Browsed by
Month: October 2022

How to Persevere in Prayer

How to Persevere in Prayer

29th Sunday in Ordinary Time [C]
October 16, 2022
Luke 18:1-9

Jesus gives us a powerful lesson through his parable of a persevering widow and the wicked judge. Initially the judge had no interest whatsoever to the request of the widow, since widow was one of the weakest and poorest groups in ancient societies. Yet, the widow was extremely persistent and would not stop until her request for justice was rendered. The judge eventually gave in and granted the plea.

Jesus once again employed the teaching technique of His time, “Kal V’homer” (literally, light and heavy). Simply put, this method compares and contrasts two things. What applies in a less important case will certainly apply in a more important one. Thus, Jesus taught that if the terrible judge can eventually do good because of the widow’s perseverance, the more God will do infinitely good for those who hope and approach Him.

In this reflection, we will not only explore the ‘why’ we need to pray persistently, but also, on ‘how’ we can persevere in prayer. Surprisingly, the answer can be found in our first reading. The Church gives us the story of the Israelites battling the Amalekites (Exo 17:8-13). Amalek was an ancient nomadic tribe living in Sinai region in time of Exodus, and as Israelites passed their area, Amalek decided to wage war. As an act of self-defense, Moses sent Joshua and his men to battle the Amalek, and to ensure the victory, Moses would pray and intercede for them. As long as Moses kept his hands raised up, Israel had the better of the fight, but when he let his hands rest, Amalek had the better of the fight. However, the battle lasted the whole day, and naturally Moses grew tired. Thus, to sustain his prayers, his companions, Aaron and Hur, decided to support his hands until the victory was achieved.

From here, we discover that when our prayer seems unanswered, it does not mean there is nothing at all. Like the Isreal had the upper hand, when Moses prayed, though it was still far from the victory, so also something good is happening when we keep praying, though we do not see the result yet. St. Augustine once wrote to Proba, “[He] wants us rather to exercise our desire through our prayers, so that we may be able to receive what He is preparing to give us. His gift is very great indeed, but our capacity is too small and limited to receive it.”

Then, how will we persevere in prayers? As Aaron and Hur supported Moses in his prayer, often we also need a support system or a community. This wisdom is coming from our human nature, as social being. Thus, Jesus calls us not only as individual, but also Church, an community of believers. Since the beginning, we pray and worship as one community, and this is one of the reasons why the Church continues to grow despite so many persecutions. Surely, we can pray alone, but as we get tired and see no result, good companions in prayers will make things bearable. A man has a sacred duty to lead his family in daily prayer, and the task can be burdensome, but if his wife encourages and accompanies him, the holy obligation can be source of joy.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

KESADARAN ORANG BERIMAN

KESADARAN ORANG BERIMAN

Sabtu, 15 Oktober 2022



Lukas 12:8-12

Tuhan Yesus berusaha untuk menyadarkan kepada para pengikut-Nya, yaitu mereka yang telah percaya kepada Yesus Kristus, bahwa Roh Kudus selalu menyertai mereka, dalam setiap peristiwa hidup. “Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:11-12).

Dengan demikian, ketika seseorang percaya dan menyadari penyertaan Allah, maka ia tidak lagi merasa sendirian, dan akan memperoleh kekuatan dari Allah sendiri, sehingga ia mampu menghadapi semua peristiwa yang dihadapi dengan tabah dan penuh harapan. “….Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”(Mat 28:20).

Oleh karena itu pertanyaannya apakah ada iman di dalam diri manusia tersebut? “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8). Mungkin banyak orang sudah menerima pembaptisan, namun apakah baptisan yang mereka terima, telah mereka hayati sebagai bukti kasih yang nyata dan penyertaan Allah atas hidup mereka?  Dengan demikian, iman bukan berhanti pada upacara baptisan, namun bagimana seseorang  sungguh percaya bahwa Allah hidup di dalam diri mereka. Oleh karena itu, semua kembali kepada masing-masing orang, apakah mau tetap setia mengimani dengan penuh kesadaran atau tidak. Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk selalu berjaga dalam arti hidup dalam kesadaran iman, bahwa Allah menyertai dan hidup seturut dengan kehendak-Nya. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mrk 14:38).

Didik, CM 

SETIA PADA TUHAN

SETIA PADA TUHAN

Jumat, 14 Oktober 2022



Lukas 12: 1-7

Tuhan Yesus mengajak kepada para murid-Nya untuk berhati-hati dan tidak terpengaruh dengan mentalitas kaum Farisi yang tidak jujur dan lebih memikirkan dirinya sendiri dan kelompoknya dari pada kesetiaan pada Tuhan dan kebaikan bersama. “…. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”(Luk 12:1). Dengan demikian, sikap yang diperlukan untuk bisa menghayati panggilan menjadi murid Kristus adalah  berani untuk percaya sepenuh hati kepada Allah. Sebab Dia telah mengasihi dan menebus umat manusia melalui Yesus Kristus Putera-Nya, sehingga martabat manusia yang sudah rusak oleh dosa mereka, dipulihkan kembali menjadi pribadi-pribadi yang berharga. “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah,  bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”(Luk 12:6-7).

Oleh karena itu, setiap orang yang sedang mengikuti Kristus diajak untuk senantiasa sadar bahwa Allah telah dan terus mengasihi manusia. Ketika seseorang sadar dan percaya akan kasih Allah hal itu membuatnya bisa hidup dalam harapan dan tidak  takut serta tidak kuatir akan segala yang terjadi di dalam hidup mereka. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”(Yoh 15: 15).

Tantangan yang akan dihadapi ketika seseorang menaruh kepercayaan dan harapan kepada Allah adalah  dirinya sendiri yang terus menerus perlu merawat dan menjaga kedekatan dengan Kristus, sehingga dalam kondisi apa pun Yesus Kristus tetap menjadi Tuhan dan sahabat yang mampu menguatkan dan memberi harapan. Oleh karena itu, iman membutuhkan komitmen untuk selalu setia dalam suka dan duka. Sebab Tuhan lebih dahulu setia kepada anak-anak-Nya, maka sebagai orang-orang yang telah menerima hidup-Nya, maka sudah sepantasnya mereka  setia juga kepada Tuhan.  “Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.”(2 Tesalonika 3:3).

Didik, CM 

TANGGUNG JAWAB YANG BESAR

TANGGUNG JAWAB YANG BESAR

Kamis, 13 Oktober 2022


Lukas 11:47-54

Yesus menyampaikan pesan kepada  orang-orang Farisi yang menolak-Nya, supaya mereka melihat kembali apa yang seharusnya mereka pikirkan dan lakukan sebagai orang-orang terpandang di dalam masyarakat, supaya kehadiran mereka bisa membawa berkat bagi banyak orang, untuk semakin membawa kebaikan bagi mereka dan lebih percaya serta mengandalkan Allah sebagai penopang hidupnya dan bukan justru menjadi penghambat banyak orang untuk mencapai kedamaian, kesejahteraan dan kesetiaan mengikuti Tuhan. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”(Lukas 11:52).

Dengan demikian status, talenta, dan posisi mereka yang tinggi sesungguhnya mengandung tuntutan dan tanggung jawab yang tinggi pula untuk lebih berperan mengambil keputusan dan tindakan yang tepat untuk meningkatkan kebaikan bersama; kedamaian, kesejahteraan dan keadilan. “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”(Luk 12:48b). Namun, tidak sedikit terjadi mereka yang memiliki status yang tinggi melupakan tanggung jawabnya untuk memperjuangkan masyarakatnya terutama mereka yang miskin,  menderita, terpencil, tersingkirkan,  dan terlantar.

Oleh karena itu, apa yang perlu diperjuangkan untuk hidup adalah sehati,  berpikir dan bertindak sama seperti Yesus Kristus yang telah menunjukkan jalan kebenaran yang membawa manusia pada kemenangan rohani, yaitu mengalahkan kuasa dan tirani kejahatan atau dosa, menuju hidup baru sebagai anak-anak-Allah. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”(Yoh 14:6). 

Didik, CM 

SAMA DIMATA ALLAH

SAMA DIMATA ALLAH

Rabu, 12 Oktober 2022



Lukas 11: 42-46

Yesus menyampaikan ketegasan kepada para orang Farisi yang seringkali menganggap diri mereka lebih baik dari yang lain bahwa mereka telah mengabaikan hal-hal yang justru penting untuk menjamin kedamaian dan kesejahteraan bersama, yaitu keadilan dan kasih Allah. “Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”(Luk 11:42). 

Oleh karena itu, Tuhan merindukan bahwa setiap pribadi manusia tumbuh dalam relasi yang baik dengan pencipta-Nya kerena Dia lah yang mengasihi dan menganugerahkan hidup kepada setiap pribadi manusia dan relasi yang baik dengan sesamanya yang menjadi saudara, teman seperjalanan dalam perziarahan menuju hidup yang kekal. Dengan demikian jika seseorang memiliki relasi yang baik dengan Tuhan dan sesamanya maka akan terwujud kehidupan damai.

Relasi yang baik dengan Allah dan sesama bisa terwujud ketika manusia menyadari siapa dirinya sebagai ciptaan dan bahwa mereka bisa  hidup di dunia bukan tiba-tiba atau kebetulan, karena dikehendaki  oleh  Allah yang mengasihi dengan menganugerahkan hidup kepada setiap anak-anak-Nya.  Dan relasi dengan sesamanya terwujud ketika masing-masing orang memandang sesamanya sebagai saudara, karena sama-sama sebagai pribadi berharga dimata Allah yang dikasihi oleh-Nya. Mereka diciptakan dan hidup bersama dengan sesamanya, supaya mereka bisa saling melengkapi dan menolong. “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” (Mrk 12:33).

Didik, CM 

Translate »