¿.. No estoy aquí yo, que soy tú madre?
Lukas 1:26-38

“Dengarkan dan perhatikanlah, putra kecilku, tiada sesuatu pun yang menakuti dan menekanmu. Janganlah terganggu hatimu, jangan takut akan apapun atau penyakit atau penderitaan. Bukankah aku yang ada di sini adalah ibumu? Bukankah engkau ada di dalam naunganku? Bukankah aku menjaga kesehatanmu? Bukankah tanpa kebetulan engkau ada di pangkuanku?”
Tak bisa siangkal, kata-kata keibuan penuh kehangatan Bunda Maria de Tepeyac ini membuka misteri baru dan menyokong kehadiran iman Kristen di benua Amerika. Bangsa Eropa dikenal menjelajahi dan menemukan dunia-dunia baru. Namun mereka juga terkenal dengan penjajahan dan penindasan terhadap orang-orang lokal. Lebih dari itu, abad ini juga menjadi masa-masa penyebaran dan penanaman iman Kristen secara efektif.
Terlepas dari pelbagai keberhasilan misioner yang dicapai hingga saat ini, kita bertanya: Kenapa penyebaran agama kristen juga mengambil bentuknya melalui penjajahan dan penindasan terhadap bangsa-bangsa lain? Tentu bukan sesuatu untuk dibanggakan!
Sebagai seorang misionaris yang berasal dari negara yang pernah dijajah, ini sebuah pertanyaan yang serius yang tidak bisa diabaikan. Ada banyak paradox, ketegangan dan kesadaran-kesadaran akan model dan pendekatan misi yang perlu untuk dipikirkan dewasa ini yang banyak menuntut kepekaan dan penghormatan dan lebih dari itu pertobatan-pertobatan dalam diri.
Perayaan penampakan Bunda Maria kepada indito Juan Diego lebih dari empat abad yang lalu mengingatkan saya akan dua hal: pertama, misionaris adalah utusan Tuhan. Karena itu, kata-kata “jangan takut!” dari Bunda Maria kepada Juan Diego sangat menguatkan dan memberanikan untuk terus melangkah mewartakan kabar gembira.
Kedua, pertobatan adalah sikap dasar seorang misionaris. Kesadaran lama bahwa seorang misionaris diutus untuk mentobatkan orang atau bangsa lain dewasa ini tidak lagi relevan. Muncul kesadaran baru yakni seorang misionaris diutus pertama-tama bukan untuk mentobatkan, melainkan untuk ditobatkan. Ia harus pertama-tama mengalami pertobatan batin dan terus-menerus, mengalami Allah yang adalah kasih, yang memanggil dan mengutusnya, agar dengan itu mampu mewartakan Injil, kasih Allah kepada sesama.
Lagi pula, misi bukan milik siapa-siapa, bukan milik misionaris, bukan pula milik gereja semata, melainkan ia datang dan bersumber dari Diri Allah – missio Dei. Keyakinan seperti ini membantu kita untuk selalu bersyukur dan menggantungkan diri sepenuhnya pada kuasa Allah, yang memanggil dan mengutus para misionaris-Nya.
Semoga Bunda Maria dari Guadalupe, Pelindung Bangsa Amerika dan para misionaris, selalu mendoakan, menguatkan dan melindungi. Nuestra Señora de Guadalupe, Madre de Dios, Madre de Misericordia, Madre de las Américas, y de los misioneros: ruega por nosotros. ¡Que Viva La Virgen de Guadalupe!