Browsed by
Month: May 2020

Daya Roh Kudus

Daya Roh Kudus

Rabu, 6 Mei 2020

Hari Biasa Paskah IV

Bacaan I Kis 12:24 – 13:5a

Bacaan Injil Yoh 12: 44-50

Sebagaimana Barnabas dan Saulus, melakukan tugas pewartaan selalu mengajak kita untuk terus bergerak dan mencari tempat-tempat lainnya. Perutusan ini bukan saja diemban oleh para imam dan biarawan-biarawati; melainkan diperuntukkan bagi semua pengikut Kristus. Misalnya, tidak selamanya seseorang menjadi sekretaris atau bendahara DPP, bisa saja di periode berikutnya dia dipercaya sebagai ketua bidang tertentu. Atau, tidak selamanya seorang religius menetap di sebuah tempat tertentu, dia akan menerima mutasi atau perpindahan tempat tugas. Dalam hal ini saya belajar dari ilustrasi ombak. Ombak tidak pernah berencana menetap di pantai. Ombak selalu bergulung kembali ke lautan, kendati di pantai akan selalu dinanti oleh para wisatawan. Namun, ombak diharuskan kembali ke lautan sebagaimana kita yang diwajibkan untuk senantiasa bergerak dalam perutusan. Sebab, jika saya sebagai imam misalnya menghendaki hanya berada di satu tempat tertentu, maka di situ saya membangun sebuah kenyamanan dan keamanan. Bukankah perutusan pada hakekatnya menuntun untuk keluar dari zona nyaman dan aman?

Pertanyaannya adalah siapa yang akan menjadi pegangan jika ada keberanian untuk membuat pergerakan yang menghasilkan sebuah lahan pewartaan baru? Bacaan I hari ini menegaskan tentang karya Roh Kudus sebagai yang menyertai kita semua. Roh Kudus bukanlah roh-roh lokal yang hanya memiliki kekuatan di tempat tertentu saja. Roh Kudus mempunyai kekuatan di seluruh tempat hidup kita. Untuk itulah Roh Kudus akan mampu menyertai kemanapun kita memberi pewartaan, entah itu di tempat kita kerja, masyarakat tempat tinggal kita maupun di tanah asing sebagaimana yang dialami oleh Barnabas dan Saulus.

Roh Kudus memberi daya yang bukan hanya membuat kita mampu bertindak benar, tetapi juga mengajak kita untuk mendasarkan hidup pada kekuatan sabda. Sabda Allah adalah segala-galanya sekaligus pegangan ketika kita melaksanakan perutusan. Maka, mari kita memberi tempat pada Roh Kudus untuk bekerja agar hidup ini menjadikan kita sebagai pribadi pendengar sabda dan pelaksana pewartaan.

Keluarga sebagai Kawanan Domba

Keluarga sebagai Kawanan Domba

Selasa, 5 Mei 2020

Hari Biasa Paskah IV

Bacaan I Kis 11: 19-26

Bacaan Injil Yoh 10: 22-30

“Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku”, itulah salah satu sabda Yesus dalam Injil hari ini. Masih dalam tema Gembala yang Baik, Yesus menegaskan harmoni antara domba dan gembala. Mulai dari saling mengenal suara sampai pada kesediaan domba mengikuti tuntunan gembala. Dengan rasa saling percaya, maka ada kemauan untuk dikenal dan mengenal. Tindakan saling kenal merupakan sebuah aktivitas yang tidak mudah. Mengenal dan dikenal tentu bukan saja berhenti pada taraf tahu nama, asal, hobi, dan lain-lain. Taraf saling kenal yang diinginkan Yesus adalah melibatkan perasaan percaya satu sama lain. Misalnya, dalam keluarga kita masing-masing: sungguhkah suami mengenal istrinya sendiri, atau sebaliknya? Jangan-jangan selama ini masih ada berbagai macam kepalsuan sehingga masih saja terjadi kesalahpahaman setelah sekian belas tahun hidup berumahtangga? Sungguhkah orangtua mengenal anak-anaknya? Mengenal bakat dan kelebihan anak-anaknya? Mengenal perkembangan anaknya ketika memasuki masa puber, remaja dan beranjak dewasa? Sudahkah anak mengenal orangtuanya? Mengenal kebaikan, kebijaksanaan dan kemurahan hati orangtuanya?

Mari kita bersyukur bahwa melalui pandemi covid-19 ini rupa-rupanya kita semakin diajak untuk memurnikan rasa saling percaya demi kebutuhan dikenal dan mengenal. Melalui anjuran melakukan segala sesuatu di rumah saja, berarti kita diajak untuk mengenal rumah secara mendalam, yang mana tentu saja di dalamnya terdapat keluarga kita masing-masing. Dimulai dari keluarga, kita diajak untuk memurnikan kebersamaan, kesatuan hati, penghayatan iman dan sebagainya. Segala sesuatu dimulai dari keluarga sehingga terjalinlah ikatan hidup yang kuat sebagaimana relasi antara gembala dengan domba. Kalau kita sudah mampu meletakkan rasa percaya secara nyata pada masing-masing anggota keluarga, barulah kita akan semakin mantap mengikuti langkah sang gembala. Maka, pastikanlah dulu bahwa kedamaian, ketenangan, kebahagiaan dan sebagainya tumbuh dalam keluarga masing-masing. Sebab, kawanan domba terbentuk pada mulanya dimulai dari keluarga kita.

Berbagi sebagai Cara Hidup

Berbagi sebagai Cara Hidup

Senin, 4 Mei 2020

Hari Biasa Paskah IV

Bacaan I Kis 11: 1-18

Bacaan Injil Yoh 10: 11-18

Dua bacaan hari ini memberi makna tentang pewartaan keselamatan bagi semua orang, tanpa terkecuali. “Kepada bangsa-bangsa lainpun Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup” (Kis 11:18). Dengan kesadaran bahwa Allah berkenan kepada semua manusia, semoga membawa kesadaran betapa kasih Allah tidak terbatas pada batasan apapun juga. Suku, negara, agama maupun kebudayaan bukan menjadi batasan yang meyakini tentang keberpihakan Allah pada salah satu pihak saja. Allah berkenan kepada kita semua. Allah itu adil. Sekat dan batasan diciptakan oleh manusia, yang terkadang kalau tidak hati-hati akan menjatuhkan seseorang pada fanatisme sempit. Merasa diri paling benar, suci, bijak, terpilih dan sebagainya, merupakan bentuk kesombongan yang mudah diketemukan pada identitas pribadi-pribadi.

Mari kita memerhatikan kata “Allah mengaruniakan pertobatan…”. Amat jelas bahwa Allah memberi karunia hidup secara merata. Allah memimpin setiap manusia menuju pada hidup yang benar. Allah tidak pilih kasih, sebagaimana digambarkan oleh Injil melalui potret Gembala yang Baik. Yang patut kita lakukan adalah menyadari karunia-karunia Allah itu sebagai cara untuk menerima orang lain dengan tangan terbuka.

Kita patut bersyukur bahwa peran Gereja di masa pandemi ini sangat terasa. Gereja mampu mewartakan karunia Allah melalui tindakan berbagi. Ada banyak kegiatan yang dilakukan Gereja, minimalnya Gereja Indonesia, untuk memelihara domba-domba dari kandang lain. Berbagi sembako, makanan, donasi dan sebagainya merupakan bentuk penghayatan pada keutamaan Gembala yang Baik. Berbagi tanpa perlu pilih kasih. Memberi tanpa membeda-bedakan. Di sinilah peran Gereja bagi dunia. Nilai hidup solider bukan lagi sebatas permenungan atau berhenti pada refleksi saja, tetapi telah menjadi sebuah gerakan bersama. Atas nama cinta kasih, Gereja mampu mewujudkan kehidupan yang indah sebagaimana perutusan yang diberikan Yesus kepada kita semua. Melalui pandemi, ternyata kita belajar untuk memberi diri kepada semua orang tanpa perlu takut dan pra-duga yang negatif. Semoga, apa yang telah kita wujudkan ini tidak hanya terjadi karena pandemi, tetapi pada akhirnya menjadi cara hidup dan tradisi yang akan terus bertahan. Sebab, dengan berbagi maka Gereja semakin menampakkan kesejatiannya.

Why Sheep

Why Sheep

Fourth Sunday of Easter [A]

May 3, 2020

John 10:1-10

Today is the fourth Sunday of Easter and traditionally it is also called as the Good Shepherd Sunday. This is for an obvious reason. The Gospel reading tells us about Jesus who introduces Himself as the gate of the sheepfold and the Good Shepherd. The other readings also point the image of God as the good shepherd, like the world-renown psalm 23, “the Lord is my shepherd.”

The gospel of John has no parables like the other three gospels, but John has something else. The gospel gives us the seven “I AM” statements.  “I am the bread of life.” (John 6:35, 41, 48, 51); “I am the light of the world.” (John 8:12); “I am the door of the sheep.” (John 10:7,9); “I am the resurrection and the life.” (John 11:25); “I am the good shepherd.” (John 10:11, 14); “I am the way, the truth, and the life.” (John 14:6); “I am the true vine.” (John 15:1, 5). These statements reveal the particular ways Jesus relates with us His disciples. If Jesus is the bread of life, we cannot live without consuming Him. If He is the light, we cannot see and find our way home.

When Jesus proclaims that He is the door of the sheep and the good shepherd, this assumes that Jesus treats us as His sheep. The question is why sheep? Why not cuter animals like Persian cats or Shih Tzu? Why not something useful like German shepherd or horse? Ok, sheep can be useful also as farm animal. Lamb and mutton are one of the finest meats, and the wool can turn to be expensive cloth. But, does Jesus consider us as sheep because our cuteness or usefulness?

Together with goats, sheep is are one of the domesticated animals. Humans have farmed sheep for the last ten thousand years. In the Palestine at the time of Jesus, sheep is a very common animal, and despite working as carpenter, it is not difficult for Jesus to observe the life of shepherd and its flocks. What makes sheep different from goat is that sheep has no built-in self-defense mechanism. Unlike the goats, they are equipped by sturdy horns and can be aggressive when attacked. Sheep are basically defenseless and thus, they depend heavily on the shepherds to protect them.

We might raise our eyebrow and reject the idea that we are helpless like the sheep. Afterall, humans are on the top of animal kingdom because our intelligence and physical prowess.  Indeed, this is true, if we only limit ourselves to biological or natural aspect of our humanity. If we consider our spiritual life, we are no better than a sheep. Without God’s protection and His angels’, we are just punching bags of the evil spirits. Without God’s laws and guidance, we do nothing but harm ourselves. More importantly, without God, we cannot be saved.

In the final analysis, borrowing the words of Bishop Robert Barron, Christianity is the religion of salvation, and not self-help. No matter good we are, we cannot reach heaven without God’s grace. Our actions are only meaningful as far as it is aided by God’s love. The image of the sheep leads us to humble and grateful realization of who we are. We are nothing without God, yet no matter spiritually weak and defenseless we are, God remains faithful to us and will lead the green pasture because He is our Good Shepherd.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman dan Roti Kehidupan

Iman dan Roti Kehidupan

Sabtu pada Pekan ke-3 Paskah

Yohanes 6:60-69

Ekaristi adalah salah satu ajaran Yesus yang paling sulit untuk dipahami apalagi di dipercayai. Orang-orang dapat dengan mudah setuju dengan Yesus ketika Dia mengatakan bahwa kita perlu mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Orang-orang mungkin kesulitan untuk memaafkan dan mengasihi musuh, tetapi mereka akan menerima bahwa pembalasan dan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, Yesus tidak hanya mengajarkan hal-hal yang indah ini. Yesus mewartakan kebenaran yang total tentang keselamatan kita. Dia adalah Roti Kehidupan, dan Roti Hidup ini adalah darah dan daging-Nya sendiri. Yesus tidak hanya meminta kita untuk percaya tetapi untuk memakan daging-Nya dan minum darah-Nya sehingga kita dapat memiliki hidup yang kekal.

Bagi orang Yahudi waktu itu, makan daging manusia adalah sebuah kekejian dan minum darah, bahkan darah hewan, adalah hal terlarang. Jadi, ketika Yesus mengatakan kepada mereka untuk mengonsumsi Daging dan Darah-Nya, banyak orang Yahudi berpikir bahwa Yesus itu gila. Orang-orang mengikuti Yesus karena mereka menyaksikan kuasa Yesus dalam melipatgandakan roti, dan mereka ingin menjadikan-Nya pemimpin mereka. Namun, Yesus mengingatkan mereka bahwa tidak tepat jika mereka hanya mengikuti Dia karena dia memberi mereka makan dengan roti biasa. Mereka perlu bekerja untuk Roti Hidup yakni Yesus sendiri. Banyak pengikut awal Yesus bersungut-sungut, dan akhirnya, mereka meninggalkan Dia, karena pengajaran yang sangat sulit ini.

Di zaman sekarang, Ekaristi tetap sulit untuk dipahami. Apakah roti tawar kecil putih dan setetes anggur ini benar-benar Tubuh dan Darah Kristus? Bagaimana makanan biasa ini mengandung kepenuhan keilahian dan kemanusiaan Yesus? Mengapa kita harus menekuk lutut kita di hadapan hosti kecil? Pemikir-pemikir besar telah mencoba menjelaskan misteri itu, tetapi tidak satu pun dari penjelasan mereka yang cukup memadai. Santo Thomas Aquinas yang mampu menulis salah satu penjelasan paling mendalam tentang Ekaristi, akhirnya harus mengakui bahwa ini adalah misteri iman. Dia menulis dalam nyanyiannya kepada Sakramen Mahakudus, Tantum Ergo, “Præstet fides supplementum, Sensuum defectu (Biarkan iman melengkapi, saat indra gagal).”

Sungguh, iman terbesar diperlukan untuk menerima misteri terbesar, karena bentuk makanan yang paling sederhana membawa kita ke kehidupan kekal. Namun, ini menjadi salah satu Kabar Baik yang Yesus bawa. Kehidupan kekal bukanlah sesuatu yang hanya kita peroleh di akhirat, tetapi Yesus menjadikan kehidupan ini tersedia di sini dan saat ini. Jika Tuhan bisa benar-benar hadir dalam roti kecil ini, Dia juga hadir dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan di dalam hal paling sederhana sekalipun. Jika Yesus dipecah dan dibagikan dalam Ekaristi, Ia pun mampu memeluk kita di saat-saat yang paling gelap dan pahit dalam hidup. Jika Yesus yang adalah sang Kebijaksanaan Allah, terkandung dalam hosti kecil ini, Kebijaksanaan ini memberi kita makna yang sejati dalam kehidupan kita yang sederhana.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »