Browsed by
Month: November 2024

Homili Berdasarkan Injil Lukas 21:1-4

Homili Berdasarkan Injil Lukas 21:1-4

Fr. Ignasius Joko Purnomo O.Carm

  1. Saudara-saudari yang terkasih. Banyak orang memegang prinsip “terpenuhi dulu segala kebutuhanku, setelah itu baru kita bisa memikirkan atau berbuat sesuatu untuk orang lain.” Tanpa kita sadari prinsip yang sama kita kenakan dalam relasi kita dengan Tuhan. Sehingga tanpa kita sadari sebenarnya kita memberi kepada Tuhan apa yang tersisa.
  • Hari ini pemandangan yang kontras terjadi di Bait Allah: “Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.”  Yesus melihat bahwa di antara orang-orang kaya yang memberikan persembahan, terpantau seorang janda miskin yang memasukkan hanya dua peser ke dalam peti persembahan! Dua peser adalah pecahan uang paling kecil pada masa itu. Yesus berkata: Janda ini memberikan lebih banyak dari semua orang itu, sebab mereka semua memberikan dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberikan dari kekurangannya, bahkan memberikan seluruh nafkahnya”  Melalui pernyataan ini, Yesus mengajarkan kepada kita beberapa hal penting:
  1. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak mengukur persembahan kita berdasarkan jumlah atau nilainya secara material, melainkan berdasarkan ketulusan hati dan pengorbanan yang menyertai pemberian tersebut. Janda miskin itu memberi dari kekurangannya. Ini menunjukkan iman dan kepercayaannya yang mendalam kepada Tuhan. Ia menyerahkan segala miliknya karena yakin bahwa Tuhan adalah sumber segala berkat.

Sering kali kita terjebak dalam ukuran duniawi, mengukur diri sendiri atau orang lain berdasarkan apa yang bisa kita berikan secara materi. Kesediaan si janda miskin untuk memberi dari kekurangannya seharusnya menjadi cambuk bagi kita yang sering memaafkan diri sendiri, bila kita tidak memberi persembahan karena rasa malu bila hanya memberi sedikit. Kita diajak untuk menyadari bahwa Tuhan pertama-tama tidak memperhitungkan jumlah uang, tetapi sikap hati yang percaya dan mau berkorban karena adanya sikap cinta dan hormat kepada-Nya.

  • Janda miskin dalam kisah ini adalah teladan iman yang luar biasa. Dalam keterbatasannya, ia tetap mempersembahkan apa yang ia miliki kepada Tuhan, bahkan memberikan semua yang ada padanya. Tindakan ini menunjukkan iman yang luar biasa: bahwa ia percaya kepada pemeliharaan Allah yang akan selalu mencukupi kebutuhan hidupnya. Sikap janda itu mengingatkan kita bahwa iman sejati sering kali menuntut keberanian untuk melepaskan diri dari rasa aman duniawi dan bersandar sepenuhnya pada penyelenggaraan Allah.
  • Penutup

Saudara-saudari, marilah kita belajar dari janda miskin ini untuk selalu memberi dengan hati yang tulus, penuh iman, dan pengorbanan. Bukan soal besar atau kecilnya pemberian kita, tetapi bagaimana hati kita terarah kepada Tuhan dan sesama. Semoga kita semakin bertumbuh dalam iman dan kemurahan hati, sehingga hidup kita menjadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan di hadapan Tuhan.

Yesus, Raja Kita

Yesus, Raja Kita

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam [B]
24 November 2024
Yohanes 18:33b-37

Di zaman sekarang, konsep raja mungkin terasa aneh dan bahkan ketinggalan zaman. Banyak dari kita hidup dalam masyarakat yang demokratis, di mana kita memilih orang-orang yang kita sukai untuk menjadi pemimpin kita, dan memilih yang lain ketika kita merasa bahwa mereka tidak lagi cocok untuk memimpin. Kemegahan dan keagungan kerajaan-istana, benteng, jubah, dan upacara-upacara kebangsawanan-sering kali dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Namun, Gereja memanggil kita untuk merenungkan dan menerima Yesus sebagai Raja. Bagaimana kita dapat benar-benar menghargai identitas Yesus sebagai Raja kita?

Pertama, Yesus adalah raja yang melayani. Ya, Yesus adalah raja, tetapi tidak seperti raja-raja lainnya. Gabriel, sang malaikat agung, mengumumkan kelahiran-Nya sebagai raja, “Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:33).” Namun, Yesus menyatakan bagaimana Dia akan menjadi raja, “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mar 10:45).” Alih-alih menuntut pelayanan dari umat-Nya, Yesus melayani umat-Nya dengan kerendahan hati yang luar biasa. Tindakan pelayanan-Nya yang paling utama adalah mengorbankan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan kita. Bahkan sekarang, sebagai Raja yang telah bangkit di surga, Yesus terus melayani dengan menjadi pengantara kita di hadapan Bapa (Ibr. 7:25).

Kedua, Yesus, raja semesta. Meskipun Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi dan dinubuatkan sebagai Mesias Israel, kekuasaan-Nya bersifat universal. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. (Matius 28:18)” Yesus bukan hanya raja atas semua manusia, tetapi juga atas segala sesuatu. Dari bintang terbesar hingga partikel sub-atom terkecil, dan bahkan realitas yang belum ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, semuanya berada dalam pemerintahan dan penyelenggaraan-Nya. Tidak hanya realitas yang terlihat, tetapi juga makhluk-makhluk yang tidak terlihat juga berada di bawah kekuasaan Yesus. Kemudian, karena kerajaan Yesus adalah tentang pelayanan, maka Yesus juga melayani segala sesuatu dengan melestarikan keberadaan mereka, jika tidak, segala sesuatu akan runtuh menuju ketiadaan.

Ketiga, Yesus adalah Raja kita. Kerajaan Yesus tidaklah jauh atau abstrak, tetapi sangat personal. Sebagai Raja atas segala ciptaan, Dia mengatur segala sesuatu untuk kebaikan kita karena Dia mengenal dan mengasihi kita masing-masing. Desain alam semesta yang rumit, dari hukum fisika hingga kondisi yang disesuaikan dengan baik yang memungkinkan kehidupan di Bumi, mencerminkan perhatian-Nya yang penuh kasih. Bahkan tubuh kita sendiri, yang terdiri dari atom dan sel yang tak terhitung jumlahnya, disatukan di bawah perintah-Nya. Tidak hanya alam semesta yang terlihat, bahkan makhluk-makhluk spiritual pun berada di bawah perintah-Nya untuk melindungi dan menuntun kita menuju kebahagiaan sejati.

Sementara kita sering kali sibuk dengan urusan sehari-hari, sang Raja memelihara kita melalui pemerintahan-Nya atas seluruh alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Pemerintahan-Nya sebagai raja tidak lain adalah kasih, pelayanan dan perhatian.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:
Apa konsepmu tentang seorang raja? Apakah kamu melihat Yesus sebagai seorang raja? Raja yang seperti apa Dia itu? Atau, apakah kamu lebih nyaman dengan sebutan lain Yesus seperti gembala yang baik? Apakah kita mengikuti Yesus sebagai Raja kita? Bagaimana kita melayani Raja kita? Apakah kita menaati-Nya, atau kita memberontak terhadap-Nya? Apakah kita juga menjaga ciptaan lain karena mereka melayani Raja yang sama seperti kita? Apakah kita berterima kasih kepada para malaikat yang telah menjaga kita?

Translate »