Browsed by
Month: November 2021

Santo Didakus dari Alcalá

Santo Didakus dari Alcalá

Sabtu, 6 November 2021

Hari Raya Peringatan Santo Didakus (untuk wilayah Keuskupan San Diego)

Roma 16:3-9, 16, 22-27
Mazmur 145
Lukas 16:9-15

Santo Didacus dari Alcalá karya Francisco de Zurbarán, Public domain, via Wikimedia Commons

Saya tinggal di wilayah Keuskupan San Diego di California. Karena hari raya St. Didacus (nama Latin dari Diego) jatuh pada hari Minggu, 7 November, Uskup kami memindahkan hari raya ini ke tanggal 6 November. Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk mengenalkan anda lebih jauh sosok santo Fransiskan ini, apalagi saya dengar ada tempat pemakaman San Diego di luar Jakarta yang sekarang makin terkenal.

Diego lahir tahun 1400 di Andalusia, Spanyol dari keluarga yang miskin tetapi taat beriman. Dia masuk ke biara Fransiskan ketika masih sangat muda untuk menjadi saudara awam. Pada saat itu, saudara awam adalah orang-orang yang dianggap tidak punya kemampuan untuk belajar menjadi imam. Tugas mereka hanyalah untuk memasak dan membersihkan biara dan melayani para imam. Walaupun demikian, hidup doa dan komunitas Diego membuat kagum banyak saudara-saudara dalam biaranya.

Suatu hari, saat dikirim ke Roma untuk menghadiri acara kanonisasi St. Bernardinus dari Siena, wabah penyakit menjangkiti para saudara di biara induk Fransiskan di sana. Diego dengan tak kenal lelah melayani para saudara yang sakit. Diceritakan bahwa banyak yang sembuh hanya dengan tanda salib yang dibuat Diego pada mereka.

Pada saat menjelang ajalnya, Diego meminta untuk dipakaikan jubah yang tua dan compang camping, seperti anak sejati dari Santo Fransiskus. Dia wafat pada 12 November 1463 di biara Fransiskan di Alcalá, dengan mendekap sebuah salib di dadanya dan mengucapkan kata-kata dari perayaan Jumat Agung: “Dulce lignum, dulce ferrum, dulce pondus sustinet” (Betapa manisnya kayu ini, betapa manisnya paku-paku ini, betapa manisnya beban yang mereka tanggung.)

Jenazah Diego tidak dikuburkan selama beberapa bulan karena banyaknya orang yang mau melihatnya. Ajaibnya, tubuhnya tetap utuh dan mengeluarkan semerbak yang wangi. Setelah dikuburkan di gereja Fransiskan di Alcalá, mujizat-mujizat terus terjadi di kuburnya. Paus Sixtus V, seorang Fransiskan, mengkanonisasi Diego pada tahun 1588.

Mengendalikan Uang atau Dikendalikan Uang?

Mengendalikan Uang atau Dikendalikan Uang?

Jumat, 5 November 2021

Roma 15:14-21
Mazmur 98
Lukas 16:1-8

Sepintas kelihatannya Yesus memuji seorang bendahara yang licik dengan menggunakan pengaruhnya demi menyelamatkan dirinya ketika dia tahu akan dipecat oleh atasannya. Dia menyambangi orang-orang yang berhutang dan memotong hutang mereka supaya suatu hari kelak mereka akan mengingat kebaikannya dan akan membalas budinya dengan memberinya tempat di rumah mereka. Pada akhir bacaan Injil ini, Yesus memberi kesimpulan dengan menasihati para pengikutNya untuk mengikat persahabatan dengan menggunakan mamon (uang) yang “tidak jujur” supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, mereka dapat diterima di kemah abadi.

Santa Bunda Teresa dari Kolkata pernah dikritisi tajam karena menerima uang sumbangan dari sumber-sumber yang tidak jujur. Salah satu contohnya adalah dari pengusaha Inggris Robert Maxwell yang di kemudian hari terbukti menggelapkan jutaan dolar uang pensiun para karyawannya. Tidak mudah untuk menentukan apakah tindakan Bunda Teresa ini etis atau tidak. Tetapi bisa jadi ini salah satu contoh di mana beliau mencoba menggunakan mamon yang tidak jujur untuk menolong orang miskin dan membutuhkan.

Mungkin kesimpulan moral dari cerita ini adalah bagaimana kita harus bisa mengendalikan uang dan bukan sebaliknya, kita yang dikendalikan dari uang. Apakah yang dapat kita lakukan dengan uang yang kita miliki sehingga Allah dapat semakin dimuliakan (Ad maiorem Dei gloriam)?

Santo Carolus Borromeus

Santo Carolus Borromeus

Kamis, 4 November 2021

Hari Raya Peringatan Santo Carolus Borromeus

Roma 14:7-12
Mazmur 27
Lukas 15:1-10

Saya dilahirkan di Rumah Sakit Carolus, Jakarta Pusat. Ketika saya kecil dan tinggal di daerah Pulo Mas, RS Carolus menjadi tempat tujuan jika ada anggota keluarga kami yang sakit. Kebersihan dan pelayanan profesional Carolus memang menjadi nilai andalan mereka, dari dulu sampai sekarang.

Nama rumah sakit ini berasal dari Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus yang diminta oleh Vikaris Apostolik Batavia pada tahun 1918 untuk membuka sebuah rumah sakit Katolik di sana. Ordo suster ini sendiri didirikan oleh Moeder Elizabeth Gruyters dari Belgia. Ia mengambil nama ordo ini dari Santo Carolus Borromeus, Uskup Agung Milan, Italia tahun 1564-1584. Pada tahun 1576, kota Milan dilanda wabah dan Uskup Carolus banyak berkorban untuk membantu orang-orang sakit di kotanya. Pelayanannya inilah yang memberi inspirasi Moeder Elizabeth untuk menjadikan Carolus santo pelindung ordonya, yang banyak melayani orang miskin dan sakit di Maastricht, Belanda.

Untuk merayakan Hari Raya Santo Carolus, para suster CB di Indonesia mengadakan novena di kanal Youtube mereka. Setiap hari selama sembilan hari diberikan sedikit cerita tentang Santo Carolus. Silakan mengikutinya: https://youtu.be/Pn9PZPILVyU

Santo Martin de Porres

Santo Martin de Porres

Rabu, 3 November 2021

Hari Raya Peringatan Santo Martin de Porres

Roma 13:8-10
Mazmur 112
Lukas 14:25-33

Gambar rekonstruksi muka St. Martin berdasarkan penelitian forensik oleh Cicero Moraes, CC BY-SA 4.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0, via Wikimedia Commons

Martin de Porres (9 Desember 1579 – 3 November 1639) adalah seorang saudara awam Dominikan dari Peru. Ia adalah anak dari seorang bangsawan Spanyol dan seorang perempuan campuran Afrika dan suku asli di Peru. Karena orangtuanya tidak pernah menikah secara sah, ayahnya meninggalkan Martin dengan ibu dan adik perempuannya. Mereka hidup dalam kemiskinan.

Martin muda tekun berdoa dan mempunyai keinginan bergabung ke ordo religius. Tetapi peraturan saat itu tidak memperbolehkan orang keturunan Afrika atau suku asli setempat untuk menjadi anggota penuh ordo religius. Satu-satunya jalan adalah dengan menjadi “donado”, orang yang mengerjakan pekerjaan seperti memasak, mencuci, dan mengurus kebun dengan tidak dibayar tetapi diperbolehkan memakai jubah ordo itu dan tinggal di dalam biara.

Setelah melihat ketekunan dan hidup doa Martin, pemimpin biara tempat ia tinggal memutuskan untuk mengabaikan peraturan yang ada dan menjadikan Martin sebagai anggota penuh ordo Dominikan. Walaupun demikian, banyak yang tidak setuju dan terus mengolok-olok Martin yang berkulit hitam dan tidak bermuka orang Eropa. Martin tidak pernah membalas keburukan sifat mereka, dan terus bekerja membantu orang miskin dan sakit di sekitarny.

Hidup Martin de Porres dapat menjadi pelajaran kita untuk memperlakukan setiap orang sesuai martabat mereka sebagai manusia, apapun status sosial, pekerjaan, atau warna kulit mereka. Untuk kita yang tinggal di Indonesia, mungkin kita dapat lebih memperhatikan kesejahteraan para buruh atau para pembantu rumah tangga. Bagi kita yang tinggal di Amerika Serikat, kita bisa ikut membantu membela hak-hak orang kulit hitam, orang Indian, atau golongan lain yang masih sering mengalami diskriminasi.

Santo Martin de Porres, doakanlah kami.

Hidup Diubah, Bukan Dilenyapkan

Hidup Diubah, Bukan Dilenyapkan

Selasa, 2 November 2021

Hari Raya Peringatan Semua Arwah Orang Beriman

Kebijaksanaan 3:1-9
Roma 6:3-9
Yohanes 6:37-40

Salah satu altar di paroki Mission San Luis Rey, Oceanside, California.

Beberapa orang Indonesia di Amerika sini pernah bertanya dengan heran, mengapa di gereja-gereja yang memiliki populasi orang-orang dari Meksiko sering terdapat dekorasi dengan tengkorak atau orang-orang yang mengecat mukanya seperti tengkorak di sekitar tanggal 2 November.

Tradisi ini berasal dari Meksiko dan merupakan salah satu contoh inkulturasi ajaran Gereja Katolik dengan budaya setempat. Tengkorak bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti anak kecil, tetapi simbol orang-orang yang sudah mendahului kita, di mana mereka bersukaria, menari, dan makan di alam baka. Tradisi lainnya adalah dengan mendirikan altar dengan menaruh foto-foto keluarga dan teman yang sudah meninggal, dan juga makanan-makanan yang diperuntukkan untuk mereka nikmati.

Kalau anda pernah menonton film animasi Disney “Coco” yang keluar beberapa tahun lalu, mungkin anda masih ingat cerita bagaimana pada hari ini dipercaya batas pemisah antara dunia orang hidup dan orang mati ditiadakan, sehingga roh-roh orang yang sudah meninggal dapat berkumpul bersama keluarga mereka yang masih hidup untuk makan dan minum dan berkumpul bersama.

Keluarga berkumpul bersama di kuburan Mission San Luis Rey tanggal 2 November

Di paroki kami juga terdapat kuburan yang sudah ada sejak gereja Mission dibangun di 1798 dan diperluas dan dibuka untuk umum sampai hari ini. Biasanya setiap tanggal 2 November, orang-orang yang berasal dari Meksiko datang bersama ke makam keluarga mereka dan menghabiskan waktu dengan minum coklat panas dan makan dan berbagi cerita tentang keluarga mereka yang sudah meninggal, terutama untuk anak dan cucu yang mungkin tidak pernah bertemu muka.

Di sinilah tradisi “Dia de Los Muertos” (Hari Orang Mati) ini menguatkan ajararan Gereja kita. Dalam Prefasi Doa Syukur Agung untuk Misa Arwah terdapat kata-kata: “Sebagai umat beriman kami yakin bahwa hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan.” Sebagai orang Katolik kita percaya bahwa kita masih mempunyai hubungan dengan mereka yang mendahului kita, di mana kita bisa meminta mereka untuk menjadi perantara kita kepada Allah di surga, di mana mereka hidup dalam damai abadi dengan Kristus dan senantiasa memuji dan menyembahNya. Dan dengan selalu mengingat mereka melalui cerita-cerita tentang kehidupan mereka, mereka pun menjadi “hidup” dan tidak lenyap dalam hati dan ingatan kita.

Translate »