Browsed by
Month: August 2021

KEMBALI KEPADA JALAN-NYA

KEMBALI KEPADA JALAN-NYA

Senin, 16 Agustus 2021

Matius 19:16-22

            Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk memiliki sikap bebas dari segala ketergantungan akan hal-hal lain, selain kepada Allah saja. Mengapa harus demikian?  Allah adalah keabadian, sumber kasih, harapan, damai, dan kebenaran sejati, jika seseorang bergantung pada Allah maka hidup-nya akan dipenuhi oleh kasih, harapan, damai, dan kebenaran. Sebaliknya jika hidup seseorang bergantung pada manusia atau barang-barang tertentu, maka apa yang didapatkan adalah ketidak puasan, sebab apa yang ada di dalam diri manusia dan barang-barang dunia adalah keterbatasan dan ketidaksepurnaan. Ketergantungan pada hal-hal yang di dunia menyebabkan seseorang dikendalikan oleh apa yang membuatnya tergantung, sehingga ia berapa pada pusaran dan lingkaran ketidakpuasan yang dibentuknya karena situasi yang ada. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat 6:21). 

            Jika seseorang hanya bertantung pada belas kasih Allah, maka hatinya akan dibebaskan dari kecemasan, ketakutan, ketidakpuasan, kemarahan, dan kekecewaan, sehingga ia menerima hati yang baru yang penuh dengan kedamaian, harapan dan kasih. ”Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjaukan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”(Yehezkiel 36:26). Di tengah pandemi ini, apakah manusia dengan segala kehebatan, kecerdasan, dan kekayaannya bisa menjamin dirinya terbebas dari virus tersebut?  Saat dan kondisi yang ada memaksa setiap orang untuk mengakui bahwa dirinya, atau setiap orang adalah tetaplah sebagai manusia yang rapuh dan terbatas, sehingga mereka tidak lagi menyombongkan dengan segala yang dimilikinya.

            Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk  menyadarkan manusia, karena Dia adalah Allah yang menciptakan alam semesta dan manusia. Oleh karena itu manusia tidak bisa menyamakan dirinya dengan Tuhan Allah dan manusia tidak bisa terus mengejar dan memuaskan keinginan-keinginannya sendiri dan mengabaikan hukum cinta kasih telah ditetapkan untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan manusia dengan Allah, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam. Dengan demikian semua perlu ditata kembali, dimana Allah yang akan  menjadikan semuanya menjadi baik kembali dan mengembalikan dan menata lagi apa yang telah dirusak oleh manusia. Yesus Kristus telah hadir untuk membawa semua orang untuk kembali kepada jalan yang telah ditujukkan Allah agar semuanya menerima keselamatannya kembali. “….Baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan melimpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.”(Yes 55:7-8).

                                                                                                                                         Serawai, Rm. Didik, CM

Our Mother in Heaven

Our Mother in Heaven

The Solemnity of the Assumption [B]
August 15, 2021
Luke 1:39-56

Together with my mother, Blessed Virgin Mary are the women in my life. I knew her very early in my life, and my devotion has continued to grow since then. When I moved to the Philippines for my Dominican formation, I witnessed the lively and vibrant devotion of the Filipinos toward our Lady. Yet, at the same time, I experienced the ferocious assault against her. How come people who call themselves followers of Jesus dare to attack His mother? For me, it was unthinkable! Usually, the usual accusations are, “Why pray to Mary? Why honor her so much as if she is a god?” It is clear for us Catholics that Mary deserves incredible honor because of her role in the mystery of salvation, but it is also clear that she is a human.


In the beginning, I was more than eager to defend her, yet as I brought this in prayer, I ask our Lady, what would she do to those who attack and mock her? She answered, “I continue to pray and love them. They are also my children.” Her answer was an eye-opener, and I began to enter their shoes to seek the reason behind their hatred toward Mary. One of the reasons I discovered is that for them, faith is basically “about Jesus and I.” Jesus is my personal savior and Lord, and He alone is enough. Mary and other saints are obstacles, the Church and the sacraments are not needed, and the traditions are unnecessary burdens. It is faith alone at its purest.
I do agree that faith needs to be pure but not simplistic and individualistic. I believe in Jesus as my personal savior, but He also calls us into a communion of saints. If we survey the Bible, God calls people in the context of a family: Adam and Eve, Noah and his family, Abraham and Sarah, Israel and his children, Moses together with Aaron and Mariam, and David with his family. The keyword ‘testament’ or ‘covenant’ that unites the entire Bible means a solemn oath to build a family. Jesus Himself called the twelve disciples to be the father figures in His kingdom, His family of God.


If God calls us into a family, we are not alone in this journey toward Jesus. We have our brothers and sisters in heaven who are cheering for us and helping us in ways we could never imagine. We also have brothers and sisters here on earth, and it is our responsibility to support and guide them in this journey. The dogma of the Assumption tells us that we are not just earthly realities but belong to a heavenly family, and what is more edifying is that we have a good mother in heaven.


As Mary anticipated the couple’s needs in Cana before they even noticed, Mary intercedes for us even before we realize. As Mary faithfully followed her Son on earth, Mary loyally accompanies us in our earthly journey. As Mary firmly stood before the cross of her Son, Mary also stands beside us in these trials of life.

Our Blessed Mother, pray for us!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ibu Kita di Surga

Ibu Kita di Surga

Hari Raya Maria diangkat ke Surga [B]

15 Agustus 2021

Lukas 1:39-56

Selain ibu saya, Bunda Maria adalah perempuan pertama dan paling penting dalam hidup saya. Saya mengenalnya sangat awal dalam hidup, dan devosi saya terus tumbuh sejak saat itu. Ketika saya pindah ke Filipina untuk formasi Dominikan, saya menyaksikan devosi yang hidup dan membara dari orang-orang Filipina terhadap Bunda kita, namun pada saat yang sama, saya juga merasakan serangan yang ganas terhadap sang Bunda. Bagaimana mungkin orang-orang yang menyebut dirinya pengikut Yesus berani menyerang ibu-Nya? Bagi saya, itu tidak terpikirkan! Biasanya, tuduhan yang sering saya dengar adalah, “Mengapa berdoa kepada Maria? Mengapa begitu menghormatinya seolah-olah dia adalah tuhan?” Jelas bagi kita, umat Katolik, bahwa Maria layak mendapat kehormatan besar karena perannya dalam misteri keselamatan, tetapi juga jelas bagi kita bahwa dia adalah seorang manusia.

Pada awalnya saya ingin membelanya habis-habisan, namun ketika saya membawa ini dalam doa, saya bertanya kepada Bunda Maria, apa yang akan dia lakukan terhadap mereka yang menyerang dan mengejeknya? Dia menjawab, “Saya terus berdoa dan mengasihi mereka. Mereka juga anak-anakku.” Jawabannya membuka mata, dan saya mulai memasuki dialog dengan mereka untuk memahami alasan di balik kebencian mereka terhadap Maria. Salah satu alasan yang saya temukan adalah bahwa bagi mereka, iman pada dasarnya adalah “tentang Yesus dan saya.” Yesus adalah penyelamat dan Tuhan pribadi saya, dan hanya Dia saja sudah cukup. Maria dan orang-orang kudus lainnya adalah penghalang, Gereja dan sakramen tidak diperlukan, dan tradisi adalah beban yang tidak perlu. Ini adalah iman saja [sola fide] yang paling murni.

Saya setuju bahwa iman harus murni, tetapi tidak individualistis. Saya percaya kepada Yesus sebagai penyelamat pribadi saya, tetapi Dia juga memanggil kita ke dalam persekutuan orang-orang kudus. Jika kita meneliti Alkitab, Tuhan memanggil orang-orang dalam konteks keluarga: Adam dan Hawa, Nuh dan keluarganya, Abraham dan Sarah, Israel dan anak-anaknya, Musa bersama Harun dan Mariam, dan Daud dengan keluarganya. Sebenarnya, kata kunci ‘perjanjian’ yang menyatukan seluruh Alkitab berarti sumpah agung untuk membangun sebuah ikatan keluarga. Yesus sendiri memanggil kedua belas murid untuk menjadi figur bapa dalam kerajaan-Nya, yakni keluarga Allah.

Jika Tuhan memanggil kita ke dalam sebuah keluarga, kita tidak sendirian dalam perjalanan menuju Yesus ini. Kita memiliki saudara dan saudari di surga yang mendukung kita, dan membantu kita dengan cara yang luar biasa. Kita juga memiliki saudara dan saudari di bumi ini, dan merupakan tanggung jawab kita untuk mendukung dan membimbing mereka dalam perjalanan ini. Dogma Maria diangkat ke surga menyatakan bahwa, kita bukan hanya realitas duniawi, tetapi bagian dari keluarga surgawi, dan kabar yang menggembirakan adalah bahwa kita memiliki ibu yang baik di surga.

Saat Maria mengantisipasi kebutuhan pasangan di Kana bahkan sebelum mereka menyadarinya, Maria menjadi perantara bagi kita bahkan sebelum kita menyadarinya. Saat Maria dengan setia mengikuti Putranya di bumi, Maria dengan setia menemani kita dalam perjalanan duniawi kita. Saat Maria berdiri kokoh di samping salib Putranya, Maria juga berdiri di samping kita dalam pencobaan hidup ini.

Bunda Maria, doakanlah kami!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Santo Maximilian Kolbe

Santo Maximilian Kolbe

Sabtu, 14 Agustus 2021

Hari Raya Peringatan Santo Maximilian Kolbe

Yosua 24:14-29
Mazmur 16
Matius 19:13-15

Maximilian Kolbe in 1936, by Unknown author – http://santuarioeucaristico.blogspot.hu/2010/08/sao-maximiliano-kolbe-14-de-agosto.html, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=42823235

Maximilan Kolbe memasuki seminari menengah (setara SMA) yang diasuh oleh ordo Fransiskan Konventual di dekat tempat kelahirannya di Polandia. Pada umur 16 dia masuk ke tahap novisiat. Saat ditahbiskan di umur 24, ia bertekad melawan ketidak-acuhan orang-orang pada agama di saat itu. Ia mendirikan organisasi Militia Immaculata (Tanpa Noda) yang bertujuan memberi kesaksian dengan hidup benar, doa, kerja, dan penderitaan. Dia mendirikan Kota Immaculata (Niepokalanow) di mana 700 saudara Fransiskannya tinggal dan membantu penerbitan majalah agama Katolik yang dicetuskannya. Di kemudian hari, dia membuka satu Kota Immaculata lagi di Nagasaki, Jepang. Pada masa puncaknya, anggota dan pelanggan majalahnya mencapai lebih dari satu juta orang.

Tahun 1939, panser-panser Nazi Jerman merangsuk ke Polandia. Niepokalanow dibom dan rusak berat. Maximilian dan beberapa saudara seordonya dimasukkan penjara, walalupun kemudian dilepaskan lagi setelah tiga bulan. Namun pada tahun 1941, ia ditahan kembali. Sasaran para Nazi adalah orang-orang yang dianggap punya pengaruh terhadap bangsa Polandia. Maximilian dikirim ke salah satu kamp konsentrasi yang terkenal kekejamannya, Auschwitz, di mana dia mengalami penganiayaan.

Suatu hari seorang tahanan kabur melarikan diri. Komandan kamp mengumumkan bahwa sebagai ganjarannya, dia akan memilih 10 orang secara acak untuk dieksekusi. Setelah 10 orang itu dipilih, tiba-tiba Maximilian berjalan ke depan. Dia menawarkan dirinya untuk menggantikan seorang bapak yang mempunyai anak dan istri. Ia merasa sebagai seorang imam, kematiannya tidak akan berakibat separah seorang istri dan anak yang ditinggal mati oleh suami dan bapak mereka.

Kesepuluh orang itu dimasukkan ke dalam suatu sel khusus, ditelanjangi, dan ditinggalkan untuk mati kelaparan secara perlahan. Tidak ada dari mereka yang berteriak. Mereka hanya bernyanyi dan berdoa. Pada malam sebelum Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, cuma empat orang yang masih hidup, termasuk Maximilian Kolbe. Para penjaga penjara menyuntik mereka dengan asam karbol yang membakar badan mereka dari dalam. Maximilian Kolbe dibeatifikasi tahun 1971 dan dikanonisasi tahun 1982.

Diterjemahkan dan disarikan dari https://www.franciscanmedia.org/saint-of-the-day/saint-maximilian-mary-kolbe

Syukur Kepada Allah

Syukur Kepada Allah

Jumat, 13 Agustus 2021

Yosua 24:1-13
Mazmur 136
Matius 19:3-12

Dalam liturgi Gereja, umat mengucapkan “Syukur kepada Allah” beberapa kali: setelah dua bacaan pertama dan pada akhir misa. Ungkapan ini adalah terjemahan dari bahasa Latin Deo gratias, yang secara harafiah berarti “terima kasih kepada Allah”. “Syukur” sendiri diambil langsung dari bahasa Arab yang berarti terima kasih.

Bacaan pertama hari ini diambil dari akhir Kitab Yosua. Bangsa Israel, setelah 40 tahun berjalan di padang gurun, akhirnya sampai di Tanah Terjanji. Semua musuh sudah mereka taklukkan. Masa depan nampak cerah.

Tetapi Yosua mengingatkan mereka akan perjanjian yang sudah mereka buat dengan Allah. Ia mengingatkan mereka bahwa Allah lah yang mengambil inisiatif membuat perjanjian. Allah lah yang mengantar Abraham ke tanah perjanjian dan memberinya keturunan yang banyak. Allah lah yang membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Allah lah yang membuat mereka dapat mengalahkan lawan-lawan mereka. Allah lah yang memberi mereka tanah yang sudah subur, kota-kota yang sudah berdiri, dan kebun anggur dan ara yang sudah matang. Ini semua pemberian Allah kepada bangsa pilihanNya.

Salah satu pokok dalam spiritualitas Fransiskan adalah kesadaran bahwa SEMUA adalah anugerah Allah. Inilah yang membuat Santo Fransiskus selalu bersuka cita karena dia mengalami begitu berlimpahnya anugerah Allah dalam hidupnya. Inilah juga yang membuatnya tetap bersuka cita walaupun tidak memiliki apa-apa, karena dia percaya Allah selalu memberi apapun yang dibutuhkannya.

Di masa kini, seiring dengan semakin majunya teknologi dan ilmu pengetahuan, manusia seringkali terbuai dengan kehebatan sendiri. Kita merasa bahwa hal-hal baik dalam hidup kita adalah hasil kerja keras kita sendiri. Dari sini timbul ketimpangan sosial, karena kita merasa berhak meraih keuntungan finansial yang sebesar mungkin. Padahal, bisa jadi penghasilan berlimpah itu terjadi karena banyak pekerja di bawah kita yang membanting tulang dengan gaji minim dan lingkungan kerja yang terabaikan.

Kepercayaan akan kehebatan sendiri juga berdampak pada lingkungan. Kita merasa berhak menggunakan segala macam sumber daya alam tanpa peduli akan kerusakan yang ditinggalkan. Berapa banyak hutan dan terumbu karang yang rusak karena kita mencari keuntungan yang sebesar-besarnya?

Jika kita melihat segala sesuatu yang baik dalam hidup kita sebagai anugerah Allah, kita tidak akan mudah tergoda untuk merusaknya, menyalahgunakannya, atau menumpuknya hanya untuk kepentingan kita. Untuk setiap anugerah yang kita terima: Syukur kepada Allah!

Translate »