Browsed by
Month: October 2020

KEDAMAIAN SEJATI ADA DI LUAR ZONA NYAMAN

KEDAMAIAN SEJATI ADA DI LUAR ZONA NYAMAN

Kamis, 22 Oktober 2020

Lukas 12: 49-53

Suatu saat pembimbing rohani saya membuat saya mlongo kaget. Dia mengatakan, kalau romo mau belajar sesuatu yang baru, bakarlah semua buku yang pernah romo baca selama ini. Kalau romo ingin menjadi orang yang bijak, pecahkanlah kepalamu …

Dialog itu terjadi sudah hampi 10 tahun lalu. Memang lalu terjadi dialog panjang terkait dua ungkapan itu. Terus terang, sampai sekarang saya masih mencoba memahaminya. Karena, seperti beliau katakan, ungkapan itu hanya bisa dimengerti ketika saya mengalaminya.

Saya teringat sabda Tuhan yang penuh paradoks: yang mencari diri, malah akan kehilangan dan yang kehilangan karena kasih, akan menemukan dirinya; orang menjadi kaya karena pengosongan, menjadi tinggi karena merendahkan diri …

Injil hari ini hanya akan kita mengerti kalau kita berani mengalaminya. Mungkin tidak perlu banyak dan sempurna, yang penting ada pengalaman. Tuhan datang dan hadir di tengah kita dengan membawa Api. Api adalah lambang kuasa Roh Allah. Roh yang menerangi, memurnikan, menghangatkan dan memberi daya. Itulah api yang diharapkan terus menyala. Kedamaian sejati hanya ada di dalam Roh Tuhan ini.

Orang yang terbakar oleh Api Allah, akan mendapat pencerahan memahami sabdanya dan diberi keberanian serta stamina batin untuk memurnikan diri. Ia dianugerahi komitmen untuk hidup atas dasar kebenaran di tengah wabah kepalsuan dan kebohongan. Orang yang terbakar Api Roh Kudus akan memiliki daya membangun persaudaraan di tengah intoleransi dan kekerasan. Dia juga memilikikKomitmen untuk berbagi ketika pola hidup hedonis dan narsis itu sangat kuat. Dan sebagainya. Repotnya, mentalitas duniawi yang berlawanan dengan Injil itu bisa ditemukan di dalam keluarga, sahabat, di kantor, tetangga … bahkan lebih mudah diketemukan dalam diri kita sendiri. Kuasa gelap ini tidak bisa dihadapi dengan kekuatan manusiawi belaka. Maka Roh Kudus, Api Ilahi diberikan pada kita.

Kedamaian yang diwartakan Yesus adalah kedamaian yang diperjuangkan. Bukan kedamaian murahan. Ini kedamaian dengan melepaskan apapun yang membuat kita nyaman.  Ini bisa rasa nyaman karena diterima, nyaman karena pujian dan tepuk tangan, nyaman karena banyak fasilitas sehingga jiwanya tertidur, nyaman karena tidak terganggu oleh keprihatinan dan kemiskinan orang- orang di sekitar kita, easy going person … dst. Ini semua bisa meninabobokkan jiwa. Yang kita perlukan ialah Api Ilahi untuk perlu membakar ini semua.

Kedamaian tanpa kerelaan bergulat menaklukkan selera dan hawa nafsu, ada bahaya menjadi kedamaian semu. Kita pun masih sering jatuh pada kesalehan ritual tanpa keterlibatan melayani sesama.

Indikasi kalau kita mulai dihangatkan dan dibakar oleh Api yang dilemparkan oleh Tuhan ialah ada eksadaran diri sebagai orang berdosa dan niat untuk bertobat; ada kemauan dan kemampuan untuk memperbaiki kualitas hidup; ada stamina batin untuk menghadapi kepahitan dalam hidup ini …

Komitmen menjadi murid Yesus dan setia pada ajaranNya, akan membawa kita untuk lebih bersahabat dengan salib: jalan kedamaian dan kehidupan sejati.

UKURAN KEBESARAN MURID YESUS IALAH PELAYANAN

UKURAN KEBESARAN MURID YESUS IALAH PELAYANAN

Rabu, 21 Oktober 2020

Lukas 12: 39 – 48

Santo Stanislaus Kostka adalah seorang frater novis Yesuit. Dia meninggal dunia ketika masih menjalani pembinaan di Novisiat dan masih berusia 17 tahun. Salah satu mottonya yang masih relevan untuk setiap murid Yesus ialah “Ad Maiora Natus Sum”, aku lahir untuk suatu yang lebih besar. Dan memang itulah yang terjadi dalam seluruh hidupnya. Dia tidak pernah mengecilkan dan meremehkan fasilitas apapun, tugas, tanggungjawab, doa, bersihkan WC, melayani teman di ruang makan dan sebagainya. Semuanya itu menjadi ungkapan kemuridannya pada Yesus. Maka semuanya harus dilakukan dengan benar, maksimal dengan motivasi murni.

Perumpamaan dalam Injil ini memberi ilustrasi mengenai orang macam apakah yang berkenan pada Tuhan. Ia adalah orang yang menyadari bahwa tuannya menitipkan tanggungjawab besar padanya. Repotnya, tidak ada petunjuk bagaimana tugas dan tanggungjawab itu dilaksanakan. Bebas. Ternyata ada banyak cara dan kreativitasnya. Yang dibenarkan oleh tuannya ialah pengurus yang memahami kehendak tuannya kemudian dengan setia dan bijak melakukannya. Bukan untuk cari pujian, tapi untuk tuannya yang datang setiap saat.

Itulah kepercayaan Tuhan pada kita. Tuhan memberi pada setiap manusia amanah, titipan, tanggungjawab atau apapun istilahnya, yang besar. Masing-masing diberi kemampuan cukup untuk melaksanakan misi ini. Hebatnya lagi, kita diberi kebebasan bagaimana melaksanakan tanggungjawab ini. Dan masa depan kita amat tergantung pada bagaimana kita secara kreatif penuh kegembiraan dan setia, melaksanakan tanggungjawab ini.

Kita sering mengatakan “manusia merencanakan tetapi Tuhan menentukan”. Ungkapan ini lebih menjadi cara kita lari dari tanggungjawab, dan kembali melemparkan semuanya pada Tuhan. Mungkin lebih tepat mengatakan bahwa “Tuhan merencanakan dan manusia menentukan”. Tuhan sejak awal merencanakan keselamatan, tetapi manusia bebas menentukan. Paling sedikit itulah yang terbaca dari perumpamaan Injil ini.

Tak baik manusia itu seorang diri. Manusia tumbuh berkembang dalam relasi dengan sesama dan alam. Bahkan keselamatan itu pun bersifat relasional. Manusia tidak diselamatkan seorang diri, tetapi dalam komunitas dan persaudaraan dalam Tuhan. Titipan Tuhan akan membantu keselamatan manusia kalau dipakai untuk melayani orang lain, terutama yang membutuhkan. Lewat itu pula pengurus rumah tadi menghormati tuannya, lewat ini pula kita meluhurkan dan memuliakan Tuhan. Karena menyangkut keselamatan kita dan kemuliaan Tuhan, maka kita diajak untuk tidak minimalis dan ala kadarnya dalam mengelola danmembagikan anugerah Tuhan yang dititipkan pada kita.

SIAP SIAGA SEBAGAI SIKAP DASAR MURID YESUS

SIAP SIAGA SEBAGAI SIKAP DASAR MURID YESUS

Selasa, 20 Oktober 2020

Lukas 12: 35-38

Pinggang terikat menandakan kesiapan untuk kerja keras, berjuang mengatasi tantangan, memulai perjalanan jauh, siap menyelesaikan tanggungjawab dan semacamnya. Pelita hanya bermakna di malam hari. Pelita menyala agar tak tersandung, tidak salah lihat, tidak tersesat, bisa kenali baik buruk, mampu membedakan bisikan Roh Kudus dari roh jahat. Pelita itu ialah Roh Kudus yang dianugerahkan dalam diri kita. … Pelita kita mesti menyala dengan minyak yang cukup …

Pada jaman Yesus kedua istilah itu sudah sangat umum dipahami sebagai lambang siap siaga selalu.

Di jaman kita pun ciri kemuridan pada Yesus ialah siap siaga. Lantas bagaimana kesiapsiagaan itu mesti dimaknai dan dihayati di jaman ini?. Di tengah dunia yang penuh dengan keculasan, kebohongan, hoax, kemunafikan … apakah aku masih memiliki kemampuan dan siap sedia untuk hidup jujur, berusaha tumbuh sebagai pribadi otentik dan tidak terus menambah koleksi topeng-topeng kepalsuan? Di tengah masyarakat dengan corong medsos yang banyak menebarkan kebencian, rasis, intoleran, kecurigaan … apakah aku masih memiliki kerinduan untuk bersaudara dengan tulus, kemampuan dan siap untuk menebarkan toleransi yang benar, menghormati martabat orang lain dalam pluralitas yang sehat, keinginan untuk terlibat dalam membangun solidaritas lintas batas? Dalam masyarakat yang sangat narsis, instant, hedonis, superfisial … apakah aku masih memiliki stamina dan kemampuan untuk melayani dengan tulus, mampu memperjuangkan kebenaran dalam kesunyian, tetap setia dalam karya meski tidak mendapat tepuk tangan … Dan seterusnya.

Menjadi murid Yesus di jaman ini mungkin perlu pelita lebih terang dan tahan lama, karena tantangan yang kita hadapi semakin kompleks dan masif. Kita juga memerlukan ikat pinggang yang kuat dan ketat agar tidak terlena dan tertidur.

Musuh utama pertumbuhan kualitas manusiawi dan rohani ialah kemapanan dan kenyamanan: merasa sudah tahu dan tak perlu belajar, merasa sudah cukup beriman dan tak perlu bertobat, merasa sudah cukup berbuat baik dan tak perlu lagi belajar dari orang lain … dan seterusnya. Kemapanan dan kenyamanan memang bikin kita ngantuk dan tertidur. Tidak siap siaga. Juga dalam hidup rohani.

Bagi siapapun yang mau mengikuti Tuhan dan memuliakanNya, tidak ada istilah cukup, apalagi minimalis dan ala kadarnya.

Bisa dikatakan bahwa tanda kesiapsiagaan spiritual ialah kalau kita masih memiliki kemauan dan kemampuan untuk penyangkalan diri dan pendisiplinan diri (apapun bentuknya). Kalau self-denial ini sudah tidak ada, ini salah satu tanda kalau jiwa kita sedang tertidur dan tidak siap siaga.

MANUSIA TIDAK HANYA HIDUP DARI ROTI

MANUSIA TIDAK HANYA HIDUP DARI ROTI

Senin, 19 Oktober 2020

Lukas 12: 13-21

Kisah bagaimana Yesus diminta memberi solusi soal warisan, terasa ironis. Tetapi itulah yang sering (atau selalu) dilakukan banyak orang, mungkin termasuk kita. Doa dan harapan kita penuh permintaan agar Tuhan intervensi dalam perkara yang mestinya urusan kita. Kita mohon Tuhan ikut intervensi soal warung dan dapur kita. Urusan sekolah dan pernikahan anak kita pun kita lemparkan pada Tuhan. Banyak yang mohon Tuhan membela kampanye politik dan memenangkan pilkada atau agar sukses dalam demo …dst. Tentu tidak seluruhnya salah. Tapi seringkali secara tidak sadar kita meminta Tuhan memberkati keserakahan kita, selera dan nafsu kelekatan kita akan yang duniawi.

Sebenarnya semua urusan dunia ini mestinya menjadi tanggungjawab manusia, bukan dilempar lagi menjadi “urusan” Tuhan. Kalaupun ada permohonan, kita mohon sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh dunia. Mungkin kita bisa mohon agar lebih bertanggungjawab, lebih beriman, lebih bisa mengasihi atau mengampuni, lebih murah hati, berani jujur dan seterusnya. Inipun perlu ditindaklanjuti lewat latihan dan tindakan konkret. Tanpa itu, doa menjadi tak serius dan bahkan sembrono, sehingga ada bahaya dalam hidup kita mengikuti diri sendiri meski kita sering berdoa.

Mengapa berbagai doa, perayaan Ekaristi, Ziarah dan bahkan puasa yang selama ini kita lakukan, tidak mengubah kualitas hidup sebagaimana mestinya? Banyak yang ragu menjawab, karena jawabannya atas pertnyaan ini terasa pedih. Antara lain kita terlalu sering minta Tuhan intervensi dalam hidup, sementara kita belum melakukan yang terbaik. Itulah yang menjadi salah satu sebab mengapa ada fenomena pendangkalan hidup manusia.

Kita tahu dan sadar bahwa identitas kita ini ilahi, karena kita adalah citra Allah. Itulah sebabnya manusia tidak hanya hidup dari roti. Tetapi pengalaman selama ini, kita sibuk dengan urusan roti dan minta Tuhan menyetujui dan dan membantu kesibukan dan keserakahan kita itu. Dimanakah sifat spiritual, transendental dan ilahi kita? Sifat ilahi itu rahmat yang hanya akan tumbuh kalau dibagikan pada sesama. Kalau anugerah tidak mengalir keluar dari diri sendiri, maka rahmat bisa berubah menjadi racun yang membuat pohon ara itu mandul atau pohon anggur berbuah masam.

Setiap manusia diberi anugerah cukup untuk membuat hidupnya bermakna dan mendalam. Kuncinya tentu kedekatan dan kesatuan kita dengan Tuhan. Selain doa, ada cara lain mendekatkan diri padaNya, seperti pendisiplinan diri, penyangkalan diri demi pelayanan atau apapun namanya. Salah satu tanda kedekatan kita pada Tuhan adalah adanya kegembiraan dan kebahagiaan batin karena berbagi, meski itu berarti mendisiplinkan kecenderungan egois kita agar tidak menjadi duniawi. Ini tidak mudah, karena kita setiap saat dibombardir oleh pesan duniawi lewat medsos dengan segala nilai dan mentalitasnya. Hanya kalau Tuhan diberi ruang dalam batin kita, maka kita bisa menjadi orang yang cerdas secara rohani; dan tidak tumbuh menjadi orang bodoh seperti dalam perumpamaan ini.

Caesar or God?

Caesar or God?

29th Sunday in Ordinary Time

October 18, 2020

Matthew 22:15-21

To understand today’s Gospel, we need to make time travel to the time of Jesus. The Jewish people in the first century AD Palestine were not free people, and they were subject to the Roman empire. Being subjects, they were required to submit heavy taxes. This money would eventually use to pay the army that maintained “the security” of Palestine. Naturally, paying taxes was one of the most irritating and politically charged issues. “Why should I pay for my own oppression?”

The issue of paying taxes is even more sensitive since the coin used for the transaction is bearing the image of Caesar. Not only having the graven face of Caesar, around the image, but there was also an inscription that said “Tiberivs Caesar Divi Avgvsti Filivs Avgvstvs (Caesar Augustus Tiberius, son of the Divine Augustus).” The coin was simply blasphemous for the Jews who recognized that there is no god, but the Lord God.

With this background, the Pharisees were plotting to trap Jesus with an extremely dilemmatic question: “should we pay tax to Caesar?” If Jesus nodded, He would be considered a traitor for many Jewish nationalists and an idol-worshipper to pious Israelites. But, if Jesus voted negatively, He would be immediately labeled as a rebel and face the wrath of the Romans. However, it was never wise to test Jesus, because it would never be successful. Again, Jesus did not only escape the dilemma wisely but also taught a profound lesson for everyone.

He took a Roman coin and showed that it has an image of Caesar. Then, He said, “render to Caesar what belongs to Caesar…” The basis of ownership is the presence of “image.” The coin belongs to Caesar because it has his image. Thus, paying tax is simply giving back to the coins that since the beginning belongs to Caesar and the Roman Empire.  Yet, Jesus did not stop there. He taught also, “render to God what belongs to God.” And what belongs to God? The answer is those who possess the image of God. Going back to the Genesis 1:26, we discover that we were created in the image of God, and therefore, we belong to God.

Here, Jesus was not dodging the Pharisees’ bullet, but teaching a fundamental truth about who we are and where we are going. We were created in the image of God, not in the image of cellular phone, not of money, not of trophies. While they may offer instant pleasure, not of these things will ever grant us true happiness. Only God can truly fulfill our deepest longing. While these things are naturally good and can be beneficial, they are mere means to achieve our true end, God Himself. We might be preoccupied with pursuing wealth, popularity, or influence, but what is the point when we lose our final purpose?

St. Ignatius of Loyola in his Spiritual Exercises reminds us that, “Man is created to praise, reverence, and serve God our Lord, and by this means to save his soul. The other things on the face of the earth are created for man to help him in attaining the end for which he is created…Therefore, we must make ourselves indifferent [detached] to all created things… Our one desire and choice should be what is more conducive to the end for which we are created”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Check also my YOUTUBE CHANNEL “bayu ruseno” to get latest video catechism.

Translate »