Browsed by
Month: December 2021

Janji Perjanjian Lama digenapi dalam dan melalui Yesus

Janji Perjanjian Lama digenapi dalam dan melalui Yesus

Hari Senin, Minggu ke 2 Masa Advent

6 December, 2021

Yesaya 35:1-10

Lukas 5:17-26

Saudara-saudariku terkasih,

Yesaya dalam bacaan pertama hari ini sudah boleh dibilang memberi kecerahan kepada kita semua zaman ini khususnya dalam masa Advent. Ini adalah satu kegembiraan yang luar biasa, suatu pesan pewartaan untuk Perjanjian Baru. Karena pencerahan yang diberikan itu sudah dapat dikatakan sebagai satu gambaran untuk kita umat Allah yang sedang menjalani hidup sekarang dan untuk kehidupan kekal. Oleh karena itu Yesus sendiri sudah memproklamirkan pemenuhan kata-kata nabi Yesaya ketika Yesus mulai tampil di muka umum.

Nabi Yesaya mewartakan: “Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, … dan seterusnya…” sementara dalam bacaan Injil hari ini tentang Yesus menyembuhkan seorang yang lumpuh; kepada orang lumpuh itu Yesus mengatakan: “bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu! … seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah.” Disini boleh kita lihat betapa nubuat nabi dari Perjanjian Lama menjadi nyata dalam dan melalui Yesus. Yesus telah datang membawa kabar gembirfa kepada kita semua.

Selanjutnya diberitakan bahwa sebelum Yesus menyembuhkan orang muda yang lumpuh itu, kepadanya Yesus mengatakan: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.” Dengan statement awal itu telah membuat semua nubuat nabi Yesaya dinyatakan benar. Oleh karena itu kedua bacaan hari ini menjadi satu peneguhan dan penting sekali untuk disimak dalam kehidupan kita setiap hari. Bahwa Allah tak pernah akan menelantarkan anak-anakNya dalam situasi dan kondisi apapun. 

Dalam dua bulan terakhir ini saya diberi tugas dan tanggungjawab tambahan untuk salah satu department di Rumah Sakit Anak-Anak dimana saya bekerja setiap hari Rabu dan Jumat. Department yang saya mau bagikan pengalaman ini kepada teman-teman semua adalah Department untuk Anak-Anak yang ditelantarkan oleh orangtua mereka. Kondisi anak-anak itu pada umumnya adalah anak-anak yang tidak mampu membantu dirinya sendiri, mereka adalah anak-anak yang lumpuh, bisu, tuli dan lain sebagainya dengan dan dalam keadaan yang  sangat menyedihkan. Sebelum saya datang kepada anak-anak itu, para perawat telah memberi tahu bahwa sebentar lagi saya akan datang, berdoa dan memberkati mereka. Hari Rabu kemarin seperti biasa saya datang mengunjungi mereka, anak-anak ini adalah mereka yang samasekali tidak berdaya, hanya terbaring lemah, dalam feeding tube, atau yang benar-benar lumpuh total (kaki – tangannya). Tetapi ketika melihat saya, mereka bisa mengungkapkan sikap kebahagiaannya, kegembiraan bahkan ada yang masih bisa menggerakkan tangannya mau memberi hi five kepada saya dan bahkan mengangkat kedua jempolnya kepada saya. 

Dipihak lain saya sungguh kagum kepada para dokter, perawat, guru, social worker dan volunteer lainnya yang dengan penuh kasih melakukan tugas perawatan dan pelayanan kepada anak-anak ini. Hal ini mengingatkan saya akan teman-teman si lumpuh dalam bacaan Injil hari ini. Mereka yang dengan susah payah berusaha menghadirkan teman mereka yang lumpuh itu kepada Yesus. Mereka dengan sangat berani dan dengan cara apapun telah menghadirkan teman mereka untuk bisa bertemu dengan Yesus. Semuanya itu mereka lakukan dengan penuh kasih. Mereka semua gembira dan bahagia telah berbuat sesuatu yang sangat berarti bagi teman mereka yang lumpuh itu. Singkat kata, teman-temanku sekalian sudah bisa menebak apa yang akan saya akhiri renungan ini dengan pertanyaan singkat: Bersediakah anda mengisi masa Adventmu  dengan sesuatu yang bisa menghantar orang lain kepada Yesus,????

Kenapa Yohanes Membaptis

Kenapa Yohanes Membaptis

Minggu Adven Kedua [C]

5 Desember 2021

Lukas 3:1-6

Pada Minggu Adven kedua, kita bertemu dengan sosok Yohanes Pembaptis. Dia adalah salah satu tokoh yang paling menonjol dan berpengaruh dalam Injil. Keempat penginjil menyebut dia dan sering menggambarkan dia sebagai orang yang tak kenal takut yang bahkan berani menantang orang yang paling berkuasa di Galilea, Herodes Antipas. Dari padang gurun Yudea, ia datang dan memposisikan diri pada tempat strategis di lembah Yordan. Tempat adalah jalan utama yang menghubungkan Yerusalem dengan seluruh Israel, dan Yohanes memanfaatkan momen itu untuk menyatakan kedatangan Mesias. Kita bisa membayangkan suaranya yang kuat menggelegar di seluruh lembah dan mengguncang setiap hati yang mendengarkan.

Mesias akan datang, dan jalan-Nya harus dipersiapkan. Namun, kita tidak mempersiapkan kedatangan-Nya dengan karpet merah, karangan bunga, atau parade musik besar. Dia tidak akan datang dan menyelami para pejabat dan disambut dengan perjamuan pesta. Dia tidak membutuhkan persiapan eksternal tetapi menuntut transformasi internal. Maka, Yohanes berteriak dengan suara nyaring, “Bertobatlah!”

Satu pertanyaan mungkin membuat kita bertanya-tanya: mengapa Yohanes membaptis orang? Membaptis berarti membasuh diri dengan air, dan dalam tradisi Yahudi, ini adalah sebuah ritual Yahudi yang umum untuk membersihkan diri dari kenajisan. Para peziarah Yahudi akan membasuh diri sebelum mereka memasuki Bait Allah Yerusalem, dan ada banyak kolam kecil untuk tujuan ini yang disebut ‘mikvah’ di kota Yerusalem. Satu tradisi mengatakan bahwa Yohanes berasal dari sekte Yahudi bernama Essenes. Kelompok ini terkenal karena kepatuhan mereka yang ketat terhadap Hukum Musa. Bahkan, mereka memiliki standar ekstrim dalam hal menjaga diri dari kenajisan, dan mereka akan melakukan ritual pembasuhan bahkan beberapa kali sehari. Jika tradisi ini benar, Yohanes tahu betul betapa pentingnya pembaptisan dengan air.

Namun, Yohanes tidak hanya mengulangi ritual pentahiran Yahudi yang lama. Dia merevolusi hal ini. Yohanes membaptis orang dengan air sebagai tanda eksternal dari pertobatan internal. Bagi Yohanes, tidak ada gunanya jika orang pergi ke Bait Allah dan melakukan berbagai ritual, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan.

Yohanes Pembaptis mengingatkan inti Adven: persiapan rohani untuk kedatangan Yesus. Kita menyadari bahwa Adven adalah masa persiapan untuk kedatangan Kristus, tetapi seringkali kita tidak tahu bagaimana mempersiapkannya. Terkadang, kita menghabiskan waktu dan uang kita untuk membeli hadiah, menyiapkan dekorasi Natal, dan merencanakan liburan. Terkadang, kita sibuk berlatih untuk kebaktian Natal, atau mempersiapkan diri untuk pesta dan perayaan. Namun, jika kita lupa mempersiapkan diri secara rohani, kita bisa kehilangan segalanya.

Warna liturgi Adven adalah ungu, dan ungu yang sama yang kita gunakan pada masa Prapaskah. Jika ungu di Prapaskah berarti warna pertobatan, ungu Adven memiliki karakter yang sama. Ketika Yohanes Pembaptis mengingatkan orang-orang untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias dengan perubahan hati, Gereja juga memanggil kita untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan kita dengan pertobatan dan latihan rohani.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

[JANGAN LUPA SUBSCRIBE DAN SHARE YA UNTUK MENDUKUNG KARYA RM. BAYU, OP]

The Reason behind John’s Baptism

The Reason behind John’s Baptism

Second Sunday of Advent [C]

December 5, 2021

Luke 3:1-6

On the second Sunday of Advent, we encounter John the Baptist. He is one of the most prominent and impactful figures in the Gospel. The four evangelists mentioned him and often described him as a fearless man who even dared to challenge the most powerful man in Galilee, Herod Antipas. From the desert, he went and positioned himself in a strategic position in the Jordan valley. That was the major passageway that connected Jerusalem with the rest of Israel, and John seized the moment to preach the coming of Messiah. We could imagine his strong voice thundered throughout the valley and shook every heart who listened.

The Messiah is coming, and His way must be prepared. Yet, one does not prepare His arrival with a red carpet, a flower garland, or a grand musical parade. He will not come and check the honor guards. He does not need external preparation but demands internal transformation. Thus, John shouted with a loud voice, “Repent!”

One question may keep us wondering: why did John baptize people? To baptize means to wash with water and washing oneself with water was a common Jewish ritual to cleanse oneself from ritual uncleanliness. Jewish pilgrims would wash themselves before they entered the Temple of Jerusalem, and there were many small pools for this purpose called ‘mikvah’. One tradition recognized that John was coming from a Jewish sect named Essenes. This group was famous for its strict adherence to the Law of Moses. In fact, they had an extreme measure when it came to ritual purity, and they would take a ritual bath several times a day. If this tradition is true, John knew too well how important baptism was.

However, John did not simply repeat the old Jewish purification ritual. In fact, He revolutionized it. John baptized people with water as an external sign of internal repentance. For John, it would be useless if people go to the Temple and perform various rituals, but their hearts are far from the Lord.

John the Baptist brings to mind the core of Advent: the spiritual preparation for the coming of Jesus. We recognize that Advent is the season of preparation for Christ’s coming, but often, we do not know how exactly to prepare. Sometimes, we are spending our time and money to buy gifts, to prepare Christmas decorations and to plan for holidays. Sometimes, we are busy practicing for Christmas services, or ready ourselves for parties and celebrations. Yet, if we forget to prepare spiritually, we may lose everything.

The liturgical color of Advent is purple, and the very same purple that we use in the Lenten season. If the purple in Lent means the color of repentance, the purple of Advent has the same character. As John the Baptist reminded the people of his time to prepare the way for the Messiah by change of hearts, the Church also calls us to prepare the coming of our Lord with repentance and spiritual exercises.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita Diutus untuk Mewarta dan Bertindak!

Kita Diutus untuk Mewarta dan Bertindak!

Yes 30:19-21,23-26; Mat 9:35-10:1,6-8

Sabtu Adven Pekan I

Injil hari ini dimulai dengan pernyataan secara ringkas mengenai pelayanan Yesus dengan mengatakan, “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” Melalui ringkasan ini, Yesus digambarkan sebagai Mesias dalam perkataan dan perbuatan. Ringkasan pernyataan ini berfungsi sebagai pengantar bagi misi dimana Yesus memanggil kedua belas murid-Nya (Matius 10:1-42). Dengan menempatkan Pendahuluan seperti ini, Matius bermaksud menyampaikan bahwa misi para murid adalah satu dan merupakan kelanjutan dari misi Yesus. Seperti Yesus, mereka juga dipanggil untuk mewarta dan bertindak. Mereka dipanggil, seperti Yesus, untuk membuat Kerajaan yang mereka wartakan menjadi sebuah kenyataan.

Injil hari ini mengajak kita untuk memahami bahwa misi para murid bukanlah kegiatan sukarela yang diprakarsai oleh mereka; melainkan, mereka dipilih, diberi wewenang, dan diutus oleh Allah melalui Yesus. Itu adalah otoritas-Nya yang dengannya mereka diutus. Mereka harus berbicara dan bertindak dalam nama Yesus. Isi dari pewartaan mereka adalah bahwa kerajaan surga memang telah datang. Ini adalah kerajaan yang tidak teoritis tetapi sangat praktis dan membumi. Oleh karena itu, pewartaan lisan harus dibarengi dengan tindakan konkrit. Tindakan yang mereka lakukan adalah tindakan penyembuhan dan menghilangkan kelemahan-kelamahan akibat dosa. Sebagaimana kerajaan surga diberikan Tuhan secara cuma-cuma, maka pemberitaan dan tindakan mereka juga harus dilakukan dengan bebas dan tanpa bayaran. Kerajaan Tuhan tidak dapat dibeli dan tidak perlu dibeli, karena itu adalah pemberian Tuhan secara cuma-cuma.

Saudari-saudaraku yang terkasih, misi yang Yesus berikan untuk para murid-Nya berlanjut sampai hari ini dan berlaku untuk kita semua. Itu adalah sebuah misi yang harus terdiri dari pewartaan dan tindakan. Artinya, kata-kata yang diucapkan harus menjadi kata yang menguatkan dan membangun. Tindakan yang dilakukan harus merupakan tindakan yang menyembuhkan dan membuat utuhnya kemanusian. Tuhan akan datang kepada kita masing-masing dalam kebutuhan kita, dalam kerentanan kita, juga memandang kita masing-masing untuk menjadi pekerja di panen-Nya, untuk menjadi saluran kehadiran belas kasih-Nya bagi mereka yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Seperti dalam bacaan Pertama hari ini, Nabi Yesaya mengungkapkan bahwa Tuhan selalu siap untuk membalut luka umat-Nya. Semoga Tuhan memampukan kita untuk selalu tergerak oleh belas kasihan kepada sesama, sama seperti Yesus sendiri.

Tuhan memberkati!

Pergilah Ke seluruh Dunia dan Beritakanlah Injil!

Pergilah Ke seluruh Dunia dan Beritakanlah Injil!

Jumat, Pesta St. Fransiskus Xaverius

1Kor. 9:16-19,22-23; Mrk. 16:15-20.

Hari ini Gereja merayakan Pesta St. Fransiskus Xaverius. Fransiskus Xaverius adalah salah satu misionaris paling terkenal di Gereja, berasal dari keluarga bangsawan Basque di Spanyol. Ia belajar di Universitas Paris, di mana ia mengajar filsafat setelah memperoleh gelar master. Di sana dia bertemu Ignatius dari Loyola dan menjadi salah satu dari tujuh Yesuit pertama. Mereka memutuskan untuk pergi ke Tanah Suci, tetapi perang antara orang-orang Turki dan Venesia menghalangi maksud mereka, jadi untuk sementara Fransiskus bekerja di Padua, Bologna, dan Roma. 

Pada tahun 1540 Ignatius mengutusnya sebagai misionaris pertama di koloni Portugis di Hindia Timur. Fransiskus berlayar dari Lisbon dengan berbekal empat surat Paus yang memberinya wewenang penuh sebagai Nuncio dan merekomendasikannya kepada para pangeran di wilayah Timur. Dia mendarat di Goa di India dan memulai kerasulan di sana lebih dari sepuluh tahun. Di sini dia mengajar orang dewasa, mengumpulkan anak-anak dengan membunyikan lonceng di jalan, mengajar mereka, dan juga mengunjungi rumah sakit dan penjara. Seorang sejarawan menulis tentangnya bahwa St. Fransiskus merupakan ‘Misionaris Perintis Agama Salib’ di Asia dan misionaris terbesar semenjak Santo Paulus.

Saudari-saudaraku yang terkasih, pada Pesta St. Fransiskus Xaverius dan pada Bacaan Selasa lalu, kita diingatkan bahwa iman berasal dari apa yang didengar. Bahkan dalam Roma 10:9-18, St Paulus  mengatakan bahwa orang tidak akan beriman kepada Yesus kecuali mereka telah mendengar tentang Dia dan mereka tidak akan mendengar tentang Dia kecuali mereka mendapatkan seorang pengkhotbah. Dan, dalam Bacaan Pertama hari ini, St Paulus menegaskan betapa pentingnya mewartakan Injil dengan mengatakan, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Saya yakin, itulah semangat yang mendasari St. Fransiskus Xaverius untuk pergi ke Asia  dan mewartakan Sabda Allah dengan semangat heroiknya. Baik Rasul Paulus maupun St. Fransiskus Xaverius melalui hidup mereka telah mengingatkan Gereja, kita semua, akan panggilan untuk mewartakan Sabda Allah kepada semua bangsa. Mari di Masa Adven ini kita menggaungkan kembali sambil mengontekstualkan panggilan mewartakan Sabda Allah itu dalam hidup kita masing-masing dengan penuh sukacita karena itu pun merupakan perintah Yesus sebagaimana dalam Injil hari ini, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Tuhan memberkati!

Translate »