Browsed by
Month: July 2021

MERASAKAN KEHADIRAN-NYA

MERASAKAN KEHADIRAN-NYA

Rabu, 14 Juli 2021

Matius 11:25-27

            Allah Bapa adalah pencipta alam semesta dan manusia. Dengan demikian, apa yang telah diciptakan-Nya merupakan pancaran dari kehadiran Allah. Artinya seseorang bisa mengenal keagungan dan kuasa Allah yang Maha Tinggi, ketika melihat segala apa yang telah diciptakan-Nya. “Hanya Engkau adalah TUHAN. Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah kepada-Mu.”(Nehemia 9:6). Dengan mengenal diharapkan setiap orang percaya bahwa Allah sumber hidup dan mau taat kepada-Nya. Namun tidak sedikit orang acuh dengan kehadiran Allah tersebut. Apakah mereka merasakan bahwa Allah sangat jauh, sehingga sulit dirasakan kehadiran-Nya? Allah tidak pernah jauh dari umat-Nya.

            Dia dekat dengan anak-anak-Nya, karena Dia telah hadir di dalam diri Putera-Nya Yesus Kristus dan telah mengajar, menyembuhkan orang yang sakit, mengusir setan-setan, memberikan makanan untuk 5000 orang, menghidupkan kembali orang mati, mengadakan mujizat-mujizat, dan wafat di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia.  Di dalam Yesus Kristus, telah diberikan kuasa atas seluruh ciptaan-Nya, agar dalam nama Kristus, semua yang percaya diselamatkan. Namun tidak semua orang bisa mengenal dan percaya kepada-Nya, karena bermacam-macam alasan, namun mereka yang percaya adalah mereka yang telah ditentukan dan dipilih oleh Allah sendiri. “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”(Mat 11:27).

            Mengapa seakan-akan Allah tersembunyi bagi sebagian orang? Artinya, mereka tidak bisa percaya bahwa lewat Yesus Kristus, Allah menyatakan kasih-Nya kepada umat-Nya. Mereka tidak percaya pada Yesus adalah Tuhan karena mereka lebih percaya pada diri mereka sendiri, yang merasa lebih bijak dan pandai, sehingga belum menemukan alasan yang kuat untuk percaya kepada Kristus. “Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.”(Mat 11:25). Untuk bisa menerima Yesus Kristus, diperlukan sikap kerendahanhati, sebab Dia adalah pribadi yang rendah hati pula. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”(Mat 11:29).

            Kerendah hati adalah sikap pokok agar tumbuh iman di dalam diri seseoraang. Ketika seseorang bersikap rendah hati, ia mengosongkan dirinya untuk menerima kehadiran Allah di dalam hatinya, sehingga keselamatan,  damai dan kasih-Nya akan memenuhi hidupnya. “Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.”(Mzm 149:4).

                                                                                                                                       Serawai, Rm. Didik Setiyawan, CM

MENYADARI KEBAIKAN TUHAN

MENYADARI KEBAIKAN TUHAN

Selasa, 13 Juli 2021

Matius 11:20-24

            Yesus mengecam penduduk kota Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum, karena mereka telah menerima dan melihat sendiri apa yang telah diberikan Yesus dan mujizat-mujizat yang terjadi di sana, namun mereka tidak percaya kepada-Nya. Dengan cara apa lagi agar mereka percaya? “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau  Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.”(Mat 11:21). Mengapa mereka tidak percaya? Karena mereka belum terbuka atau menutup hati mereka untuk Yesus Kristus. Sekalipun banyak kebaikan yang telah mereka terima dari Tuhan, mereka tidak akan percaya jika hati mereka masih tertutup. Setiap orang menerima anugerah kebebasan dalam memilih, oleh karena itu dibutuhkan jawaban pribadi seseorang ketika Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya yang penuh kasih. Sebaliknya jika seseorang terbuka hatinya, maka akan ada jalan keselamatan dan ia akan menerima kasih karunia-Nya yang berlimpah. “Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.”(Kis 4:30).

            Bagaimana cara agar seseorang bisa terbuka hati dan percaya kepada Tuhan Yesus? Seseorang belum bisa percaya karena belum sampai pada kesadaran bahwa Tuhan telah berbuat baik atas hidupnya. Seseorang tidak sadar atau tidak melihat karena ada hal-hal yang menghalang-halangi mata hatinya. Seperti hal saat air sungai sedang keruh, seseorang tidak bisa melihat keindahan yang ada di dasar sungai tersebut. Oleh karena itu, penghalang dan yang membuat keruh hati manusia perlu dihapus dulu, sebelum melihat kemuliaan Allah. Hal yang menghalangi adalah bersumber dari dosa dan kesombongan manusia. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”(Roma 3:23). Oleh karena itu langkah pertama untuk bisa melihat kebaikan dan kemuliaan Allah adalah dengan jalan pertobatan.  Secara sederhana pertobatan adalah menata kembali semua pada tempatnya, sesuai dengan tujuan Allah menciptakan. Ketika hati manusia dikembalikan sebagai tempat tinggalnya Roh Kudus, maka hati dan budinya akan jenih sehingga ia bertindak baik dan benar, seturut dengan Allah sendiri. “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.”(Efesus 2:21-21).

            Dari hati yang suci dan budi yang jernih maka setiap orang juga akan bisa mengambil keputusan dan bertindak yang adil dan benar. Oleh karena itu Hati Nurani merupakan mata yang akan bisa melihat kehadiran Yesus Kristus dan mengarahkan hidupnya untuk setia melakukan kehendak  Allah. “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaan yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”(Luk 6:45). Kehadiran Roh Kudus di dalam hati seseorang akan selalu menjadi penolong, penuntun, dan penyelamat, sehingga ia bisa merasakan kebaikan dan kasih Kristus dan kemudian ia mengungkapkan kebaikan Tuhan di dalam setiap kata dan perbuatannya, yang benar, dan yang pantas dihadapan Allah. “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran , Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;….” (Yoh 16:13).

                                                                                                                                       Serawai, Rm. Didik Setiyawan, CM

TUHAN TELAH MENETAPKAN

TUHAN TELAH MENETAPKAN

Senin, 12 Juli 2021

Matius 10:34-11:1

            Yesus mengajak para murid-Nya untuk menyadari dengan benar arti menjadi murid Kristus. Mereka dipanggil bukan untuk mencari kenyamanan diri sendiri, namun berani meninggalkan segala-galanya dan kemudian mengikuti Yesus. Ketika seseorang berani berkorban dengan meninggalkan kepentingan dirinya sendiri, untuk melakukan kehendak Allah, maka pada saat itulah orang tersebut sedang memanggul salib. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”(Mat 10:38). Agar seseorang bisa mengikuti Yesus secara maksimal, maka diperlukan sikap pengosongan diri dan menempatkan Tuhan Yesus sebagai pusat hidupnya. Sikap pengosongan diri ini adalah sikap yang dimiliki Yesus Kristus, agar Dia bisa menjumpai manusia di dunia dan menyatakan kasih Allah secara sempurna kepada manusia. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”(Filipi 2:5-7).

            Jalan yang ditempuh oleh murid Kristus, adalah jalan yang telah dilewati Kristus. Oleh karena itu Dia adalah pemimpin dan menuntun hidupnya. Yesus Kristus adalah cahaya yang mampu menerangi hati manusia dan mengarahkannya ke jalan kebenaran dan hidup. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”(Yoh 14:6). Proses yang harus dilewati oleh para murid adalah proses pengosongan diri. Jika mereka belum sepenuhnya mengosongkan diri, maka Kristus akan tetap menjadi pribadi yang asing bagi mereka. Proses pengosongan diri adalah saatnya seseorang memurnikan hati dan budi dan melepaskan segala macam kelekatan-kelekatan yang bisa menghambat relasi dengan Yesus Kristus. “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”(Mat 10: 39). 

            Ketika hati sudah dipenuhi oleh Yesus Kristus, maka orang akan mampu mendengarkan  Sabda Yesus dan mengikuti-Nya. Perjuangan dan perjalanan murid-murid Kristus adalah selalu untuk siap sedia untuk menjaga agar tetap fokus kepada Yesus Kristus dalam segala situasi, sehingga mereka selalu mampu menghadirkan Kristus dalam setiap peristiwa yang di hadapi. Bukan lagi memakai pemikiran diri sendiri, tetapi memakai pemikiran dan hati yang ada di dalam Kristus. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”(Galatia 2:20).

            Setelah seseorang mampu mengalahkan dirinya sendiri, maka barulah ia memiliki banyak kesempatan, bahkan seluruh hidupnya ia persembahkan untuk menjaga iman dan menyatakan apa yang dihayati, yaitu Allah yang berbelas kasih. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Mat 5:16). Dewasa ini, sangat dibutuhkan orang-orang yang mampu membawa harapan dan damai, ditengah-tengah situasi yang sulit ini. Mereka yang siap membawa harapan dan damai adalah mereka yang telah siap berbuah dalam iman sebagai murid Kristus, karena untuk itulah mereka dipilih dan ditetapkan sebagai murid Kristus. “Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu.”(Yoh 15:16).

                                                                                                                                                Serawai, Rm. Didik Setiyawan CM

Mission for the Salvation of Sous

Mission for the Salvation of Sous

15th Sunday in Ordinary Time [B]
July 11, 2021
Mark 6:7-13

In today’s Gospel, Jesus called His disciples so that He may send them. Jesus commissioned them with threefold tasks: to drive out unclean spirits, preach repentance, and heal the sick with the anointing of the oil. Why did Jesus instruct these three missions? Jesus knew well that He dispatched the disciples not simply to teach faith or do some charitable services. Their real mission was to wage war against the real enemies of the kingdom of God: the kingdom of evil. To do this humanly impossible task, Jesus had entrusted them with divine authority over the demons and other fallen angels. Their mission was to destroy evil forces and win back people who lived under the influence of darkness. In short: the disciples were to win to souls.

When Jesus died on the cross and rose from the dead, He has definitively won the war against the kingdom of Satan, and He has decisively destroyed its leading forces. However, the battles and skirmishes were raging on. The devil and cohorts continued to assault humanity and tried to reclaim the souls that have been consecrated to God. Thus, Jesus made the mission of His disciples something lasting until He comes again. As He commissioned the Twelve, he also sends His disciples to continue the faith and win more souls for Christ.

Then, how do we live up to this call of Jesus? Do we need to precisely imitate the apostles like we need to fight demons head-on and exorcise the demoniacs? Do we have to go around and start anointing the sick people with oil? Must we preach repentance at every corner of the streets? The answer is yes and no. Some of us, indeed, heal the people by anointing with oil. These people are called priests. Some of us have a special charism to expel demons. Some of us have the gift that empowers them to preach repentance and bring people into tears.

However, there is one universal way to do this mission against the kingdom of darkness. It is to reject Satan and His works in our lives and societies. The first and real battle is within us, within our families, and then our communities. We reject those activities that related to occultism and superstitious beliefs. We also refuse to participate in evil and corrupt activities in our workplaces and societies. At least, we know that there is one soul we save, that is, our souls and the souls of our family.

When I become a priest, one mission entrusted to me is to give the sacrament of holy anointing for the sick. Among other sacraments, I find the most fulfilment in this sacrament. Through this sacrament, I am sure that I have participated in God’s saving work to bring this soul to heaven. However, in this pandemic, I realize that I cannot do much for our parishioners who are in critical condition due to covid-19. I wish I could do more, and the reality hurts. Yet, it does not mean we are hopeless. This is when we storm heaven with prayers and fasting for the salvation of souls, and we must not allow the power of darkness to take their chances.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misi Penyelamatan Jiwa-Jiwa

Misi Penyelamatan Jiwa-Jiwa

Minggu Biasa ke-15 [B]
11 Juli 2021
Markus 6:7-13

Dalam Injil hari ini, Yesus memanggil murid-murid-Nya agar Ia dapat mengutus mereka. Yesus menugaskan mereka dengan tiga tugas pokok: mengusir roh-roh jahat, memberitakan pertobatan, dan menyembuhkan orang sakit dengan urapan minyak. Mengapa Yesus memerintahkan ketiga misi ini? Yesus tahu betul bahwa Dia mengutus para murid bukan hanya untuk mengajarkan iman atau melakukan beberapa pelayanan amal. Misi mereka yang sebenarnya adalah untuk berperang melawan musuh kerajaan Allah yang sebenarnya: kerajaan kejahatan. Untuk melakukan tugas yang mustahil secara manusiawi ini, Yesus telah mempercayakan kepada mereka otoritas Ilahi atas iblis, dan malaikat jatuh lainnya. Misi mereka adalah untuk menghancurkan kekuatan jahat, dan untuk memenangkan kembali orang-orang yang hidup di bawah pengaruh kegelapan. Singkatnya: para murid harus memenangkan jiwa-jiwa.

Ketika Yesus mati di kayu salib, dan bangkit dari kematian, Dia secara definitif memenangkan perang melawan kerajaan Setan, dan Dia dengan tegas menghancurkan kekuatan utamanya. Namun, pertempuran masih berkecamuk. Iblis dan prajuritnya terus menyerang umat manusia dan mencoba merebut kembali jiwa-jiwa yang telah dikuduskan kepada Tuhan. Jadi, Yesus menjadikan misi murid-murid-Nya sesuatu yang terus dilakukan sampai Dia datang kembali. Sama seperti Dia menugaskan Dua Belas rasul, Yesus juga mengutus kita, murid-murid-Nya sekarang, untuk melanjutkan misi dan memenangkan lebih banyak jiwa bagi Kristus.
Lalu, bagaimana kita menghayati panggilan Yesus ini? Apakah kita perlu benar-benar meniru para rasul seperti kita harus melawan iblis secara langsung dan mengusir iblis? Apakah kita harus berkeliling dan mulai mengurapi orang sakit dengan minyak? Haruskah kita mewartakan pertobatan di setiap sudut jalan? Jawabannya adalah ya dan tidak. Beberapa dari kita, memang, menyembuhkan orang dengan mengurapi dengan minyak, seperti para imam. Beberapa dari kita memiliki kharisma khusus untuk mengusir setan. Beberapa dari kita memiliki talenta untuk mewartakan pertobatan.

Namun, ada satu cara universal untuk melakukan misi ini melawan kerajaan kegelapan. Ini adalah untuk menolak Setan dan pekerjaan-pekerjaannya dalam hidup dan masyarakat kita. Pertempuran pertama dan nyata ada di dalam diri kita, di dalam keluarga kita, dan kemudian di komunitas kita. Kita menolak kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan okultisme dan takhayul. Kita juga menolak untuk berpartisipasi dalam kegiatan jahat dan korup di tempat kerja dan masyarakat. Setidaknya, kita tahu bahwa ada satu jiwa yang terselamatkan, yaitu jiwa kita sendiri, dan jiwa keluarga kita.

Salah satu misi yang dipercayakan kepada saya ketika saya menjadi imam adalah memberikan sakramen pengurapan bagi orang sakit. Di antara sakramen-sakramen lainnya, saya menemukan pemenuhan yang paling dalam di sakramen ini. Melalui sakramen ini, saya yakin bahwa saya telah berpartisipasi dalam pekerjaan penyelamatan Tuhan untuk membawa jiwa ini ke surga. Namun, di masa pandemi ini, saya menyadari bahwa saya tidak bisa berbuat banyak untuk umat kita yang berada dalam kondisi kritis akibat covid-19. Saya berharap saya bisa berbuat lebih banyak, dan kenyataannya menyakitkan. Namun, bukan berarti kita putus asa. Inilah saatnya kita memohon sekuat tenaga dengan doa dan puasa untuk keselamatan jiwa-jiwa. Kita tidak sendiri, dan kita bersama para kudus di surga yang juga berjuang bersama kita. Dan secara khusus, St. Yusuf, sebagai pelindung Gereja-Nya, bekerja paling keras untuk menghalau kuasa jahat. Mari kita juga memohon doa St. Yusuf dan para kudus dalam perjuangan kit aini.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »