Browsed by
Month: December 2020

APA SULITNYA PERCAYA?

APA SULITNYA PERCAYA?

Kamis, 10 Desember 2020

Matius 11:11-15
Sebelum Yesus hadir, Yohanes Pembaptis diutus terlebih dahulu untuk
menyiapkan manusia untuk menerima kehadiran Tuhan Yesus. “Pada waktu itu
tampilah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan;
“Bertobatlah, sebab Kerajaan sudah dekat.”(Mat 3:1). Mengapa perlu dipersiapkan?
Yang akan hadir adalah Mesias atau menyelamat, Tuhan sendiri, yang sudah ditulis
dan diwartakan oleh para Nabi. Yohanes adalah nabi yang secara khusus
menyiapkan manusia untuk membuka hati untuk menerima Sang Imanuel.
Sebab jika manusia menolak atau tidak percaya, maka Yesus Kristus tidak
hadir di dalam hati dan hidup mereka. “…Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang,
adakah Ia mendapati iman di bumi?”(Luk 18:8). Semua yang dilakukan Kristus
tidak akan mengubah apa-apa, jika manusia masih dalam ketegaran hatinya. Seruan
Yohanes Pembaptis ;”Bertobatlah” adalah ajakan untuk membuka hati dan percaya
kepada Mesias.
Ketika manusia membuka hatinya maka Yesus Kristus bisa masuk dan hadir
dalam hidupnya. Undangan Kasih Allah membutuhkan jawaban bebas dari setiap
orang. “ Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang
mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya
dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan
Aku.”(Wahyu 3:20). Tuhan sangat menghargai jawaban dan pilihan masing-masing
orang. Oleh karena itu dalam hal beriman, tidak ada paksaan dan setiap orang
memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya.
Yang ada dalam diri Allah adalah belas kasih-Nya yang telah disediakan bagi
mereka yang siap untuk menerima-Nya. Kapan manusia siap? Yaitu saat seseorang
mau meninggalkan dosa-dosanya, bertobat dan percaya kepada Kristus. “Janganlah
gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”(Yoh 14:1).
Tidak ada kerugian apa pun jika orang percaya, sebaliknya ia akan menerima kasih
karunia-Nya yang berlimpah. Semua dilakukan Allah; memgutus Putera-Nya ke
dunia, untuk manusia. Apakah masing-masing orang menyadarinya? Hanya orang
yang sadar, yang akan bisa melihat. Seringkali hal-hal duniawi bisa dan telah
mengaburkan mata hati manusia, sehingga mereka merasakan kesulitan dalam
melihat dan merasakan Kash Allah.
Paroki St Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. A.Didik Setiyawan, CM

TIDAK LAYAK

TIDAK LAYAK

Senin, 7 Desember 2020

Lukas 5:17-26
Iman adalah anugerah Allah yang mulia. Karena dengan iman, seseorang
mampu melihat dan merasakan kekuatan Kristus. Mata fisik manusia tidak bisa
melihat dengan jelas kasih Allah, namun dengan iman seseorang bisa merasakan
kekuatan dan kehadiran Allah. Orang lumpuh diusung dan dibawa kepada Yesus telah
disembuhkan berkat iman mereka. “Lalu datnglah beberapa orang mengusung seorang
lumpuh di atas tempat tidur, mereka berusaha membawa dia masuk dan
menetakkannya di hadapan Yesus.”(Luk 5:18). Dengan iman tersebut, seseorang
bersatu dengan Kristus, sehingga iman sekaligus juga mendorong seseorang untuk
pertobatan; meninggalkan semua bentuk dosa. Dengan demikian iman juga
menghadirkan pengampunan dosa bagi mereka yang percaya. “Ketika Yesus melihat
iman mereka, berkatalah Ia: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.”(Luk 5:20).
Bagaimana agar iman bisa semakin berakar di diri manusia? Iman adalah
anugerah Allah dan jawaban manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan kerendahan hati
supaya seseorang siap menjawab ; menjadi lahan dan tempat untuk menumbuhkan
iman di dalam hidupnya. Iman tidak akan bisa tumbuh dalam hati yang keras, seperti
halnya tanah yang tandus dan gersang tidak bisa menumbuhkan apa-apa kecuali
ilalang yang tidak berguna. Hanya mereka yang rendah hati yang akan lebih siap untuk
menerima iman dan mengembangkan dalam hidup, serta pada akhirnya berbuah
dalam karya-karya cinta kasih. “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang
mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali
lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”(Mat 13:23).
Dengan demikian, iman bisa berakar dalam diri seseorang diperlukan usaha dan
perjuangan ; tekun dan setia membuka hati untuk Kristus, supaya iman tidak kabur
atau bahkan diambil dari orang tersebut. “Sebab itu ambilah talenta itu dari padanya
dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap
orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi
siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari
padanya.”(Mat 25:28-29). Iman tidak bisa bertumbuh jika orang yang menerimanya
tetap berkeras hati atau sombong. Dengan sikap seperti itu, ia menyatakan sikap
menolakan atau tidak percaya kepada Tuhan Yesus, dan lebih percaya pada dirinya
sendiri. Setiap orang berhak untuk memilih, dan iman adalah suatu pilihan bebas
seseorang.
Jika seseorang mengerti dan sadar, pasti ia tidak akan menyia-nyiakan
anugerah iman. Ia akan bersyukur dan merasa diri tidak pantas menerima-Nya, lalu ia
akan berkata seperti perwira yang dalam Injil, yang tidak pantas dihadapan Tuhan
Yesus. “Sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu.
Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”(Luk 7:7). Karena
sikapnya yang rendah hati, maka kasih karunia Allah akan tercurah ke dalam hidupnya.
Paroki St Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan CM

Mark and His Gospel

Mark and His Gospel

Second Sunday of Advent [B]

December 6, 2020

Mark 1:1-8

In the second Sunday of Advent, we are reading from the beginning of the Gospel of Mark. Afterall, this is the beginning of liturgical year B, and it is fitting to start with the first chapter of Mark. Yet, unlike Matthew and Luke, Mark has neither infancy narratives nor the childhood stories of Jesus. Mark commences his gospel with John the Baptist who announces the repentance and the coming of Christ.

Mark among the four gospels, is arguably the least popular. This happens for understandable reasons. Mark is the shortest Gospel and it has only 16 chapters and around fifteen thousand Greek words. [Matthew has around twenty-three thousand while Luke has twenty-five thousand]. Many stories in Mark are also found in Matthew and Luke, but many materials in Matthew or Luke are absent in Mark. Thus, people who read Matthew tend to skip Mark because they believe they have read Mark. This is certainly unfortunate because Mark has its own characters and emphasis.

Mark is action-oriented gospel. It immediately starts with man of action, John the Baptist. Mark presents Jesus as someone who always in the move and is active. Mark does not write much about Jesus’ preaching, but focuses on what Jesus does. He preaches the good news, heals the sick, exorcises the demons, does miracles, calls disciples and travels a lot. Mark’s Gospel is also fast paced, yet, despite the fast-moving events, Mark often paints more details in his accounts, like the story of the Gerasene demoniac [Mar 5:1-20].

The traditional symbol for Mark is a lion. He acquires this symbol because his gospel starts with John who boldly preaches repentance, just like a lion. Yet, the gospel of Mark itself displays the character of a lion: it delivers his point powerfully and effectively. Mark was not the twelve disciples of Jesus, and he might be an eyewitness, especially when Jesus was arrested [Mark 14:51]. The Acts of Apostles calls him as John Mark a companion of Paul and Barnabas in their missionary journey, but unfortunately, Mark become a source of disagreement between Paul and Barnabas [Act 15:39]. Yet, he finally reconciled with Paul [Col 4:10]. Along the way, he turned to be the companion and disciple of St. Peter in Rome [1 Pet 5:13]. Later, Papias, bishop of Hierapolis, in early second century, testified that Mark was the interpreter of Peter and wrote down Peter’s teachings of Jesus. Because of Peter’s authority, we understand why Mark’s Gospel was selected as one of the canonical gospels.

What can we learn from Mark and his Gospel especially this season of Advent? Mark gives us an example that we can approach Jesus in our unique characters. While Mark is writing about Jesus, he does not have to compose like John. Like Mark, we do not have to be someone else in loving God. While the saints serve as role models, we are invited to love Him with our unique personalities and ways. While we are united in one Church, our personalities do not disappear, but rather enhanced in serving one another. Unless we recognize who we are fundamentally in Christ, we are going to fail to love authentically.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hidup: sebuah Panggilan

Hidup: sebuah Panggilan

Markus Juhas Irawan

“Lalu Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi mereka kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Yesus mengutus mereka dan berpesan, ”(mat 10:6-8).

Yesus mengutus para murid setelah melihat orang banyak. Ia begitu kasihan sebab menyaksikan kawanan tanpa gembala. Mereka ini mengikuti Yesus untuk disembuhkan, untuk mendengarkan SabdaNya. Ada proses berikutnya dalam beriman. Kasih Tuhan bakalan tumbuh bila tergabung dalam kelompok-kelompok penggembalaan. Di situlah tugas bersama menjaga para pengikut Yesus dengan ajaran2 dan perbuatan2 serta memuji memuliakan Tuhan. Persekutuan dalam kelompok2 dibawah pengajaran para rasul-yang diberi kuasa- membawa hidup iman makin terjamin (diperhatikan, saling meneguhkan). Karenanya sebagai orang beriman perlulah kita tergabung dalam kelompok entah ikatan teritorial atau kategorial. Sebab memang Disitulah kita mengambil bagian dalam penggembalaan. Bagaimana imanku tumbuh dalam persekutuan lingkungan/ kelmpok kategorial? Berkah Dalem.

Percaya (?)

Percaya (?)

Markus Juhas Irawan

“Sekali peristiwa ada dua orang buta mengikuti Yesus sambil berseru-seru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang itu kepada-Nya. Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kalian, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, “Terjadilah padamu menurut imanmu.” (Mat 9:27-31). Sakit berkomunitas, itulah yang terjadi.2 orang buta mengikuti Yesus dan bersama-sama minta disembuhkan. Mereka menyerukan anak Daud. Kompak dalam bersuara/ berseru. Kompak dalam penderitaan dan mengikuti Yesus. Kompak juga dalam hal iman sehingga mereka sembuh. Dua orang atau lebih berseru dalam namaKu disitu Aku hadir. Demikian juga kata Yesus. Mereka juga bersaksi dalam nama Yesus. Sakit dan sehat, susah dan senang, berkomunitas. Betapa berartinya oranglain dalam hidup kita. Sakit yang dialami bukan krena saling menyakiti, atau melukai sebab bisa terjadi bahwa sama sama menderita sakit tetapi karena saling menyakiti, Sama2 merasa benar sendiri dan menganggap diri korban yang lain penyebabnya, dst. Semoga yang mengalami sakit/ dahaga akan mendapat kelegaan karena Sama2 mau mengikuti Yesus. Bagian mengikuti Yesus ini bisa dikembangkan sebagai kisah: sudah beberapa kali ikut Yesus, mengikuti dari banyak rombongan ornag sakit lain, tidak sedang ketemu Yesus dadakan di tengah jalan, sudah mendengarkan Yesus. Dan mereka beriman

Translate »