Browsed by
Month: August 2021

Menyeberang Laut dan Sungai

Menyeberang Laut dan Sungai

Kamis, 12 Agustus 2021

Yosua 3:7-10, 11, 13-17
Mazmur 114
Matius 18:21 – 19:1

Kita tahu bahwa Musa tidak kesampaian untuk membawa bangsa Israel masuk Tanah Terjanji. Pengganti Musa, Yosua, adalah pemimpin Israel saat mereka masuk ke sana. Di Kitab Yosua inilah diceritakan saat-saat terakhir perjalanan di gurun yang sudah memakan waktu 40 tahun. Mereka tidak dapat begitu saja masuk karena banyak bangsa-bangsa lain yang mendiami daerah itu, dan harus mereka lawan terlebih dahulu. Ada juga Sungai Yordan yang harus diseberangi.

Peristiwa penyeberangan Sungai Yordan di bacaan hari ini mengingatkan kita kepada peristiwa penyeberangan Laut Merah. Kala itu melalui Musa yang mengangkat tongkatnya, Allah membelah laut supaya bangsa Israel dapat selamat dari kejaran tentara Mesir. Sekarang, di bawah pimpinan Yosua, Allah menghentikan arus sungai Yordan ketika kaki para imam yang menggotong tabut perjanjian menyentuh air sungai.

Pola pekerjaan Tuhan yang memisahkan air memang banyak digunakan di Alkitab. Sejak kitab yang pertama, Kejadian, diceritakan bagaimana sebelum bumi terbentuk ada samudera raya yang gelap gulita. Dalam karya penciptaanNya, Allah memisahkan air di bawah dan di atas cakrawala, dan antara daratan dan laut. Samudera atau laut memang merupakan simbol ketidakteraturan dan bahaya. Hanya Allah lah yang dapat mengendalikannya. Pola ini berlanjut ke Injil, di mana Yesus berkuasa atas air dengan memerintah badai dan ombak untuk berhenti dan berjalan di atas air.

Apakah gelombang ombak dalam kehidupan anda yang sedang anda alami saat ini? Mari kita minta Tuhan untuk menghentikan arus yang terlalu kuat itu supaya kita dapat lewat dengan selamat. Mungkin kita bisa dibantu oleh orang yang seperti para imam yang membawa tabut perjanjian, yang dengan masuk ke dalam laut kehidupan kita dapat menjadi sarana Tuhan untuk membantu kita menyeberang ke tempat yang tenang.

Santa Klara

Santa Klara

Rabu, 11 Agustus 2021

Hari Raya Pesta Santa Klara dari Asisi

Ulangan 34:1-12
Mazmur 66
Matius 18:15-20

Santa Klara adalah santa yang sangat dihormati dalam tradisi Fransiskan karena peranannya sebagai partner Santo Fransiskus dalam memulai gerakan Fransiskan. Kalau Fransiskus mendirikan ordo untuk para laki-laki, Klara mendirikan ordo bagi para perempuan. Sampai sekarang, hubungan antara para Fransiskan dan para Klaris masih sangat erat. Provinsi Fransiskan saya di Pantai Barat Amerika Serikat, misalnya, mempunyai hubungan khusus dengan Biara Klaris di kota Spokane, negara bagian Washington. Kalau Provinsi Fransiskan di Indonesia, mereka berhubungan dengan para Klaris di Cipanas.

Dalam hidup yang monastik, rutinitas doa adalah bagian paling penting dalam hidup para Klaris. Di samping itu, mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan lain seperti: berkebun, kerajinan tangan, memasak, menulis buku, dan menyiarkan radio Katolik lokal. Untuk membaca lebih tentang para Klaris di Spokane ini, dapat anda lihat di http://calledbyjoy.com/

Santo Pelawak

Santo Pelawak

Selasa, 20 Agustus 2021

Hari Raya Pesta Santo Laurensius, Diakon

2 Korintus 9:6-10
Mazmur 112
Yohanes 12:24-26

Museum of Fine Arts of Lyon, Public domain, via Wikimedia Commons (https://commons.wikimedia.org/wiki/File:St_Lawrence_MBA_Lyon_EX60b.jpg)

Santo Laurensius adalah salah satu diakon dalam Gereja awal (tahun 200-an) di Roma. Diakon ini berbeda dengan prodiakon yang sering kita temui di gereja-gereja di Indonesia. Awalan “pro” di sini berarti “demi” atau “menggantikan”. Prodiakon adalah orang yang menggantikan tugas diakon. Mereka tidak ditahbiskan seperti diakon. Memang di Indonesia hampir tidak ada diakon seperti banyak ditemui di gereja-gereja di Amerika Serikat. Untuk lebih mendalami perbedaan prodiakon dan diakon, dapat anda baca buku karangan Romo E. Martasudjita berjudul Kompendium Tentang Prodiakon (Penerbit Kanisius, 2017).

Kata diakon sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti pelayan. Di gereja awal, sebelum peranan iman atau romo terbentuk, terlebih dahulu muncul diakon yang membantu para uskup. Para diakon ini bertugas dalam liturgi dan juga bertanggung jawab untuk membagikan sumbangan dari Gereja kepada orang miskin, para janda, yatim piatu, dan orang-orang lain yang membutuhkan.

Paus Sixtus II mengangkat Laurensius sebagai diakon Gereja Roma. Pada saat itu Gereja mengalami penganiayaan oleh Kaisar Roma, Valerianus. Paus Sixtus II dibunuh oleh tentara Romawi dan wafat sebagai martir. Gubernur Roma kemudian memerintahkan Laurensius untuk mengumpulkan semua harta Gereja dan menyerahkannya pada pemerintah. Tiga hari kemudian, ia membawa semua orang cacat dan miskin sambil berkata: “Inilah harta Gereja, harta yang melebihi kekayaan Kaisar!”

Laurensius kemudian dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar. Ada legenda yang menyebutkan bahwa ketika sedang dibakar, dia menyeletuk kepada para serdadu Romawi: “Bagian bawah saya sudah matang. Tolong balikkan saya supaya matangnya sama.”

Karena dua cerita inilah Laurensius dijadikan santo pelindung para pelawak. Tetapi lebih dari sekedar melucu, cerita hidupnya dapat memberi kita inspirasi dalam hidup beriman. Di saat di mana Gereja mengalami penurunan dalam jumlah umat atau secara finansial, kita diingatkan kembali akan kekayaan Gereja yang sesungguhnya: para saudara kita yang kekurangan, orang-orang yang sering dilupakan masyarakat. Orang-orang semacam inilah yang harus lebih diperhatikan Gereja, karena Yesus sendiri telah memberi teladan bagi kita untuk berbuat yang sama.

Anak Pejabat

Anak Pejabat

Senin, 9 Agustus 2021

Ulangan 10:12-22
Mazmur 147
Matius 17:22-27

Salah satu jenis manusia yang paling terkenal (lebih secara negatif) di Indonesia adalah “anak pejabat.” Biasanya mereke ini tidak perlu kerja, tetapi bisa mendapatkan banyak fasilitas dan kemudahan hanya karena pengaruh orang tuanya. Berapa sering dalam obrolan kita sering terdengar: “Oh, restoran itu milik anak si jenderal anu.” Atau berapa sering kita menunggu antri di airport, tiba-tiba datang petugas bandara memotong antrian sambil mengantar seseorang. Biasanya kita langsung mengenali siapa si tamu khusus itu: “Oh, itu anaknya si menteri anu.”

Kita boleh saja merasa jengkel dengan tingkah laku para pejabat dan anak-anaknya yang semacam itu. Tetapi kenyatannya, jika kita bertukar tempat, sangat mungkin kita tergiur dengan perlakuan khusus sebagai anak pejabat. Kalau orang lain yang enak, kita iri. Tetapi kalau kita sendiri yang dapat enak, kita lupa orang lain.

Inilah pesan dari Tuhan yang disampaikan Musa kepada umat Israel: Kalau hidupmu enak setelah masuk tanah terjanji, jangan lupa memperhatikan dan mengayomi orang-orang asing di sekitarmu. Jangan lupa bahwa kau sendiri dulu pernah jadi orang asing di tanah Mesir.

Musa perlu mengingatkan ini karena inilah sifat kita manusia. Ketika kita sedang di bawah, kita berjuang membela kebenaran dan hak-hak kita. Tetapi ketika sudah di atas, kita hanya mementingkan diri kita sendiri dan mengacuhkan mereka yang ada di bawah. Seperti bunyi pepatah: “Seperti kacang lupa kulitnya.”

Dalam pembicaraannya dengan Petrus dalam Injil hari ini, Yesus menyatakan bahwa sebagai anak Allah, dia sebenarnya tidak perlu membayar pajak Bait Allah. Dia anak pejabat yang paling tinggi, Allah sendiri! Tetapi dengan rendah hati Yesus membayar pajak juga, supaya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dia tidak mau menyalahgunakan fasilitas dan kemudahan yang tersedia baginya. Memang inilah hakikat mutlak Yesus, seperti dituliskan Santo Paulus:

“Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

Karena itulah Inkarnasi Allah dapat terjadi dalam sejarah manusia, dan manusia bisa diselamatkan. Syukur kepada Allah!

St. Dominic’s Prayer

St. Dominic’s Prayer

The Solemnity of St. Dominic de Guzman
August 8, 2021
Mat 28:16-20

Today, the Dominican family is celebrating the solemnity of St. Dominic de Guzman, the founder and father of the Order of Preachers. Thus, allow me share this reflection on St. Dominic. This year’s celebration is extraordinary because we also commemorate the 800th anniversary of Dominic’s death. We call it dies Natalis, the day of birth. It is the birthday of the saint in heaven. Indeed, it has been 800 years since the death of St. Dominic, and the Order he founded is growing vital and ever young.

The Order of Preachers may not be the biggest congregation in the Catholic Church [we have only around six thousand brothers], but indeed, we continue to be blessed with vocations. In Indonesia alone, we have a good number of young brothers in the formation. In the Philippines, the formation house is packed with brothers.

Why is the reason behind this growth? Indeed, there are many overlapping reasons, yet may I highlight one of those: the prayer of St. Dominic himself. At his deathbed, St. Dominic promised his brothers, “Do not weep, for I shall be more useful to you after my death and I shall help you then more effectively than during my life.” [his words are powerful that they are quoted in CCC 956]

His prayers have been proved effective. The Order has been through thick and thin of the world and Church’s history, and it is not always glorious. The Order also shares some painful past and memories. There are times that the Order seemed to collapse under its weight or split into smaller and quarreling factions. Yet, the Order can overcome those. I do believe that the reason cannot be explained by purely human strength. It is God’s mercy and Dominic’s great love for his brothers and sisters.

What is impressive is that St. Dominic is not alone. He is also joined by other Dominican saints, like St. Thomas Aquinas, St. Martin de Porres, St. Catharine of Siena, and countless Dominicans who have entered heaven. Every day, the prayers are getting stronger and louder as more holy people join their chorus.

The Order of Preachers is a family and community, and what is marvelous is that the members are not limited to those who are here on earth but those in heaven. Our brothers and sisters in heaven are doing even more amazing things for us. I am maybe alone here preaching, but my heavenly family members are supporting and cheering for me. I am perhaps alone in my study time, but the Dominican saints are at the forefront in guiding me. The letter of Hebrews speaks of the cloud of heavenly witness surrounding us [Heb 12:1], and I know some of them. We may be small, but our strength is not only here on earth. The more excellent works are done in heaven for the sake of the Order and the salvation of souls.

Many of us may not be a member of Dominican Order, but we are part of a larger family of God, the Church. We have one Father in heaven, and there is no other greatest joy for a father to see his children helping and loving one another. As we help and love our brothers and sisters here on earth, we shall not forget to give thanks to our brothers and sisters in heaven who constantly love and support us till we meet them in heaven.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »