Browsed by
Month: July 2020

Jesus the Sower

Jesus the Sower

15th Sunday in Ordinary Time [A]

July 12, 2020

Matthew 13:1-23

In today’s Gospel, we observe the reaction of the disciples after Jesus spoke His first parable. They were puzzled and confused. Why? because Jesus took a sudden change of method. In previous chapters, Jesus taught them plainly, like in the sermon of the Mount [Mat 5-7], and His teachings were as clear as broad daylight. Yet, Jesus made an unexpected turn that make many people and including His disciple lost. What really happened?

To understand parable, we need to see that parable has been used even before Jesus, in the Old Testament. One of the classic examples is the parable of prophet Nathan addressed to king David [See 1 King 12]. King David has done unthinkably grave sin by committing adultery with Bathsheba and orchestrating the murder of her husband, Uriah. Then, prophet Nathan confronted David, yet indirectly by narrating him a parable. It was about a rich man who forcefully robbed an ewe of a poor man. Listening to the story, David was infuriated and declared that the rich man should die. Then, Nathan dropped the bomb: “David, you are the rich man!” Fortunately, David was a kindhearted and faithful king, and he repented when he was reminded.

That is the power of parable. It is an indirect and concealed message to make people think deeper about themselves. Jesus began to talk in parables as Jesus realizes that the opposition of the Pharisees and the scribes were worsening, and many people who just want to be entertained rather than to follow Jesus.

Thus, the parable of the sower expresses the real condition of Jesus’ ministry. The elders and the Pharisees were like the pathway. They heard Jesus’ preaching, but still chose to be under the influence of darkness, and sought to destroy Jesus. Many people were like the rocky ground because they simply looked for Jesus to satisfy their needs. Other were like soil filled with thorns because they followed Jesus for a time, but when the trials came, they abandoned Jesus. Lastly, the rich soil was the disciples.

The parable of the sower is not reflecting different kinds of hearers of Jesus during His time, but it is also revealing the reality of our time. Some of us are like the pathway, perhaps we were baptized Catholics, but we never live as such, and still living in sin. Some of us are like rocky ground. We treat Jesus and His Church as place of entertainment, and we simply look for ourselves rather than God. Some of us are like soil filled with thorns. We are elated of being Christians, but we do not go deeper in our faith, and when the trials or doubts hit, we easily leave the Lord. And hopefully, many of us are like the rich soil. We do our best to receive God’s Word and see to it that it will grow and bear fruits.

The good news is the word of God is exceedingly powerful that even it can bear fruit is the rocky ground. Yet, the initial grace is free but it is not cheap, and we need our part. It is our mission to transform even the rocky ground into the rich soil for the Lord.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

HIDUP DALAM HARAPAN

HIDUP DALAM HARAPAN


Matius 10:24-33
Manusia harus menghadapi segala peristiwa; baik yang manis maupun peristiwa pahit. Apapun yang terjadi, setiap orang tidak bisa lari dari realita, dan harus menghadapinya. Tidak jarang sebagian orang putus asa dan mengambil jalan pintas atau lari dari kenyataan. Bagaimana agar seseorang kuat menghadapi realita hidup dan mampu mensyukurinya?
Kekuatan terbesar yang dimiliki oleh manusia ada didalam dirinya sendiri, namun tidak banyak orang menyadarinya. Kekuatan tersebut berupa Harapan/semangat hidup. Harapan bersumber dari iman/keyakinan. “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.”(Mzm 62:5). Dengan iman tersebut seseorang memiliki mata hati yang akan membantu seseorang untuk merasakan kehadiran Allah dalam setiap peristiwa hidup, sehingga ia selalu bisa memaknai setiap peristiwa, bahkan juga dibalik peristiwa/ hal yang pahit. Dengan demikian, seseorang tidak pernah kehabisan daya /harapan yang bersumber dari dalam hatinya.
Harapan yang berasal dari iman adalah harapan yang didasarkan pada keyakinan bahwa Allah adalah kasih. (1Yoh 4:8). Kasih Allah yang hadir dalam diri seseorang membuatnya selalu merasakan damai sejahtera tinggal dihati dan mampu menghalau segala kecemasan dan kekuatiran. “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”(Mat 10:29-31).
Sekalipun seseorang memiliki segala-galanya namun jika ia tidak memiliki iman yang melahirkan harapan, maka ia akan mudah jatuh dengan kelemahan-kelemahannya dan mudah mengeluh, cemas dan takut. “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”(1Yer 17:7-8).
Paroki St. Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. Aloysius Didik Setiyawan CM

KERAJAAN ALLAH HADIR

KERAJAAN ALLAH HADIR


Matius 10:7-15
Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, berarti menerima visi yang ingin diwujudkan oleh Yesus, yaitu menghadirkan Kerajaan Allah.”Pergilah dan beritakanlah Kerajaan Sorga sudah dekat.”(Mat 10:7). Dalam kerajaan tersebut yang menjadi tempat dimana Allah hadir sebagai raja adalah hati manusia, yaitu ketika seseorang membuka diri dan percaya kepada-Nya. Saat Allah bersemayam dan tinggal di dalam hati manusia, maka damai dan keselamatan hadir.
Kerajaan Allah adalah Kerajaan Kasih, karena Allah sendiri adalah Kasih tersebut. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”(1Yoh 4:8). Oleh karena itu, mereka yang percaya kepada Allah akan selalu hidup dalam kasih. Hidup dalam kasih berarti tidak lagi tinggal dalam kebencian, kesombongan, kecemasan, dan kesombongan.
Bagaimana Kerajaan Allah hadir? Tanda kerajaan hadir, yaitu ketika kasih dihayati dan dilaksakan dalam kehidupan. Kasih sejati adalah suatu yang universal dan bukan hanya untuk orang-orang tertentu, atau hanya untuk orang-orang yang cocok dan menyenangkan hati. Kasih sejati adalah kasih yang telah ditujukkan oleh Yesus diatas kayu salib ; kasih tulus dengan pengorbanan demi keselamatan semua manusia. Sekalipun manusia berdosa namun Dia mengasihi dan mengampuni mereka. Kristus memberikan kasih-Nya tanpa menuntut dan diterima cuma-cuma oleh semua manusia yang berdosa. Oleh karena itu kasih yang dihadirkan dalam kerajaan Allah juga tanpa menuntut/pamprih. “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati, tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan. Kamu telah memperolahnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-Cuma.”(Mat 10:8).
Hidup dalam kasih adalah hidup dalam kerajaan Allah. Seseorang tidak perlu menunggu nanti, Karena kerajaan Allah sudah hadir saat orang percaya kepada Kristus dan di dalam kasih-Nya. Saat Kristus hadir maka Dia yang akan memimpin, menuntun dan sekaligus menemukan kehidupan serta kebenaran. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalua tidak melalui Aku.”(Yoh 14:6).
Paroki St. Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. Aloysius Didik Setiyawan CM

BELAJAR TERUS MENJADI SETIA

BELAJAR TERUS MENJADI SETIA


Matius 10:1-7
Yesus melibatkan para rasul untuk ambil bagian dalam karya keselamatan untuk menghadirkan kerajaan Allah. Yesus sadar bahwa masing-masing dari mereka memiliki kelemahan dan bahwa Dia tahu juga, salah satu dari mereka yaitu Yudas Iskariot mngkhianati-Nya. (Mat 10:4). Akan tetapi hal itu, tidak mempengaruhi keputusan Yesus untuk tetap memilih mereka. Apa yang terjadi menjadi tanda bahwa, Yesus memiliki cinta dan kebesaran hati untuk merima semua konsekwensi atas keputusan yang telah diambilNya.
Dalam mengikuti Yesus, Dia meminta juga supaya masing-masing murid siap dengan segala situasi, bahkan siap untuk berkorban dan memanggul salib. ”setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku.”(Mat 16:24). Bisa terjadi, salah satu salib yang harus dipikul adalah menghadapi orang-orang yang mengkhianatinya. Seperti yang dilakukan Yesus, seorang murid sejati tidak mundur dalam niat baik untuk setia melakukan yang benar dan baik demi kerajaan Allah.
Kesetiaan dan kebaikan seseorang justru akan terlihat saat menghadapi situasi sulit dan yang tidak menguntungkan, namun hal itu tidak mengurangi semangat dan perjuangannya untuk mengasihi, bertindak adil dan benar. Apa yang diperjuangkan orang yang setia akan memancar keluar dan menjadi kesaksian hidup sehingga semua orang akan melihat perbuatannya yang baik dan pada akhirnya membawa pada pertobatan dan kemuliaan Allah. “Demikianlah henyaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Mat 5:16).
Suatu kepercayaan sudah dianugerahkan kepada mereka yang menjadi pengikut dan yang percaya kepada Kristus. Tinggal sekarang bagaimana tanggapan masing-masing orang. Setiap orang dengan bebas bisa menentukan pilihannya, apakah setia atau tidak. Masing-masing pilihan memiliki konsekwensinya sendiri. Belajarlah dari Sang Guru, Yesus Kristus sendiri. “Pikulah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”(Mat 11:29)
Paroki St Monfort, Serawai, ditulis oleh Rm Aloysius Didik Setiyawan CM

DI DALAM MEREKA KUTEMUKAN DAN KULAYANI YESUS

DI DALAM MEREKA KUTEMUKAN DAN KULAYANI YESUS


Dimanakah Yesus ditemukan? Biasanya orang berpikir bahwa melalui doa, seseorang bertemu dengan Tuhan Yesus. Ya itu benar, namun Yesus tidak hanya ditemukan dalam doa, tetapi juga dalam diri sesama, terutama di dalam diri mereka yang sakit, menderita, dan yang terpinggirkan. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudarasaudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”(Mat 25:40).
Dengan demikian ketika seseorang menerima dan mengasihi orang miskin dan menderita, maka ia menerima dan mengasihi Tuhan Yesus sendiri. Ketika hal itu disadari maka perjupaan dan pelayanan kepada mereka yang menderita, menjadi anugerah dan berkat yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, pelayanan kepada mereka yang menderita bukan sebagai beban tetapi sumber kegembiraan. Keletihan dan kepenatan bisa terobati ketika seseorang menyadari ia bertemu dengan Yesus.
Perjumaan dan pelayanan kepada mereka yang menderita adalah jalan untuk semakin dekat dan Bersatu dengan Allah. Oleh karena itu dari mereka, seseorang menerima pengajaran yang adalah sabda Allah yang hidup. Melalui kehidupan mereka Allah memberikan Injil (kabar gembira) kepada kita yang melayani mereka.
Kesempurnaan kasih ditunjukkan oleh Kristus atas kayu salib. Yesus mengasihi tanpa syarat dan tanpa menuntut. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”(Luk 23:34). Oleh karena itu, kasih seseorang bisa dilihat dari kerelaan dan ketulusannya. Jika rela dan tulus maka ia mengasihi tanpa memikirkan balasan. “..Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.”(Mat 6:3).
Sedikit orang yang mau melayani mereka yang kecil dan menderita, namun jalan sempit inilah yang menghatar orang-orang setia masuk pada kehidupan kekal. “Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”(Mat 7:14). Kepada mereka yang setia melayani Kristus dalam diri orang-orang menderita, akan menerima berkat dari Allah. ”Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orangorang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasanya pada hari kebangkitan orangorang benar.”(Luk 14:13-14).
Dimanakah Yesus bisa kita temukan?
Bagaimana merasakan dan mengalami kehadiran Yesus dalam diri orang-orang yang dilayani?
Tantangan apa yang harus dihadapi sebelum bertemu Yesus dalam diri orang-orang yang kecil dan tersingkirkan?
Apa yang ditemukan ketika melayani mereka yang menderita?

Translate »