Browsed by
Month: November 2024

BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR

BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR

Fr Marianus Siriakus Ndolu O.Carm

(Lukas 16: 1- 8)

Yesus berkata: “Bendahara yang tidak jujur itu dipuji tuannya, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang “ (Luk 16:8). 

Pertanyaan yang muncul dalam benak kita barangkali berbunyi  begini: “bagaimana Yesus bisa memuji seorang bendahara yang korup?” Bagaimana mungkin seorang yang tidak jujur dipuji ?  Jadi yang memuji bendahara yang tidak jujur itu Yesus. Bukan orang kaya itu.

Yesus memuji bendahara  yang tidak jujur itu bukan karena bendahara itu mencuri atau korup. Yesus tidak memuji tindakan mencuri atau korup. Yang Yesus puji adalah spirit dari bendahara itu: ia tahu bagaimana mengkalkulasi situasi dengan baik. Ia tahu bagaimana mencermati dan melihat kondisinya dengan tepat.  Ya, ia tahu membaca situasi yang ia alami dengan tepat sehingga ia dapat menemukan jalan keluar dari situasi pekerjaannya yang sedang tidak baik-baik saja itu. Jadi intinya adalah: mencermati situasi dan menemukan jalan keluar dari situasi sulit. Inilah hal yang Yesus puji. Dan itulah spiritnya: cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Apa pesannya bagi kita yang hidup pada masa kini?  DISERMEN atau DISCRETIO SPIRITUUM! Kita diharapkan bisa melakukan disermen atau pembedaan roh atas situasi hidup kita . Kita hidup dalam suatu masa penuh gejolak dan persoalan. Disermen menjadi sebuah seni yang kita butuhkan agar kita bisa menemukan di tengah keruwetan itu hal baik yang harus kita tempuh. Melalui disermen kita dapat melihat persoalan dengan jelas dan menemukan jalan keluarnya.

Menurut pengalaman banyak orang, keheningan hati adalah kondisi yang mumpuni untuk melakukan disermen. Maka baiklah kita melatih diri untuk belajar hening agar oleh keheningan itu kita mampu menemukan jalan keluar dari kesulitan kita . Kita mampu mencardi cerdik seperti ular dan tulus sepereti merpati.

PESAN UNTUK PARA AKTIVIS

PESAN UNTUK PARA AKTIVIS

Kamis, 07 November 2024

Lukas 15:1-10

Oleh: Rm. Agustinus Suyadi, O.Carm

Kepada para murid-Nya, Yesus berkata, “Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, sehingga mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surga” (Mat 5:16). Di sini perbuatan baik memiliki arti ganda: a) perbuatan baik akan memberi terang sehingga sekelilingnya bercahaya, b) dengan berlaku demikian, seseorang menjadi sarana keselamatan bagi orang lain untuk bisa melihat Bapa di surga. Namun, acapkali seseorang berhenti pada dirinya. Perbuatan yang baik dipakai sebagai alasan untuk memuliakan dirinya sendiri. Maka, ia menjadi marah ketika Allah seakan tidak melihat perbuatannya, dan malah lebih mengganjar orang yang dianggap lebih berdosa. Kenapa hal itu bisa terjadi?

(1) IRI HATI

Salah satu dari tujuh dosa pokok: irihati. Perasaan tak suka melihat orang lain bahagia. Apalagi orang tersebut secara kasat mata, tidak lebih baik darinya. Hal ini terjadi akibat tidak tulus dalam melakukan tugas. Pusat hidupnya bukan pada Allah, tetapi pada dirinya sendiri. Akibatnya, hidup semata-mata hanya untuk mendapatkan pahala.

(2) BELAS KASIH ALLAH

Sabda hari ini memerlihatkan kasih Allah yang begitu agung. Semua orang berharga di mata Allah, tanpa kecuali. Hati Allah tergores pedih, saat manusia tersesat dan hilang. Meskipun hanya satu orang saja, namun bagi Allah sangat berharga. Untuk itu, tangan Allah tak pernah tertutup dan siap untuk selalu menyelamatkan. Ia tidak melihat masa lampau, tetapi sekarang dan di masa mendatang. Selama masih bisa diselamatkan, maka Allah akan turun tangan langsung untuk membawa makhluk ciptaan yang paling sempurna kembali kepada-Nya.

(3) ARTI KESELAMATAN

Dengan ini, keselamatan tidak didasarkan pada perbuatan baik, tetapi semata-mata belas kasih Allah. Mata Allah melihat sampai di dasar lubuk hati. Manakala para murid-Nya berlaku tidak tulus dan tidak memercayakan hidup hanya pada Allah, perbuatan baik itu hanya sebatas kebanggaan diri yang memupuk dan menyuburkan ego. Akibatnya, fungsi sebagai alat keselamatan terlewatkan. Ia justru menjadi penghalang bagi orang lain mengalami keselamatan.

Renungan 6 November 2024

Renungan 6 November 2024

Fr. Albertus Medyanto, O.Carm
Lukas 14:25-33

Syarat dan ketentuan berlaku. Itulah pengumuman yang sering kita baca untuk perlombaan, kejuaraan, lowongan kerja dan lainnya. Syarat dan ketentuan berdasarkan pendidikan, keahlian, usia dan sebagainya.
Hari ini dalam Injil, Yesus di hadapan orang yang berduyun-duyun mengikuti perjalanan-Nya, Ia juga memberikan semacam syarat dan ketentuan yang berlaku.
Tanpa ketiga syarat ini mereka mengalami kesulitan menjadi pengikut-Nya. Apa saja syarat yang ditawarkan oleh Yesus?
Pertama, Yesus berkata,“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:26). Setiap orang yang mau mengikuti Yesus diminta berani melepaskan diri dari ikatan kekeluargaan. Orang diajak mempunyai komitmen yang kuat hanya berpegang teguh pada Yesus, mengikuti-Nya sepenuh hati, segenap akal budi. Yesus tidak bermaksud memutus mata rantai sikap hormat pada orang tua atau keluarga, seperti yang tertulis dalam Perintah Allah keempat. Relasi dengan keluarga jangan sampai menghambat dan menghalangi relasi dengan Tuhan Yesus. Pusat perhatian dari seluruh pikiran, perasaan dan nyawa hanya ada pada Yesus. Komitmen ini perlu dibangun terus menerus dari waktu ke waktu.

Kedua, Yesus berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:27). Setiap orang yang mau mengikuti Yesus dalam jalan iman, ia harus berani mengambil keputusan menyerupai hidup Yesus. Seperti halnya Yesus yang memikul salib-Nya, demikian pula halnya dengan diri kita berani memikul salib karena ajaran iman yang kita terima. Tidak semua ajaran Yesus dapat mudah kita pahami. Kita memikul salib karena berani percaya beriman kepada Yesus Tuhan kita. Kita memikul salib karena orang lain tidak memahami ajaran kasih-Nya. Inilah tuntutan dan sekaligus sikap berani kita menyerupai Tuhan Yesus.
Ketiga, Yesus berkata,“Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:33). Yesus meminta kepada para pengikut-Nya mempunyai sikap lepas bebas dan tidak terikat dengan harta benda dunia. Bukan soal hartanya, melainkan sikap batin dan pikiran kita dalam memperlakukan harta tersebut. Bisa jadi selama ini kita menggenggam erat apa yang kita miliki (harta, orang, peristiwa hidup) sehingga tidak bisa lepas bebas tanpa kehadirannya. Baiklah kita belajar melepas sedikit demi sedikit genggaman erat itu sehingga kita tidak terfokus disana. Tuhan Yesus akan mengatur dan membantu kita dalam setiap peziarahan hidup ini. Kita berusaha berbagi kehidupan kepada sesama saudara. Seperti halnya Tuhan Yesus berbagi kehidupan bagi banyak orang demi tumbuhnya Kerajaan Allah.
Syarat dan ketentuan dari Tuhan Yesus berlaku untuk setiap orang yang percaya pada-Nya dan mau hidup bersama dengan-Nya. Hidup bersama Tuhan Yesus tanpa harus memperhitungkan untung dan rugi. Kita adalah orang-orang kudus yang sudah ditebus lewat darah kudus-Nya di kayu salib. Semoga kita mempunyai komitmen yang kuat percaya pada Tuhan Yesus sampai akhir peziarahan di dunia ini.
(rm. albertus medyanto, o.carm)

Translate »