Browsed by
Month: July 2021

Allah kita adalah Allah yang selalu mencari dan menemukan kembali manusia yang sesat

Allah kita adalah Allah yang selalu mencari dan menemukan kembali manusia yang sesat

Kejadian 28:10-22a

Matius 9:18-26

Saudara-i terkasih,

Yakob dalam bacaan pertama hari ini memiliki pengalaman yang sangat unik  dengan Allah. Allah menampakan diri kepadaYakob dalam mimpi dan sekaligus memperbaharui perjanjian yang pernah dibuat bersama kakeknya Abraham. Janji Tuhan bahwa Ia akan memperpanjang janjiNya sebagai Allah bagi Abraham dan keturunannya. Yakob diminta untuk tetap setiaa kepada Allah dan memegang teguh perjanjian itu.

Kebajikan Allah itu samasekali tidak merupakan sesuatu yang mengejutkan. Tetapi yang membuat kebajikan Allah itu istimewa dan tidak seperti biasanya ialah keintiman pengalaman Yakob dengan Allah dalam mimpi itu. Yakob sedang dalam pelarian, setelah melakukan tipu muslihat merebut berkat bapanya dari kakaknya Esau. Ia belum secara penuh percaya akan Allah dari bapanya Abraham. Tetapi peristiwa ini tidak menghalangi Allah untuk mencari dan menemukan Yakob. Bagi kita peristiwa ini adalah suatu mystery. Karena secara manusiawi, perjanjian yang dibuat dengan Allah, untuk kita perjanjian seperti itu hanya dapat terpelihara oleh kesetiaan kita kepada Allah. Dengan kata lain ketidaksetiaan hanya merupakan malapetaka dan harus dihukum. Ketidaksetiaan manusia kepada Tuhan seperti itu sudah sering terjadi bertahun-tahun.

Kita tahu bahwa ketidakmampuan manusia memegang, mempertahankan janjinya kepada Tuhan samasekali tidak mempengaruhi kehendak Allah. Oleh karena itu dalam perjanjian baru, Yesus menumpahkan darahNya, dimana dengannya hubungan kita dengan Allah dipulihkan. Allah memanggil dan menemukan kita kembali melalui cintaNya yang tak terbatas agar kita boleh memperoleh kehidupan kekal. Oleh karena itu putri Yairus dan wanita yang sakit pendarahan dalam bacaan Injil hari ini menjadi satu bukti bagi kita bahwa cinta Allah yang tak terbatas itu akan selalu menyelamatkan dan membawa kita kembali kepadaNya. Yairus dan wanita yang sakit pendarahan itu percaya bahwa hanya Yesuslah yang dapat menyelamatkan mereka, dimana dengan sikap itu mereka berani memohon bantuan dan membuat keputusan untuk menjamah Yesus. Iman yang luarbiasa, seperti iman Yakob yang pada akhirnya memperoleh berkat yang diberikan kepadanya.

Saudara-i terkasih,

Berangkat dari pengalaman Yakob dan kedua wanita dalam bacaan-bacaan hari ini semoga menjadi lebih mudah bagi kita untuk memperbaharui sikap hidup kita kepada janji kesetiaan kepada Tuhan. Karena Allah tidak pernah akan menanti bahwa kita akan menjadi sempurna dalam iman kepadaNya. Tuhan selalu hadir bersama kita disini dan kapan saja, dimana saja kita berada, Yesus yang sekarang ini hadir dalam Ekaristi Kudus untuk keselamatan kita. Mari kita membuka mata pikiran dan hati kita untuk lebih peka akan kehadiran Allah dalam kehidupan kita disini, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Rejection

Rejection

14th Sunday in Ordinary Time
July 4, 2021
Mark 6:1-6

Jesus went home to Nazareth and began to preach there. However, the initial amazement was quickly spiraling down, and the people of Nazareth got scandalized after making a few background checks on Jesus. They knew Jesus’ simple life, were aware of His profession and were familiar with His relatives. So, they concluded, “Nothing’s special!”

When I entered Seminary, I was always pondering whether I would receive a rejection from my hometown’s people. Yet, when I was ordained, many people came and be joyfully part of the celebration. People from many places worldwide rejoice when one of their sons and daughters becomes a priest or religious man and woman.

Then, why did the people of Nazareth still reject Jesus? From a socio-anthropological perspective, Jesus was living in a time where people expected sons would continue their fathers’ trade or profession. If your father is a farmer, then you should become a farmer. If your father is a fisherman, then your life should not be far from the sea or the lake. Serving the Lord in the Temple is also a family affair, especially Aaron’s family from the tribe of Levi. Jesus was a carpenter’s son, and people expected Him to be a carpenter for the rest of His life. This identity was reinforced by the fact that he seemed to live an ordinary life and worked as a carpenter before He began to preach and perform miracles.

Facing this rejection, Jesus revealed a fundamental truth about the lives of true prophets, “A prophet is not without honor except in his native place.” Jesus was referring to various prophets of Israel and how they faced brutal rejection from the people of Israel. Isaiah, for example, was persecuted, and according to the tradition, he was sown into two by order of wicked king Manasseh. According to the tradition, the people constantly rejected Jeremiah, and he was stoned to death in Egypt. In essence, Jesus was saying that as the archetype of all prophets, Jesus shall share in a lot of other prophets. The rejection in Nazareth is one small step toward much bigger rejections, the rejection of the elders of Israel, and our rejection.

Do we reject Christ? May we be no different from the people of Israel? Many of us would say that we accept and believe in Christ. Many of us are indeed active in various ministries and services in the Church. Yet, despite all of these, there is always a possibility we reject Christ. We reject Christ when we continue to live in sins. We abandon Christ when we make other things in our lives as priorities over Christ. We may deny the true Christ by having false ideas of Christ. We may refuse Christ when we expect God to fulfil all our wants. We may drive Christ away as we are putting ourselves in the center of our worship.

The Gospel asks us a fundamental question: do we accept and believe in Jesus truly and fully, or are we just like the people of Nazareth who rejected Jesus?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penolakan

Penolakan

Minggu ke-14 Masa Biasa [B]
4 Juli 2021
Markus 6:1-6

Yesus pulang ke Nazaret dan mulai karya pewartaan-Nya di sana. Namun, ketakjuban awal dengan cepat berubah, dan orang-orang Nazareth menjadi kecewa setelah melakukan beberapa pemeriksaan latar belakang Yesus. Mereka mengenal kehidupan Yesus yang sederhana, mereka sadar akan profesi-Nya, dan mereka akrab dengan kerabat-kerabat-Nya. Jadi, mereka menyimpulkan bahwa Yesus adalah sebuah anomali!

Ketika saya masuk Seminari, saya selalu merenungkan apakah saya akan menerima penolakan dari orang-orang kampung halaman saya. Namun, ketika saya ditahbiskan, banyak orang datang dan dengan gembira menjadi bagian dari perayaan itu. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada saya. Masyarakat dari berbagai tempat di seluruh dunia bersukacita ketika salah satu putra dan putri mereka menjadi imam atau rohaniawan.

Lalu, mengapa orang Nazaret masih menolak Yesus? Dari perspektif sosio-antropologis, Yesus hidup di masa di mana masyarakat mengharapkan anak laki-laki melanjutkan pekerjaan atau profesi ayah mereka. Jika ayahnya adalah seorang petani, maka dia harus menjadi seorang petani. Jika ayahnya seorang nelayan, maka hidupnya tidak boleh jauh dari laut atau danau. Bahkan, melayani Tuhan di Bait Allah juga merupakan urusan keluarga, terutama keluarga Harun dari suku Lewi. Yesus adalah anak seorang tukang kayu, dan masyarakat Nazaret mengharapkan Dia menjadi seorang tukang kayu selama sisa hidup-Nya. Identitas ini diperkuat oleh fakta bahwa Yesus tampaknya menjalani kehidupan biasa-biasa saja dan telah bekerja sebagai tukang kayu sebelum Dia mulai pewartaan-Nya dan melakukan mukjizat.

Menghadapi penolakan ini, Yesus mengungkapkan kebenaran mendasar tentang kehidupan para nabi sejati, “Seorang nabi bukannya tanpa kehormatan kecuali di tempat asalnya.” Yesus mengacu pada berbagai nabi Israel dan bagaimana mereka menghadapi penolakan brutal dari orang-orang Israel. Yesaya, misalnya, dianiaya dan menurut tradisi, ia ditaburkan menjadi dua atas perintah raja Manasye yang jahat. Yeremia terus-menerus ditolak oleh bangsanya dan menurut tradisi, dia dilempari batu sampai mati di Mesir. Intinya, Yesus mengatakan bahwa sebagai model utama dari semua nabi, Yesus akan berbagi dalam misi dan hidup banyak nabi lainnya. Penolakan di Nazaret adalah satu langkah kecil menuju penolakan yang jauh lebih besar, penolakan para tetua Israel dan penolakan kita, umat manusia.

Apakah kita menolak Kristus? Kita mungkin tidak berbeda dengan orang Israel? Banyak dari kita akan mengatakan bahwa kita menerima dan percaya kepada Kristus. Banyak dari kita memang aktif dalam berbagai pelayanan dan pelayanan di Gereja. Namun, terlepas dari semua ini, selalu ada kemungkinan kita menolak Kristus. Kita menolak Kristus ketika kita terus hidup dalam dosa. Kita meninggalkan Kristus ketika kita menjadikan hal-hal lain dalam hidup kita sebagai prioritas di atas Kristus. Kita mungkin menyangkal Kristus yang benar dengan memiliki gagasan yang salah tentang Kristus. Kita mungkin menolak Kristus ketika kita mengharapkan Tuhan untuk memenuhi semua keinginan kita. Kita mungkin mengusir Kristus karena kita menempatkan diri kita di pusat ibadah kita.

Injil mengajukan pertanyaan mendasar kepada kita: apakah kita menerima dan percaya kepada Yesus dengan sungguh-sungguh dan sepenuhnya atau kita seperti orang Nazaret yang menolak Yesus?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

JANGAN RAGU, PERCAYALAH!

JANGAN RAGU, PERCAYALAH!

Yoh. 20:24-29

Pesta Santo Tomas Rasul

Hari ini kita merayakan pesta Santo Tomas Rasul. Rasul Tomas, juga disebut Didimus, mungkin satu-satunya Rasul yang pergi keluar Kekaisaran Romawi untuk memberitakan Injil. Dia juga diyakini telah melintasi wilayah India. Rasul Tomas dalam banyak hal merupakan cerminan dari kehidupan beriman kita. Mungkin kita akan merasa mudah untuk mengidentifikasikan diri dengan Tomas dalam bacaan Injil hari ini. Ketika murid-murid lain mendekatinya dengan kabar baik tentang Paskah, “Kami telah melihat Tuhan”, kesaksian mereka sama sekali tidak bergema dalam pikiran Tomas. Kegelapan Jumat Agung masih terlalu nyata baginya dan mencegahnya tergerak oleh proklamasi Paskah yang dikumandangkan oleh rekan-rekannya. Pemikirannya sendiri tidak memungkinkan dia untuk percaya bahwa hidup telah menang atas kematian, bahwa Yesus yang disalibkan sekarang adalah Tuhan yang bangkit. Tomas berdiri dalam terang Paskah, namun terang itu tidak menghilangkan kegelapannya. Jika rekan-rekan muridnya penuh dengan iman Paskah, dia penuh dengan keraguan.

Bacaan Injil hari ini meyakinkan kita bahwa Tuhan memahami keraguan dan pertanyaan iman. Ketika Tuhan menampakkan diri kepada Tomas, Dia tidak menegurnya. Kata-kata pertama kepadanya adalah, “Damai sejahtera bagimu.” Yesus mengundang Tomas untuk menyentuh luka-lukanya seperti yang Tomas minta, dan kemudian memanggilnya untuk tidak ragu lagi tetapi percaya. Injil tidak menyatakan bahwa Tomas benar-benar menyentuh luka-luka Yesus. Bagi Tomas melihat Tuhan yang bangkit sudah cukup untuk menghilangkan keraguannya. Kemudian, dari mulut seorang skeptis besar muncul salah satu pengakuan iman yang paling lengkap kepada Yesus yang dapat ditemukan di semua Injil, ‘Tuhanku dan Allahku’. 

Saudari-saudaraku yang terkasih, kita diingatkan bahwa keraguan yang serius dan keyakinan yang besar dapat berada dan dialami pada satu orang yang sama. Tuhan tidak menunggu Tomas keluar dari keraguannya, tetapi Dia datang kepada Tomas dalam keraguannya. Tuhan menganggap siapa saja yang mencari dan ingin percaya sebagai orang percaya. Jika kita tetap setia pada pencarian rohani kita, bahkan ketika kita bergumul dengan keraguan, Tuhan akan terus mendekat kepada kita, mengundang kita, sebagaimana Dia mengundang Tomas dan berkata, “Jangan ragu lagi tetapi percayalah.”   Dan kini Yesus berkata kepada kita, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.” Tuhan memberkati!

IKUTLAH AKU!

IKUTLAH AKU!

Mat. 9:9-13.

Jumat dalam Pekan XIII

Saudari-saudaraku yang terkasih, tak satu pun dari kita yang tanpa dosa. Jadi, sangat menghibur mendengar kata-kata Yesus dalam Injil hari ini: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Yesus datang untuk memanggil orang-orang berdosa, kita semua. Dia akan selalu memilih kita dan kita harus mengambil langkah untuk mengikuti-Nya. Jalannya tidak mudah tetapi Yesus akan terus berkata: Ikutlah Aku. Kita tahu bahwa kita ‘cacat’ dan pendosa, tetapi Yesus melihat kita, melihat kebaikan dalam diri kita. Maka, ketika kita mengindahkan panggilan itu, kita tahu bahwa kita bisa melakukan lebih baik dan lebih baik lagi. Oleh karena itu, kita tidak perlu takut atau malu untuk mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang ‘sakit’ rohani dan membutuhkan Tuhan. Menolak fakta itu berarti menyangkal kenyataan dan menyangkal sumber penyembuhan yang paling kita butuhkan dalam hidup ini, yakni Sang Juru Selamat, Yesus Kristus.

Menurut saya, salah satu langkah pertama yang bisa kita lakukan  adalah mempelajari arti kata-kata Yesus kepada orang Farisi, yakni menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang di sekitar kita dan juga menunjukkan belas kasihan kepada diri kita sendiri. Apa wujud konkritnya? Pertama, mari kita melihat diri kita.  Mari renungkan aspek aspek apa dalam hidup kita yang membutuhkan pengampunan? Mari luangkan waktu untuk memeriksa hati nurani kita dan mencari cara untuk melakukannya dengan lebih teliti dan jujur. Jika kita melakukannya, yakinlah bahwa Tuhan kita, Tabib Ilahi, akan sangat ingin makan bersama kita hari ini dan selamanya seperti yang dilakukannya terhadap pemungut cukai dan orang-orang berdosa dua ribu tahun lalu. 

Kedua, berpangkal pada pengalaman dan keyakinan akan kasih Allah yang kita alami dalam poin pertama, mari kita tujukkan belas kasih kepada sesama. Kita tunjukan semangat ini dengan melihat kebaikan-kebaikan orang-orang di sekitar kita, menanggalkan prasangka-prangka buruk, menggantikan kebiasaan menghakimi dan memberi cap negatif kepada orang lain dengan semangat mengampuni serta menumbuhkembangkan semangat bekerjasama dengan siapapun dalam memerangi kecenderungan kita untuk pilih kasih dan membeda-bedakan orang. Sekedar informasi tambahan, beberapa dokter saat ini meyakini bahwa ada hubungan yang erat antara perasaan negatif, terutama tidak mau memaafkan, dengan penyakit fisik. Mereka menyarankan sikap positif dan memaafkan serta melepaskan untuk penyembuhan yang lebih cepat.

Saudari-saudaraku terkasih, mari kita menanggapi ajakan Yesus seperti yang ditujukkan kepada Matius, “Ikutlah Aku” dengan cara berbelaskasihan sebagaimana Allah berbelas kasih. Panggilan Matius mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu berusaha untuk masuk ke dunia hidup kita, apa pun keadaan hidup kita. Tuhan menerobos untuk mengomunikasikan belas kasihan-Nya yang tak terbatas kepada kita, sehingga kita dapat berbagi lebih penuh dalam pekerjaan Tuhan di dalam dunia dan hidup kita.

Translate »