Browsed by
Month: June 2020

Pergilah dan wartakanlah!

Pergilah dan wartakanlah!

Kamis Pekan Biasa X, 11 Juni 2020     

Peringatan Wajib St. Barnabas Rasul

Bacaan: Kis. 11:21b-26;13:1-3; Matius 10:7-13

Santo Barnabas menghidupi panggilannya sebagai seorang rasul, yang mewartakan Kabar Gembira Keselamatan yang dibawa oleh Tuhan Yesus Kristus. Mewartakan tentu saja tidak cukup dengan perkataan dan pengajaran, namun juga dengan seluruh hidupnya sebagai kesaksian hidup nyata. Oleh sebab itulah Barnabas menjadi saksi iman yang sejati dan telah mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan, sekali untuk selamanya. ia memberikan diri sebagai seorang martir, ini janji yang telah Yesus berikan kepadanya, yakni kebahagiaan abadi dalam persatuan dengan Tuhan Yesus di Kerajaan Surga.

Hari ini Yesus menegaskan tugas perutusan yang dipercayakanNya kepada para rasulNya. Inti pewartaan yang mereka bawa adalah ‘Kerajaan Sorga sudah dekat’ serta melakukan tindakan kasih kepada semua orang terutama bagi mereka yang memerlukannya. Pewartaan dan pelayanan ini menjadi fokus perutusan mereka, maka mereka dilarang membawa berbagai hal yang tidak perlu. Yesus ingin agar semua orang mendengarkan warta keselamatan ini dan mengalami langsung keselamtan itu. Mereka yang paling membutuhkan mendapat prioritas di dalam pelayana perutusan ini. Para rasul melakukannya dengan sukacita karena mereka sendiri telah megalami kasih dan keselamatan itu, maka sekarang ini mereka membagikannya. Sungguh merupakan kebahagiaan bagi mereka karena dapat ikut ambil bagian dalam tugas mulia ini.

Yesus mengingatkan para rasulNya bahwa mereka telah menerima dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Perkataan Yesus ini menyadarkan kita semua bahwa semua yang ada pada kita adalah anugerah Tuhan, yang diberikan secara cuma-cuma. Oleh sebab itulah kita perlu selalu bersyukur yang kita lakukan dengan membagikan anugerah ini kepada sesama kita. Saatnya piula bagi kita untuk mewartakan Kabar Gembira Keselamtan ini melalui berbagi kasih kepada sesama, memberikan sebagian milik kita kepada yang membutuhkan. Hidup kita hendaklah menjadi berkat bagi sesama, mulai sekarang ini.

Penggenapan hukum

Penggenapan hukum

Rabu Pekan Biasa X, 10 Juni 2020

Bacaan: 1 Raj. 18:20-39; Matius 5:17-19

Tuhan Yesus menegaskan maksud kedatanganNya di tengah dunia ini, yakni untuk mewartakan kabar Gembira Keselamatan bagi semua manusia. Hal itu pula yang dikatakanNya dengan ungkapan bahwa Ia datang untuk menggenapi semua Hukum yang ada dalam tradisi Yahudi. Bangsa Yahudi sangat perpegang erat pada Hukum Taurat, yang diberikan Tuhan kepada Musa di Gunung Sinai, yang menjadi Hukum Utama mereka. Dengan pengajaran Yesus melalu sabda dan karyaNya, orang Yahudi merasa kawatir bahwa Yesus berbuat yang tidak sesuai dengan Hukum mereka. Memang pengajaran dan tindakan Yesus mengejutkan bagi banyak orang dan bahkan dianggap tidak sesuai Hukum dan peraturan yang ada.

Dengan mengatakan bahwa Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat, Ia mengajak semua orang untuk kembali ke dasar dan isi Hukum itu sendiri. Karena banyaknya aturan yang ada saat itu sehingga membuat isi utama hukum Taurat sendiri menjadi kabur dan bahkan jauh menyimpang. Yesus mengajak untuk kembali ke intinya, yakni Kasih kepada Allah dan sesama seperti yang dituliskan dalam Hukum Taurat. Kedatangan Yesus persis untuk menggenapinya, yakni sebagai Hukum Kasih dan Yesus sendiri adalah Kasih itu, karena Allah adalah Kasih.

Kitapun disadarkan akan kehidupan kita masing-masing sekarang ini, apa yang menjadi dasar hidup kita, khususnya sebagai pengikut Yesus. Terkadang kita begitu terpaku pada hukum dan peraturan yang ada yang dibuat oleh manusia, sehingga tujuannya menjadi kabur. Yang utama dari semua hukum dan aturan itu adalah bagi kebaikan manusia dan lebih lagi menghidupi kasih kepada Allah dan sesama. Apakah hal ini juga yang selama ini sudah menjadi perhatian dan penghayatan kita dan tampak dalam kehidupan harian kita melalui setiap hukum dan aturan yang kita buat dan jalankan?

Identitasku

Identitasku

Selasa Pekan Biasa X, 9 Juni 2020

Bacaan: 1 Raj. 17:7-16; Matius 5:13-16

Yesus menyampaikan ajaranNya dengan sederhana kepada semua orang yang mendengarkanNya, termasuk kita juga pada jaman sekarang ini. Ia juga menggunakan perumpaan yang bisa ditangkap dan dimengerti oleh para pendengarNya. Dengan mengatakan ‘garam’ dan ‘terang’, Yesus menyadarkan kita semua akan dua hal sederhana, yang selalu menjadi bagian di dalam kehidupan kita setiap hari. Maka dengan mengatakan dua hal itu, kita semua langsung tahu apa itu ‘garam’ dan ‘terang’ dengan kegunaannya.

Namun demikian menjadi berbeda sekali ketika Yesus mengatakan ‘kamu adalah garam dunia’! Ini berarti garam yang berfungsi memberi rasa asin untuk membuat makanan menjadi enak dan sedap itu sekarang diterapkan kepada manusia. Dengan mengatakan demikian, Yesus mau mengingatkan bahwa kita semua dipanggil sebagai ‘garam’ bukan lagi menjadi garam namun sudah garam itu sendiri. Inilah identitas kita, yakni memberi rasa sedap dan enak kepada dunia kita, kita diutus membawa kegembiraan dan sukacita.

Begitu pula ketika Yesus mengatakan, ‘kamu adalah terang dunia’!. Dengan tegas pula Yesus menerapkan hakekat terang itu kepada kita semua, yang bertujuan untuk memberikan terang dan ketenangan bagi dunia sehingga terlepaslah dari rasa takut. Ini juga menjadi identitas kita semua sebagai terang, yang menerangi dan memancarkan sukacita kepada sesama. Semuanya itu menjadi mungkin karena Tuhan Yesus yang mengaruniakannya kepada kita dan memampukan kita untuk memancarkannya kepada dunia sekitar kita. Apakah selama ini kita sudah sadar dan menghidupi identitas diri kita yang adalah garam dan terang dunia ini?

Bahagia VS Senang

Bahagia VS Senang

Senin Pekan Biasa X, 8 Juni 2020

Bacaan: 1 Raj. 17:1-6; Matius 5:1-12

Yesus mengawali pewartaanNya dengan menyampaikan dan mengajarkan inti pengajaranNya dari atas sebuah bukit, yang dikenal sebagai Sabda di Bukit. Pengajaran ini diberikanNya kepada semua orang yang datang dan mau mendengarkanNya. Inilah awal dari karya pewartaan Yesus akan Kabar Gembira kepada semua manusia, setelah Ia dibaptis dan berpuasa untuk mempersiapkannya. Inilah awal dan sekaligus menjadi dasar yang menjadi tujuan hidup setiap orang dan yang harus menjadi perhatian dalam mengisi kehidupan ini.

Ajaran perdana ini sering disebut sebagai ‘Sabda Bahagia’, karena kata ‘bahagia’ menjadi bagian khusus dalam ajaran Yesus kepada semua yang mendengarkanNya. Jika kita mendengar dan membaca Sabda Bahagia ini, ternyata tidak semua yang dikatakan Yesus itu membahagiakan. Reaksi spontan ini berkaitan dengan berbagai realita yang ditampilkan Yesus kepada kita semua, bahwa ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Inilah yang menjadi pesan Yesus, yakni semua manusia diundang untuk mengalami kebahagiaaan, yang dicapai melalui persatuan dengan Allah yang mencintai manusia. Oleh sebab itulah tujuan utama seluruh hidup dan perjuangan kita adalah persatuan dengan Allah, yang akan membawa kebahagiaan abadi bagi kita.

Jelaslah bahwa kebahagiaan tidak sama dengan senang, yang sering ditawarkan oleh dunia ini dan dicari oleh kita manusia. Senang atau kesenangan tidaklah bertahan selamanya, karena terkadang kita juga mengalami kesedihan. Oleh sebab itulah dalam Sabda Bahagia ini ditunjukkan oleh Yesus, bahwa terkadang kita akan menghadapi keadaaan yang tidak menyenangkan bahkan menuntut pengorbanan. Yesus membuka mata kita, mana yang menjadi prioritas dalam hidup kita sekarang ini. Walaupun kita hidup di dunia, namun tujuan hidup kita bukan dunia ini, melainkan Kerajaan Surga dalam kebahagiaan abadi karena bersatu dengan Allah. Apakah ini juga yang terus kita perjuangkan sampai saat ini, kebahagiaan abadi?

CARA HIDUP BERAGAMA

CARA HIDUP BERAGAMA

Sabtu, 06 Juni 2020

Mark 12:38-44 

            Tak terpikirkan sebelumnya, tata kehidupan di kebanyakan negara mengalami perubahan karena pandemi covid-19, termasuk juga cara hidup keagamaan mengalami perubahan. Perayaan peribadatan dalam setiap agama tak luput juga dari perubahan itu. Salah satunya seperti yang kita alami saat ini, yaitu mengikuti perayaan ekaristi melalui live-streaming dari rumah kita masing-masing. Kegiatan peribadatan tidak lagi dilakukan hadir secara fisik di suatu Gereja atau tempat ibadah. Situasi ini seolah mengundang kita untuk merefleksi lebih dalam mengenai tiga eleman suatu agama : isi ajaran, tata peribadatan dan pengamalan nilai-nilai iman. Dalam Injil hari ini, Yesus kembali memperingatkan para murid-Nya agar bersikap waspada terhadap cara hidup para ahli Taurat. Mereka lebih suka menjadi pusat perhatian, gila hormat, bersikap tidak adil terhadap kaum miskin, dan memanipulasi hukum demi kepentingan dirinya sendiri. Di saat situasi pandemi seperti ini, hidup keagamaan kita juga diuji. Kedalaman hidup iman seseorang tidak hanya dilihat secara lahiriah saja. Kedalaman hidup iman juga berkenaan dengan kualitas hati kita dalam mencintai Allah dan sesama.

            Pertanyaan yang perlu kita renungkan : masihkah kita tetap setia ikut perayaan ekaristi live-streaming sekurang-kurangnya pada hari Minggu? Sungguhkah kita mengimani kehadiran Kristus dalam komuni batin yang hadir melalui SabdaNya? Bagaimana aku mempraktekkan cinta kasih dan membantu saudara-saudari yang mengalami penderitaan? Allah menganugerahkan Roh KudusNya sehingga kita pun mampu mengalami sukacita dan kegembiraan karena kehadiranNya dalam sakramen-sakramen yang kita rayakan dan kegembiraan dalam melayani orang lain.

            Yesus lebih lanjut memberi contoh mengenai sikap iman seorang janda miskin. Ia menghayati arti pemberian diri yang total kepada Allah. Yesus memuji sikap seorang janda miskin karena ia  mencintai Allah dengan keseluruhan hatinya. Memang, ia tidak memberikan persembahan yang banyak (kuantitas) tetapi ia memberikan seluruh (kualitas) dirinya. Yesus menegaskan kembali bahwa persembahan hati yang penuh cinta lebih berharga daripada persembahan emas. Persembahan diri yang sejati mengalir dari hati yang penuh syukur.

“Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami dengan Roh KudusMu agar kami mampu mempersembahkan diri kami demi kemuliaan namaMu”

Translate »