Browsed by
Month: December 2019

Sikap tobat

Sikap tobat

Mat 11:16-19

Orang-orang Yahudi menolak baik Yohanes maupun Yesus.

Yohanes yang tinggal di padang gurun, tidak makan dan minum, dianggap kerasukan setan. Sementara Yesus, makan dan minum, dianggap pelahap dan peminum dan sahabat orang berdosa.

Orang-orang Yahudi ini dibebani banyak peraturan lahiriah. Sedangkan Injil Kristus membawa kemerdekaan dan kegembiraan batiniah.

Seperti orang-orang Yahudi kita juga sering mengabaikan Tuhan. Hanya sibuk dengan urusan dunia dan mengabaikan urusan-urusan yang lebih penting untuk keselamatan kita, yakni urusan-urusan rohani. Urusan Tuhan pastinya harus dinomorsatukan, bukan dinomorsekiankan, apalagi diabaikan.

Kalau sampai diabaikan, sebaiknya kita bertobat. Berbalik kepada Tuhan dan menjadikan-Nya sebagai pusat hidup kita. Percaya bahwa perubahan ke arah positif pasti terjadi, Roh Kudus pasti akan bekerja dan menghasilkan buah-buah yang baik yang membawa kebahagiaan bagi sesama dan kemuliaan bagi Tuhan.

¿.. No estoy aquí yo, que soy tú madre?

¿.. No estoy aquí yo, que soy tú madre?

Lukas 1:26-38

“Dengarkan dan perhatikanlah, putra kecilku, tiada sesuatu pun yang menakuti dan menekanmu. Janganlah terganggu hatimu, jangan takut akan apapun atau penyakit atau penderitaan. Bukankah aku yang ada di sini adalah ibumu? Bukankah engkau ada di dalam naunganku? Bukankah aku menjaga kesehatanmu? Bukankah tanpa kebetulan engkau ada di pangkuanku?”

Tak bisa siangkal, kata-kata keibuan penuh kehangatan Bunda Maria de Tepeyac ini membuka misteri baru dan menyokong kehadiran iman Kristen di benua Amerika. Bangsa Eropa dikenal menjelajahi dan menemukan dunia-dunia baru. Namun mereka juga terkenal dengan penjajahan dan penindasan terhadap orang-orang lokal. Lebih dari itu, abad ini juga menjadi masa-masa penyebaran dan penanaman iman Kristen secara efektif.

Terlepas dari pelbagai keberhasilan misioner yang dicapai hingga saat ini, kita bertanya: Kenapa penyebaran agama kristen juga mengambil bentuknya melalui penjajahan dan penindasan terhadap bangsa-bangsa lain? Tentu bukan sesuatu untuk dibanggakan!

Sebagai seorang misionaris yang berasal dari negara yang pernah dijajah, ini sebuah pertanyaan yang serius yang tidak bisa diabaikan. Ada banyak paradox, ketegangan dan kesadaran-kesadaran akan model dan pendekatan misi yang perlu untuk dipikirkan dewasa ini yang banyak menuntut kepekaan dan penghormatan dan lebih dari itu pertobatan-pertobatan dalam diri.

Perayaan penampakan Bunda Maria kepada indito Juan Diego lebih dari empat abad yang lalu mengingatkan saya akan dua hal: pertama, misionaris adalah utusan Tuhan. Karena itu, kata-kata “jangan takut!” dari Bunda Maria kepada Juan Diego sangat menguatkan dan memberanikan untuk terus melangkah mewartakan kabar gembira.

Kedua, pertobatan adalah sikap dasar seorang misionaris. Kesadaran lama bahwa seorang misionaris diutus untuk mentobatkan orang atau bangsa lain dewasa ini tidak lagi relevan. Muncul kesadaran baru yakni seorang misionaris diutus pertama-tama bukan untuk mentobatkan, melainkan untuk ditobatkan. Ia harus pertama-tama mengalami pertobatan batin dan terus-menerus, mengalami Allah yang adalah kasih, yang memanggil dan mengutusnya, agar dengan itu mampu mewartakan Injil, kasih Allah kepada sesama.

Lagi pula, misi bukan milik siapa-siapa, bukan milik misionaris, bukan pula milik gereja semata, melainkan ia datang dan bersumber dari Diri Allah – missio Dei. Keyakinan seperti ini membantu kita untuk selalu bersyukur dan menggantungkan diri sepenuhnya pada kuasa Allah, yang memanggil dan mengutus para misionaris-Nya.

Semoga Bunda Maria dari Guadalupe, Pelindung Bangsa Amerika dan para misionaris, selalu mendoakan, menguatkan dan melindungi. Nuestra Señora de Guadalupe, Madre de Dios, Madre de Misericordia, Madre de las Américas, y de los misioneros: ruega por nosotros. ¡Que Viva La Virgen de Guadalupe!

Pikulah Kuk yang Yesus pasang

Pikulah Kuk yang Yesus pasang

Mat 11:20-30

Apa yang lebih menyenangkan dari kuk dan apa yang lebih ringan dari beban yang dipikul?

Hidup ini tidak gampang, bukan? Anda harus kerja untuk bisa hidup. Ada terms and conditions di tempat kerja… Harus rogo saku untuk beli pelbagai kebutuhan hidup. Membangun rumah tangga dan keluarga dengan pengorbanan besar. Harus tau dan ikut aturan dalam hidup bermasyarakat. Memikirkan anggota keluarga. Memikirkan nasib bangsa dan negara yang tidak menentu. Memikirkan para pemimpin dan pejabat negara yang sering tidak mampu mengendalikan pada perusuh berbaju agama. Para pejabat korup yang tidak memikirkan rakyat kecil. Politisasi agama oleh para pemimpinnya untuk memecah belah sesama warga negara dan munculnya gerombolan-gerombolan yang anti Pancasila dan UUD ‘45. Munculnya gerakan-gerakan anti keberagaman, anti kafir dan labelisasi makanan halal tidak halal … dst.

Berapa banyak beban dalam hidupmu? Ingin menemukan yang ringan?

Datanglah pada Yesus. Pikul-lah kuk yang Yesus pasang.

Kuk Yesus adalah kuk Injili karena membawa keringanan, kegembiraan, kasih akan Tuhan, kebahagiaan dan keselamatan. Agama Yahudi dan para pemimpinnya dikritik secara keras oleh Yesus karena mereka menciptakan hukum-hukum yang tidak adil dan mengikatkannya di atas para pengikutnya. Agama yang semata-mata membebankan dan penuh hukuman adalah agama yang tidak menyelamatkan!!

Agama dan negara yang hanya membebankan warganya tanpa demokrasi dan kebebasan, melainkan hukuman, cambuk melulu dan praktik kekerasan, adalah sinyal yang lebih dari cukup untuk membangunkan Anda dari tidur panjang. Atau Anda sedang mabuk agama! Agama yang benar harus mengikatkan orang pada Tuhan yang adalah sumber kebebasan dan kebahagiaan. Negara pun harus membebaskan dan membawa kemaslahatan bagi segenap warganya.

Kuk Yesus menerangi pikiran dan menghidupkan jiwa-jiwa malang dan letih. Kuk Yesus membuka pikiran untuk mengenal dan mencintai Bapa yang adalah Kasih dan keselamatan.

Di dalam Yesus ada Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Banyak kali kita memilih jalan kita sendiri-sendiri dan bukan jalan Tuhan. Sering kali kita lebih percaya kepada kebenaran kita sendiri bukan kebenaran Tuhan. Banyak kali kita memilih untuk hidup bagi diri kita sendiri dan bukan bagi Allah dan sesama.

Datanglah kepada Yesus. Kuk-Nya ringan. Belajarlah dan kenalilah Dia agar Anda mendapatkan kelembutan, dan kebenaran-Nya boleh menjadi bagianmu. Dan semoga jiwamu mendapatkan ketenangan dalam Tuhan.

Menjadi malaikat kecil dari Tuhan bagi kawanan domba-Nya

Menjadi malaikat kecil dari Tuhan bagi kawanan domba-Nya

Mat 18:12-14

Injil hari ini berbicara dengan perumpamaan tentang ke-99 domba yang tidak butuh pertobatan versus satu domba yang hilang dan harus dicari dan ditemukan kembali .

Satu yang hilang dan harus dicari adalah kaum kecil. Kitab suci mengidentifikasi mereka sebagai para pendosa, kaum miskin-papa, kaum yang diperlakukan tidak adil.

Dewasa ini para migran dan pengungsi korban perang dan kekerasan, kaum perempuan dan anak-anak yang yang dilecehkan hidup dan martabatnya, dan hidup tanpa orang tua, para lansia yang hidup kesepian dan tanpa perhatian …

Seringkali demi alasan dan kepentingan kaum kuat, kaum kecil ini berpotensi besar untuk “dihilangkan”. Ada yang terpaksa hilang, bahkan dihilangkan karena tidak cukup mampu membela diri karena sistem hukum yang tak adil, atau karena tidak memiliki kekuatan ekonomi atau juga karena tiadanya modal politik yang cukup.

Terhadap kaum kecil dan tak berdaya ini, Yesus katakan, ada malaikat di surga yang memperhatikan mereka. Janji ini hanya akan menjadi bahan ejekan kaum kecil dan tertindas jika tidak ada malaikat di dunia yang menjaga dan menuntun mereka.

Mari menjadi malaikat kecil dari Tuhan untuk menjaga dan memperhatikan kawanan domba-Nya, terutama yang kecil, terkucil dan tertindas.

Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa

Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa

Lukas 1: 26-38

Kisah tentang manusia jatuh ke dalam dosa asal digambarkan dalam Kejadian 3. Manusia karena mengikuti keinginannya sendiri, terpisah dari Allah.

Bagaimana keterpisahan ini bisa dikembalikan?

Di sini Maria menjadi tokoh kunci. Dalam terang perayaan hari ini, Gereja merefleksikan misteri Agung tentang Bunda Maria yang sejak awal dikandung tanpa noda dosa.

Melalui ketulusan iman dan ketaatannya, Allah merevelasikan diri kepada Maria melalui kedatangan Sang Putera Allah sendiri. Dengan ini manusia bisa berharap untuk kembali kepada Allah: “Lihatlah, aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Keterbukaan iman kepada semua rencana Allah mencapai puncaknya melalui wafat dan kebangkitan Yesus, Putera Allah sendiri. Dengan ini Allah hendak membalikkan nasib manusia. Jalan kembali dan bersatu dengan Allah menjadi terbuka, jalan keselamatan.

Maria secara khusus mengajarkan kita bahwa kekudusan menuntut pengorbanan diri dan kesetiaan, pemberian diri secara total kepada Allah. Namun, pemberian diri kepada Allah saja belum cukup jika belum menemukan bentuknya yang konkret.

Ada banyak teman-teman kita yang nasibnya tidak tentu. Lewat pengorbanan diri kita untuk memperbaiki mereka yang bernasib buruk ini, kita memuliakan Tuhan. Sekecil apapun pemberian yang diberikan besar nilainya. Dan jiwa kita pasti gembira

Translate »