Browsed by
Month: June 2021

Tuhan Menyembuhkan

Tuhan Menyembuhkan

Jumat, 4 Juni 2021

Tobit 11:5-17
Mazmur 146
Markus 12:35-37

Kitab Tobit ditulis beberapa generasi setelah kitab-kitab dalam Taurat Musa. Dalam kitab-kitab itu Tuhan berbicara dan berkarya secara langsung dengan manusia, seperti ketika menyelamatkan bangsa Israel dari Mesir dan memberikan 10 Perintah kepada Musa. Tetapi pada masa Tobit, orang Israel tidak lagi mengalami semua ini. Mereka dikalahkan oleh orang Asyur dan harus hidup dalam pembuangan. Di tengah pembuangan, banyak godaan untuk bercampur dengan orang bangsa lain yang mengancam agama dan kebudayaan Yahudi. Tuhan kelihatan seperti tidak peduli. Tidak ada lagi campuran tanganNya secara langsung.

Di masa inilah muncul banyak kisah tentang malaikat yang berperan sebagai pewarta sabda Tuhan atau pelaksana perintahNya. Merekalah yang dikirim Tuhan untuk membantu umatNya. Rafael adalah salah satu malaikat itu.

Malaikat Agung Rafael memegang peranan besar dalam cerita Tobit. Di seluruh Alkitab, tidak ada malaikat lain yang diberi peran semacam ini. Jarang seorang malaikat diberi nama dalam Alkitab. Rafael berjalan bersama Tobia, anak Tobit, dan melindunginya. Dia membantu mengenyahkan setan Asmodeus dari perkawinan Tobia dan Sara. Dia juga membantu Tobia menyembuhkan penyakit mata ayahnya. Nama Rafael sendiri mempunyai arti “Tuhan menyembuhkan.” Sangat pantaslah nama itu jika kita melihat kerja Rafael dalam kisah ini.

Tobit disembuhkan atas bantuan anaknya Tobia, yang dibantu oleh seorang malaikat Rafael, menggunakan empedu ikan sebagai obat. Apakah ini bisa menjadi semacam pola bagi kesembuhan kita di masa kini juga? Apakah ada keluarga yang membantu merawat kita? Apakah ada tokoh seperti malaikat seperti dokter, perawat, tokoh agama, yang menyembuhkan kita sesuai keahlian mereka? Dan apakah hasil dari bumi, ciptaan Tuhan sendiri, yang dapat menjadi obat?

Pada akhirnya semua berujung pada Tuhan sendiri. Sungguh Dialah yang menyembuhkan. Rafa-El!

Para Martir Uganda

Para Martir Uganda

Kamis, 3 Juni 2021
Hari Raya Santo Karolus Lwanga dan Para Martir Uganda

Tobit 6:10-11; 7:1, 9-17; 8:4-9
Mazmur 128
Markus 12:28-34

https://www.ugandamartyrsshrine.org.ug/index.php/about-martyrs/history-martyrs-2

Terdapat 24 orang martir Katolik dari Uganda, 22 dibunuh antara 1885 dan 1887 atas perintah Raja Mwanga dan 2 tewas di tahun 1918 di Uganda Utara. Martir pertama adalah Yosef Mukasa Balikuddembe yang dipenggal kepalanya karena berusaha membela seorang uskup Anglikan.

Pada tanggal 25 Mei 1886, Raja Mwanga menjatuhi hukuman mati kepada sekelompok orang Kristen (Katolik dan Anglikan). Keesokan harinya, orang-orang Kristen itu dipaksa untuk memulai perjalanan menuju ke tempat eksekusi. Beberapa orang dibunuh dalam perjalanan. Setelah sampai di Namugongo, mereka dikurung selama seminggu sementara kayu-kayu disiapkan untuk pembakaran.

Tanggal 3 Juni 1886, Karolus Lwanga menjadi korban pertama yang dibakar. Dia direbahkan di atas kayu bakar dan dibakar bertahap dari kaki sampai kepala. Kemudian 12 Katolik, 13 Anglikan, dan 6 orang tahanan lainnya dibakar pada hari itu juga.

Sisa-sisa jenazah para martir berhasil dikumpulkan oleh beberapa orang Katolik yang datang ke tempat pembakaran pada malam hari setelah 6 bulan berlalu. Mereka harus berhati-hati karena tempat itu dijaga dan dilarang keras untuk menguburkan sisa-sisa jenazah orang yang dianggap kriminal. Mereka kemudian mengirimkan reliki itu kepada Uskup di Buganda dan dibawa ke Roma pada tahun 1964 untuk dipakai dalam misa kanonisasi para martir Uganda.

Pada tahun 1935, sebuah gereja didirikan di atas tempat para martir dibakar di Namugongo. Tahun 1967, gereja yang lama digantikan oleh sebuah bangunan yang lebih besar dan menjadi tempat ziarah dan gereja Martir-martir Uganda. Reliki para martir dikembalikan kemari setelah misa kanonisasi di Roma.

disarikan dan diterjemahkan dari https://www.ugandamartyrsshrine.org.ug/index.php

Bunuh Diri

Bunuh Diri

Rabu, 2 Juni 2021

Tobit 3:1-11, 16-17
Mazmur 25
Markus 12:18-27

Dua tokoh dalam bacaan pertama hari ini, Tobit dan Sara, mengalami situasi yang sangat menyakitkan dalam hidup mereka. Tobit, seorang Yahudi dalam pembuangan oleh bangsa Asyur, dirampas semua harta bendanya dan dikejar-kejar karena bersikeras menguburkan mayat-mayat orang Yahudi di Asyur. Sara diperistrikan oleh tujuh lelaki, tetapi semuanya tewas sebelum mereka sempat berhubungan. Ia dituduh sebagai biang keladi tragedi ini. Begitu beratnya beban yang ditanggung oleh Tobit dan Sara sampai keduanya berdoa kepada Tuhan supaya Ia mengambil nyawa mereka.

Di dunia kita sekarang pun banyak orang yang merasa sangat tersiksa dengan situasi mereka sehingga mereka tidak lagi memiliki gairah untuk hidup. Banyak yang berpikir atau mencoba mengambil nyawanya sendiri. Ini sungguh sesuatu yang sangat menyedihkan. Sayangnya ada juga orang-orang Gereja yang justru malah menambah beban bagi mereka dengan mengancam bahwa orang yang bunuh diri pasti masuk neraka. Atau juga dengan menuduh mereka macam-macam seperti orang yang menuduh Tobit dan Sara, sehingga mereka merasa makin terkucilkan.

Di Amerika Serikat, bunuh diri adalah penyebab kematian nomor dua di antara remaja dan orang muda. Rata-rata 42 ribu orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya di negeri ini dan 800 ribu orang di seluruh dunia. Di samping itu, keluarga mereka pun juga mengalami trauma yang sangat hebat dan membutuhkan waktu lama untuk sembuh.

Ajaran Gereja memang menyatakan bahwa bunuh diri bertentangan dengan kehendak Allah Sang Pemberi Kehidupan. Tetapi Gereja juga memahami bahwa ada sebab-sebab kelainan mental seperti depresi atau skizofrenia yang dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk berpikir jernih. Mereka tidak dapat menanggung penuh kesalahan mereka ketika memutuskan untuk mengambil nyawanya sendiri.

Kita sebagai umat Gereja patut untuk mencontoh Yesus yang tidak pernah meninggalkan siapapun. Kita harus juga bekerja sama dengan semua orang dalam masyarakat yang berusaha menyembuhkan dan merawat mereka yang berjuang dengan segala penyakit jiwa. Iman Katolik kita memberikan harapan yang dapat meneguhkan itikad kita: Dalam perseketuan kekal dengan Tuhan, setiap hal indah dalam hidup kita yang sekarang belum terselesaikan akan terpenuhi, semua yang tersebar akan dikumpulkan kembali, semua yang hilang akan ditemukan, semua harapan yang sirna akan diwujudkan, dan semua yang hancur akan dipulihkan.

Catatan:
Jika anda atau orang yang anda kenal membutuhkan pertolongan untuk mencegah bunuh diri, nomor hotline di Amerika Serikat adalah 1-800-273-8255. Di Indonesia, dapat menghubungi hotline Kementerian Kesehatan 119 atau Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa http://www.pdskji.org/home.

Translate ยป