Browsed by
Month: April 2020

BERBAGI DAN MELAYANI TUHAN

BERBAGI DAN MELAYANI TUHAN

Selasa Dalam Oktaf Paskah, 14 April 2020


Yohanes 20:11-18
Maria Magdalena menerima anugerah khusus menjadi perempuan yang memperoleh penampakan Yesus yang bangkit. Siapakah Maria Magdalena dan mengapa Magdalena? Maria yang berasal dari daerah Magdala, kota kecil di pesisir barat Danau Galilea adalah wanita yang disebut dalam Injil Lukas 8:1-3. Ia pernah di bebaskan dari tujuh roh jahat oleh Yesus Kristus. Ia adalah perempuan yang memiliki kekayaan yang besar dan mengalami pertobatan dan percaya kepada Yesus Kristus. (lih.id.m.wikipedia.org/wiki/Maria Magdalena). Dia menerima anugerah menjadi saksi mata peristiwa penyaliban, penguburan dan kebangkitan Yesus.
Mengapa Maria mendapat pengalaman-pengalaman tersebut? Maria Magdalena layak mengalaminya karena ia telah menerima pembebasan dari tujuh roh jahat oleh Yesus. Rasa syukur dan kasihnya kepada Tuhan, ia ungkapkan dengan setia melayani dengan apa yang ia miliki ; waktu, tenaga dan kekayaannya untuk mendukung karya-karya Yesus. Dari sikapnya yang hanya mementingkan dirisendiri beralih pada hati yang bermurah hati dan siap berbagi dalam pelayanan demi Kerajaan Allah.
Dewasa ini kita bisa bertanya, ketika harta seseorang semakin bertambah apakah ia semakin bermurah hati atau semakin menutup diri untuk berbagi demi Kerajaan Allah?. Bisa terjadi bahwa semakin bertambah kekayaannya, orang semakin sulit berbagi. Maria Magdalena ditampilkan supaya semua orang yang melihat kesaksian hidupnya. Maria Magdalena telah menunjukkan kasih dan pertobatannya secara konkrit di hadapan Tuhan. Pertama-tama dengan mengubah cara pandangnya dan kemudian melayani Tuhan dengan segala yang ada padanya. Perubahan cara padang tampak ketika ia tidak lagi menggunakan kekayaannya hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi apa yang ia miliki dipergunakan untuk melayani Tuhan. Perubahan kedua terlihat dalam perbuatannya. Ia mau mengikuti perjalanan Yesus dan murid-murid-Nya dan dengan murah hati membagikan harta bendanya dipergunakan untuk mendukung pelayanan Yesus. “….. Maria Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuanperempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (Luk 8:2-3).
Tindakan Maria Magdalena menjadi inspirasi bagi orang beriman untuk lebih banyak lagi melayani Tuhan dalam diri sesama. Melayani Tuhan tidak harus dengan cara heroik dengan tampil di muka umum, tetapi melayani Tuhan bisa dengan cara yang sederhana, yaitu mau membagikan “kekayaan” yang dimiliki untuk sesama yang membutuhkan. Dengan demikian, kekayaan (baik yang materi atau non materi) bisa membawa seseorang lebih dekat dengan Tuhan Yesus dan menyelamatkan. Namun sebaliknya jika itu hanya dinikmati diri sendiri, maka uang, ilmu, keahlian, dan kekayaan tersebut akan menjauhkan dirinya dengan Tuhan dan sesamanya dan menjadi akar kejahatan/dosa. “ Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Tim 6:10)
Ditengah-tengah wabah Corona ini banyak orang kehilangan pekerjaan mereka. Terdapat sekitar 1.6 juta pekerja yang sudah di PHK dan dirumahkan di Indonesia.(lih.CNN Indonesia, berita ekonomi; bisnis). Saatnya kini semua orang menyadari bahwa panggilan kita sebagai pribadi manusia dan ciptaan Allah adalah “SALING BERBAGI dan MELAYANI. Jika kita mau menunjukkan iman kita pada Kristus, inilah saatnya, yaitu mau melayani dan berbagi dengan apa yang dimiliki untuk Tuhan dalam diri sesama kita yang membutuhkan.

PENGHARAPAN KARENA IMAN

PENGHARAPAN KARENA IMAN

Senin, 13 April 2020


Matius 28:8-15

Setelah Yesus bangkit, Dia menampakkan diri kepada Maria Magdalena dan Maria yang lain. Yesus berkata kepada mereka;”.. Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudarasaudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” (Mat 28:10). Dibalik kata-kata “Jangan takut”, kita bisa menangkap bahwa Yesus sedang memberikan harapan kepada mereka.
Ditengah-tengah pandemi virus Corona ini, harapan adalah hal yang sangat dibutuhkan, karena ketika seseorang masih memiliki harapan, ia tidak akan larut dari ketakutan dan kecemasan. Sebaliknya jika seseorang kehilangan harapan berarti selesailah hidupnya. Paskah kebangkitan Yesus Kristus memberikan harapan kepada manusia yang percaya.
Paskah memberikan harapan baru karena melalui kebangkitan Yesus Kristus, Dia telah mengalahkan maut/dosa. Dosa adalah sumber ketakutan, kecemasan, kejahatan, kebimbangan, kebencian, kemalasan dan keputusasaan. Lebih lagi dosalah yang menjadi penyebab munculnya kerusakan-kerusakan dalam diri manusia dan alam yang menyebabkan bencana kemanusiaan. Seperti apa yang sudah dituliskan oleh rasul Paulus : “Sebab upah dosa ialah maut tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 6:23).
Oleh karena itu ketika dosa dikalahkan oleh kebangkitan Kristus, maka manusia terbebas dari daya kematian/maut atau penghancur kemanusiaan dan kemudian muncullah harapan dan semangat dalam hidup. “…Bersyukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Kor 15:57). Maka sebagai orang beriman, ia akan merasakan penyertaan Tuhan yang selalu mengalirkan harapan.
Hidup dalam pengharapan. “Pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5). Kalau seseorang menaruh harapan pada manusia, ia akan kecewa karena tidak ada satu pun manusia yang tanpa kelemahan. Seseorang juga akan kecewa jika harapan digantungkan pada materi, karena yang materi suatu ketika bisa hilang dan hancur (Mat 6:19). Oleh karena itu, tidak cukup seseorang berbangga ketika memiliki atau mencapai pada kelimpahan hal-hal yang materi. Mengapa? Karena semua itu belum cukup untuk mendapatkan pengharapan yang sejati. Harapan yang sejati tidak akan hancur oleh ngengat, karat, waktu, wabah seperti virus Corona, dan tidak akan bisa diambil oleh pencuri, karena harapan tersebut tertancap di hati seseorang, yaitu saat ia menerima dan percaya pada Yesus yang hidup dan bangkit. Inilah buah Paskah yang sekarang kita butuhkan yaitu HARAPAN.

Empty Tomb

Empty Tomb

Easter Sunday

April 12, 2020

John 20:1-9

Today is the day of resurrection. Today is the day Jesus has conquered sin and death. Today is the day of our victory. No wonder among the liturgical celebration of the Church, Easter is the grandest, the longest and the most spectacular. It is the time that the churches are flooded with the faithful. It is the time that parishioners got involved in many activities, practices, and services. It is the time when families gather and celebrate. It is the time the priests receive more blessings!

However, something strange this year. Our Easter celebration is silent and simple. It is like an empty tomb, quiet and dark. And like the empty tomb, our churches are also empty, the pews are without people, and our buildings are darker. This Easter, we do not hold burning candles in our hands. This Easter, we do not sing together the Exultet. This Easter, we still do not receive the holy communion.

We may be like Mary Magdalene or Peter who discovered the empty tomb. Mary Magdalene was confused and at a loss when she saw the empty tomb. She was weeping before the tomb because she thought the body of Jesus has been stolen. She loved Jesus so much, but she had to see His Lord tortured, crucified and buried. It was a painful and crushing experience to see someone she loved dying like an animal. As if not enough with all the pain, this time, the body was missing. Peter did not fare better. After he had told his Master that he would give his life for Him, less than a few hours, he denied Jesus, not once, not twice, but thrice. He realized that he was a coward, and this brought pain and terrible humiliation. To make things worse, he discovered the tomb empty and he failed to understand.

This year is different because God has invited us to go deeper into the tomb. In previous years, we may be dazzled by the shining angel. We focus ourselves on various preparations, on the beautiful songs, on the floral decorations, on a joyous atmosphere, or perhaps on the priests! But this year, God calls our attention to the empty tomb, to endure the silence, to bear the darkness, and to reflect deeper on how Jesus resurrected.

Jesus did not put a spectacular show on how He conquered death. Jesus did not take any selfies when He returned from the dead! Rather, Jesus rose in the secret of the cave. Jesus won over death in the silence of the tomb. Jesus saved us in the hidden and mysterious way. Yet, this is the resurrection, and this is the most beautiful moment in human history.

This year Easter gives us a powerful lesson. God has risen even in the empty tombs of our lives. God is alive even we are far from the church we love and serve. God is alive even when we feel the most powerless inside our homes. God is alive even when we are struggling with many difficulties caused by this pandemic.

Perhaps, it is the time we reflect more on how God works gently in our lives. Perhaps, it is the time to rethink our priorities in life and to place God in the center. Perhaps, it is the time to appreciate the people who love, to reconcile with people who are close to us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Realitas kebangkitan Kristus dan harapan akan suasana hidup baru post-pandemic

Realitas kebangkitan Kristus dan harapan akan suasana hidup baru post-pandemic

Gen 1:1 – 2:2; Rm 6:3-1; Mat 28:1-10

Viruscorona adalah sebuah virus mematikan yang mengharuskan setiap orang untuk tinggal rumah, negara-negara mengunci diri, dan setiap individu melakukan penjarakan sosial. Istilah-istilah ini menyerang secara langsung substansi kehidupan beragama sebagai komuni, kesatuan, kedekatan, kehangatan, rasa kekeluargaan dll. Agama memiliki peran penting untuk menguatkan rasa kebersamaan ini. Namun virus ini bukan hanya membalikkan cara pandang agama tetapi juga secara praktis menghancurkannya. Definisi physical atau social distancing adalah satu tanda bahwa kehadiran agama tetap penting, tenunan dan ikatan kekeluargaan, komunitas sosial dan religius tetap menjadi tempat yang dirindukan umat beragama.

Situasi pandemi saat ini tidak harus melumpuhkan rasa solidaritas ini. Cara pandang dan cara berpikir, cara berkomunikasi dan bertindak secara fundamental telah diubah oleh wabah. Relasi sosial, kekeluargaan dan keagamaan, kerja sama antarbangsa secara signifikan mengalami pergeseran sejak deklarasi pandemi covid19 oleh WHO. Kita hanya berharap bahwa wabah dari bencana ini akan berlalu. Penderitaan dan kematian orang-orang terkasih adalah satu kehilangan besar yang mengoncangkan keberadaan dan kepercayaan diri anggota keluarga dan komunitas. Namun harapan akan sesuatu yang lebih baik harus tetap melekat dan tinggal di dalam batin setiap individu yang mengalami goncangan menyakitkan ini.

Merayakan kebangkitan Kristus di tengah krisis pandemic viruscorona mengajarkan kita beberapa hal. Pertama, kondisi-kondisi kerapuhan manusiawi hanya dapat ditemukan kesempurnaannya di dalam Allah. Pesan kebangkitan sesungguhnya diawali dengan rasa solidaritas yang besar terhadap orang yang sudah meninggal. Rasa solidaritas ini justru dihadiahi dengan sesuatu yang tak diharapkan: “Yesus tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit.” Pembalikan total datang dari Allah dan menghalau kesedihan dan rasa kehilangan para murid. Kebangkitan orang mati bukan lagi sebuah harapan melainkan realitas orang yang yakin dan berharap pada Allah! “Kristus bangkit. Kristus jaya. Alleluia,” harus tetap menjadi pekikan paskah. Solidaritas kemuridan harus diperkuat. Kebangkitan Kristus harus membuka mata bahwa penderitaan yang dialami kaum kecil dan tak berdaya tidak pernah dilupakan atau dibiarkan berlalu oleh Allah. Manipulasi, dusta dan praktik ketidakadilan yang dilegitimasi oleh kekuatan dunia dan keagamaan yang direkayasa oleh manusia tidak akan pernah bisa bertahan tanpa Allah. Iman akan kebangkitan adalah iman akan kepastian kehadiran Allah di tengah segala keraguan dan ketidakpastian yang diciptakan manusia. Kebangkitan semata-mata adalah kasih dan pemberian murni dan terbesar dari pihak Allah untuk manusia agar tidak pernah boleh berputus asa apapun cobaan yang harus dilewati.

Kedua, rasa solidaritas tentang kemanusiaan universal dibaharui. Kondisi post-pandemic adalah sebuah harapan bersama kendati titik terangnya tidak dapat dipastikan

saat ini. Seperti kondisi keguncangan, kegelapan akibat kehilangan orang-orang terkasih, kebangkitan Kristus sungguh sebuah realitas baru. Janji-janji, ajaran dan perbuatan-perbuatan luar biasa yang dilakukan Yesus, melalui kebangkitan-Nya mendapatkan penyempurnaan. Yesus yang wafat di salib kini menjadi Yesus yang bangkit. Yesus yang bangkit adalah Yesus tersalib. Inilah pemberian diri murni dari Allah yang dimulai dengan misteri inkarnasi yang meliputi seluruh hidup dan karya pelayanan Yesus, hingga sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Intensifikasi penderitaan harus diimbangi dengan intensifikasi harapan dan solidaritas sosial yang lebih besar melalui iman akan kebangkitan itu sendiri.

Ketiga, panggilan dan tugas pewartaan Injil dan harapan datangnya suasana hidup baru. Pesan keselamatan paskah bagi kita orang beriman adalah bahwa dunia yang sesungguhnya kita harapan adalah dunia dimana Allah hadir. Kasih adalah kondisi di mana Allah hadir. Kita dipanggil untuk menghadirkan kasih dan kebaikan Allah dimana dan kapan saja. Di hadapan peristiwa kebangkitan, kematian sekali lagi tidak mendapat tempat. Karena itu proklamasi kebangkitan diawali dengan: Jangan takut!, sebagai satu undangan untuk masuk dalam misteri dan realitas kebangkitan yang disediakan oleh Allah. Penguatan kebergantungan akan yang Ilahi dan solidaritas kemanusiaan karena itu harus tetap menjadi fundamen untuk terus berlangkah maju. Paska-kebangkitan harus membantu kita untuk tidak tenggelam di dalam pandemic global saat ini. Kita harus punya harapan akan datangnya kondisi post, paska-pandemic dengan arah dan pesan kebangkitan yang lebih kuat dan pasti: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Kita diajak untuk pergi, tinggalkan kubur untuk melihat Tuhan di Galilea, dengan mata dan pandangan baru, yakni dengan cahaya dan daya paska kebangkitan Kristus sendiri.

Translate »