untuk percaya pada janji-janji Allah, bahkan ketika dihadapkan dengan keadaan yang membingungkan dan apa yang tampak seperti masalah yang tidak dapat diatasi? Allah tidak meninggalkan kita sendirian. Ia telah membawa Anak-Nya yang tunggal, Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus kepada kita. Marilah kita mempersiapkan diri untuk merayakan Natal, pesta Inkarnasi, dengan hati yang penuh sukacita dan marilah kita memperbarui iman dan harapan kita kepada Allah dan dalam karya penebusan-Nya.

Selasa, 17 Desember 2019

Selasa, 17 Desember 2019

Matius 1: 1-17 

Dari Rm Djoko Prakosa Pr
Rektor Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta

Hari Khusus Adven 

1. Inilah Silsilah Yesus Kristus. Penulisan silsilah dimmaksudkan untuk mengungkapkan asal-usul Yesus. Injil Matius dimulai dengan silsilah Yesus Kristus: “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daudanak Abraham.” Sejak awal Injil Matius membawa pembacanya untuk bertanya: Siapakah Yesus? Apa peran-Nya dalam rencana Allah dan dalam kehidupan kita?  

Sebagai anak Daud, Yesus menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa keturunannya akan tetap menduduki takhta Israel dan memerintah kerajaan di seluruh alam semesta (2Sam. 7:12-16; Yes. 9:6-7). Sebagai anak Abraham, Yesus menggenapi janji yang diberikan kepada nenek moyang bangsa Israel. Karena Dia, seluruh umat manusia akan diberkati (Kej. 12:1-3). Yesus adalah penggenapan berkat universal kepada semua bangsa. Karena berkat universal disebut dalam ayat pertama dan ayat terakhir Injil Matius: “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daudanak Abraham.” (Mat 1:1) dan  “Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.” (Mat 1: 17). Sebagai anak Daud dan anak Abraham Yesus benar-benar telah lahir dan ada dalam sejarah manusia. Ini dibuktikan oleh Matius melalui silsilah Yesus Kristus (Mat 1: 2-16).  

Injil Matius 1: 1-17 mengingatkan kita bahwa Yesus adalah pusat dari silsilah itu. Dialah Tuhan dan Juruselamat yang Allah berikan bagi seluruh umat manusia. Marilah di Masa Adven khusus ini kita panjatkan puji syukur yang paling agung atas berkat yang telah dilimpahkan bagi kita di dalam Yesus, sekaligus mengevaluasi apakah hidup kita sudah senantiasa berpusat kepada-Nya.  

2. Arti Pentingnya Silsilah. Daftar silsilah Yesus ini begitu panjang. Nenek moyang Yesus masing-masing mempunyai keunikan dan ke-khas-annya sendiri, tak satu pun yang sama: kepribadian, pengalaman hidup hariannya maupun hidup rohaninya. Beberapa adalah pahlawan iman. Sebagian kelabu hidupnya. Sebagian lagi orang-orang biasa (Hezron, Ram, Nahason, Akhim). Sebagian lagi jahat (Abia, Manasye). Mengapa silsilah-Nya di Matius dan Lukas berbeda? Matius menelusuri sampai ke Abraham karena ditujukan kepada orang Yahudi, Lukas sampai ke Adam sebab tulisannya untuk orang non-Yahudi. Yesus adalah Juruselamat orang Yahudi maupun non-Yahudi.  

Karya Allah dalam sejarah tidak dibatasi oleh kegagalan dan dosa manusia! Kenyataan ini seharusnya mendorong kita semakin rendah hati dan berbesar harap. Disamping itu, kita melihat keajaiban besar. Yesus sungguh unik tiada duanya.  Satu-satunya manusia ber-Bapa di surga tanpa ibu, dan beribu di dunia tanpa bapa! Itu sebabnya Yusuf diperkenalkan sebagai suami Maria.  

Hari ini saya mengundang Anda untuk meluangkan waktu dan merenungkan keluarga kita: keluarga yang melahirkan kita dan juga keluarga tempat kita berada saat ini. Apa yang kita hargai tentang keluarga kita? Apa yang mungkin mengecewakan kita tentang keluarga kita? Tidak ada keluarga yang sempurna, sama seperti kita tidak sempurna. Apa tantangan dalam keluarga kita? Bagaimana kita menghadapinya? Apa hadiah terbesar yang Anda terima dari keluarga Anda? Apa hadiah yang kita bagikan? Saya berharap Tuhan adalah salah satu dari karunia itu!  Hari ini semoga kita bersyukur untuk keluarga kita dan banyak hadiah yang telah mereka berikan kepada kita! Keluarga adalah tempat dimana kita akhirnya mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang kita imani. Cara Tuhan membawa kita untuk mengalami keselamatan saat ini tidak pernah lepas dari sejarah keluarga di masa lampau.  

3. Wanita di balik rencana keselamatan Allah. Pada zaman Perjanjian Lama, kedudukan seorang wanita dalam hak waris, hak bekerja, hak berpendapat remeh. Akan tetapi, pandangan Allah terhadap wanita berbeda dengan dunia.  

Yang menarik dari perikop ini ialah ada tiga nama wanita yang memiliki riwayat hidup yang “cacat”. Mengapa? Ketiga wanita tersebut yakni: Tamar (ayat 3); Rahab (ayat 5a); Batsyeba, istri Uria (ayat 6). Pertama, sebenarnya Tamar adalah menantu dari Yehuda (lih. Kej. 38: 6, 8-11). Janji Yehuda untuk memberikan Syela menjadi suami bagi Tamar ternyata bohong (ayat 14). Jadi, Tamar menyamar sebagai “wanita nakal” untuk menggoda Yehuda dan melahirkan Peres dan Zerah. Kedua, Rahab adalah seorang “wanita nakal” Kanaan yang melindungi pasukan pengintai Israel saat mereka hendak melarikan diri dari kota Yerikho (lih. Yos. 2). Penyebab Rahab menolong mereka karena ia memercayai Allah Israel (ayat 9-13). Ketiga, Batsyeba adalah istri Uria yang menjadi korban keinginan nafsu Raja Daud, ketika suaminya berperang membela Israel melawan Amon. Batsyeba melahirkan seorang anak yang meninggal tidak lama setelah ia lahir. Barulah kemudian Salomo lahir (ayat 2 Sam. 11).  

Allah memilih Tamar, Rahab, dan Batsyeba menjadi nenek moyang Yesus. Ada suatu  kebenaran yang luar biasa, yaitu bahwa Allah ingin menjadi bagian dari sejarah keluarga manusia kita yang “diwarnai kelemahan”. Kardinal Van Thuan memberikan komentar atas silsilah ini: banyak yang tercantum dalam silsilah Yesus adalah “penyembah berhala, pembunuh, dan orang-orang tanpa moral.” Dia ingin menjadi salah satu dari kita sehingga Dia dapat mempertobatkan kita dari dalam (lih. 2 Korintus 5:21). Keselamatan tidak didasarkan pada siapakah kita, bagaimanakah masa lalu kita, apa pekerjaan kita, dll. 

Rahasia hidup di dalam Tuhan

Rahasia hidup di dalam Tuhan

Mat 17:9a.10-13

Teks hari ini berbicara tentang para murid yang sesudah mengalami peristiwa transfigurasi Yesus di atas gunung bertanya tentang Elias yang seharusnya mendahului kedatangan-Nya.

Siapakah Yohanes pembaptis? Yesus membenarkan Yohanes, seperti Elias, menjadi pendahulu-Nya, namun orang tidak percaya kepadanya dan malah memperlakukan dia sesuka hati: dimasukkan dalam penjara, dihina, dipenggal dan kepalanya ditaruh dalam dulang.

Dengan ini Yesus mengantisipasi nasib-Nya sendiri dan dengan itu mengantisipasi para murid akan apa yang akan terjadi dengan diri mereka sendiri.

Kebanyakan orang tidak mengerti jalan hidup mereka seperti apa, untuk apa dan tujuannya ke mana? Mereka menjalani hidup apa adanya tanpa banyak merefleksikan makna dan tujuan hidup itu sendiri. Dan boleh jadi di antara kita ada yang seperti ini. Tidak apa-apa. Sesuatu yang normal.

Akan tetapi, hidup yang sesungguhnya tidak berhenti di situ saja. Hidup ini kaya, mendalam dan seperti para rasul alami, luar dari biasanya sampai tak bisa diungkap dengan kata.

Iman adalah jalan masuk yang mengantar kita untuk mengerti misteri besar hidup kita. Petrus, Yakobus dan Yohanes mengalami peristiwa Yesus berubah rupa dan membuat mereka merasakan betapa besarnya misteri penampakan itu.

Karena itu hidup bersama Tuhan memang ada ‘apa-apanya’ alias kelebihannya. Kelebihannya seperti apa?

Kelebihannya pasti kita tahu masing-masing. Ada yang ingin masuk surga. Ada yang ingin bahagia. Ada yang ingin mengalami kemurahan rahmat dan belas kasih Allah. Ingin berbuat baik seperti para santu/a. Banyak alasan yang bisa disebut.

Namun, ada satu yang jarang kita sebut. Dan ini adalah kelebihannya. Adalah ingin mengalami penderitaan seperti Tuhan sendiri.

Di dalam pembaptisan sesungguhnya kita sudah diinformasikan makna pembaptisan kita dan konsekuensinya. Tuhan mati karena dosa-dosa kita, sementara dari pihak kita manusia, agar kita juga mati, menolak hidup dalam dosa. Agar dengan demikian kita bisa bangkit bersama Kristus dan mengalami kemuliaan-Nya.

Hidup ini penuh misteri. Ada unsur biasa. Ada juga luar biasanya. Bingung atau merasa tidak pasti dengan hidupmu? Jangan takut!! berjalanlah bersama Yesus… misteri hidupmu dan kelimpahannya akan dibukakan bagimu … semoga!!

Translate »