Browsed by
Month: June 2021

Garam & Terang Dunia

Garam & Terang Dunia

Renungan Selasa, 8 Juni 2021

Mat 5: 13-16

“Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuji Bapamu di surga.”

Perutusan orang Kristen digambarkan seperti menjadi garam dan terang dunia. Layaknya garam yang memberi rasa pada makanan hambar, orang beriman diminta menjadi pembawa kegembiraan dan harapan dalam hidup. Pengharapan dalam hidup menjadi penting karena sering masyarakat kita dihinggapi suasana penuh pesimisme dan perasaan negatif yang mengganggu kedamaian bersama.

Fungsi lain dari garam adalah untuk membuat bahan makanan tahan lama dan juga menjadi sarana penyembuh. Garam membunuh bakteri dan mikro organisme lain yang menyebabkan makanan menjadi berbau dan busuk. Para pengikut Kristus dipanggil untuk membuat hidup ini jangan sampai menjadi busuk dan kehilangan daya kekuatannya. Apa yang sering membuat kehidupan ini menjadi busuk adalah ketidakadilan, penindasan serta kebohongan. Menjadi garam berarti memperjuangkan kehidupan Bersama agar makin adil dan penuh dengan kebenaran.

Dalam dunia kuno, garam juga dipakai untuk menyembuhkan luka. Garam membantu menghentikan pendarahan, mengurangi infeksi. Demikian pula hidup orang Kristen, lewat ajaran dan nilai hidup Kristiani, kita menyembuhkan dunia lewat sabda Allah, menyapa yang terluka, mengobati hidup yang penuh kemarahan, kegetiran, kepedihan serta kedosaan.  Sabda Allah itu menjadi obat bagi orang yang percaya dan melaksanakanNya.

Selain garam, ada pula panggilan hidup menjadi terang dunia. Terang itu bersinar dan membuat jalan menjadi jelas dan bisa dilewati dengan aman. Terang bersinar tanpa harus membakar. Terang Kristus bersinar lewat hidup kita pribadi. Bukan kita yang menerangi, tapi Kristuslah terang dunia dan kita menjadi sarananya. Menjadi terang berarti kita menjadi jelas, memberi contoh, menjadi target yang bisa dilihat, serta bisa jadi disingkiri oleh orang yang lebih mencintai kegelapan. Dalam dunia yang penuh dengan kegelapan, terang sungguh diperlukan dan dinati-nantikan orang untuk mendapat jalan yang benar. Itulah panggilan kita semua menjadi terang dan garam dunia!

Sabda Bahagia

Sabda Bahagia

Renungan Senin, 7 Juni 2021

Mat 5: 1-12

Kisah Yesus yang berkotbah di bukit menggambarkan figure Dia seperti Musa yang mengajar orang Israel setelah Musa menerima dekalog di Gunung Sinai. Sabda Bahagia ini dimaknai sebagai “Undang-undang” dari kerajaan Surga. Bagaimana orang bisa masuk dalam kerajaan surga? Caranya dengan melaksanakan apa yang dikatakan Yesus dalam kotbah hari ini.

Tempat Yesus berkotbah ada di gunung. Ia naik ke sebuah bukit dan mewartakan sabda pada orang banyak. Gunung bermakna teologis dalam injil Matius karena menunjukkan bagaimana Yesus memberikan aturan baru. Ia membawa sabda yang membaharui hidup orang, sebagaimana dulu Musa memberi aturan hidup pada orang Israel di Gunung Sinai.

Sabda Bahagia menggambarkan hidup yang penuh dengan optimisme dan harapan masa depan. Kalau orang sungguh melakukan sabdaNya, ia akan mendapatkan: saat duka akan ada penghiburan, yang lapar akan dikenyangkan, yang murah hati akan mendapatkan kemurahan Allah, yang dianiaya akan mendapatkan kerajaan Allah. Muara dari sabda Bahagia dalah kebahagiaan hidup yang tidak bisa diberikan oleh dunia.

Dalam Sabda Bahagia, Yesus menggambarkan bagaimana hati Allah yang memperhatikan hidup orang yang setia padaNya. Sabda ini mengajari kita untuk hidup seperti Tuhan sendiri, bagaimana merenungkan kebaikan dan keindahan dari hati Allah sendiri. Kualitas hidup dan nilai yang diperjuangkan dalam Sabda Bahagia menjadi nilai yang perlu diperjuangkan setiap orang.  

Kebahagian orang yang miskin dalam Roh menunjuk pada keadaan orang yang mau menggantungkan hidupnya pada Tuhan. Sabda ini tidak bicara soal kemiskinan material, namun lebih menekankan soal kemiskinan dalam spiritual sehingga orang hanya bisa mengandalkan Tuhan saja. Orang yang demikian akan dipuji oleh Allah karena Ia berkenan pada hati orang yang lebut dan terbuka.

The Fullness of Love

The Fullness of Love

The Solemnity of the Body dan Blood of Christ [Corpus Christi] – B
June 6, 2021
Mark 14:12-16;22-26

The Solemnity of the Body and Blood of Christ or Corpus Christi is the estuary of all the great feasts we have celebrated. We started from the great Holy Week and culminated in the Easter Triduum. Forty days after Easter Sunday, we worship Christ, who ascended into Heaven, and then He sent the Holy Spirit among the disciples on the day of Pentecost. And, just last Sunday, we gave our most excellent adoration to the Holy Trinity. Now, we have Corpus Christi. But, why this feast?

Guided by the Holy Spirit, the Church has recognized the importance of the solemnity of Corpus Christi. The entire economy of creation and salvation streams down to this mystery. God created the world so that the world may share in His love. However, men and women fell into sin and departed from God’s love. Yet, His love and mercy are infinitely bigger than our wickedness, and He commissioned His Son to take up human nature and live among us. Not only to become a human, but Jesus also offered Himself on the cross for our salvation. St. John perfectly summed up, “For God so loved the world, He sent His only begotten Son, so that everyone who believes in may not perish but may have eternal life [John 3:16].” However, it is not the end of God’s amazing love story! The risen Christ miraculously transformed into the Eucharist to become our daily bread. In the most blessed sacrament of the Eucharist, “the body and blood, together with the soul and divinity, of our Lord Jesus Christ and, therefore, the whole Christ is truly, really, and substantially contained [CCC 1374].”

For those without faith, this bread is just a white tasteless wafer, but for us, who are called to eternal life, the bread is no longer bread but the fullness of Christ. When Jesus is there, the Holy Trinity is there as well. When the Trinity is there, the entire angelic hosts and choirs of saints are there as well. Receiving the Eucharist is receiving the whole Heaven, the eternal life. This is the will of Christ Himself, “Amen, amen, I say to you, unless you eat the flesh of the Son of Man and drink his blood, you do not have life within you. Whoever eats my flesh and drinks my blood has eternal life, [Jn 6:53-54].”

The Eucharist is the proof of God’s love. It is not enough for God to become human, not enough for Him to die and rise for us, not enough for Him to open the gates of Heaven. He wants us to share His divine life and love now and here.

Yet, Heaven is meant to be shared. As Jesus shares His life and love in the Eucharist, we are invited to become little Eucharists in our daily lives. As Jesus nourishes us with His Body and Blood, do we nourish people with our body and blood? As parents, do we offer our bodies and blood to our children so that they may experience true heavens? Do we bring Heaven to our family and communities? Do we become the agent of love to our societies?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kepenuhan Kasih

Kepenuhan Kasih

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [Corpus Christi] – B
6 Juni 2021
Markus 14:12-16; 22-26

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau dikenal dalam Bahasa Latin, ‘Corpus Christi’ adalah muara dari semua hari raya yang telah kita rayakan selama ini. Kita mulai beberapa bulan yang lalu, dari Pekan Suci dan mencapai puncaknya dalam Trihari Suci. Empat puluh hari setelah Minggu Paskah, kita memuliakan Kristus yang naik ke Surga, dan kemudian Dia mengutus Roh Kudus di antara para murid pada hari Pantekosta. Dan, Minggu lalu, kita memberikan pujian terbesar kita kepada Tritunggal Mahakudus. Sekarang, kita memiliki Corpus Christi. Tapi, mengapa hari raya dirayakan sekarang?

Dengan bimbingan Roh Kudus, Gereja telah mengakui betapa pentingnya kehadiran Yesus yang real di Ekaristi. Seluruh sejarah penciptaan dan keselamatan mengalir ke misteri ini. Tuhan menciptakan dunia agar dunia dapat berbagi dalam kasih-Nya. Sayangnya, pria dan wanita jatuh ke dalam dosa, dan menjauh dari kasih Tuhan. Namun, kasih dan kerahiman-Nya jauh lebih besar daripada kejahatan dan kelemahan kita, dan Dia mengutus Putra-Nya untuk mengambil kodrat manusia dan hidup di antara kita. Tidak hanya menjadi manusia, Yesus juga mempersembahkan diri-Nya di kayu salib untuk keselamatan kita. St. Yohanes dengan tepat menyimpulkan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal [Yohanes 3:16].” Namun, ini bukan akhir dari kisah kasih Allah yang luar biasa! Kristus yang bangkit secara mujizat berubah menjadi Ekaristi, menjadi makanan kita. Dalam Sakramen Ekaristi mahakudus, tercakuplah “dengan sesungguhnya, secara real dan substansial tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan ke-Allahan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan demikian seluruh Kristus.” – [KGK 1374]

Bagi mereka yang tidak beriman, roti ini hanyalah kerupuk putih yang hambar, tetapi bagi kita yang dipanggil untuk hidup yang kekal, roti itu bukan lagi roti, tetapi kepenuhan Kristus sendiri. Ketika Yesus ada di sana, Tritunggal Mahakudus juga ada di sana. Ketika Trinitas ada di sana, seluruh malaikat dan orang-orang kudus juga ada di sana. Menerima Ekaristi adalah menerima seluruh surga, hidup yang kekal. Inilah kehendak Kristus sendiri, “Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. [Yoh 6:53-54].”

Ekaristi adalah bukti kasih Allah. Tidaklah cukup bagi Tuhan untuk menjadi manusia, tidak cukup bagi Dia untuk mati dan bangkit bagi kita, tidak cukup bagi Dia untuk membuka gerbang surga. Dia ingin kita berbagi kehidupan dan kasih ilahi-Nya sekarang dan di sini.

Namun, kita perlu ingat bahwa surga bukan hanya untuk kita sendiri. Saat Yesus membagikan hidup dan kasih-Nya dalam Ekaristi, kita diundang untuk menjadi Ekaristi kecil dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagaimana Yesus memelihara kita dengan Tubuh dan Darah-Nya, apakah kita memelihara orang-orang dengan tubuh dan darah kita? Sebagai orang tua, apakah kita mempersembahkan tubuh dan darah kita kepada anak-anak kita agar mereka dapat mengalami kepenuhan hidup yang sesungguhnya? Apakah kita membawa surga bagi keluarga dan komunitas kita? Apakah kita menjadi agen kasih bagi masyarakat kita?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Santo Bonifasius

Santo Bonifasius

Sabtu, 5 Juni 2021
Hari Raya Santo Bonifasius, Uskup dan Martir

Tobit 12:1, 5-15, 20
Tobit 13
Markus 12:38-44

Card contains reproduction of painting by Johann Hess, 19th c. artist – Early 20th century prayer card (1906-1920), Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=12347473

diterjemahkan dari https://www.franciscanmedia.org/saint-of-the-day/saint-boniface

Bonifasius dikenal sebagai rasul kepada orang-orang Jerman. Dia sendiri adalah seorang biarawan Benediktin dari Inggris. Dia juga sangat dikenal dengan keteguhannya pada ajaran Gereja dan kesetiannya kepada Sri Paus.

Pada tahun 719, Paus Gregorius II menunjuknya untuk menjadi misionaris ke Jerman. Dia menemukan banyak orang Kristen yang berbalik dari iman mereka kembali ke kepercayaan tradisional mereka. Dia juga berpendapat bahwa para kaum klerikal di sana bertanggung jawab besar atas keadaan yang menyedihkan ini.

Ketika Bonifasius melaporkan temuannya ke Paus di Roma, Bapa Suci memerintahkannya untuk mereformasi Gereja di Jerman. Paus Gregorius memberinya kekuasaan penuh dengan mengirimkan surat rekomendasi kepada para pemimpin sipil di sana. Bonifasius sendiri mengaku bahwa surat perjalanan yang diberikan oleh Karolus Martel, pemimpin kaum Franka yang sangat berkuasa, kakek dari Karolus Agung, sangat membantu misinya. Bonifasius akhirnya ditahbiskan sebagai uskup dan sukses mereformasi Gereja di Jerman.

Di kemudian hari Bonifasius mengalami banyak tantangan di wilayah kaum Franka karena banyak penguasa sipil ingin mencampuri pemilihan uskup dan banyak kaum klerus tidak hidup secara taat kepada Sri Paus. Pada suatu misi ke Frisia, Bonifasius dan 53 rekan-rekannya dibunuh ketika mereka sedang mempersiapkan umat untuk sakramen krisma.

Refleksi: Bonifasius memberi teladan ajaran Kristiani: Untuk mengikuti Kristus adalah dengan mengikuti jalan salibnya. Bagi Bonifasius, jalan itu bukan hanya penderitaan jasmani atau kematian, tetapi juga melalui pekerjaan berat mereformasi gereja lokal. Sering kita berpikir pelayanan misi adalah dengan membawa orang kepada Kristus. Tetapi jangan lupa bahwa sama pentingnya untuk menyembuhkan rumah tangga Gereja sendiri yang sedang dilanda masalah.

Translate »