Browsed by
Month: August 2020

Kembali pada Yang Benar

Kembali pada Yang Benar

Selasa, 11 Agustus 2020

PW. St. Klara

Bacaan I          Yeh 2:8 3:4

Bacaan Injil    Mat 18: 1-5, 10, 12-14

Bacaan-bacaan yang hari ini diperdengarkan mengajak kita untuk menyadari tentang kasih Allah. Ada apa dengan kasih Allah? Bahwa, kasih Allah membawa kita semua untuk kembali pada identitas dan jalan yang benar. Sebagaimana digambarkan oleh Yesus dalam bacaan Injil, kita diminta untuk secara rendah hati menjadi seperti anak kecil, sekaligus menyadari betapa kita berharga seperti seekor domba yang tersesat lalu dicari, diketemukan dan akhirnya dirayakan dengan gembira melebihi kawanan yang ada di jalan benar. Itu semua memperlihatkan bahwa Allah menginginkan kualitas hidup setiap orang selalu unggul tanpa melupakan peran serta-Nya. Hidup di dunia memang membuat setiap orang mempunyai potensi mengandalkan dirinya sendiri dan lambat laun bisa melupakan Allah karena dikaburkan oleh rasionalisasi ataupun keinginan atas nama diri sendiri. Hari ini Allah menyadarkan bahwa kita harus merasakan kasih-Nya yang mampu mengembalikan kita pada identitas dan jalan yang benar.

Setinggi-tingginya hidup kita di usia dewasa, kita harus merendahkan diri untuk meniru seperti anak kecil dimana suasana hidup anak-anak dipenuhi dengan ketaaatan dan kepercayaan penuh pada Tuhan. Kita diingatkan kembali pada bangunan harapan di masa anak-anak yang pasti memimpikan kehidupan bermutu di masa depan. Harapan itu menjadi lentera agar jalan yang dipilih senantiasa tertuju pada kebaikan, keluhuran dan kesejahteraan. Dan, sebagaimana domba yang tersesat, kita mungkin pernah mengalaminnya. Tersesat karena kesombongan, ketidakadilan, egoisme atau kejahatan lainnya. Namun, Allah dengan kasih-Nya mau mencari demi mengembalikan kita pada jalan yang benar. Itulah jalan yang dikehendaki oleh-Nya. Jalan yang menuju pada keselamatan kekal.

Maka, mari kita menyadari betapa Allah mempunyai cara untuk mengasihi kita agar kita dapat kembali lagi kepada-Nya. Yang kita harus lakukan adalah merasakan kasih-Nya itu, terutama dalam segala situasi hidup. Menjaga semangat dan iman serta memelihara kepekaan hati untuk menangkap kasih-Nya, itulah yang semoga dapat kita buat dalam hidup sehari-hari.

Pesta St. Laurensius

Pesta St. Laurensius

Senin, 10 Agustus 2020

Bacaan I          2Kor 9: 6-10

Bacaan Injil    Yoh 12: 24-26

Menanam Kebaikan

Sebagai orang yang hidup di masyarakat, kita memiliki kewajiban untuk berbuat baik demi kesejahteraan bersama. Hanya manusia yang mengenal perbuatan baik. Namun, persoalannya bahwa tidak semua orang dapat mempertahankan berbuat baik jika dalam perjalanan berhadapan dengan hal-hal yang tidak dapat dikontrol. Mari kita menyadari bahwa apapun yang kita hadapi, tuntutan berbuat baik harus tetap dipertahankan sebagaimana direfleksikan Paulus dalam bacaan pertama “orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit. Sebaliknya, orang yang menabur banyak, akan menuai banyak pula”. Tidak ada yang kita tabur selain kebaikan dalam ziarah menuju pada keselamatan. Perbuatan baik sekecil apapun akan membawa kebaikan bagi orang yang melakukannya. Tuhan tidak akan pernah melupakan kebaikan-kebaikan yang kita buat. Menjadi orang baik adalah sebuah impian dan arah hidup yang kita bentuk.

Paus Fransiskus pernah memberi pesan bahwa kita sebagai orang katolik diajak untuk menjadi protagonis dalam kebaikan. Artinya, berlomba-lombalah untuk berbuat baik. Jangan pernah puas dalam berbuat baik sebab kepuasan akan memicu kemandegan yang akhirnya membuat kita mungkin tidak terpikat lagi untuk melakukan kebaikan. Orang baik tidak pernah mengharapkan pamrih atau apresiasi, bahkan seringnya bahwa mereka akan kaget atau terkejut jika ada yang memberi apresiasi. Itulah ciri orang baik: perbuatan lebih diutamakan daripada imbalan.

Jika diperdalam melalui konteks ajaran Tuhan, kita bisa melihat bahwa kebaikan merupakan salib kita. Artinya, melalui salib, Yesus memberikan kebaikan yang paling sempurna demi keselamatan manusia. Salib bukan lagi kebodohan melainkan kesempatan untuk mengasihi. Maka, kita pun diajak untuk menikmati salib demi membangun suasana kasih di tempat kita berada. Mari kita melihat dalam kehidupan masing-masing, kebaikan macam apa yang bisa dibuat, entah itu yang rutin maupun situasional. Kalau kita punya hati, akan ada banyak kesempatan berbuat baik. Sebab, kehidupan kita masih butuh kebaikan agar tetap damai dan sejahtera.  

Focus on Jesus

Focus on Jesus

19th Sunday in Ordinary Time

August 9, 2020

Matthew 14:22-33

The story of Jesus walking on water is a well-known account being shared by three gospels: Matthew 14:22-33, Mark 6:45–52 and John 6:15–21. However, unique to Matthew is the part of Peter who also walked on water, but sank after a few steps. Let us focus our attention on this unique moment in the life of Simon Peter.

The sudden and unusual appearance of Jesus startled the disciples who were still battling the strong wind. The disciples’ natural reaction was fear. They thought they saw a ghost. Matthew gives us a little interesting detail: the disciples were afraid not because of the raft sea, but because of Jesus’ presence. We remember that many of them were seasoned fishermen and dealing with unpredictable conditions in the lake of Galilee was their part of their job description.  Yet, to see someone walked on water was just unprecedented. Thus, Jesus took the initiative to calm the storms inside their hearts and assured them that He is the “I AM” who controlled the forces of nature.

Peter, the bold leader and yet impulsive man, wanted to prove what he saw and heard. He then challenged Jesus and himself by saying, “Lord, if it is you, command me to come to you on the water.” Jesus invited him to come. The miracle took place. Simon Peter was able to walk on water. Yet, his weak human nature once again set in. After a few miraculous steps, he got distracted by the wind, lost his focus on Jesus, and he began to sink. Jesus had to save him and told him, “O you of little faith, why did you doubt?” We notice that Jesus did not say, “You, who have no faith!” but rather, “little faith.” This shows that Peter possessed indeed faith, proven by his several miraculous steps, but it was still small, easily distracted, and doubt-ridden.

Many of us can easily relate to Simon Peter, our first Pope. We believe in Jesus, and we know that we have faith in Him. Yet, we are aware also that our faith is still small. We may go to the Church every Sunday or pray from time to time, believe that Jesus, our God and Savior, and accept the teachings of the Church, but our faith is just tiny part of our life, that can be set aside when other and bigger concerns like work, career, relationship and others. We give God our leftovers, our time and effort. Even in our prayer and worship, we are easily distracted. Rather than focusing ourselves in Jesus, we give our attention to our cellphones and all the excitement they offer. Then, when we face the storms of life, we begin to sink, and when we are drowning, that is that the time, we shout, like Peter, “Lord, save me!”

We are called to set our gaze on Him and to learn to have true eyes of faith. These are eyes to ponder the Eucharist not as mere bread and wine, not as monotonous repetition, but as the real presence of Jesus who has sacrificed His life for us. This is a faith that empowers us to see Jesus’ presence in our daily and ordinary events. Thus, not even the fiercest storms can sink us because we focus our eyes on Jesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perayaan di tengah Krisis

Perayaan di tengah Krisis

Peringatan Santo Dominikus de Guzman

8 Agustus 2020

Matius 17:14-20

Hari ini Gereja memperingati St. Dominikus de Guzman, Bapak pendiri Ordo Pewarta [OP]. Keluarga besar Dominikan di seluruh dunia yang meliputi para romo, bruder, suster dan juga awam merayakan hari ini sebagai hari pesta besar. Tetapi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini perayaan St. Dominikus tidak bisa semeriah tahun sebelumnya karena kita masih bergulat dengan pandemi korona. Misa dibuat sederhana dan online, pertemuan pun dibatasi jumlahnya. Apakah kita lantas bersedih karena tidak bisa melakukan perayaan seperti biasanya?

Perayaan di tengah krisis ini tidak hanya dialami karena pandemi. Sampai sekarang masih banyak Dominikan yang bekerja di daerah misi yang sangat berbahaya. Saudara-saudari Dominikan yang berkarya di Timur Tengah seperti di Irak dan juga beberapa daerah di Afrika merayakan pesta St. Dominikus di tengah ancaman serangan teroris, bom dan bahaya penganiayaan. Apakah mereka berhenti merayakan pesta ini? Tidak! Sekali lagi jawabannya adalah Dominikan justru menemukan identitas di saat krisis, bahkan krisis antara hidup dan mati.

Kenapa para Dominikan mampu hidup di tengah krisis dan bahkan tumbuh berkembang? Jawabannya Kembali kepada St. Dominikus itu sendiri. Dia menjadi pewarta dan mendirikan Ordo Pewarta sebagai respons terhadap krisis besar di Gereja pada saat itu. Banyak orang Katolik yang tersesat oleh ajaran Albigentian dan banyak imam tidak dipersiapkan untuk mewartakan kebenaran iman. Dominikus punya pilihan untuk Kembali hidup sebagai kanon reguler [imam projo yang hidup berdasarkan regula] dan menikmati kenyamanan hidup di Katedral Osma atau hidup miskin, tidak menetap dan selalu dalam bahaya demi mewartakan Injil. Dan kita tahu pilihan St. Dominikus. Setelah ini, keputusan-keputusan Dominikus selalu menjadi respons dari krisis yang ia jumpai. Saat orang-orang mulai mengikutinya, dia bisa saja mengatakan tidak kepada mereka, karena membangun komunitas pewarta jauh lebih sulit dari pada mewartakan sendirian, tetapi momen krisis ini mendorongnya membentuk sebuah Ordo revolusioner pada waktu itu, sebuah Ordo yang tidak menetap secara permanen di satu biara, tetapi itineran, hidup dalam pengembaraan sebagai pewarta. Saat komunitas kecilnya baru terbentuk, Dominikus menghadapi krisis berikutnya: apakah dia tetap menjaga saudara-saudaranya di dekatnya, atau mengirim mereka untuk belajar di kota-kota besar. Dominikus sekali lagi mengambil keputusan berani dan tidak pernah terdengar sebelumnya saat dia memutuskan untuk mengirim saudara-saudaranya dalam kelompok kecil untuk belajar dan membangun komunitas kecil di Prancis dan Bologna.

Ordo Pewarta terlahir di tengah-tengah krisis atau lebih tepatnya terlahir dari respons berani namun bijak terhadap krisis yang dihadapi. Ini menjadi bagian penting dari identitas kita. Seorang Dominikan terlahir dari krisis, hidup di tengah-tengah krisis dan berkembang di tengah krisis. Mungkin kita selalu punya bayangan bahwa St. Thomas Aquinas hidupnya tenang dan selalu fokus dalam belajar, menulis dan mengajar, tetapi kalo kita perhatikan dengan jeli, hidupnya pun dipenuhi oleh momen-momen krisis, dari oposisi keluarga sampai bagaimana dia membawa sistem filsafat dan logika Aristoteles ke Gereja yang dianggap kafir dan sesat pada saat itu.

Jika ada satu hal yang diajarkan oleh St. Dominikus, kita tidak perlu takut dengan momen krisis, tetapi meresponsnya dengan berani dan bijak, mengambil momen ini untuk melepaskan diri dari naluri insting kita untuk mencari amannya saja dan keluar dari zona aman kita, menjadikan momen ini kesempatan untuk melebarkan kapasitas kita untuk melayani dan berkorban untuk mengasihi lebih dalam.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Paradoks Iman

Sebuah Paradoks Iman

Jumat dalam Pekan Biasa ke-18

7 Agustus 2020

Matius 16:24-28

Dalam Injil hari ini, Yesus mengungkapkan titik balik dari kehidupan-Nya. Para pengikut-Nya mengharapkan dia sebagai seorang Mesias yang akan memimpin Israel dalam perang melawan Kekaisaran Romawi dan membawa mereka pada pembebasan politik dan kemerdekaan bagi bangsa Yahudi. Murid-murid-Nya hanya akan menerima Yesus sebagai raja agung yang akan mengembalikan kerajaan dan wilayah David. Selebihnya adalah kesalahan! Dengan demikian, Petrus, pemimpin para rasul, berani bertengkar dengan sang Guru ketika alasan mendasar mereka mengikuti Yesus terguncang. Namun, Yesus tidak datang sebagai jenderal atau komandan perang. Dia mengatakan kepada kita bahwa ia harus menghadapi penganiayaan, penyaliban, dan akhirnya kematian. Dan, lebih buruk lagi, Ia berharap para pengikut-Nya untuk menanggung salib yang sama seperti yang Ia lakukan. Siapa yang akan mengikuti guru gila semcam ini!

Namun, sejarah menceritakan bagaimana pada akhirnya para rasul setia memanggul salib mereka sampai akhir. Petrus disalibkan secara terbalik, Yakobus dan Paulus dipenggal dan rasul-rasul lain memiliki nasib yang tidak lebih baik. Para rasul adalah contoh terbaik dari pengikut Yesus dan salib yang sama diberikan kepada semua umat Kristiani termasuk kita sekarang. Kita juga berdoa bagi pengikut-pengikut Yesus yang menderita dalam perang yang terjadi di Suriah, Irak dan bahkan di Palestina. Ribuan orang meninggalkan kampung halaman mereka tanpa ada harapan akan pulang kembali dan tidak adanya kepastiaan akan masa depan mereka. Banyak meninggal sebagai korban tak berdosa dari perang, tapi yang lain harus kehilangan nyawa karena mereka adalah pengikut Kristus. Kematian mereka berharga di mata Tuhan, sabda sang Pemazmur. Namun, salib ini tidak hanya terjadi di wilayah di mana konflik berkecamuk, tetapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari.

Salib adalah sebuah paradoks besar iman kita. St. Paulus menyatakan dalam suratnya ke umat di Korintus bahwa Yesus tersalib adalah batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi yang bukan Yahudi (lih. 1 Kor 1:23). Namun, ini adalah jalan keselamatan. Salib Kristus menawarkan kita paradoks yang lebih besar. Hanya melalui salib, Tuhan menguatkan kita untuk menjadi seorang yang tidak egois dan membuka kemungkinan bagi kita untuk mengasihi secara lebih dasar. Jika kita membelikan anak kita sebuah iPhone karena kita memiliki banyak uang, itu adalah sebuah kasih yang biasa-biasa saja. Tapi, ketika kita tidak makan agar anak-anak kita memiliki sepiring nasi, tak seorang pun akan berani untuk menyebut kasih ini sebagai biasa-biasa saja. Ketika Yesus berkata bahwa Ia harus memikul salib-Nya dan pergi ke Yerusalem, Dia hanya mengatakan kepada kita bahwa Dia akan mengasihi kita secara lebih radikal. Oleh karena itu, rekan-rekan terkasih, jangan takut untuk mengambil dan memikul salib kita sehari-hari karena kita memasuki sebuah paradoks indah dalam iman kita. Melalui salib, kita dimampukan untuk mengasihi secara lebih besar.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »