Browsed by
Month: January 2021

Yesus memulihkan relasi kita dengan Bapak di Surga yang telah rusak akibat dosa

Yesus memulihkan relasi kita dengan Bapak di Surga yang telah rusak akibat dosa

Ibrani 5:1-10

Markus 2:18-22

Yesus dalam bacaan hari ini begitu frustrasi dengan sikap para ahli taurat dan kaum Farisi yang merasa diri paling benar. Mereka percaya bahwa  mereka adalah orang yang paling patuh dan taat kepada hukum Allah seperti halnya berpuasa. Demikian pula para pengikut Yohanes Pembaptis dikenal sebagai orang yang sangat disiplin dalam hal mempersiapkan kedatangan Mesias. Oleh karena itu tidak mustahil bahwa kedua kelompok orang ini dengan sangat mudah dipertentangkan dengan ketidak disiplinan para murid Yesus dalam hal menjalani hukum Allah.

Yesus sebagai orang Yahudi tentu sudah sangat akrab dengan hukum Allah, namun kenyataannya bahwa para murid Yesus samasekali tidak mentaati hukum itu. Menanggapi sikap dan judgement kaum Farisi itu, bacaan pertama hari ini dari Surat St. Paulus kepada Orang Ibrani membantu kita untuk memahami suatu perjanjian baru. Bahwa dari generasi ke generasi, Allah telah memberikan kepada bangsa Israel seorang Imam Besar yang mempersembahkan korban penebusan dosa…”Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa.” Sebagai Imam Besar mempersembahkan korban kepada Allah untuk memperbaiki relasi yang telah rusak akibat dosa. Namum pertobatan yang sebenarnya tidak datang dari para imam besar itu, tetapi dari seorang Imam Agung, “menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang  yang taat kepadaNya.”

Saudara-saudari terkasih,

Yesus, adalah Imam Agung yang sempurna seperti yang dikatakan: “Anak.Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”, “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek,” Ia adalah Imam Agung yang tanpa dosa, singkatnya, Yesus adalah pemenuhan yang sempurna dari karya penyelamatan Allah.

Jadi, jawaban Yesus dalam bacaan Injil hari ini sungguh menjadi lebih jelas lagi bagi kita: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.” Jawaban Yesus ini tidak mudah untuk dimengerti oleh kaum Farisi dan orang banyak yang hadir pada kesempatan itu. Kegembiraan, kebahagiaan bersama Yesus, diungkapkan dalam perbandingan dengan kebahagiaan mempelai laki-laki dan perempuan. Ungkapan perbandingan itu digambarkan oleh Yesus dalam relasi Allah dengan manusia. Suatu relasi yang baru bukan saja berdasarkan pada kepatuhan dan kedisiplinan saja tetapi suatu relasi yang berdasarkan pada “MUTUAL LOVE”.

Kita telah menjadi manusia baru oleh Darah Kristus, kembali masuk kedalam relasi cinta dengan Allah. Sementara kedisiplinan masih terus menjadi penting agar kita terus memelihara “MUTUAL LOVE” dengan Allah sebagai mempelaiNya. Amin.

Yesus, Anak Domba Allah kita

Yesus, Anak Domba Allah kita

Minggu Kedua Masa Biasa [B]

17 Januari 2021

Yohanes 1: 35-42

Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai ‘Anak Domba Allah.’ Jika kita menghadiri perayaan Ekaristi, kita akan selalu mendengar ungkapan ini. Tepat sebelum komuni, imam akan memegang roti dan anggur yang telah dikonsekrir, dan memperlihatkan kepada kita semua, lalu berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya! ”

Saya seorang Katolik sejak kecil dan saya tidak dapat mengingat lagi kapan saya mendengar Anak Domba Allah ini untuk pertama kalinya. Namun, saya tidak pernah bertanya mengapa Yesus dipanggil seperti itu. Mungkin, itu hanyalah salah satu gelar Yesus. Namun, Saya secara bertahap mempelajari kebenaran yang indah ini saat saya masuk seminari dan mendalami pembelajaran teologi dan Kitab Suci.

Jika kita menempatkan diri kita pada posisi para murid yang hidup di Palestina abad pertama, kita akan melihat betapa dalamnya gelar ini. Ketika para murid mendengar ‘Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,’ mereka dengan mudah mengerti apa yang dimaksud oleh Yohanes Pembaptis.

  Pertama, domba adalah hewan korban utama di Bait Allah Yerusalem. Setiap hari anak domba disembelih dan dipersembahkan kepada Tuhan. Khususnya pada hari raya Paskah, ribuan ekor domba dibawa ke Bait Allah dan dikorbankan. Meskipun pengorbanan anak domba bukan satu-satunya cara untuk menyembah Tuhan yang benar, ini berfungsi sebagai cara beribadah yang utama. Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita mengakui bahwa penyembahan yang benar dan utama kepada Allah terjadi di dalam Yesus.

Kedua, salah satu hari raya Yahudi terpenting adalah hari raya Paskah. Ini merayakan kebebasan dari perbudakan bani Israel dari Mesir. Salah satu ciri utama dari perayaan ini adalah anak domba yang dikorbankan. Kitab Keluaran memberikan rincian bagaimana Paskah pertama harus diperingati. Anak domba berumur satu tahun yang tidak bercacat harus disembelih. Darahnya ditempatkan di tiang pintu rumah orang Israel dan tubuhnya yang dipanggang akan dimakan [lihat Keluaran 12]. Untuk menerima Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita menyadari bahwa kita diselamatkan oleh pengorbanan dan darah Yesus, dan kita juga perlu makan tubuh-Nya.

Ketiga, satu nubuat yang menghubungkan seorang manusia dengan seekor domba berasal dari Yesaya. Nabi besar ini berbicara tentang sosok misterius ‘hamba Tuhan yang menderita.’ Hamba Allah ini akan menebus Israel, tetapi Dia harus menanggung penderitaan dan kematian yang hebat, meskipun tidak bersalah. Sang Nabi menulis, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak dombayang dibawa ke pembantaian… [Yes 53: 7]. ” Dengan menerima Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita menerima Yesus sebagai Penebus kita yang menderita dan wafat bagi kita.

Sekarang, kita telah mengenali Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita perlu melakukan apa yang dilakukan para murid pertama: mereka ‘tinggal’ bersama Dia. Para murid tidak hanya mengenal dan menerima Yesus, tetapi mereka mengikuti dan tinggal bersama-Nya. Tidaklah cukup bagi kita untuk melihat Yesus sebagai Anak Domba, tetapi kita diundang untuk tinggal bersama-Nya, untuk menjadi murid-Nya yang sejati.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, Our Lamb of God

Jesus, Our Lamb of God

2nd Sunday of Ordinary Time [B]

January 17, 2021

John 1:35-42

John the Baptist identified Jesus as the ‘Lamb of God.’ If we are attending the celebration of the Eucharist, we cannot miss hearing this phrase. Just before the communion, the priest will hold the consecrated bread and wine, and present them to the faithful, then saying, “Behold the Lamb of God, Behold Him who takes away the sin of the world. Happy are those invited to the supper of the Lamb!”

I am a cradle Catholic, and I could no longer remember when I heard this Lamb of God for the first time. Yet, I never bother asking why Jesus is called such because it does not make much sense. Perhaps, it is just another fancy title of Jesus. I gradually learn this beautiful truth as I go deeper into my theology study and scriptures.

If we put ourselves in the shoes of the disciples who were living in the first century Palestine, we will see a lot more going on. When the disciples heard ‘the Lamb of God who takes away the sin of the world,” they quickly understood. It was undoubtedly mind-blowing, but they were expecting to hear that.

  Firstly, a lamb was a primarily sacrificial animal in the Jerusalem temple. Every day lambs were slaughtered and offered to God. Especially during the feast day of Passover, thousands of lambs were brought to the Temple and sacrificed. It was a massive display of devotion to behold. Though the lamb’s sacrifice is not the only way to worship the true God, it serves as the ordinary way of worship. By calling Jesus the Lamb of God, we acknowledge that God’s true worship takes place in Jesus.

Secondly, one of the most important Jewish feasts is Passover. It celebrates the freedom from the slavery of God. One of the central features of this celebration is the sacrificed lamb. The Book Exodus gives the details of how the Passover has to be commemorated. An unblemished one-year-old lamb has to be slaughtered. Its blood was placed on the Jewish household doorpost, and its roasted body shall be eaten [see Exo 12]. To accept Jesus as the Lamb of God, we recognize that the sacrifice and blood of Jesus save us, and we need to eat also His body.

Thirdly, one prophesy that connects a person, and a lamb is from Isaiah. The great prophet spoke about the mysterious figure of ‘suffering servant of God.’ This man shall redeem Israel, but He has to endure great suffering and death, despite being innocent.  The prophet wrote, “He was oppressed, and he was afflicted, yet he did not open his mouth; like a lamb that is led to the slaughter… [Isa 53:7].” By receiving Jesus as the Lamb of God, we accept Jesus as our Redeemer who has to suffer and die for us.

Now, we have recognized Jesus as the Lamb of God; we need to do like the first disciples did: they remained with Him. The disciples did not merely know and accept Jesus, but they followed and stayed with Him. It is not enough for us to see Jesus as the Lamb, but we are invited to remain with Him, to become His true disciples.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

PERSAUDARAAN SEJATI

PERSAUDARAAN SEJATI

Mrk 2:13-17

Dalam Injil kemarin (Mrk 2:1-12), kita telah melihat konflik pertama antara Yesus dan ahli-hali Taurat mengenai pengampunan dosa. Dalam Injil hari ini kita menyaksikan konflik kedua yang muncul ketika Yesus makan bersama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa (Mrk 2:13-17). Sikap dan tindakan Yesus ini menyebabkan otoritas agama menjadi sangat marah. Alih-alih berbicara langsung dengan Yesus, Ahli Taurat dari orang Farisi berbicara kepada para murid: Bagaimana gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? Yesus menjawab, “Bukan orang sehat yang membutuhkan dokter, tetapi orang sakit. Saya datang untuk memanggil bukan orang yang jujur, tapi orang berdosa! 

Sikap Ahli Taurat dari orang Farisi dalam injil hari ini bisa mewakili sikap dan karakter kita sebagai manusia. Kita memiliki kecenderungan meremehkan mereka yang mungkin tidak memenuhi harapan kita atau berperilaku seperti yang tidak kita inginkan. Kita mungkin juga sering menilai orang lain berdasarkan apa yang kita lihat dan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tantangan bagi kita masing-masing adalah untuk menyadari bahwa cara pandang kita mungkin merupakan cara pandang stereotip serta mungkin kita melihat orang lain dengan berprasangka buruk. Rupanya hal yang sama pernah juga terjadi pada para pendengar Injil Markus. Pada tahun 70-an, saat Markus menulis injilnya, di komunitas pengikut Kristus terjadi konflik antara orang Kristen yang telah bertobat dari Paganisme dan mereka yang berasal dari Yudaisme. Mereka yang dari Yudaisme merasa sangat sulit untuk masuk ke dalam rumah orang-orang kafir yang telah bertobat dan duduk bersama dengan mereka di dalam perjamuan (lih. Kis 10:28; 11:3). 

Saudara-saudariku terkasih, sabda Yesus kepada Lewi yang berbunyi ‘Ikutlah Aku’ juga berlaku untuk kita sekarang. Kita diajak Yesus untuk mengikuti, mendengarkan dan melaksanakan apa yang Yesus ajarkan dan lakukan. Hari ini Yesus mengajak kita untuk membangun persaudaraan sejati. Yesus memanggil orang berdosa, pemungut cukai, orang yang dibenci oleh komunitasnya, untuk menjadi murid-Nya. Dengan demikian, persaudaraan sejati tampak dalam relasi manusia yang didasarkan pada sikap menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia.  Persaudaraan sejati berarti sikap dan tindakan seseorang kepada sesamanya yang dilandasi cinta kasih. 

Paus Fransiskus, dengan dilandasi semangat yang sama, melalui Ensiklik Fratelli Tutti (‘Semua Saudara’, ditanda tangani oleh Paus di  Assisi pada 3 Oktober 2020) menekankan bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga manusia, anak dari satu Pencipta, berada dalam perahu yang sama, dan karenanya kita perlu menyadari bahwa dunia yang terglobalisasi dan saling berhubungan ini hanya bisa diselamatkan oleh kerja sama kita semua. Paus tidak bermaksud menjadikan dokumen itu sebagai “ajaran lengkap tentang cinta persaudaraan” melainkan untuk membantu “visi baru persaudaraan dan persahabatan sosial yang tidak akan tinggal pada tingkat kata-kata.”

Maka, pertanyaannya: apa yang dapat kita doakan, pikirkan, rencanakan dan lakukan (baik sendiri maupun bersama-sama) untuk membangun persaudaraan yang sejati? 

MARI BANGUN DAN BERJALANLAH!

MARI BANGUN DAN BERJALANLAH!

Mrk 2:1-12

Injil hari ini mengisahkan tentang perlakuan Yesus terhadap orang lumpuh yang membuat marah para ahli Taurat. Ketika seorang lumpuh dibawa kepada-Nya, karena iman teman-temannya, Yesus melakukan hal yang tidak terpikirkan. Dia pertama-tama mengampuni orang itu dari dosanya dan kemudian menyuruh orang lumpuh itu berjalan dan membawa tilamnya. Para ahli Taurat menganggap ini sebagai penghujatan karena mereka mengerti bahwa hanya Tuhan yang memiliki otoritas untuk mengampuni dosa dan untuk melepaskan manusia dari beban kesalahan mereka. 

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” Perkataan ini mengandung pengertian bahwa pria ini tidak hanya lumpuh secara fisik, tetapi juga secara spiritual. Dan Yesus membebaskan dia dari beban rasa bersalah dan memulihkan tubuhnya juga. Melalui peristiwa ini Yesus tidak hanya membuktikan bahwa otoritasnya berasal dari Tuhan, tetapi Dia juga menunjukkan kuasa yang besar dari belas kasihan Tuhan yang menebus dengan menyembuhkan orang lumpuh. Menurut saya, penginjil Markus melalui perikop ini mau menunjukkan bahwa Yesus menginginkan kesembuhan total bagi pria tersebut daripada hanya sekedar kesembuhan fisik. Melihat itu semua, orang banyak menjadi takjub dan memuliakan Tuhan dengan berkata, “Yang seperti ini belum pernah terjadi.”

Saudara-saudariku terkasih, mari kita bangun dan berjalan mendekat pada Yesus seraya bertanya pada diri kita masing-masing: apakah ada bagian dalam hidupku di mana menderita kelumpuhan? Adakah area dalam hidupku yang melumpuhkan aku dari berjalan dalam kebebasan kasih dan pengampunan yang telah Yesus berikan? Seraya kita memohon tanpa henti agar kita percaya bahwa Tuhan selalu siap memberikan kita kesembuhan, baik itu  tubuh, pikiran, maupun jiwa. 

Translate »