Browsed by
Month: June 2022

PENYELENGGARAAN ALLAH

PENYELENGGARAAN ALLAH

Sabtu, 25 Juni 2022



Lukas 2:41-51

Yesus hadir di dalam keluarga Kudus Nasaret. Kehadiran-Nya menjadi tanda yang nyata bahwa Dia peduli dengan keluarga-keluarga yang siap menerima-Nya. “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.”(Luk 2:51). Tuhan tahu bagaimana perjuangan masing-masing keluarga untuk bisa selalu baik. Namun tidak ada keluarga yang tidak memiliki tantangan dan kesulitan. Maria dan Yosef pernah mengalami kecemasan yang luar biasa ketika mereka berpisah dan kehilangan  Yesus putera mereka beberapa hari.  “Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”(Luk 2:48).

Jawaban Yesus kepada orangtua-Nya menjadi kunci jawaban atas persoalan-persoalan yang dialami oleh semua keluarga, yaitu “Ada bersama dengan Allah Bapa”. “Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49). Ketika kecemasan datang, semua orang pertama-tama akan merasakan kehilangan harapan dan sedih, namun ketika mereka dengan penuh iman datang kepada Bapa dan menyerahkan pergulatanya kepada-Nya, maka akan muncul kembali kekuatan dan harapan tersebut. Bisa jadi pada saat menghadapi persoalan tersebut mereka tidak langsung bisa memahami. “Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.”(Luk 2:50).  Bunda Maria menghadapi satu demi satu tantangan yang dihadapi dengan imannya dan dengan itu Maria bisa merenungkannya dan akhirnya mengerti. “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.”(Luk  2:19). Bunda Maria memberikan teladan bagi setiap orang untuk berani percaya kepada Penyelenggaraan Allah (ILAHI) atas hidupnya. “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”(Luk 1:38).

Didik, CM 

BERSUKA CITA

BERSUKA CITA

Jumat, 24 Juni 2022



Lukas 15:3-7

Tuhan Yesus menyatakan kepada para murid-Nya bahwa di hadapan Allah, setiap orang adalah pribadi yang berharga. Oleh karena itu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya agar mereka tetap tidak jauh dari Allah, bahkan Dia rindu selalu dekat dan menjadi satu dengan murid-murid-Nya. “Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.”(Yoh 17:11). Ketika mereka jatuh dalam kelemahan, Yesus mendorong mereka untuk datang kepada-Nya dengan penyesalan dan bertobat lalu menerima mereka kembali untuk menerima damai-Nya. “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”(Yoh 15:7).

Dengan demikian, Allah yang Baik tidak menginginkan anak-anak-Nya berjalan dijalan yang salah dan karena Dia mengasihi mereka, Dia menarik mereka menuju tempat yang aman dan berjalan di jalan yang  benar. Allah mengasihi bukan seperti manusia mengasihi sesamanya sebab  Dia adalah  Baik.  “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku.”(Mzm 27:10-11).

Oleh karena itu, agar kerinduan Tuhan Yesus untuk selalu dekat dengan murid-murid-Nya tercapai maka diperlukan keterbukaan hati dari manusia. Dia tidak pernah memaksa anak-anak-Nya ketika Tuhan mau masuk di dalam hidup mereka.
“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”(Wahyu3:20).

Dan Dia juga tidak pernah menutup pintu hati-Nya untuk anak-anak-Nya yang ingin kembali ke rumah. “Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.”(Wahyu 3:8). Dengan demikian, kemana arah hidup ditentukan, Allah yang mengarahkan dan manusia menjawab-Nya, jika seseorang percaya akan belas kasih Allah, maka mereka berjalan bersama-Nya dan suka cita dan damai akan dialirkan kepadanya.
“…dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.(Luk 15:6).

Didik, CM 

KEKUATAAN DARI DALAM

KEKUATAAN DARI DALAM



Matius 7:15-20

Murid-murid Kristus berjalan dalam hidup, tidak sendirian, mereka berjalan bersama dengan-Nya di dalam Roh Kudus , mereka dituntun ke jalan yang benar. “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.”(Yoh 14:18). Oleh karena itu, mereka memiliki di dalam diri daya hidup yang kekal dari Allah sendiri yang memampukan mereka untuk melakukan hal-hal yang berkenan kepada Allah, yaitu hal-hal yang baik yang berdampak baik pula bagi sesamanya, seperti garam yang mampu memberikan daya positif. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”(Mat 5:13).

Dengan demikian setiap murid Kristus memiliki daya kekuatannya bukan dari luar(dunia), tetapi dari dalam ( Roh Allah yang diam di dalam hati ). Oleh karena itu jika masing-masing menghayati atau menghidupi imannya dan menyadari kasih serta penyertaan Allah, maka mereka akan mampu melakukan hal-hal yang baik. Oleh karena kasih setia Tuhan Yesus yang mereka percayai , maka mereka menjadi pohon yang baik, yang menghasilkan buah-buah yang baik pula. ” Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.”(Mat 7: 17).

Oleh karena itu, setiap murid Kristus bisa berjalan dalam pengharapan dan kebenaran karena penyertaan Allah. Ketika jiwa seseorang sudah menyatu dengan Roh Allah maka ia akan haus dan rindu akan kebenaran-nya. “Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.”(Mzm 25:5).

Didik, CM 

MEMILIH JALAN

MEMILIH JALAN

Selasa, 21 Juni 2022



Matius 7:6.12-14

Setiap murid Kristus dipanggil untuk menjadi pewarta kebaikan Allah yang telah mengutus Yesus.Kristus untuk menugerahkan pengampunan dosa atau penebusan. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.”(Efesus 1:7). Oleh karena itu sebelum seseorang bisa mewartakan kebaikan Allah, ia terlebih dahulu perlu yakin atau percaya bahwa Dia telah lebih dahulu berbuat baik kepadanya dan mengasihinya. Sebab seseorang tidak akan bisa berbagi atau memberi jika ia tidak memiliki terlebih dahulu.  Artinya, jika seseorang sudah bisa merasakan dan memiliki pengalaman  kasih dari Allah, ia tidak akan memiliki kesulitan untuk berbuat baik kepada orang-orang disekitarnya. “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”

Dengan demikian perbuatan baik dan tulus muncul dari pengalamannya bersama dengan Tuhan yang telah menganugerahkan kasih dan kebaikan-Nya untuk anak-anak-Nya. Jika relasi seseorang dengan Tuhan Yesus tersendat-sendat (kadang ingat, kadang tidak), jarang, dan bahkan putus, maka ia tidak memiliki apa-apa untuk bisa dibagikan sebagai berkat (kebaikan),  dimana kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan dengan tulus tersebut sebagai jalan keselamatannya. Oleh karena itu, tidak cukup orang mencari dan mengumpulkan tetapi juga perlu orang mensyukuri berkat-berkat yang sudah ada yang semua itu berasal dari Tuhan sendiri dan kemudian membagikannya kepada sesama yang membutuhkan sebagai wujud syukurnya kepada Allah. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”(Mat 7:12).

Dengan demikan Tuhan Yesus ingin para murid-Nya tidak berhenti pada diri mereka sendiri tetapi siap diutus untuk menyatakan hidup mereka dalam banyak perbuatan baik (kasih), sebab untuk itulah mereka dipilih. Jalan yang mereka  lalui adalah jalan yang telah dilalui Kristus sendiri, yaitu jalan yang jarang dilalui orang banyak, namun jalan tersebut telah membawa-Nya pada Kebangkitan dan keselamatan bagi umat manusia. “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”(Mat 7:13-14).

Didik, CM 

BELAJAR DARI SANG GURU

BELAJAR DARI SANG GURU

Senin, 20 Juni 2022



Matius 7:1-5

Yesus mendorong para murid-Nya untuk selalu bertindak benar dan rendah hati. Dengan sikap rendah hati dan merindukan kebenaran, mereka akan mudah untuk melihat diri dengan aneka kekurangannya. Jika hal itu terjadi,  maka mereka akan juga mudah memahami keterbatasan- keterbatasan sesamanya.(Mat 7:1). Dari manakah seseorang memiliki karakter yang siap untuk bersikap rendah hati? Yesus adalah guru dan Tuhan, karena itu Dialah yang telah lebih dahulu berlaku dan bertindak rendah hati dan mengajak mereka untuk datang kepada-Nya. “….yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 7: 6-7)

Oleh karena itu, semua murid Kristus diajak untuk mengikuti cara berpikir, cara menilai dan cara bertindak yang ada di dalam Yesus Kristus. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,”(Filipi 2:5).  Sebab dengan mengikuti Kristus semua orang akan diubah menjadi rendah hati dan hidup mereka akan diarahkan pada kebenaran. Seperti seorang murid yang siap untuk tekun belajar, demikian setiap murid Kristus didorong untuk belajar dari Yesus Kristus. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”(Mat 11:29). 

Dengan demikian, setiap murid Kristus memiliki tanggung jawab untuk terus belajar dan berjalan mengikuti Kristus. Sikap yang dibutuhkan untuk bisa belajar adalah rendah hati. Nilai-nilai kebenaran dari Allah akan secara bertahap ternaman di dalam masing-masing murid Kristus ketika mereka memiliki sikap rendah hati. “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu”(Yoh 13:13-14).

Didik, CM 

Translate »