Browsed by
Month: April 2022

MENERIMA KESELAMATAN

MENERIMA KESELAMATAN

Selasa, 5 April 2022


Yohanes 8:21-30

Yesus berusaha meyakinkan kepada orang-orang Yahudi yang menolak dan tidak percaya kepada -Nya, bahwa Dia datang dari Allah Bapa untuk menyelamatkan umat manusia. “Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia.”(Yoh 8:26).

Mereka sulit percaya hingga pada akhirnya tokoh-tokoh orang Yahudi menghukum mati dan menyalibkan Yesus. Pada saat Yesus di kayu salib itulah, mereka semua baru tercengang dan tahu bahwa apa yang dikatakan Yesus benar.  “Maka kata Yesus: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku.”(Yoh 8:28).

Dengan demikian melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib tersingkap semua kebenaran yang ada di dalam diri Yesus Kristus dan Allah Bapa yang selalu ada bersatu dengan Dia. “Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”(Yoh 8:29). Oleh karena itu setiap orang yang memandang Salib Kristus dihantar untuk suatu pertobatan; dari yang awalnya acuh tak acuh dan menolak Yesus berubah menjadi percaya kepada-Nya dan akhirnya menerima keselamatan. “Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”(Mrk 15:39).

Namun sebaliknya jika mereka tetap berkeras hati, maka mereka tetap di dalam dosanya. Dan ketika dosa masih menguasahinya berarti tidak percaya kepada Tuhan, karena ia lebih percaya pada dirinya sendiri. Apakah hal itu bukan seuatu kesombongan? karena manusia menjadi ada dan bisa menerima keselamatan bukan dari dirinya sendiri, melainkan karena kasih dan kemurahan Allah. Kalau manusia tidak percaya kepada-Nya, berarti mau percaya kepada siapa?  “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.”(Yoh 8: 24).

Didik, CM 

HATI YANG REMUK TIDAK DIPANDANG HINA

HATI YANG REMUK TIDAK DIPANDANG HINA

Senin, 4 April 2022


Yohanes 8:1-11

Yesus menyatakan di dalam tindakan perlindungan pada orang yang lemah dan menegaskan bahwa setiap orang perlu melihat dirinya sendiri agar memiliki kesadaran bahwa ia adalah pribadi yaag berdosa, sehingga ia tidak dengan mudah menghakimi sesamanya. Jika seseorang sadar sebagai orang yang berdosa, maka ia tidak akan menbicarakan dosa-dosa sesamanya apalagi mempermalukannya di muka umum. “Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh 8:7).

Dengan demikian Yesus lebih menghargai orang yang sadar akan segala dosa-dosanya daripada orang merasa dirinya lebih baik atau lebih benar dari orang lain. Hati yang remuk penuh dengan menyesalan tidak dipadang hina oleh Allah dan kemudian Dia menawarkan belas-kasihan dan pengampunan kepada mereka yang datang kepada-Nya. “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”(Mzm 51:19).

Oleh sebab itu, sikap yang perlu terus diusahakan sebagai murid Kristus adalah keberanian untuk melihat diri apa adanya dihadapan Allah dan datang kepada-Nya memohon kengampunan.  Dia melihat apa yang di dalam hati manusia. Karena itu Allah mengetahui anak-anak-Nya yang menyesali dosa-dosanya dan ingin kembali kepada-Nya. Dan mereka yang datang kepada Allah akan diampuni segala dosa-dosanya. “Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”(Yoh 8:11).

Yesus Kristus melalui Gereja-Nya menyediakan rahmat pengampunan dosa di dalam Sakramen Tobat. Rahmat pengampunan tersebut disalurkan lewat Petrus ( pemimpin Gereja di dunia) dan pengantinya, serta dipercayakan juga kepada para pembantunya yaitu para uskup dam imam.  “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19). Namun yang sering terjadi, tidak sedikit umat yang engan datang kepada Allah untuk memohon pengampunan,  terutama di dalam penerimaan Sakramen Tobat. Jika seseorang percaya pada Allah yang Maha Rahim, ia tidak akan menyia-yiakan rahmat pengampunan yang ditawarkan Allah kepadanya.

Didik, CM 

Writing on the Sand

Writing on the Sand

5th Sunday of Lent [C]

April 3, 2022

John 8:1-11

Jesus was facing an unsurmountable dilemma when confronted with a woman caught in adultery. The Pharisees demanded that Jesus throw her with a stone, following the Mosaic Law, which reads, “If anyone is caught sleeping with a married woman, both of them must die [Deut 22:22].” However, the flip side was that every Israelite at that time knew that they were not allowed by Roman Law to carry out the death penalty. So, if Jesus had not thrown the stone, He would have been accused of being unfaithful to the Law and not a man of God. However, if Jesus threw stones, He would be dealing with the Romans. What did Jesus do?

Jesus wrote on the ground. What did Jesus write? We don’t know for sure, and quite a lot of opinion has developed over the last thousand years. However, there is one interesting tradition about this. Jesus was fulfilling Jeremiah’s prophecy. About 600 years before Christ, Jeremiah once prophesied that ‘those who have turned away from Thee will be written on the earth because they have forsaken God, the fountain of living waters [cf. Jer. 17:13].’ Jesus was writing the names of those who had put Him to the test, the fountain of living water [cf. John 7:38].

Now it’s Jesus’ turn. Jesus threw this question back at them, “Who is without sin, let him throw the first stone.” Of course, Jesus was sinless, but the Pharisees always clamoured that they were an elite group who lived blemished according to the Mosaic Law and even had an obsession to force others to live Mosaic Law their ways. So it’s as if Jesus was saying, ‘OK, you who claim to be the perfect enforcers of the Mosaic Law, throw the first stone and prove that you are truly faithful to the Torah.’

A surprising thing happened. The Pharisees chose not to throw stones. They would rather disobey the Mosaic law than deal with the Romans. This shows that they are nothing more than opportunists and hypocrites. In front of the crowds, they showed themselves to be lovers of the Law, but they were ready to leave the Law in a disadvantageous situation.

It’s incomplete if we don’t see a little bit of Jesus’ action towards the woman. Jesus didn’t throw stones, but that doesn’t mean Jesus condoned or tolerated what happened. Jesus clearly said, ‘Go, and sin no more.’ Jesus stated that this woman was a grave sin that violated the sanctity of married life. However, Jesus, the God who has the right to forgive, read this woman’s contrite heart. Jesus forgave her. However, Jesus’ forgiveness was not cheap. Jesus demanded a radical change from a life of sin.

Who are we in this story? Are we like the Pharisees who are busy finding fault with others? Are we like those busy showing off, but we run away when we face a tough choice? Are we the ones who wallow in sin and don’t know what to do? Or, are we those who cannot appreciate the grace of God?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

MENERIMA DENGAN RENDAH HATI

MENERIMA DENGAN RENDAH HATI

Sabtu, 2 April 2022


Yohanes 7:40-53

Yesus datang untuk memberikan harapan dan keselamatan kepada umat manusia. Banyak orang yang telah melihat Dia dan merasakan kasih dan kebaikan-Nya kemudian percaya bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yang telah diramalkan dan ditulis oleh para Nabi di dalam Kitab Suci. Akan tetapi ada sebagian kelompok orang yaitu Farisi dan ahli Taurat yang tidak percaya dan menolak Yesus, dan bahkan mereka menganggap orang-orang yang percaya kepada Yesus, sebagai orang-orang yang sesat. “Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan?”(Yoh 7:45-47).

Dengan demikian orang-orang yang tidak percaya Yesus justru dari kalangan orang-orang terpandang dalam masyarakat yaitu orang Farisi dan Ahli Taurat. Mereka juga mau menangkap Yesus dan menghalangi semua orang untuk bisa mengenal Yesus dan percaya kepada-Nya dengan kata-kata, hujatan-hujatan dan ancaman-ancaman. “Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya.”(Yoh 7:43-44). Mengapa mereka sulit menerima dan percaya kepada Yesus? Semua itu berasal dari kesombongan. Mereka merasa lebih tahu dan ahli dari pada orang lain. Bagi mereka bukan soal kebenaran yang penting sebab yang lebih penting adalah kehormatan dan status mereka yang perlu mereka amankan. Mereka tidak mau ajaran yang mereka pegang dan mereka ajarkan dikalahkan oleh siapa pun. Kehadiran Yesus membuat status mereka terancam karena banyak orang datang dan lebih percaya kepada Yesus dan pengajaran-Nya. “Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea!”(Yoh 7:40-41).

Karena kesombongan, orang Farisi dan ahli Taurat menjadi buta hatinya dalam melihat karya keselamatan Tuhan Yesus. Karena hati mereka tertutup maka mereka tidak bisa menghargai segala hal yang baik yang telah dilakukan Tuhan Yesus. Dengan demikian, sebelum orang bisa percaya, ia harus berani menyangkal dirinya sendiri, yaitu ke “akuan”- nya, agar ia menyadari dirinya sebagai orang  berdosa dan merindukan belas kasih Allah. Dengan sikap rendah hati maka seseorang akan bisa menerima Yesus dan percaya kepada-Nya. “Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.”(Mzm 149:4)

Didik, CM 

Translate »