Browsed by
Month: June 2020

KASIH SEJATI (Mat 5:43-48)

KASIH SEJATI (Mat 5:43-48)

Selasa, 16 Juni 2020

Oleh: P. Stef. Buyung Florianus, OCarm.

Yesus mengundang kita semua untuk mencintai, bukan hanya sesama tetapi juga bahkan musuh. Sebuah permintaan yang tidak gampang. Secara manusiawi nampak mustahil. Tetapi itulah kasih yang sejati. Itulah juga mesti kita lakukan untuk menjadi anak-anak Bapa di surga. Itulah juga mesti kita hayati sehingga boleh menjadi murid Yesus yang bermutu.

Ternyata Yesus tidak hanya meminta kita untuk melakukannya. Dia sendiri menjadi teladan bagi kita. Dia datang ke dunia justru untuk kita para pendosa. Dalam pelayanan-Nya, Dia justru mau mencari dan menemukan orang yang hilang karena dosa. Dia wafat di salib pun untuk menebus umat manusia. Saat tergantung di kayu salib, Yesus justru mendoakan orang-orang yang telah menyalibkan-Nya. Lebih lanjut, Yesus menunjuk Bapa di surga sebagai model bagi kita.  Kasih sang Bapa tidak membeda-bedakan. Ia menerbitkan matahari-Nya bagi orang yang jahat dan juga bagi orang yang baik. Ia juga menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Sungguh luar biasa kasih Tuhan.

Tidak sedikit orang berjuang untuk menghayati kasih sejati yang diminta oleh Yesus ini. Antara lain Beato Aloysius Rabata. Ia adalah seorang imam Karmel. Ia lahir di Erice, dekat Trapani (Sicilia) menjelang abad ke-15. Dalam masa hidupnya sebagai seorang Karmelit, ia melakukan upaya pembaharuan hidup religius, khususnya di Biara Randazzo. Ia meninggal di biara tersebut setelah mendapat cedera berat pada kepalanya akibat penganiayaan seorang penjahat. Penjahat itu diampuninya dan sama sekali tidak mau memberitahukan namanya.

Atau juga St. Yohanes Paulus II. Dia  lahir di Wadowice, Polandia, 18 Mei 1920 dan meninggal di Roma, 2 April 2005 pada umur 84 tahun. Ia menjadi Paus sejak 16 Oktober 1978 hingga kematiannya. Dia ditembak oleh Mehmet Ali Agca pada tanggal 13 Mei 1981. Setelah penembakan tersebut, Yohanes Paulus meminta kepada orang-orang agar “…berdoa bagi saudara saya, yang sudah saya maafkan setulus-tulusnya.” Pada tanggal 27 Desember 1983, Paus Yohanes Paulus mengunjungi penembaknya di Penjara.  Setelah kunjungan tersebut, Paus kemudian berkata, “Apa yang kami bicarakan merupakan rahasia antara dia dan saya. Ketika berbicara dengannya saya anggap ia adalah seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya percayai sepenuhnya.”

Bagaimana dengan kita? Kita juga diundang untuk menghayati semangat cinta yang sama. Kita sadar bahwa mencintai sesama itu biasa, tetapi mencintai musuh itu luar biasa, sebuah keutamaan. Kita berdoa memohon bantuan rahmat Tuhan agar kita mau mencintai, bahkan musuh sekalipun. Karena tanpa bantuan rahmat Tuhan,  kita tidak mampu menghayatinya baik.

Berita Duka

Berita Duka

Telah meninggal dunia Hari Rabu tanggal 10 Juni 2020 , ayah dari Romo Didik Setiawan CM di Magetan Jawatimur. Para Romo , suster, umat serta staff Lubukhati mengucapkan ikut berduka cita.

Body of Christ, Our Body

Body of Christ, Our Body

Solemnity of Body and Blood of Christ [Corpus Christi] – A

June 14, 2020

John 6:51-58

The solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ takes its origin from the initiative of St. Juliana of Liege, who asked his bishop and his friends to honor, in special way, the institution of the Eucharist, and the real presence of Jesus Christ in the Blessed Sacrament. The institution of the Eucharist itself took place in the Last Supper of the Lord, and every Holy Thursday, the Church celebrates this event. However, since Holy Thursday is an inseparable part of the Easter Triduum, the attention is given to the mystery of the Passion and Resurrection of our Lord. Because of its rootedness in Holy Thursday, the solemnity of Corpus Christi is celebrated on Thursday after the Trinity Sunday. Yet, in several countries, the celebration is moved to the next Sunday to accommodate the greater participation of the faithful.

 In the Gospel, Jesus insists that His body is real food, and everyone who wants to have eternal life shall consume His body. We may wonder: why does in His infinite wisdom, Jesus decide to give His body as food for our spiritual nourishment? Why not infuse the grace directly to our souls? The answer may surprisingly simple. It is because our body is real and good. God created man and woman in their fulness human nature, including their bodies, as something very good. Though our body comes from the ground, it has been marvelously designed to receive the bread of God, the spiritual life. Our bodies are fundamentally good, and so good that our bodies are inclined to grace. In the word of St. Augustine, “Capax Dei” (capable of knowing and receiving God).

Since the earliest time, the Church has battling perennial heresy called Gnosticism. In essence, gnosticism teaches there is dualism in our creation, and that the spiritual realm is good and the material world, including our body, is evil. Thus, any material aspect of our humanity has to be disposed of. The Church vehemently opposed this because God has created our material world as good and beautiful. The battle continues in time of St. Dominic de Guzman, the founder of Order of Preachers, who fought the Albigensians [the middle age adaptation of gnosticism). Gratefully, the Albigentians were no more, but unfortunately, the gnosticism lives on.

As Christians, we carry the battle of the Church against the modern-day gnosticism. The kind gnosticism is surprisingly simple without any need to learn a complex system of belief. When we consider our body a mere instrument to achieve success, when we abuse our bodies to feel instant pleasures, when we treat our bodies as mere economic gain, when we say that my body is my right, we unconsciously fall into the trap of this heresy.

But wait, there’s more! The feast of Corpus Christi brings us even greater truth of our body. By becoming man and finally giving His body, Jesus teaches us that body is not only capable of receiving grace, but it is also capable of becoming grace and love for others. In the Last Supper, Jesus has given as a supreme expression that is to offer His own body in love. And yet, to be shared, it has to be broken, and yet despite broken, it is offered in thanksgiving.

In this time of the pandemic, we are not able to attend the Holy Mass, and we miss a lot the Body of Christ. Yet, the good news is that it is our time also for us to become the Body of Christ for our neighbors in need. Only through sharing our body in love, we fulfill our purpose as bodily creatures created in His image.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sumpah serapah

Sumpah serapah

Sabtu Pekan Biasa X, 13 Juni 2020

Bacaan: 1 Raj. 19:19-21; Matius 5:33-37

Sering kita dengarkan kata ‘sumpah’, atau malah juga mengucapkan sumpah, karena seolah sudah menjadi ungkapan biasa. Tuhan Yesus mengingatkan kita semua bahwa haruslah berhati-hati dalam bersumpah, karena manusia tidak punya jaminan apapun untuk menepati sumpahnya itu. Sangat berbahaya jika sumpah dijadikan cara untuk berjanji, karena sama saja kita mempermainkan sesama kita dan bahkan Tuhan sendiri. Dalam hal inilah Yesus sangat tegas dan mengembalikan manusia pada keadaan dirinya sendiri dan kemampuannya.

Dengan tegas Yesus mengatakan agar setiap orang harus bersikap tegas dalam sikap hidupnya. Oleh sebab itulah pilihan hanya mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ dan bukan sikap tidak jelas dan ragu. Jawaban yang kita berikan menunjukkan kesadaran kita akan diri kita masing-masing. Dengan demikian kita siap melakukan yang jelas dapat kita lakukan, sekarang dan ke depannya. Jawaban ‘ya’ menunjukkan kesiap sediaan dalam bertindak dan tentu saja dalam mewujudkannya itu kita tetap memerlukan bantuan dan kekuatan dari Tuhan sendiri. Oleh sebab itulah dalam menjawab ‘ya’, sering juga kita sertai dengan ungkapan, ‘dengan bantuan Tuhan saya siap melakukannya’. Begitupun dengan tegas harus menjawab ‘tidak’, ketika memang tidak sesuai dengan kehedak Tuhan dan bertentangan dengan iman.

Kita diingatkan agar jangan pernah berkompromi atau berada dikeraguan karena godaan atau tawaran duniawi yang menyesatkan. Baiklah kita sadari sungguh bagaimana kita bersikap selama ini dalam menjalani kehidupan kita setiap hari. Apakah kita selalu berusaha mengikuti suara hati, yang sesuai dengan suara Tuhan atau lebih cenderung mendengarkan suara dunia, yang menjauhkan kita dari Tuhan. Bersikap tegas, berarti berani menjawab ‘tidak’ kepada setiap tawaran yang hanya membuat kesenangan, namun menjauhkan dari kebahagiaan ilahi. Ingatlah dengan bantuan Tuhan, kita akan mampu melakukan yang baik, karena Tuhan adalah jaminan hidup kita.  

Surga atau Neraka

Surga atau Neraka

Jumat Pekan Biasa X, 12 Juni 2020

Bacaan: 1 Raj. 19:9a,11-16; Matius 5:27-32

Sabda Yesus pada hari ini sungguh tajam, tegas dan juga jelas yang menyangkut kenyataan hidup harian kita. Secara khusus kali ini Yesus ingin menyadarkan kita semua akan kehidupan berkeluarga yang diikat dalam Perkawinan, bahkan Sakramen Perkawinan. Perkawinan ini begitu mulia dan merupakan sebuah panggilan dan pilihan yang menyertakan Tuhan sendiri di dalamnya. Oleh sebab itulah kesetiaan dalam hidup perkawinan hingga kematian memisahkan pasangan secara fisik, tetap harus dijaga dan dipertahanakan. Jelas tidak selalu mudah dalam menghidupi Perkawinan jika hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, apalagi dengan berbagai godaan yang ada. Dalam hal inilah kita perlu selalu sadar dan mengandalkan kekuatan Tuhan yang telah mempersatukan hidup Perkawinan ini.

Tujuan hidup kita, termasuk Perkawian adalah kehidupan bahagia dalam persatuan dengan Tuhan selama di Kerajaan Surga. Tentu saja Surga bukannya tempat melainkan kehidupan abadi dan damai dalam Rumah Bapa. Oleh sebab itu kita harus waspada dengan berbagai godaan yang dapat merusak tujuan hidup kita, khususnya dalam hidup Perkawinan. Yesus menyinggung perzinahan, yang muncul dari sikap kurang mampu mengendalikan diri terhadap godaan. Tuhan menciptakan panca indra untuk membantu kita semakin terarah kepada Tuhan bukan malah menjauh. Dengan perbuatan zinah yang bisa berlanjut dengan perceraian, maka arah perjalanan kita adalah neraka. Ini bisa terjadi karena kita memisahkan diri dari Tuhan dalam kesetiaan terhadap Perkawinan.

Yesus menyinggung realita yang sampai hari ini masih terjadi di dalam kehidupan kita semua, khususnya menyangkut hidup Perkawinan dan berkeluarga. Suasana kebebasan yang ditawarkan dunia ini telah membawa kita melakukan berbagai hal yang menjauh dari Tuhan. Apakah kita masih mau menjauh dari Tuhan? Saatnya kita mendengarkan teguran Yesus ini dan bersikap tegas terhadap godaan dunia ini.

Translate »