Browsed by
Month: June 2022

The Real and Saving Presence

The Real and Saving Presence

The Solemnity of Corpus Christi [C]
June 19, 2022
Luke 9:11-17

The feast of Corpus Christi draws our intentions into the one of the greatest mysteries. In the Eucharist, especially when the priest says the words of consecration and lifts the bread and the chalice of wine, the greatest miracle takes place before our eyes. The sacrifices are no longer bread and wine, but the Body and the Blood of our Lord Jesus Christ. Since the living body and blood cannot be separated from humanity of Christ, we receive the entire humanity of Jesus. Sine the humanity of Jesus cannot be severed from His divinity, we have the entire humanity and divinity of Christ. In the Eucharist, we partake the totality of Christ.

How is it possible? The greatest minds the Church has ever had tried to explore the mystery. St. Thomas Aquinas has distilled the saints and the genius before him, and he came up with a fancy term, ‘transubstantiation.’ Simply put, the substance of bread and wine are changed into the substance of the Body and Blood of Jesus, while the old appearances remain. When we ask ‘what is it?’ we no longer answer bread and wine, but the Body and Blood of Christ, despite what we see is the appearance of bread and wine. How is it possible? The only answer is miracle!

It seems like non-sense, but our faith tells us that nothing is impossible for God. If God could and did create the universe [or multiverse], if God could fashion the hierarchy of angels, if God is sustaining sub-atomic particles and prevents them going back to nothingness, if God could make a miracle called life, God can easily bend time and space and be present in the Eucharist.

In fact, this is the greatest miracle. In the Gospel, Jesus performed miracle of the multiplication of bread for five thousand men. Jesus’ miracle is just second to the miracle of manna in Exodus, where God provided food for thousand Israelites in the desert for forty years. Yet, even these miracles fail in comparison to Eucharist. Why? While the miracle of Manna in Exodus and the multiplication of bread in the Gospel are off-the-chart miracles, they primarily address human biological needs, or bodily hunger. The Eucharist, in the other hand, does not primarily solve the world hunger, but fills the deeper spiritual hunger.

The more fundamental question is why? As Jesus promised, “Those who eat my flesh and drink my blood have eternal life, and I will raise them up on the last day [John 6:54]” The Eucharist is for us and for our salvation. God so loves us to the point that He became a man like us, and not only becoming a man, He offers His life as a sign of His most profound love. Yet, for Him, the cross is not enough. He keeps giving His body and blood, His total self to us. There is no greater love that to lay down one’s life for one’s friends [John 15:13], and Jesus offers His life again and again in the Eucharist. This is how much God loves us!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

MELIHAT HARAPAN

MELIHAT HARAPAN

Sabtu 18 Juni 2022



Matius 6:24-34

Yesus mengajak para murid-Nya untuk tidak kuatir di dalam hidup. ” Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”(Mat 6:34).
Bagaimana bisa lepas dari kekuatiran tersebut? Kekuatiran muncul karena kekurangan harapan atau orang tidak melihat adanya harapan tersebut. Oleh karena itu agar kekuatiran berkurang maka harapan perlu ditambah atau diperkuat. Harapan akan semakin kuat ketika seseorang percaya akan Allah yang Maha baik, penyelenggara hidup, yang memperhatikan semua yang telah diciptakan-Nya dan memberikan apa yang dibutuhkan mereka.  “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”(Mat 6:26).

Oleh karena itu, jika masing-masing orang ingin memiliki harapan yang kuat maka mereka perlu memperdalam imannya. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”(Ibrani 11:1). Dengan iman tersebut setiap orang akan melihat harapan, sehingga mereka berani melangkah dalam perjalanan hidup. Bagaimana bisa memperkuat iman? Iman adalah anugerah Tuhan , namun juga jawaban manusia, yang artinya anugerah tersebut perlu disadari. Oleh karena iman yang kuat muncul dari kesadaran akan Allah yang Maha Baik yang tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Oleh karena itu, kesadaran tersebut perlu terus diusahakan dengan cara menjalin relasi yang dekat dengan Allah yang mengutus Yesus Kristus sebagai penyelamat dan Roh Kudus yang selalu menyertai perjalanan hidup manusia. “..dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”(Mat 28:20).

Didik, CM 

DEKAT DENGAN TUHAN

DEKAT DENGAN TUHAN

Jumat, 17 Juni 2022



Matius 6:19-23

Kehidupan adalah anugerah Allah, sebab Dialah yang memiliki hidup ini. Oleh karena itu, pada hakekatnya setiap orang tidak bisa dipisahkan dengan Allah penciptanya. Jika terpisah maka manusia akan kehilangan daya hidupnya. “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”(Yoh 15:5).

Dengan demikian di dalam kedekatan relasi dengan Tuhan Yesus, seseorang akan memiliki kelimpahan kekayaan rohani yang datang dari Allah, sebab di dalam  Yesus Kristus manusia menemukan Sang Penyelamat yang diutus-Nya. Oleh karena itu, Yesus mendorong para murid untuk mengupayakan menerima apa yang dimiliki oleh Allah sendiri, sebab apa yang diberikan oleh Allah adalah damai sejahtera dan keselamatan. “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.  Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”(Mat 6:20-21).

Dengan demikian, ketika seseorang bersatu dengan Tuhan Yesus, ia bersatu dengan Allah Bapa, dan ia akan menerima “hidup yang mulia” dari -Nya. “Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau”(Yoh 17:22). Oleh karena itu, Yesus tidak henti-hentinya mendorong para murid-Nya untuk datang kepada-Nya dan bersatu dengan-Nya.  Dan kedekatan dengan Kristus bisa terjadi saat mereka banyak berbuat baik kasih kepada sesamanya, terutama bagi mereka yang menderita. “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”(Mat 25:40).

Didik, CM 

BAPA KAMI

BAPA KAMI

Kamis, 16 Juni 2022



Matius 6:7-15

Tuhan Yesus mendorong para murid-Nya untuk menyadari dan percaya akan kebaikan Allah.  Cara untuk selalu menyadari akan kebaikan dan kasih Allah adalah melalui doa. Doa bukan berarti sebatas berkata-kata tetapi Doa adalah ungkapan relasi penuh iman akan Allah yang Maha Baik. Oleh karena itu, Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, agar lewat doa tersebut mereka selalu menyadari akan kasih dan kebaikan Allah yang menyelanggaran hidup dengan menyebut BAPA, serta tahu apa yang harus dilakukan agar kehendak Allahlah yang terjadi. “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu.”(Mat 6:9-10).

Dengan demikian, melalui Doa Bapa Kami , setiap orang yang percaya diarahkan untuk selalu tinggal dalam relasi yang dekat dengan Allah Bapa yang memberikan kecukupan  untuk damai dan sejahtera bagi anak-anak-Nya serta mereka siap juga melakukan kehendak-Nya. “…datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”(Mat 6:10). Yesus juga mengarahkan hati setiap orang yang berdoa untuk melihat bahwa relasi yang baik dengan Allah Bapa mendorong juga untuk menjaga relasi yang baik dengan sesama mereka. “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”(Mat 6:11-12).

Didik, CM 

SAKSI KRISTUS

SAKSI KRISTUS

Rabu, 15 Juni 2022



Matius 6:1-6.16-18

Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya sikap tanpa pamprih atau tanpa maksud lain, misalnya untuk memegahkan diri dalam berbuat baik. Sikap ini merupakan sikap yang pokok yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya. “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.”( Mat 6:1).  Disisi lain Yesus mengajak para murid-Nya untuk menjadi saksi dan mewartakan belas kasih Allah kepada sesama. Oleh karena itu, pada saat mewartkan kebaikan Allah dalam tindakan maka mereka melakukannya sungguh-sungguh dimotivasi untuk memuliakan Allah,  dan bukan untuk kemegahan diri. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Mat 5:16).

Dengan demikian, panggilan semua orang yang percaya pada Kristus adalah menjadi saksi Kristus atau menjadi pewarta Tuhan,  dan di dalam mewartakan kebaikan Tuhan fokus yang utama adalah bagaimana supaya mereka yang melihat kesaksian hidup orang beriman menjadi semakin mengenal dan percaya kepada Tuhan. “Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.”( Kis 22: 15 ). Tantangan mereka adalah diri mereka sendiri untuk berani menyangkal diri dari kesombongan dan hal-hal yang buruk yang melemahkan semangat mereka untuk memberikan diri kepada Tuhan serta menjadi alat-alat-Nya. “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”(Mat 16:24).

Didik, CM 

Translate »