Browsed by
Month: July 2021

Kasih Allah yang tak terhingga dan kekal

Kasih Allah yang tak terhingga dan kekal

Kejadian 49:29-32;

               50:15-26a

Matius 10:24-33

Saudara-i terkasih,

    Saya baru saja menyelesaikan tugas di rumah sakit hari ini. Tugas utama saya setiap pagi membaca  rujukan dari dokter, perawat dan dari sesama kapelan untuk pasien yang dirawat di ICU dan MICU. Setelah itu baru mengunjungi pasien yang sudah berada di ruangan-ruangan biasa. Salah satu pasien yang saya kunjungi hari ini sempat mengungkapkan rasa cemas, gelisah, takut bahkan sampai marah-marah. Perasaan-perasaan seperti ini bagi saya adalah sangat manusiawi. Namun yang menarik bahwa sudah sekian lama dia dihantui oleh perasaan-perasaan ini yang pada akhirnya ia katakan bahwa Tuhan sepertinya sudah melupakan dia, yang membuat dia akhirnya sangat marah kepada Tuhan. Wajar? Lumrah? Dengan sikapnya itu kepada Tuhan, dalam percakakpan tadi dia akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa dia masih dapat menunjukan kepercayaannya akan kehadiran Tuhan. Tuhan masih hadir dalam perjalanan hidupnya yang penuh onak dan duri dimana dia masih mendapat untuk ngoceh kepada Tuhan.

    Bacaan kita pada akhir minggu ini, khususnya dalam bacaan Injil dikatakan, semoga kita bisa mengesampingkan perasaan-perasaan cemas dan gelisah itu. Sementara orang yang lagi kalut pikirannya memang agak sulit untuk bisa  menerima anjutan atau nasihat kita  untuk menjauhkan perasaan-perasaan seperti itu. Yang bersangkutan akan sertamerta meresponse: “ya, anda boleh ngomong gampang seperti jangan marah, jangan cemas, jangan takut dan gelisah, tetapi saya yang merasakan dan menjalaninya.” Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk melihat betapa Tuhan memperhatikan setiap ciptaanNya… “Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Dari bacaan pertama hari inipun dikatakan bahwa Yusuf mengingatkan saudara-saudaranya dengan mengatakan: “jangan takut akan apa yang sudah terjadi pada masa lampau karena Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikanNya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.”(Kej. 50:24)

    Oleh karena itu saudara-i terkasih, Yesuspun meyakinkan para murid, anda dan saya bahwa ketakutan dan kecemasan akan selalu mewarnai kehidupan kita sebagai manusia dalam segala kelemahan dan kekurangan kita. Namun perasaan-perasaan seperti itu akan sangat besar artinya untuk pendewasaan iman kita. Saya masih ingat akan cerita wayang Gatot Kaca yang menjadi kesatria setelah digembleng di kawah Candradimuka. Kitapun perul ditantang, digembleng untuk bisa melihat aspek positip perasaan-perasaan diatas agar iman kita kepada Tuhan akan menjadi lebih kuat dan dewasa. Sangat mungkin kita merasa bahwa Tuhan pernah meninggalkan kita, tidak mau mendengarkan lagi doa-doa kita. Atau Allah sudah tidak mencintai kita, seperti yang dialami oleh pasienku hari ini. Semoga renungan kita pagi ini akan dapat membantu kita untuk selalu ingat akan kebesaran kasih setia Allah. KasihsetiaNya tak berkesudahan; kasihNya itu dinyatakan dalam Korban Salib Kristus yang selalu kita rayakan dalam Perayaan Ekaristi yang menjadi Puncak Kehidupan Iman kita. Amin.

Tuhan selalu beserta kita

Tuhan selalu beserta kita

Kejadian 46:1-7, 2830

Matius 10:16-23

Saudara-i terkasih,

    Beberapa hari yang lalu saya sempat ngobrol per telephone dengan saudari saya. Bicara kesana kemari akhirnya bicara tentang pengalaman masa kecil bersama orangtua. Adik saya ini adalah adik wanita yang paling kecil dari delapan bersaudara. Kita cerita tentang pengalaman-pengalaman bersama bapa dan mama. Ketika kami semua sudah pada keluar dari rumah, saya sudah ke Seminari, saudara-saudari saya yang lain sudah melanjutkan sekolahnya, adapula yang sudah menikah, dialah satu-satunya yang masih tinggal di rumah bersama bapa dan mama. Dia bercerita bagaimana dia sering menemani bapa dan mama kalau akan bepergian mengunjungi kakek-nenek di kampung lain. Karena kampung kakek dan nenek agag jauh maka mereka harus nginap untuk dua atau tiga hari, kadang-kadang bisa seminggu. Dia katakan bahwa untuk melakukan perjalanan seperti itu bapa dan mama sudah beberapa hari mempersiapkan segala sesuatu yang harus dibawa untuk kepentingan mereka selama beberapa hari di rumah kakek-nenek dan untuk keperluan kakek dan nenek. Singkatnya mereka harus membuat persiapan untuk suatu perjalanan dengan segala sesuatu yang harus dibawa dalam perjalanan dan yang perlu selama di kampung kakek dan nenek. Saya yakin anda dan saya juga pernah mempersiapkan segala sesuatu untuk suatu perjalanan dan melengkapi segala sesuatu yang diperlukan, yang akan dipakai selama dalam perjalanan dan selama berada di tempat tujuan. Singkatnya, segala sesuatu yang mau dijalani dan yang mau dicapai, semuanya perlu persiapan dan persiapan.

    Dalam kehidupan imanpun tidak mustahil, untuk menjadi lebih dewasa dalam kepercayaan, sudah sangat pasti kedua orangtua kita masing-masing telah memberi kita persiapan yang baik. Kita diberi kesempatan untuk mengikuti pendidikan yang baik bersamaan dengan pendidikan agama, katekese, dan yang terutama dengan dan melalui contoh hidup iman kedua orangtua kita masing-masing. Semuatnya boleh dibilang adalah persiapan yang sangat berharga dalam hidup dan kehidupan kita.

Saudara-i terkasih

    Bacaan-bacaan kita hari ini mengajarkan betapa pentingnya mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk perjalanan hidup iman kita. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus kepada para muridNya berpesan “… janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.” Yesus pun sudah mengingatkan mereka bahwa “mereka diutus seperti domaga ke tengah-tengah serigala…” segala kemungkinan dapat terjadi dan dialami. Tetapi Yesus katakan, “jangan kuatir!” Yesus dengan sangat tegas mengatakan: bahwa Allah akan selalu beserta kita. Apapun tantangannya, segala suka duka, onak dan duri yang akan ditempuh dan dihadapi serta rasa kesendirian, percayalah bahwa Allah tidak pernah akan mengutus kita tanpa ada persiapan. Suatu renungan yang mengingatkan saya selama menjalani tugas pastoral saya selama 39 tahun dalam panggilan imamat saya. Suatu pengalaman yang sangat berarti baik untuk diri saya sendiri maupun untuk mereka yang Tuhan percayakan kepada saya.

Oleh karens itu, saudara-saudariku terkasih. Mari, bersama-sama kita satu dalam doa dan korban untuk terus mepersiapkan diri, meperlengkapi diri dan hidup kita dengan segala sesuatu yang diperlukan untuk melayani mereka yang kita jumpai dalam perjalanan hidup ini, baik sebagai imam, biarawan/ti maupun sebagai awam dalam kehidupan keluarga, dalam komunitas dan dalam masyarakat, dimana saja kita berada dan diutus serta di tempat kerja kita masing-masing. Amin. 

Kasih Allah yang tidak berkesudahan, yang tak terhingga.

Kasih Allah yang tidak berkesudahan, yang tak terhingga.

Kejadian 44:18-21, 23b-29;

               45:1-5

Matius 10:7-15

Saudara-i terkasih,

    Renungan saya hari ini amat sangat singakat. 

    Saya tidak bisa membayangkan kalau di pintu gereja dipasang tarif, barangsiap mau mendengar Sabda Tuhan $ 50, yang mau terima sakramen-sakramen $ 100 dan serterusnya. Sudah sangat pasti advertisement diatas adalah imaginasi yang konyol dan terlalu mengada-ada. Karena sudah sangat pasti hal itu tidak mungkin terjadi…dan sangat bertentangan dengan apa yang disebut Injil sebagai “kabar gembira, kabar keselamatan.” 

    Dan hakekat dari kabar gembira itu adalah free of charge. Bacaan injil hari ini Yesus mengutus para rasulNya dengan pesan: “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah mempoerolehnya denga cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Dengan kata lain: “Without cost you have received; withut cost you are to give.” Jadi singkatnya berita gembira kita hari ini: Tidak ada biaya untuk tugas pelayanan dan tidak perlu membawa banyak barang selama dalam perjalanan. Oleh karena itu semua kebutuhan hidupmu sepenuhnay tergantung pada kebaikan dan kemurahan mereka yang anda layani. Tidak boleh menjadi sangat materialistis. Bagaimana kenyataannya???

    Para murid pada jaman Yesus boleh dibilang sangat berhasil menjalani tugas pelayanan mereka, sepenuhnya percaya pada kebesaran kasih setia dan kemurahan Allah. Allah tidak pernah menuntut pembalasan dari kita yang telah menerima kebaikan dan kasih setiaNya. Kasih dan kebaikan Allah yang maha besar adalah korban Yesus Kristus PuteraNya dan yang dilanjutkan oleh kehadiran Roh Kudus yang selalu menyertai kita dalam perjalanan hidup ini. “God loves us fully and unconditionally, expecting nothing in return for his blessings.”

Saudara-i terkasih,

    Kalau kita kembali merenungkan kebaikan dan kasih setia Allah dalam kehidupan ini, secara konkrit dapat kita temui dalam dan melalui Ekaristi Kudus. Itulah pernyataan kasih Allah yang maha agung dan mulia dimana Yesus telah mempersembahkan dan mengorbankan hidupNya agar kita semua boleh menikmati arti hidup dan kehidupan ini secara utuh. Semoga kita bisa meneladani hidup dan pelayanan para rasul yang menaruh kepercayaan penuh kepada kebaikan kasih Allah, dimana kita boleh dibimbing untuk mewartakan kabar gembira kepada dunia dalam nada dasar “KASIH ALLAH” Sendiri. Amin.

Perpanjangan tangan, kaki dan mulut Kristus bagi dunia

Perpanjangan tangan, kaki dan mulut Kristus bagi dunia

Kejadian 41:55-57;

               42:5-7a,17-24a

Matius 10:1-7

Saudara-i terkasih,

    Satu kejadian menarik di Gereja “Christ the King” di San Diego, California pada tahun 1980 dimana ada orang yang secara brutal mematahkan tangan dari patung Kristus yang ada di depan gereja. Umat berikhtiar memperbaiki patung yang hilang tangannya itu. Tetapi pada akhirnya setelah dirundingkan agak lama, rencana memperbaiki atau memasang kembali tangan patung Kristus itu dibatalkan. Keputusannya, dibawah patung Kristus itu dipasang plaque dengan tulisan yang diambil dari kata-kata bijaksana St. Teresa Avila: “I have no hands but yours.”

“I have no hands but yours!”

    Bacaan Injil hari ini, Yesus memanggil dan mengutus keduabelas Rasulnya untuk melanjutkan pelayanan yang telah Ia mulai dengan tuga: …” mengusir roh-roh jahat dan melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan, serta beritakan kerajaan surga.” Tugas perutusan ini dengan kata lain dapat dikatakan bahwa para rasul itu adalah “perpanjangan tangan Yesus. Selanjutnya Yesus melengkapi tugas perutusanNya untuk para rasul dengan pesan: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” 

Saudara-i terksih,

    Para rasul ini Yesus utus tanpa memperhitungkan ketrampilan dan ataupun keahlian mereka. Karena beberapa dari mereka hanyalah sebagai penjala ikan, tidak pernah dididik di Seminary untuk menjadi pewarta kabar gembira, atau untuk dilatih nanti segai pengkhotbah dan pengajar. Salah satunya hanyalah sebagai pemungut pajak, seseorang yang sangat tidak disukai oleh masyarakat banyak. Tetapi mereka semua dipanggil dan diutus untuk menjadi tangan Tuhan, seperti Yusuf dalam bacaan pertama hari ini. Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya sendiri telah menjadi penyelamat ketika mereka dalam kelaparan. 

Singkatnya, “I have no hands now but your.” Kata-kata bijaksana ini sungguh-sungguh berlaku untuk kita semua. Seperti para Rasul dalam bacaan Injil hari ini, kita masing-masing juga dipanggil menjadi tangan, kaki dan suara Tuhan bagi dunia. Seperti para Rasul dan Yusuf anda dan saya baik yang telah mendapat pendidikan khusus untuk tugas pewartaan atau tidak, semua orang dengan segala kemampuan, bakat dan talenta yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing bisa melanjutkan misi Yesus Kristus kesegala penjuru dunia. Semoga anda dan saya akan selalu dipenuhi dengan kebijaksanaan dan kekuatan untuk menjadi tangan, kaki dan mulut Kristus kepada dunia. Amin.

Identitas sebagai anak Allah dalam dan melalui Sakramen Pembaptisan

Identitas sebagai anak Allah dalam dan melalui Sakramen Pembaptisan

Kejadian 32:23-33

Matius 9:32-38

Saudara-saudari terkasih,

    Bulan lalu tidak terasa saya boleh merayakan ulangtahun tahbisan saya yang ke 39; waktu terasa berlalu begitu cepat. Dalam perayaan ekaristi bersama umat di paroki Our Lady of the Sacred Heart, San Diego, P. Ben Le SVD the associate priest yang ikut concelebrate mengajak umat pada akhir perayaan itu memberi berkat kepada saya. Saya merasa sangat terkesan dengan pemberkatan itu serta menghargai enthusiasm umat dan respect mereka kepada sakramen imamat. Seharian itu setelah saya kembali ke kamar saya ingat lagi apa yang telah terjadi 39 tahun yang lalu, teristimewa seminggu sebelum saya ditahbiskan oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom SVD. Pada waktu itu meskipun tinggal seminggu lagi akan ditahbiskan, saya sepertinya masih bergumul dengan kegelisahan, kecemasan dan keragu-raguan mau maju terus atau tidak? Saya diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri di Biara St. Yoseph Ende. Pada kesempatan itu saya bertemu dengan rektor rumah, P. Hendrik Djawa SVD. Beliau mendampingi saya dalam persiapan singkat itu. Satu nasihatnya yang saya tidak pernah akan lupa; beliau mengatakan: “Mundus, seseorang dikatakan pahlawan, bukan karena dia bisa menang perang dengan mematikan banyak orang, tetapi seseorang dikatakan pahlawan dalam hidup dan panggilannya karena ia berani menantang masa depan.” Satu statement yang setelah saya renungkan membuat saya berani mengambil keputusan.

    Bacaan pertama hari ini berbicara tentang satu peristiwa penting yang dialami oleh Yakob. Yakob semalaman bergumul dengan seseorang yang sangat mysterious. Pada akhirnya Yakob tahu bahwa ia bergumul dengan Allah. Peristiwa pergumulan disuatu tempat yang kemudian oleh Yakob dinamai Pniel, yang oleh Yakob sendiri mengatakan: “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!”

Saudara-i terkasih,

    Sudah sangat pasti anda juga mempunyai pengalaman atau cerita bagaimana mengenal Tuhan dan pada akhirnya memutuskan untuk menjadi anak Allah. Untuk anda yang dibaptis setelah dewasa dan bersedia untuk dibaptis, bukan tidak mungkin pernah mengalami suatu pergulatan dengan keputusan yang mau diambil. Suatu pertanyaan yang besar, apakah saya akan tetap setia dengan janji permandian saya? Apakah saya akan sanggup menjalani panggilan saya sebagai anak Allah dan mampu menjalankan tugas yang akan Tuhan percayakan kepada saya dalam dan melalui sakramen pembaptisan?

    Apakah artinya menjadi pengikut Yesus dan sanggupkah saya untuk meneladani Yesus?  Karena dalam dan melalui sakramen Pembaptisan kita diurapi untuk menjadi imam, nabi dan raja. Oleh karena itu dalam bacaan Injil hari ini dikatakan bahwa Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan, orang bisu dapat berkata-kata, dan berjalan keliling sambil berbuat baik, mengajar dan memberitakan kabar baik serta menyembuhkan banyak orang sakit. Anda dan saya juga dipanggil Tuhan untuk bisa menjadi imam untuk menguduskan orang lain dengan pekerjaan apa saja yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing; sebagai nabi untuk mewartakan kabar baik kepada orang lain dan menjadi raja untuk bisa menjaga kewibawaan dan nama baik Allah. Itulah tugas dan tanggungjawab kita sebagai anak Allah dimana dengan identitas ini kita diberi kepercayaan untuk mewartakan kebaikan dan belaskasih Allah.

    Oleh karens itu seperti Yakob dan para bapa bangsa dari Israel, kitapun bisa saja terantuk dan mengalamai hambatan, pergumulan/pergulatan  sepanjang perjalanan hidup ini, namun kita akan bisa bertahan kalau kita mau tetap fokus dan setia kepada Tuhan yang memanggil kita. Marilah kita mempertaruhkan hidup panggilan kita masing-masing kepada Kristus lewat sakramen-sakramen yang telah kita terima yang menjadi kekuatan kita dalam perjalan hidup bersama dan dengan Yesus. Amin.

Translate ยป