Browsed by
Month: February 2022

Mengenali kehadiran Allah

Mengenali kehadiran Allah

Senin, 7 Februari 2022

Mrk 6:53-56

            Dalam kehidupan  sehari-hari, tak jarang kita mudah mengenali seseorang yang sudah kita kenal dengan mendengarkan cara dan nada suaranya, cara tertawanya bahkan suara derap langkahnya pun kita bisa mengenalinya. Hal itu terjadi karena kita mempunyai relasi yang dekat dan sangat familiar (akrab) dengan ciri khasnya. Demikian juga apa yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Ketika Yesus mendarat di pantai Genesaret, orang segera mengenali Yesus dan membawa kepadaNya orang-orang sakit agar disembuhkan. Yesus menyembuhkan segala penyakit dan mengampuni dosa yang membelenggu hidup manusia. Menjadikan segala sesuatunya baik, itu tanda kehadiran Yesus. Ia selalu bersedia untuk membantu dan menolong kita, apakah kita mengenal kehadiran Allah dalam segala kebaikan-kebaikan yang kita alami dalam hidup kita?

            Hanya iman yang mampu membantu kita untuk mengenali kehadiran Allah. Dalam iman, Roh Kudus membantu kita untuk terbuka terhadap karya Allah. Roh Kudus membuka mata batin dan menolong kita untuk memahami, menerima dan percaya akan SabdaNya. Kita bertumbuh dalam iman, dengan mendengarkan SabdaNya dan melaksanakannya.

“Tuhan Yesus, biarkanlah hati kami bersukacita akan kehadiranMu. Berilah kepada kami, mata iman untuk mengenali kehadiranNya dan memenuhi hati kami dengan Roh Kudus yang memungkionkan kami berjalan dalam terang iman, kasih dan damai”

The Called

The Called

5th Sunday in Ordinary Time [C]

February 6, 2022

Luke 5:1-11

This Sunday, we listen to the vocation stories of three great persons in the Bible: Isaiah, Paul, and Peter. Indeed, they have their own unique stories with a different context. Isaiah had a vision of the heavenly Temple of God. Paul was making his journey towards Damascus. In contrast, Simon was doing his job as a fisherman. However, there is something common with the three of them.

Simon, Paul, and Isaiah admitted that they were sinners before God. The most obvious case is Paul, who used to be the persecutor of the Church. He was involved in many terrible sufferings of many Christians, and in fact, he saw the Lord in his mission to bind the Catholics in a chain in Damascus. Before the Lord, Isaiah claimed that he was a man of unclean lips and living among the people of the unclean lips. We are not entirely sure what ‘unclean lips’ means. It may refer to the sin of blasphemy that is insulting God’s name. Another possibility is the sin of untruthfulness. Isaiah and the Israelites were living in lies and dishonesty.

Meanwhile, Simon acknowledged before Jesus that he was a sinful man. Again, we are not sure what Simon’s sin was. He might be someone who possessed anger issues, which affected his life and others.

The response of Jesus to Simon’s admission of his sinfulness was not belittling his condition. Jesus never said, “It is fine. It is not a big deal!” Jesus recognized Simon’s human weakness and frailty. Perhaps, in His divine intellect, Jesus knew that Simon would eventually deny Him thrice and run away like a coward. Yet, Jesus still called Simon and said, “Do not be afraid; you will be catching men.”

God does not call Simon, Paul, and Isaiah because they are perfect and blameless men. God calls them despite their sinfulness and invites them to be part of His work. God makes Simon the fisher of men, Paul the greatest apostle to the nations, and Isaiah the great prophet of the Old Testament. Amazing things happen when we say ‘yes’ to God’s plan. They failed and faltered, and God will raise them again. If we say ‘no’ to God’s plan and our excuse is that we are sinful, weak, and incapable, that is false humility and, in fact, lack of faith. We do not trust God enough that He can transform us into a better version of ourselves. We doubt that God will equip us for the mission.

Yet, it is equally vital always to remember who we are: both weak and sinful as well as loved and called. We cannot be boastful if we succeed in our ministries because apart from God, we are nothing. Paul said in his letter that he is the most hardworking among all the apostles, but immediately he admitted that it was because of the grace of God [see 1 Cor 11:10]. Paul eventually concluded, “Whoever boasts should boast in the Lord [1 Cor 1:31].”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah memenuhi hati kita yang lapar

Allah memenuhi hati kita yang lapar

1 Raja-Raja 3:4-13

Markus 6:30-34

Saudara-saudari terkasih,

    Lapar, rasa lapar sudah menjadi pengalaman dasar/hakiki dari setiap orang. Sudah sangat pasti biliunan manusia di planet bumi ini dalam pelbagi situasi dan kondisi mengalami jenis, tingkat kelaparan yang berbeda-beda. Oleh karena itu proses, cara dan kebutuhan untuk mengatasi tingkat kelaparan itupun berbeda-beda.

    Sementara rasa sakit dari kelaparan yang mendalam baik physically maupun spiritually serta tingkat dan proses penanggulangannyapun akan sangat berbeda satu dari yang lain. Lapar akan arti dan makna kehidupan serta jawabannya bukan tidak mungkin dapat dihadapi dan dialami oleh setiap orang. Lapar akan perhatian dan cinta Allah dalam kehidupan ini akan sangat mungkin dirasakan oleh setiap orang yang percaya akan kekuasaan dan kehadiran Allah.

    Bacaan Injil hari ini, Jesus mengetahui betapa laparnya mereka yang sudah sekian lama mengikuti Dia. Meskipun Yesus telah meningatkan para muridnya untuk menarik diri sejenak dan beristirahat, orang banyak masih terus mengikuti Dia. Yesus melihat dan membaca keadaan itu, Yesus mengambil inisiatip untuk pergi ke tempat yang sunyi supaya bisa beristirahat karena orang banyak itu terus mengikuti Dia sampai makanpun Ia tidak sempat. Tetapi ketika Yesus melihat orang banyak yang datang mengikutiNya, maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka. Yesus melihat kerinduan mereka yang sangat mendalam akan kehadiran seseorang yang akan bisa menjadi pemimpin mereka. Dalam Injil hari ini dikatakan bahwa mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Keputusan akhirnya bahwa Yesus mulai mengajakan banyak hal kepada mereka.

Saudara-saudari terkasih,

    Allah tidak hanya mengetahui apa yang kita rindukan, tetapi Allah juga memenuhi kebutuhan kita yang merindukannya. Inilah bukti yang dapat kita jumpai dalam bacaan Injil hari ini dan juga dalam 1 Raja-Raja dari bacaan pertama hari ini dimana kepada Salomo Allah berfirman: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Allah mengetahui bahwa Salomo lapar akan kasih setia Allah dan Allah memberikan kepada Salomo seorang anak yang kemudian menjadi raja.

    Hari ini Allah akan menyampaikan kepada anda dan saya: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu!” Saat ini dan menghadapi dunia zaman ini “kelaparan utama ” akan kasih setia Allah ialah “kesucian”. Kita harus terus menerus memohon kerinduan kita kepada kehadiran Tuhan. Semoga kita tak pernah akan berhenti memohon kejujuran, kesetiaan terhadap Tuhan seperti yang akan kita dan selalu kita peroleh dari meja korban dalam perayaan Ekaristi. Karena dari dan di meja altar itu Yesus akan selalu memenuhi hati kita yang lapar. Amin.

Kepercayaan dan Penyerahan Diri kepada Allah menghantar kita ke kehidupan dan kebajikan

Kepercayaan dan Penyerahan Diri kepada Allah menghantar kita ke kehidupan dan kebajikan

Sirach 47:2-11

Markus 6:14-29

Saudara-saudari terkasih,

    Bacaan-bacaan hari ini kita dihadapkan  dengan dua karakter yang berbeda.  Sirakh menggambarkan David, sebagai seseorang yang memiliki kepercayaan yang sangat besar kepada Allah, sebagai seorang yang juga memberi hatinya dan menaruh kepercayaan yang teguh kepada Allah. Sikap ini mendorong David  menghadirkan perbuatan-perbuatan yang besar atas nama Allah disatu pihak dan David juga segera mengungkapkan kesedihan dan penyesalan ketika ia berbuat dosa, dan melanjutkan pertobatan itu dengan memuji dan memuliakan Allah dalam nyanyian dan tarian. 

    Berbeda dengan  Herod, ia yang meskipun tertarik kepada Yohanes Pembaptis dan Yesus dalam beberapa hal, tetapi ia tidak dengan sungguh-sungguh bertobat dan memusatkan seluruh perhatian dan kasihnya kepada Allah. Sebaliknya ia lebih mengutamakan bagaimana membahagiakan orang lain, membahagiakan para tamunya, puteri isterinya, dan isterinya sendiri, daripada melakukan kebajikan dan menyenangkan hati Tuhan. Kesenangannya ialah hanya mau menyenangkan orang lain dan mengabaikan pandangan buruk dihadapan para tamunya dan para officer dan bahkan ia  memerintahkan mereka membunuh Yohanes Pembaptis. 

Saudara-saudari terkasih,

    Bukan berarti David tidak berdosa, dan tidak berarti bahwa Herod samasekali tidak tertarik kepada hal-hal yang baik. Perbedaannya disini ialah bagaimana mereka mengutamakan perhatian dan cintanya kepada Allah. David telah memusatkan perhatiannya kepada kehendak Allah dan sanggup melakukan perbuatan-perbuatan yang dikehendaki Allah, bahkan langsung berbalik kepada Allah mohon pengampunan setelah berdosa. Herod samasekali mengabaikan perhatiannya kepada Allah dan mengesampingkan perbuatan yang baik untuk Allah dan sesama.

    Bagaimana dengan keadaan kita saaat ini? terutama kita di jaman ini menghadapi begitu banyak hal yang lebih menarik; hidup di dunia yang serba modern dan dengan sangat mudah membuat kita berpaling dan meninggalkan Allah. Hari ini teristimewa untuk anda yang menghadiri peryaan Ekaristi, ketika datang mendekati altar Allah, marilah kita minta kepada Yesus untuk memiliki rahmat yang membuat kita lebih tekun dan percaya akan kehadiran Allah agar kita menjadi lebih dekat dengan Allah dalam kehidupan kita setiap hari. Amin.

Partisipasi aktip dalam perayaan Ekaristi kita diberi tugas dan tanggungjawab untuk mewartakan dan menghadirkan Kristus kepada dunia.

Partisipasi aktip dalam perayaan Ekaristi kita diberi tugas dan tanggungjawab untuk mewartakan dan menghadirkan Kristus kepada dunia.

1 Raja-Raja 2:1-4, 10-12

Markus 6:7-13

  

Saudara-saudari terkasih,

    Dalam setiap perayaan Ekaristi, kita mengenang dan bersyukur atas Korban Salib Kristus – yang dalam bentuk roti diambil, diberkati, dipecah-pecahkan dan diberikan. Injil hari ini, para murid diutus berdua-dua, diberi kuasa atas roh-roh jahat disertai dengan pelbagai aturan dalam menjalani tugas yang diberikan. Pada “Perjamuan Malam Terakhir,” para murid diberi kuasa dan perintah untuk terus melanjutkan dan menghadirkan “Korban Salib Kristus” kepada dunia. Oleh karena itu dalam perayaan Ekaristi selalu ada salib di altar, dimana Yesus sendiri hadir disana.  

    Pada perayaan Ekaristi pertama Yesus memulai pewartaan kabar gembira itu dengan mengutus para rasul. Ia memanggil dan memilih mereka, melakukan seleksi dari sekian banyak murid yang mengikutiNya untuk mewartakan kabar gembira, diberi kuasa atas roh-roh jahat dan menyembuhkan orang sakit mentally, physically dan spiritually. Kehadiran Yesus yang menyelamatkan dalam perayaan Ekaristi dimana roti dan anggur diambil, dipersembahkan menjadi tubuh dan darah Kristus, yang membuat kita hidup.

    Setelah keduabelas rasul itu dipilih, diutus, dan  diberkati selanjutnya para rasul dan para imam sekarang diberi kuasa untuk terus menghadirkan Kristus dalam dan melalui sakramen-sakramen kepada dunia. Sakramen-sakramen adalah “Tanda Kehadiran Yesus yang menyelamatkan.” Oleh karena itu para imam ditahbiskan dalam dan melalui Sakramen Imamat.  Seperti para rasul, imam-imam kita diberi kuasa dan rahmat, dimana mereka mengalami transformasi untuk meneruskan dan melakukan pekerjaan yang sudah dipercayakan kepada mereka.

    Mereka diutus berdua-dua ke seluruh dunia. Injil hari ini mengingatkan saya akan logo yang dipampang di altar ketika saya bersama teman-teman mengikhrarkan kaul kekal dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Bapa dan mama serta sanak keluarga dari masing frater yang berkaul kekal menghadiri misa kaul kekal itu. Mama saya spontan memberi reaksi ketika melihat logo di altar itu yang berbunyi: “Pergilah dari negerimu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;” Mama lalu berkata di dalam hatinya: Aduh anakku mau diutus kemana? Dalam perjalanan waktu, ketika saya menulis renungan ini, reaksi mama saya ketika itu kembali terngiang ditelinga dan dalam hati saya, ternyata benar apa yang dikatakan waktu itu. Sekarang saya bertugas di luar negeri, jauh dari keluarga dan sanak saudara, jauh dari rumah orangtua seperti yang dikatakan dalam Kejadian 12:1. Para murid Yesus diutus berdua-dua, seperti sekarang para imam tersebar di seluruh dunia. 

    Oleh karena itu setiap kali merayakan Ekaristi dan atau setiap kali anda menerima Ekaristi kita masing-masing diberi tugas dan tanggungjawab untuk terus menghadirkan Kristus kepada sesama, kepada dunia. Kita tidak dapat menyimpan Ekaristi itu untuk diri sendiri saja, tetapi kita teruskan Ekaristi, Korban Salib Kristus kepada dunia. Pada akhir dari Perayaan Ekaristi, imam selalu mengumumkan “Perayaan Ekaristi telah selesai, kembalilah dan wartakan kemuliaan Allah dengan hidupmu!” Amin.

Translate »