Browsed by
Month: April 2021

The Glorious Body

The Glorious Body

Third Sunday of Easter [B]

April 18, 2021

Luke 24:35-48

Miracles are rare occurrences, but some are even rarer and more precious than others. Miraculous healings are exceptional but coming back to life after death is even extraordinary. However, there is one miracle that is wholly unique and incomparable: resurrection. Yet, what makes resurrection different from other miracles?

Resurrection presupposes death or permanent separation between body dan soul. Thus, resurrection is the reunion of body and soul. Our Gospel today informs us that Jesus showed His disciples His body as well as His wounds. He wanted to show them that what disciples experienced in the upper room was not an illusion or fantasy. They did not see a ghost or disembodied spirit. What they encountered was a living human body.

Moreover, the wounds prove that the resurrected body of Christ is the same as the crucified body. He was not an imposter! Jesus even asked for food and ate the baked fish. He acted just like an ordinary living person, and the disciples should not be afraid anymore but believe.

However, Jesus’ resurrection is fundamentally different from what happened to Lazarus [see John 11]. Lazarus was dead, but Jesus raised him from the dead, but Lazarus would eventually face death once more. What happened to Lazarus is usually called ‘resuscitation.’ Meanwhile, Jesus was raised from the dead and will die no more. The resurrected Christ will no longer experience death because He received no ordinary body. His body was a glorious one. It is the same body that Jesus received from Virgin Mary, the same body that walked in Galilee, the same body that preached to the disciples, and the same body that was tortured, crucified, and buried in the tomb. Yet, the divine power has transformed this body.

What makes this glorified body unique? Firstly, this body is immortal. Secondly, it is no longer experiencing suffering like pain, sickness, or aging. Thirdly, the body will not be subjected to the laws of nature and freed from the limitation of time and space. This explains why Jesus was able to enter the locked upper room [see CCC 645]. Fourthly, the body can change its appearance. This explains why the disciples often did not recognize the risen Lord. Resurrection does not only about the reunion between the soul and the body but about the body glorified and sanctified for eternal life.

The reality about the resurrection amplifies the fundamental truth about our bodies. The Book of Genesis narrated that God created the physical world as something good. Human persons, including their bodies, were blessed, and called ‘very good.’ God plans that His magnificent creation will not go to waste in death and decay. He wills that this amazing and blessed body continue to exist for eternity and become part of His marvelous heaven.

From this realization, do we prepare our bodies for heaven? Do we abuse our bodies with unhealthy lifestyles? Do we use our bodies to honor God in prayer and good works? Do we destroy our body, the Temple of the Holy Spirit, with vices and addictions? Do we offer our bodies as a living and pleasing sacrifice to God?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Doubt and Faith

Doubt and Faith

Second Sunday of Easter [B] – Divine Mercy Sunday
April 11, 2021
John 20:19-31

Thomas, one of Jesus’ apostles, was celebratedly called ‘the doubter.’ His skeptical attitude sprang when he was absent from the Sunday’s gathering, and he missed the most important event that took place on Sunday: Jesus’ resurrection. From here, we can learn an important lesson: do not be absent on Sunday’s mass!
Being skeptical or doubtful is part of our human nature. In fact, a certain level of skepticism is healthy and necessary. When we encounter unusual claims or information, we do not immediately trust them and put a certain skeptical distance. The doubt invites us to investigate and verify the veracity of the claim. When all reasonable doubts are removed, we can be sure of the truth.
Specific claims indeed must not be accepted at face value and be verified. If a man is accused of stealing, he has the right to the legal proceedings, and based on the evidence, the competent judge will pronounce the verdict. Not only in the court of law, fields of science also have rigorous methods to prove a hypothesis. The Church also adopts the same attitude. When the Church receives a claim that a person has seen the Lord or the Blessed Virgin Mary, she will investigate it. Is the person having a mental problem or simply hallucinating? Is the evil spirit involved? Is the private revelation going against the Church’s teachings? After clearing the reasonable doubts, the Church shall declare her position on the claim.
Going back to Thomas, at first, Thomas’ doubt seemed to be a reasonable one since he heard a spectacular claim from his brothers. As a Jew, Thomas may believe in the resurrection of the dead, but this would take place at the end of time. Jesus’ resurrection was unexpected. Thus, Thomas demanded proof, and it was given. However, if we see Jesus’ words to Thomas, “…do not be unbelieving [Gr. apistis] but believe [John 20:27].” Jesus pointed out that what happened to Thomas was not a simple and honest doubt but willful disbelief. While genuine doubt can be removed through reliable processes to achieve an objective truth, belief, on the other hand, is a free decision to accept that specific claim to be true. The problem is that what one believes does not always correspond to the objective truth.
Thus, when someone already decided to accept a particular claim as his subjective truth, he will not give up on the claim, however erroneous it is. Ideally, our belief corresponds to the objective reality. St. Thomas Aquinas puts it that the truth is the correspondence between the mind and reality.
After Jesus showed Thomas His wounds as evidence of His resurrection, Jesus moved to the next and most crucial step. He asked Thomas to believe. Thomas eventually accepted the truth of resurrection as his own. Jesus is indeed Lord and God, but only when Thomas received the truth as his own, could he say, ‘my Lord and my God.’
One way or another, we may reflect Thomas. We may learn the Catholic faith’s truth since we are young, but do we honestly believe them? We may confess Jesus is our God, but do we trust Him in times of trials and difficulties? We may say that God has redeemed us, but do we live more like the redeemed people?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keraguan dan Iman

Keraguan dan Iman

Minggu Kedua Paskah [B] – Minggu Kerahiman Ilahi
11 April 2021
Yohanes 20: 19-31

Tomas, salah satu rasul Yesus, disebut sebagai ‘orang yang ragu’. Sikap skeptisnya muncul ketika dia tidak hadir pada pertemuan rasul hari Minggu, dan dia melewatkan hal terpenting yang terjadi pada hari Minggu: kebangkitan Yesus. Dari sini, kita dapat memetik pelajaran penting: jangan absen pada misa hari Minggu!
Menjadi skeptis atau ragu adalah bagian dari kodrat manusia kita. Bahkan skeptisisme pada tahap tertentu itu sehat dan perlu. Ketika kita menemukan klaim atau informasi yang tidak biasa, kita tidak langsung mempercayai hal itu dan juga meragukannya. Keraguan mengundang kita untuk menyelidiki dan memverifikasi kebenaran klaim tersebut. Ketika semua keraguan dihilangkan, kita bisa yakin akan kebenaran hal tersebut.
Ada klaim-klaim yang memang tidak boleh diterima begitu saja dan harus diverifikasi. Jika seorang laki-laki dituduh mencuri, ia berhak mendapatkan proses hukum, dan berdasarkan bukti-bukti, hakim yang berwenang akan menjatuhkan keputusan. Tidak hanya di dalam pengadilan, bidang ilmu alam dan sosial juga memiliki metode-metode ilmiah yang ketat untuk membuktikan sebuah hipotesis. Gereja juga mengadopsi sikap yang sama. Ketika Gereja menerima klaim bahwa seseorang telah melihat Tuhan atau Perawan Maria, Gereja tidak langsung percaya dan akan menyelidikinya. Apakah orang tersebut mengalami masalah kejiwaan, atau hanya berhalusinasi? Apakah roh jahat itu terlibat? Apakah wahyu pribadi bertentangan dengan ajaran Gereja? Setelah menghilangkan keraguan, Gereja akan menyatakan posisinya atas klaim tersebut.
Kembali ke Thomas, pada awalnya, keraguan Thomas tampaknya sesuatu yang wajar karena dia mendengar klaim spektakuler kebangkitan Yesus dari para rasul yang lain. Sebagai seorang Yahudi, Tomas mungkin percaya pada kebangkitan orang mati, tapi ini akan terjadi pada akhir zaman. Kebangkitan Yesus sungguh tidak terduga. Karena itu, Thomas meminta bukti. Namun, jika kita melihat kata-kata Yesus kepada Tomas setelah Dia menunjukkan luka-luka-Nya, “… jangan engkau tidak percaya [Yunani: apistis] lagi, melainkan percayalah. [Yoh 20:27]. ” Yesus menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada Tomas bukanlah keraguan yang alami, tetapi ketidak percayaan yang disengaja.
Sementara keraguan alami dapat dihilangkan melalui proses verifikasi untuk mencapai kebenaran obyektif, di sisi lain, keyakinan adalah keputusan bebas untuk menerima klaim tertentu itu benar. Masalahnya adalah apa yang kita dipercaya tidak selalu sesuai dengan kebenaran obyektif. Jadi, ketika seseorang sudah memutuskan untuk menerima klaim tertentu sebagai kebenaran subyektifnya, dia tidak akan melepaskan klaim tersebut betapa pun salahnya hal itu. Idealnya, keyakinan kita sesuai dengan realitas objektif. St Thomas Aquinas secara sederhana menyatakan bahwa kebenaran adalah korespondensi [kecocokan] antara pikiran dan realitas.
Setelah Yesus menunjukkan kepada Thomas luka-luka-Nya sebagai bukti kebangkitan-Nya, Yesus menuju ke langkah berikutnya dan yang paling penting. Dia meminta Thomas untuk percaya. Thomas akhirnya menerima kebenaran kebangkitan sebagai miliknya sendiri. Yesus memang Tuhan dan Allah, tetapi hanya ketika Thomas menerima kebenaran ini sebagai miliknya, dia bisa berkata, ‘Ya Tuhanku dan Allahku.’
Dalam hidup ini, kita mungkin sama seperti Tomas. Kita mungkin mempelajari kebenaran iman Katolik sejak kita muda, tetapi apakah kita benar-benar mempercayai dan menghidupinya? Kita mungkin mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan kita, tetapi apakah kita benar-benar percaya dan berpegang pada Dia pada saat pencobaan dan kesulitan? Kita mungkin berkata bahwa Tuhan telah menebus kita, tetapi apakah kita hidup seperti orang-orang tertebus?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Pergilah ke seluruh dunia…”

“Pergilah ke seluruh dunia…”

Sabtu dalam Oktaf Paskah, 10 April 2021

Bacaan: Kis. 4:13-21; Mrk. 16:9-15

Yesus yang telah bangkit menampakkan diriNya beberapa kali kepada mereka semua yang selama hidupNya selalu ada bersama Dia. Melalui penampakkan ini, Yesus mau menegaskan yang telah diajarkanNya kepada mereka bahwa ia akan kembali setelah kematianNya menjumpai mereka semua. Namun demikian para murid masih lamban dalam percaya akan sabda Yesus ini, bahkan mereka masih belum yakin dan percaya bahwa Yesus telah bangkit walaupun sudah disampaikan oleh mereka yang telah berjumpa dengan Yesus. Memang tidak selalu mudah untuk percaya jika tidak melihat, itulah sebabnya Yesus menegur mereka yang lambat untuk percaya walaupun semuanya sudah dikatakan kepada mereka. Akhirnya Yesus menanpakkan diriNya kepada semua muridNya untuk meneguhkan dan meyakinkan mereka akan kebangkitanNya, namun terutama untuk meneguhkan iman mereka semua. Iman akan Yesus Kristus yang bangkit mulia sangat diperlukan untuk sungguh dapat menjadi muridNya, walaupun kita tidak pernah melihat dan bertemu dengan Yesus secara jasmani. Iman itulah yang membuat kita selalu bertemu dengan Yesus dalam pengalaman iman kita.

Dengan meneguhkan iman mereka semua, maka Yesus siap mengutus semua muridNya untuk mewartakan Kabar Gembira Keselamatan kepada seluruh manusia. Inilah perutusan yang diberikan Yesus dan sekaligus sebuah mandat untuk menjadi pewarta Kabar Gembira agar semakin banyak orang dibawa pada keselamatan. Mewartakan Injil atau Kabar Gembira berarti mewartakan Tuhan Yesus Kristus kepada semua manusia dan bukan mewartakan diri sendiri. Oleh sebab itulah untuk dapat mewartakan dengan baik, kita terlebih dahulu harus mengenal Sang Kabar Gembira, Tuhan Yesus Kristus ini dengan baik. Iman akan Tuhan Yesus harus selalu dibaharui, ditegaskan dan dimantapkan agar semakin mantap sebagai utusan dan pewarta Injil. Perayaan Paskah menjadi saat yang sangat tepat untuk membaharui dan menyegarkan kembali iman kita agar kita semakin mampu menjadi pewarta Kabar Gembira kepada semua orang yang kita jumpai di dalam kehidupan harian kita. Melalui hal-hal kecil yang kita lakukan, kita telah mewartkan Injil kepada dunia. Teruslah menjadi utusan yang setia di mana pun kita berada.

“Itu Tuhan”

“Itu Tuhan”

Jumat dalam Oktaf Paskah, 9 April 2021

Bacaan: Kis. 4 :1-12; Yoh. 21:1-14

Tuhan Yesus yang telah bangkit tidak pernah meninggalkan para muridNya, Ia selalu menyertai mereka dalam kehidupan mereka. Dalam kisah Injil hari ini, Tuhan Yesus hadir di tepi danau Tiberias, di tengah kesibukan para muridNya. Para murid Yesus telah kembali ke pekerjaan mereka setelah Yesus wafat, mereka kembali bekerja sebagai nelayan. Pada hari itu, mereka tidak mendapatkan ikan walaupun sudah bekerja sepanjang malam. Di tengah keadaan inilah, Yesus hadir dan menyapa mereka, apakah ada makanan. Tentu saja mereka tidak punya, maka Yesus meyuruh mereka menebarkan jala lagi dan apa yang terjadi? Mereka mendapatkan banyak ikan yang besar dan mereka semua terkejut. Yesus hadir di tengah kehidupan manusia, terutama di tengah keadaan yang tidak mudah Ia hadir dan membantu mereka dan kita semua. Kejadian yang mengejutkan itulah yang membuka mata dan hati salah seorang murid Yesus, yang berseru ‘Itu Tuhan”. Peristiwa itu membuka mata mereka yang masih tertutup oleh permasalahan hidup harian dan mampu melihat kehadiran Tuhan, yang sudah ada bersama mereka. Kita pun diingatkan untuk selalu menyadari kehadiran Tuhan di dalam kehidupan harian kita. Begitu banyak mujijat yang telah terjadi dalam kehidupan kita walaupun tampaknya biasa saja, itulah tanda nyata kehadiran dan kasih Tuhan bagi kita.

Selanjutnya Yesus mengajak mereka semua makan, bahkan Yesus sendiri yang menyiapkan perjamuan itu. Mereka berkumpul dan Yesus mengucapkan doa atas roti dan ikan lalu membagikan kepada mereka untuk dimakan bersama. Yesus mengingatkan mereka kembali ketika Ia masih bersama mereka sebelum Ia wafat. Dengan penampakan Yesus ini, Ia mau mengatakan kepada para muridNya dan kita semua bahwa Ia tetap berada bersama  kita semua. Bahkan Tuhan Yesus tidak hanya hadir, namun Ia juga yang selalu menyertai, melindungi dan memberikan kita makanan kehidupan setiap hari. Maka marilah kita sadar senantiasa akan kasih Tuhan yang selalu melimpah di dalam kehidupan kita. Paskah, Perayaan Kebangkitan Tuhan adalah juga perayaan iman kita yang mengajak agar kita pun bangkit kembali bersama Tuhan Yesus dari segala sikap hidup kita yang lama dan kembali mengarah dan berfokus kepada Sang Mesias yang senantiasa hadir dan menyertai kita.    

Translate »