Browsed by
Month: September 2022

PERMOHONAN KEPADA ALLAH

PERMOHONAN KEPADA ALLAH

Sabtu, 10 September 2022


Lukas 6:43-49

Yesus mendorong kepada para murid-Nya keberanian untuk menata hati dan pikiran mereka, agar tetap terarah pada yang baik dan benar, sebab segala perkataan dan perbuatan seseorang berasal dari dalam diri mereka sendiri.  “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”(Luk 6: 45). Oleh karena itu, yang penting adalah bagaimana menjaga supaya hati dan pikiran manusia tetap sejalan dengan hati dan pikiran Kristus.

Yesus Kristus hidup di dunia mengalami semua yang dialami setiap orang. Peristiwa demi peristiwa dari lahir sampai wafat-Nya menujukkan betapa Dia telah menemani, menguatkan dalam pergulatan yang tidak mudah, dan menyelamatkan manusia, bahkan akhirnya Dia harus melewati masa dan peristiwa yang sulit dan penuh penderitaan ketika dikhianati oleh murid-Nya, dihina, diadili , disiksa dan di salibkan. Sekalipun demikian hebat penderitaan yang harus ditanggung, namun Dia tetap menjaga hati dan pikiran- Nya baik. Dia mengampuni semua orang yang telah membawa-Nya ke gunung Golgota. “Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.”(Luk 23:34).

Yesus bisa mengampuni mereka karena hati-Nya penuh dengan belas kasihan. Oleh karena itu, Dia mengajak para pengikut-Nya untuk menerima-Nya di dalam hati mereka agar Roh Kudus bekerja di dalamnya dan menganugerahkan hati yang baru kepada mereka.” Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”(Yehezkiel 36:26). Hati yang baru berasal dari Allah sendiri dan akan dianugerahkan kepada mereka yang siap dan memohon kepada Allah.

Didik, CM 

MERINDUKAN DAMAI

MERINDUKAN DAMAI

Jumat, 9 September 2022. 




Lukas 6: 39-42

Yesus mengajak kepada para murid-Nya untuk senantiasa berjuang melawan di dalam diri mereka kecenderungan-kecederungan yang tidak baik yang lebih melihat diri mereka lebih baik dari orang lain. “Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”(Luk 6:41). Pernyatakan Yesus tersebut mau mendorong para pengikut-Nya untuk bersikap rendah hati. Sikap inilah yang diperlukan seseorang untuk bisa mengatasi kecenderungan-kecenderungan yang bisa merusak kepribadiannya , dan juga merusak relasi yang baik antar sesama dan relasi yang baik dengan Allah.

Oleh karena itu perjuangan yang panjang dan berat sebenarnya melawan diri sendiri. Bukan berarti membenci diri sendiri, namun melepaskan dirinya dari segala pikiran jahat  yang merusaknya. Namun tidak jarang, banyak orang justru menjadikan dirinya sebagai pusat dari segala-galanya sehingga menganggap lebih dari orang lain dan bahkan bisa juga berlaku jahat kepada mereka yang tidak mereka sukai. “Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat?”(Luk 6:42).

Dengan demikian Yesus mengajarkan bahwa kedamaian tumbuh dari dalam dirinya sendiri ketika mereka dengan pertolongan Tuhan mampu melepaskan diri dari segala keinginan jahat. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”(Yoh 14:27). Dengan demikian, mereka yang berani mengalahkan dirinya sendiri adalah mereka yang merindukan kedamaian yang ditawarkan oleh Kristus, damai yang bersumber dari dalam /iman akan Tuhan Yesus yang baik.

Didik, CM 

MISKIN DIHADAPAN ALLAH

MISKIN DIHADAPAN ALLAH

Rabu, 7 September 2022



Lukas 6:20-26

Yesus mendorong para murid-Nya untuk hidup dalam iman. Iman adalah anugerah Allah dan sekaligus jawaban dari manusia. Agar seseorang bisa percaya kepada Allah maka ia perlu memiliki sikap kerendahan hati dimana seseorang menyadari kerapuhannya dan membutuhkan belas kasihan Allah. Hati yang demikian adalah hati yang miskin dihadapan Allah atau membutuhkan kerahiman dan kasih Allah.
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.”(Luk 6:20). Oleh karena itu  kepantasan seseorang dihadapan Allah terletak pada ketidakpantasannya dihadapan-Nya. Dengan demikian, tidak ada ruang untuk kesombongan di hati seseorang yang percaya kepada Kristus.

Oleh karena itu, setiap orang yang ingin dekat dan percaya kepada Kristus ia perlu mengosongkan dirinya dari segala bentuk keinginan yang jahat. Mengapa ? Karena hal-hal yang jahat itu bertentangan dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, Kristus mendorong para murid-Nya untuk melawan semua kecenderungan yang melawan kebaikan.
“Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”(Luk 6:26). Dengan demikian sikap hati : miskin dihadapan Allah menjadi landasan bagi pertumbuhan iman yang menopang hidup penuh harapan dan kasih yang tulus.
“Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia” .(Amsal 10:28)

Didik, CM 

MENJADI PELAYAN

MENJADI PELAYAN

Selasa, 6 September 2022



Lukas 6:12-19

Kehadiran Yesus membawa kebaikan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. “Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.”(Luk 6:19). Oleh karena itu, Yesus rindu bahwa kehadiran-Nya yang menyelamatkan bisa dirasakan oleh semua manusia. Agar banyak orang mengalami kasih dan kebaikan Kristus maka Dia memilih dan mengutus para murid-Nya agar pewartaan Injil kabar suka cita Kristus bisa menyerbar kemana-mana.
“Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul”.(Luk 6:13).

Oleh karena Kristus melibatkan orang-orang pilihan-Nya dalam karya keselamatan. Sekalipun mereka manusia yang memiliki kelemahan dan keterbatasan, namun karena  kekuatan dan karya Roh Kudus maka mereka dimampukan, sebab tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki-Nya. “Kata Yesus: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.” (Luk 18:27). Dengan demikian Kristus menyatakan pewartaan kabar suka cita Kristus perlu diwartakan ke banyak orang agar Kerajaan Allah hadir di dalam diri masing-masing orang. Siapakah mereka yang siap diutus? Yaitu mereka yang telah percaya dan menjadi murid Kristus.  Apakah hal itu mungkin karena setiap orang memiliki keterbatasan. Semuanya menjadi mungkin karena yang bekerja adalah kekuatan Allah sendiri. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah kesediaan diri untuk menjadi alat dan sarana serta menjadi pelayan-Nya.
“Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”(Yoh 12:26).

Didik, CM 

BERBUAT BAIK

BERBUAT BAIK

Senin,5 September 2022



Lukas 6:6-11

Yesus mengajak para murid-Nya untuk melakukan hal-hal yang baik sebagai ungkapan iman mereka dan atas penghormatan pada hari Sabat. “Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?”  Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.”(Luk 6:9-10). 
Mengapa demikian?  Karena iman bukan sesuatu yang dipendam dan digenggam untuk dirinya sendiri, namun iman pada hakekatnya sesuatu yang memancarkan cahaya dan harapan bagi semua orang. “Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya.”(Luk 11:33).

Dengan demikian, hal yang penting untuk mewujudkan iman dan meghormati Hari Sabat ( Allah ) adalah dengan tulus hati banyak berbuat baik. Dengan cara itu juga seseorang bersaksi akan Allah yang baik, dan mendorong banyak orang untuk sampai kepada Allah dan memuliakan nama-Nya. ” Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Mat 5:16). Oleh karena itu, jika seseorang telah beriman, ia tidak akan diam ketika melihat saudara-saudaranya dalam kesulitan.

Didik, CM 

Translate »