Browsed by
Month: June 2020

Bijaksana Versus Bodoh

Bijaksana Versus Bodoh

Mat 7:21-29

Dalam sebuah seminar hipnoterapi seorang pemateri mengatakan bahwa tantangan terbesar bagi peserta untuk melakukan hipnoterapi adalah memotivasi diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Hipnoterapi diharapkan mampu membuat klien merubah cara pikirnya dan kemudian mampu melakukan pola hidup dan mendapatkan manfaat darinya. Jadi, kemampuan untuk memahami saja tidak cukup, tetapi harus sampai pada praktik. 

Saudari-saudaraku terkasih, tidak jarang ada jurang dalam hidup kita antara perkataan dan perbuatan. Dalam injil hari ini, yang merupakan bagian terakhir dari seri kotbah di bukit dalam Injil Matius, Yesus menegaskan siapa yang akan masuk ke dalam kerajaan Surga. Ujung dari pengajaran itu berkaitan dengan mendengarkan Sabda Allah. Menurut Yesus mereka yang akan memasuki Kerajaan Surga itu bukan yang hanya menyebut Tuhan, Tuhan, tetapi mereka yang melaksanakan kehendak Allah dalam hidupnya. Kita didorong untuk menghidupi Sabda Allah melalui tindakan nyata. Hal ini mengingat banyak orang hanya menjadi pendengar Firman dan kagum atasnya tetapi bukan pelaku Firman.

Pandemik Covid-19 dan permasalahan kemiskinan serta ketidakadilan hari-hari ini memberi kita kesempatan untuk memeriksa bagaimana kita membawa nilai-nilai Sabda Allah ke dalam tindakan nyata. Yesus memanggil kita untuk memastikan nilai-nilai kita selaras dengan ajaran-ajaran-Nya. Yesus menggunakan metafora membangun rumah ketika Dia memohon kita untuk membangun rumah kita di atas batu sehingga kita dapat menahan semua tantangan dan godaan dari dunia sekuler kita.

Mari kita mintakan pencerahan Roh Kudus dalam doa-doa kita untuk merefleksikan pertanyaan-pertanyaan ini: Apakah nilai-nilai yang saya pegang dalam hidup ini didasarkan pada pengajaran Yesus? Apakah saya menghabiskan waktu, uang, kemampuan kekayaan lainnya yang saya miliki selaras dengan nilai-nilai yang Yesus ajarkan? Bagaimana saya bisa keluar dari zona nyaman saya dan mencontoh Yesus? Apakah kehadiran saya membawa pengaruh yang positif bagi orang sekitar?

Semoga kita menjadi orang yang bijaksana, orang yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya. Bukan orang bodoh yang hanya suka mendengarkan sabda Allah tetapi tidak suka melakukannya.

Tuhan memberkati!

HARI RAYA KELAHIRAN YOHANES PEMBAPTIS

HARI RAYA KELAHIRAN YOHANES PEMBAPTIS

Yes 49: 1-6; Kis 13: 22-26; Luk 1: 57-66,80

Hari ini, kita merayakan kelahiran St. Yohanes Pembaptis. Ia dipilih dan diutus Allah untuk mempersiapkan kedatangan Yesus dan mempersiapkan umat yang layak bagi Tuhan. Dalam Gereja Katolik hanya ada tiga tokoh yang kelahirannya diperingati, yakni Yesus, Maria Bunda Yesus dan Yohanes Pembaptis. Dari sini kita bisa melihat begitu pentingnya peranan Yohanes Pembaptis bagi keselamatan yang Allah janjikan.

Teks Injil hari ini adalah dari Injil Lukas. Lukas tidak memberi kita terlalu banyak detil tentang kelahiran Yohanes, dia lebih fokus pada peristiwa setelah kelahiran. Melalui sanak saudara dan tetangga yang bersukacita Allah menunjukkan bahwa firman-Nya yang diucapkan melalui malaikat, Gabriel, sedang digenapi. Elizabeth memang melahirkan seorang putra dan orang-orang bersukacita pada saat kelahiran karena belas kasihan yang besar yang ditunjukkan oleh Allah.

Mengenai sosok Yohanes Pembaptis sendiri kita mengetahui bahwa ia tampil sebagai seorang yang sangat sederhana dan rendah hati. Kesederhaan itu nampak dengan menjadikan padang pasir sebagai tempat tinggalnya serta belalang dan madu hutan sebagai makannya. Kerendahan hatinya tampak dalam kata-katanya, “Aku bukan Mesias. Aku membaptis dengan air, tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”  Namun Yohanes Pembaptis tidak pernah kehilangan kesadarannya akan tugas panggilannya, yakni mempersiapan orang-orang di zamannya kepada kedatangan Kristus. Ia tidak ragu-ragu menyampaikan pesan moralnya dan terbukti orang mendengarkan pesannya dengan mau dibaptis. Yohanes juga adalah seorang yang siap menanggung resiko dalam menjalankan perutusannya. Ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Herodes karena mengecam perceraian Herodes dengan istrinya dan melanggar aturan ketika mengambil Herodias, istri saudaranya. Ia pun mati dipenggal kepalanya hanya karena demi memuaskan dendam seseorang.

Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya berbagi pengalaman kenabiannya. Ia mengakui bahwa Tuhan telah memanggilnya sejak dari kandungan ibunya. Melaluinya Tuhan akan menyatakan keagungannya. Tuhan sendiri bersabda: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”

Saudari-saudaraku terkasih seperti Yohanes Pembaptis dan Nabi Yesaya, kita dipanggil Allah untuk menunjukkan kepada orang lain keagungan dan keselamatan Allah bagi umat-Nya. Mari kita juga menyadari bahwa Allah telah memberikan kepada kita suatu tujuan atau panggilan khusus dalam hidup kita, sebagaimana yang ditujukan kepada Yohanes pembaptis dan Nabi Yesaya, untuk itu hendaklah kita bergerak maju dengan kepercayaan, penuh keyakinan akan Dia yang telah memanggil kita! Sebagai orang yang selalu menerima rahmat dan kerahiman Tuhan, mari kita semakin memperteguh iman kita dan menjalani panggilan kita masing-masing demi kemuliaan-Nya. 

Tuhan memberkati!

AJAKAN UNTUK BERINISIATIF DAN AKTIF

AJAKAN UNTUK BERINISIATIF DAN AKTIF

Matius 7:6,12-14; 2Raj. 19:9b-11,14-21,31-35a,36

Kata-kata Yesus dalam injil hari ini yang berbunyi, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” merupakan Golden Rule dalam kehidupan Kristiani. Yesus menyampaikan pernyataan ini dari bentuk aslinya yang pasif dan mengubahnya menjadi bentik aktif dari Kitab Tobit 4:15, “Apa yang engkau sendiri tidak suka, jangan engkau lakukan terhadap orang lain.” Bacaan pertama hari ini dari Kitab Raja-Raja mengisahkan bagaimana Golden Rule itu dimaknai dalam kehidupan nyata. Bacaan pertama mengisahkan sikap Raja Yehuda, Hizkia, terhadap Sanherib, Raja Asyur yang ingin melakukan hal hal yang tidak baik terhadapnya. Bagi Hizkia pembalasan bukanlah haknya, tetapi merupakan hak Allah sendiri.

Ajakan lain, Yesus mengingatkan kita untuk tekun mendalami semangat Injil demi cinta kepada Kristus dan demi keselamatan kekal yang disiapkan oleh Bapa bagi kita. Kita diajak untuk tidak menggadaikan kerohanian kita dengan motivasi-motivasi duniawi, seperti untuk dilihat orang atau pamer. Yesus menekankan hal ini karena saat itu para pemimpin agama dan orang-orang yang merasa dirinya saleh memakai ukuran perintah negatif untuk menilai kerohanian mereka. Mereka merasa begitu baik dan suci karena tidak melakukan apa yang Allah larang, tetapi mereka lupa bahwa mereka belum melakukan apa yang Allah perintahkan. Dalam konteks ini, Yesus mengajak para murid untuk memotivasi diri secara benar agar dapat memimpin orang lain secara benar juga menuju jalan keselamatan Allah dengan mengatakan, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

Saudara-saudariku, mari menanggapi ajakan Yesus yang memerintahkan kita untuk melakukan kepada orang lain apa yang kita ingin orang lain lakukan kepada kita dengan merenungkan relasi kita dengan orang-orang di sekitar kita. Apakah kita masih berada di dalam keadaan diri yang egois, tidak punya tempat untuk orang lain? Atau mungkin kita berada di dalam tahap ‘separuh’ taat: karena kita tidak pernah menyakiti orang lain, tidak pernah merugikan siapa-siapa tetapi juga tidak pernah menjadi saluran berkat bagi siapa pun. Apakah kita menjadi orang yang begitu pasif dan berbangga dengan kepasifan kita? Untuk itu marilah kita buat daftar tuntutan kita dari orang lain dan menjadikannya sebagai daftar kegiatan yang akan kita kerjakan bagi orang lain mulai hari ini.

Tuhan memberkati kita!

WUJUDKAN KEDAMAIAN Matius 7:1-5

WUJUDKAN KEDAMAIAN Matius 7:1-5

Senin, 22 Juni 2020

Setiap orang merindukan kedamaian, karena pada hakekatnya manusia hidup selalu bersama dengan orang lain. Ia tidak bisa hidup sendiri tanpa keterlibatan orang lain. Di dalam relasi dengan sesamanya tersebut akan muncul kedamaian. Kedamaian tersebut tidak dengan sendirinya hadir, tergantung bagaimana pola relasi yang terjadi. Jika relasi antar manusia dilakukan dengan tulus dan penuh cinta kasih, maka kedamaian akan muncul. Sebaliknya jika ada orang yang tidak tulus dan cenderung mencari keuntungan diri sendiri maka tidak akan muncul kedamaian di sana. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”(Yoh 15:11-12). Relasi yang tidak tulus bisa terlihat ketika seseorang menaruh iri, dengki dan sikap benci serta menghakimi sesamanya. Ketika hal itu terjadi, maka relasi tidak didasari dengan kejujuran tetapi oleh kebohongan dan kemunafikan. “Mengapakah engaku melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”(Mat 7:3). Dalam pola relasi seperti itu maka tidak akan muncul kedamaian. Oleh karena itu Tuhan Yesus melarang murid-murid-Nya bertindak demikian. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”(Mat 7:1). Kedamaian adalah hal yang sederhana, karena cara untuk mewujudkannya juga dengan cara yang sederhana, yaitu dengan sikap kerendahan hati. Seperti tanah yang telah diolah, hati seseorang akan mampu menerima semua kondisi dan realita dan setelah itu akan lahir kedamaian dan ketenangan. Orang yang rendah hati mampu menerima semuanya dengan tenang, karena ia membawa semua kepada penyelenggaraan Allah yang Maha Adil. Allah tahu dan melihat apa yang ada di dalam hati setiap orang, Ia akan memberikan kedamaian dan keadilan bagi orang yang benar. “……Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7b). Biasanya orang-orang yang benar dan tulus, sering direndahkan dan dibenci sesamanya, karena sikapnya yang dipandang tidak cocok oleh dunia. Akan tetapi ia tidak akan kehilangan kedamaian dan sukacita, sebab apa yang telah ia lakukan adalah hal-hal yang benar dan tulus. “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Mat 5:10-11). Jadi kedamaian muncul dalam diri orang yang rendah hati dan benar yang mencintai Allah dan menyerahkan segalanya kepada kehendak-Nya.
Paroki St. Montfort Serawai, Kalbar, ditulis oleh: Rm Aloysius Didik Setiyawan CM

Translate »