Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

TIDAK TAWAR HATI

Posted by admin on February 23, 2022
Posted in renungan 

Kamis, 24 Februari 2022


Markus 9:41-50

Pada suatu kali Yesus berbicara dengan tegas dengan suatu perumpamaan yang menyerukan agar setiap orang perlu menjaga dirinya agar tidak jatuh pada dosa atau kejahatan, sebab di dalam tubuh dan hati manusia, Allah hadir, serta dijadikan-Nya sebagai bait-Nya.  Dengan demikian, Allah menganugerahkan seluruh jiwa(roh), akal budi, hati, dan anggota tubuh kepada manusia bertujuan untuk menyatakan keagungan dan kemuliaan Allah yang menciptakan manusia, dan bukan untuk kepentingan-kepentingan yang lain, apalagi untuk berbuat dosa atau penyesatan. “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? “(1 Kor 3:16).

Bagaimana cara menjaga hati/jiwa, dan tubuh manusia agar searah dengan panggilannya sebagai anak-anak Allah. Semua bisa terjadi mulai dalam diri manusia, yaitu ketika seseorang menyadari akan kerapuhannya dan ketidakberdayaannya jika terlepas dari Allah, sebab tanpa anugerah hidup dari-Nya tidak akan terjadi seseorang bisa hidup. Dan melalui Yesus Kristus, mereka yang percaya menerima pengampunan dosa dan  hidup yang kekal. “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”(Roma 8:2).

Oleh karena itu jika hati manusia dipenuhi oleh Roh Allah sendiri, maka hati seseorang akan di penuhi damai sejahtera dan kasih-Nya sehingga hati tidak menjadi tawar, artinya  tidak peka, akan segala tawaran dan kebaikan Allah.  “Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”(Mrk 9:50).
Dampaknya adalah seseorang akan merasakan damai-Nya dan selalu terhubung dengan Tuhan, sehingga apa yang dipikirkan dan yang dilakukan sejalan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Mereka tidak akan  mau mengecewakan hati Tuhan Yesus  dengan berbuat dosa, sebab Dia telah menganugerahkan pengampunan dan keselamatan kepada mereka manusia. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,”( Efesus 1:7).

Rm. Didik, CM 

KETERBUKAAN

Posted by admin on February 22, 2022
Posted in renungan 

Rabu, 23 Februari 2022


Markus 9:38-40

Yesus menegur para murid-Nya untuk tidak melarang mereka yang mengusir setan dengan nama Yesus Kristis. “Tetapi kata Yesus: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. “(Mrk 9:39). Pesan Yesus tersebut menyatakan bahwa setiap murid Kristus harus memiliki keterbukaan untuk menerima siapa pun yang berniat baik.

Dengan demikian orang beriman dalam gereja bukan sebagai kelompok yang ekslusif (tertutup) melainkan komunitas yang terbuka (influsif) yang mampu merangkul semua orang untuk bisa mengikuti semangat Yesus Kristus, yang peduli pada penderitaan sesama. Perbedaan bukan menjadi penghalang dalam kerja sama membangun Kerajaan Allah. “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!”(2 Kor 13:11).

Ketika seseorang terbuka akan segala yang baik, maka ia akan bisa bekerja sama dengan orang-orang yang baik pula, di dalam mewujudkan nilai-nilai yang datang dari iman pada Yesus Kristus. Sebaliknya jika seseorang tertutup dan hanya melihat dirinya sendiri dan kelompoknya saja maka ia menutup juga semua hal yang baik dari Tuhan yang juga berkerja di luar kelompoknya. Damai sejahtera terwujud karena ketika seseorang bisa hidup berdampingan dengan yang lain dan saling mengisi sesuai keunikannya dan saling tolong- menolong untuk kesejahteraan bersama. Oleh karena orang yang sombong dan menutup diri akan kebaikan tidak akan cocok dan tidak akan bisa memberi apa-apa untuk mewujudkan Kerajaan Allah. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”(Galatia 6:2).

Rm. Didik , CM 

MENGHADIRKAN KERAJAAN ALLAH

Posted by admin on February 21, 2022
Posted in renungan 

Selasa, 22 Februari 2022


Matius 16:13-19

Yesus bertanya kepada para murid-Nya menurut pendapat mereka siapakah Dia? Kemudian Petrus mewakili para murid yang lain mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Jawaban Petrus tersebut menyatakan kebenaran yang datang dari Allah sendiri, karena benar, Dia adalah Mesias. “Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”(Mat 16:16-17). 

Dengan demikian, Roh Kudus telah bekerja di dalam diri Petrus, dan menyatakan lewat kesaksiaannya; bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia atau Mesias. Dan dengan bimbingan Roh Kudus, akhirnya Petrus dipilih menjadi rasul Kristus yang dianugerahi martabat sebagai pelayan dan pemimpin yang diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah.  “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”(Mat 16:18-19).

Yesus mendirikan jemaat-Nya, yaitu Gereja sebagai komunitas atau persekutuan yang hidup karena iman. Petrus yang dipilih Yesus untuk memegang kunci Kerajaan Sorga diutus untuk memimpin Gereja-Nya di dunia, supaya menjaga kesatuan di dalam Yesus Kristus dimana kasih, damai, harapan dan keselamatan selalu dihadirkan bagi mereka yang percaya dan setia. “….Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”(Yoh 17:21).

Oleh karena itu sebagai anggota gereja, setiap orang yang percaya dan mengikuti Yesus Kristus menerima rahmat yang sama yaitu Roh Kristus yang menyatukan mereka dalam gerak yang sama untuk menghadirkan Kerajaan Allah dimana mereka berada, agar semua menjadi satu ikatan persaudaraan dalam kasih. Dengan demikian setiap muriid Kristus menerima perutusan menjadi saksi Kristus , yaitu mewartakan belas kasih Allah, dan mewartakan apa yang Kristus ajarkan dengan  melakukan cara hidup yang baik yang sesuai dengan semangat kasih-persaudaraan. “Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. (Roma 1:5-6).

Rm. Didik, CM 

MELAWAN KERAGUAN

Posted by admin on February 20, 2022
Posted in renungan 

Senin, 21 Februari 2022


Markus 9:14-29

Yesus Kristus datang dan Kerajaan Allah hadir di antara umat manusia. Dengan demikian tanda Kerajaan Allah hadir adalah Yesus Kristus. Melalui Yesus Kristus sungguh nyatalah kasih Allah kepada manusia; Dia menyembuhkan orang yang sakit, mengampuni dosa, mengusir roh-roh jahat, dan menghidupkan orang mati. “Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!” (Mrk 9:25).

Yesus Kristus sudah hadir lalu bagaimana tanggapan dari manusia? Apakah mereka menerima dan percaya kepada-Nya? Yesus heran karena ternyata banyak orang meragukan akan kuasa dan belaskasih Allah yang dinyatakan melalui Putera-Nya Yesus Kristus. “Maka kata Yesus kepada mereka: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu kemari.”(Mrk 9:19). Ketidakpercayaan menyebabkan rahmat dan kasih Allah terhambat, karena terjadi penolakan di dalam hatinya. Ketika hati menolak, maka tidak mungkin seseorang bisa menerima apa yang tawarkan Tuhan kepadanya.

Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk melawan keraguan yang sering kali muncul dan melemahkan iman seseorang. Keraguan itu bisa diatasi dengan banyak berdoa dan merenungkan di dalam hidupnya bahwa Allah hadir setiap hari. Semakin tekun seseorang berdoa dan semakin memiliki relasi dekat dengan Tuhan, maka semakin kuat kuasa-Nya yang berkerja di dalam diri orang beriman. “Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”(Mrk 9:28-29).

Rm. Didik, CM 

Beyond Ordinary Love

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on February 19, 2022
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

7th Sunday in Ordinary Time [C]
February 20, 2022
Luke 6:27-38

‘To love your enemies’ is considered the most difficult of Jesus’ teachings. It is not only extremely tough, but it is practically impossible. Our natural tendency and feelings are to hate those who hurt us and despise those who harm us. Especially when we are still hurting, we want to get even as soon as possible. We desire our enemies to feel our pains, and the more pain, the better. How is this teaching even possible?

However, Jesus does not say, ‘like your enemies’, but ‘love them’. The Gospel even specifies that the Greek word for ‘love’ here is ‘agape’. This is a love based not primarily on emotions but free will and commitment. It may be impossible to change our adverse feelings toward someone who hurt us, but it remains possible to decide not to inflict injuries and even do something good for them. Thus, after He says, ‘love your enemies, Jesus further clarifies, ‘do good to those who hate you, bless those who curse you, and pray for those who abuse you.’ To do good, bless, and pray are not feelings of love but acts of love. St. Thomas Aquinas synthesizes this teaching of Jesus and defines love as ‘to will the good of others’

Yet, despite the truth about agape and our God-given ability to perform something against our natural inclination, loving our enemies is just a hard pill to swallow. Though we know the theories, we are also struggling to do it. Then, we are back at our original question: ‘why does Jesus teach something impossible?’

To answer this, we have to see a bigger picture. The teaching to love our enemies is not the only hard saying of Jesus. Through His ministries, Jesus teaches several teachings and commandments that seems unthinkable. Jesus declares that divorce is not the plan of God for man and woman. Jesus reveals that His body is real food and His blood is a real drink, and only by consuming His body and blood we can have eternal life. And, most of all, Jesus unveils the most profound mystery of God, the Trinity, and He Himself is the second person of the Trinity than became flesh. All of these are humanly impossible to do and to believe, but why does Jesus insist on teaching them?

The answer lies in the grace of God. Jesus understands that these are divine revelations, and relying only on human wisdom and strength, we are bound to fail. Thus, the Holy Spirit and His grace supply what is fundamentally lacking in us. Like we cannot believe in Jesus as our Lord unless moved by the Holy Spirit, we will not be able to love our enemies unless the same Holy Spirit empowers us. Jesus knows that His teachings are humanly impossible, but He also gives us the necessary grace to enable us to perform the impossible. Then, loving our enemies is indeed grace-filled love and supernatural love. If we are still finding it hard to love our enemies, perhaps, this is the time to rely more on God’s grace.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »