Browsed by
Month: January 2022

Injil Markus

Injil Markus

Senin, 10 Januari 2022

Samuel 1:1-8
Mazmur 116
Markus 1:14-20

Minggu ini bacaan Injil kita akan diambil dari Markus. Injil ini adalah yang paling pendek dan dianggap yang paling tua (ditulis sekitar tahun 70 M) dibandingkan Injil-injil yang lainnya. Kemungkinan besar Markus menulis Injil ini untuk komunitas Kristen di Roma yang sedang mengalami penganiayaan hebat semasa pemerintahan Kaisar Nero.

Romo Donald Senior, CP, seorang ahli kitab suci ternama menjelaskan bahwa ada dua tema utama dalam Injil Markus:

  1. Penggambaran tentang Yesus. Markus ingin menjelaskan siapakah Yesus itu. Setelah dinubuatkan oleh Yohanes Pembaptis, ia dibaptis dan dipanggil oleh Allah sebagai anakNya yang dikasihi. Ia lalu dicobai oleh Setan di padang gurun dan mampu memenangi pertempuran spiritual ini. Kemenangan Tuhan atas kejahatan, penyakit, dan segala hal yang mendera umat manusia dinyatakan oleh Yesus dalam karya pelayananNya di Galilea. Ini semua mencapai puncaknya dengan wafatNya di kayu salib.
  2. Penggambaran tentang murid-murid Yesus. Mereka dipanggil Yesus untuk mengikutiNya dan bergabung dalam misiNya. Mereka diberi kuasa unuk menyembuhkan dan mengajar sama seperti Dia. Tetapi mereka tidak dapat memahami ajaran dan karyaNya. Mereka meninggalkanNya di saat Dia tergantung di salib.

Semua ini mengingatkan kita bahwa para pengikut Yesus, dari dulu sampai sekarang, tidak sempurna dan banyak mengalami halangan dan kegagalan. Tetapi Yesus selalu setia dan tidak pernah meninggalkannya. Ia wafat untuk mereka, dan setelah bangkit kembali ke Galilea untuk mengumpulkan mereka kembali dan memberi kuasa untuk melanjutkan misiNya di dunia.

The Meaning of Jesus’ Baptism

The Meaning of Jesus’ Baptism

The Baptism of the Lord [C]
January 9, 2022
Luke 3:15-16, 21-22

Jesus’ Baptism is the starting point of Jesus’ public ministry. This explains why the Church always opens the ordinary season of the liturgical years with the story of Jesus’ Baptism in the Jordan. However, the question that I often face is ‘Why did Jesus need to be baptized?” If Jesus is God and sinless, why did He has to undergo John’s Baptism of repentance?”

The Church answered this question a long time ago. The Catechism of the Catholic Church states, “The baptism of Jesus is on his part the acceptance and inauguration of his mission as God’s suffering Servant. He allows himself to be numbered among sinners; he is already “the Lamb of God, who takes away the sin of the world”. Already he is anticipating the “baptism” of his bloody death… [CCC 536].”

To elaborate more on the Church’s teaching, Jesus’ Baptism shows His solidarity with us, sinners. Though He was not a sinner, He shared the lot of sinners. During the Incarnation, Jesus takes upon Himself our weak and limited human nature. Yet, it does not stop there. He also shares our suffering and death. Jesus’ Baptism in Jordan anticipates His true ‘baptism’ on the cross. Once again, this shows to us how God loves us to the end. When Jesus loves, He gives it all.

From here, we discover that why we are baptized is not because this is a long family tradition imposed upon us, but it is our participation in the Baptism and life of Christ. If Jesus’ Baptism is a sign of His solidarity with weak human beings, our Baptism is the sign of our unity with our brothers and sisters, especially those suffering. If Christ’s Baptism is anticipation of His Suffering and Death, our Baptism is our death to old life and selfishness. If Jesus’ Baptism is a sign of His sacrificial love, our Baptism shall propel us to love God and our neighbours totally.

Some of us got baptized when we were little children, and perhaps, we do not recall what happened. We do not get the feeling, and because of that, we want to repeat the whole process with more dramatic effects. Some wish to be submerged into a deep pool, and some want to be baptized in the Jordan River. Some only accept their Baptism as something good if they feel the sudden rush of the Holy Spirit. Yet, the sacrament of Baptism is not about our feelings; in fact, it is not about us. True Baptism makes us Christians, ‘little Christs’, and we are called to live like one. What matters is not how we feel about our Baptism, but how we live our Baptism.

The Church teaches us that sacramental Baptism is once and for all. When we are baptized, all our sins are forgiven, we are transformed into God’s children, and we become parts of Christ’s body, the Church. Baptism begins our salvation, but it does not end there. What is even more important is how we live our Baptism, how we participate in the life and mission of Christ, and how we love as Jesus loves.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

MOTIVASI MENGIKUTI YESUS

MOTIVASI MENGIKUTI YESUS

Sabtu, 8 Januari 2022


Yohanes 3:22-30

Yohanes menegaskan bahwa kehadirannya adalah untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan Yesus. “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.”(Yoh 3:28). Sekalipun Yohanes memiliki banyak pengikut namun ia tidak jatuh pada kesombongan dan tidak melupakan tugas dan tanggung jawabnya. Sebaliknya, dengan kerendahan hati, Yohanes mendorong dan mengajak murid-muridnya untuk datang dan percaya kepada Kristus. ” Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”(Yoh 3:30).

Kesaksian hidup Yohanes pembaptis menujukan bahwa Yesus Mesias adalah pusat dan sumber hidup, damai dan keselamatan  setiap orang. Dengan demikian semua orang diundang kepada-Nya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Mat 11:28-29).

Undangan sudah diberikan kepada manusia oleh Allah. Sekarang tinggal jawaban apa yang akan disampaikan manusia kepada Allah. “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”(Mat 22: 2-3). Betapa kecewa hati Allah ketika tahu bahwa manusia menolak belaskasih yang Dia tawarkan kepada mereka. Oleh karena itu, perlu motivasi kuat dan kesadaran terlebih dahulu sebelum seseorang menjawab dan bersedia mengikuti Yesus. Sebab jika seseorang hanya ikut-ikutan atau sekedar formalitas dalam mengikuti Kristus, maka ia juga tidak menemukan apa-apa dalam imannya, karena ia belum sungguh-sungguh percaya kepada-Nya.

Dengan demikian, ajakan Yohanes pembaptis untuk mengikuti Kristus adalah ajakan untuk berani percaya kepada Kristus.Mengikuti bukan setengah-setengah, akan tetapi mngikuti dengan sepenuh hati, akal budi, dan kekuatan. “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”.(Mat 22:37).

Rm Didik,  CM 

MENGHADIRKAN KRISTUS

MENGHADIRKAN KRISTUS

Jumat, 7 Januari 2022


Lukas 5:12-16

Suatu hari Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta. Apa yang terjadi menunjukkan bahwa Tuhan berbelas kasihan kepada munusia yang menderita. Kesembuhan terjadi ketika orang yang sakit kusta memohon dengan rendah hati dan penuh iman, dan kemudian Tuhan menjawabnya. “Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”  Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.”(Luk 5:12-13). 

Dengan Demikian, permohonan kepada Tuhan bisa diterwujud jika terjadi komunikasi iman antara manusia dan Tuhan Yesus. Komunikasi iman artinya seseorang percaya sungguh-sungguh kepada kuasa dan belaskasih Tuhan dan dengan iman tersebut seseorang bersandar kepada Tuhan dengan sikap rendah hati dan menyerahkan semuanya kepada kehendak Allah. Seperti juga yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria yang percaya kepada penyenggaraan Ilahi. “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”(Luk 1:38).

Oleh karena itu, komunikasi iman antara manusia dan Allah terjadi bukan saja di ruang doa tetapi disepanjang hidupnya. Dengan demikian, Tuhan hadir di dalam hati, pikiran, keputusan dan disetiap peristiwa hidup manusia dan menopang serta menuntun setiap langkah hidupnya.
“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”(Efesus 3:16-17). Dengan demikian, siapa yang percaya kepada Yesus Kristus, ia mengandalkan Kristus, ia hidup dan berjalan dengan Kristus, dan ia menghadirkan Kristus (menjadi sakramen).

Rm Didik, CM 

KARYA ROH KUDUS

KARYA ROH KUDUS

Kamis, 6 Januari 2022


Lukas 4:14-22a

Yesus menyatakan bahwa apa yang telah ditulis oleh Nabi Yesaya tentang kedatangan Mesias tergenapi di dalam diri-Nya. “Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk 4:21). Oleh karena itu Tuhan Yesus mengajak semua orang bisa percaya kepada-Nya, sebab melalui Dia, mereka yang percaya sampai kepada Bapa di sorga. Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”(Yoh 14:6).

Bagaimana seseorang bisa percaya kepada Yesus Sang Mesias? “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku..”(Luk 4:18). Beriman adalah anugerah Allah sekaligus jawaban dan pilihan bebas dari setiap pribadi manusia, sehingga tidak ada yang bisa memaksa. Oleh karena itu seseorang bisa menentukan pilihannya untuk mengikuti Kristus bukan alasan takut, dan dalam tekanan,  namun karena kesadaran yang muncul dari dalam hati bahwa Yesus Tuhan mengasihinya dan menjadi tumpuan harapan dan keselamatan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”(Efesus 2:8).

Karena iman adalah anugerah Tuhan dan jawaban pribadi masing-masing orang, maka untuk mendapatkannya dibutuhkan sikap kerendahan hati agar iman bisa tertanam, tumbuh dengan subur dan pada akhirnya berbuah di dalam perbuatan-perbuatan baik. “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”(Mat 13:23). Karena sebagai manusia, masing-masing orang memiliki keterbatasan maka Roh Kudus akan bisa menolong seseorang yang rendah hati untuk memahami dan melakukan apa yang menjadi kehendak Allah. Oleh karena itu, iman yang menghadirkan harapan dan mendorong untuk hidup di dalam kasih, bisa terwujud karena Roh Kudus berkarya di dalam diri orang yang rendah hati.

Rm Didik, CM 

Translate »