SabdaNya tak kan berlalu. Baiklah kita dengarkan
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [B]
17 November 2024
Markus 13:24-32
Ketika seseorang bertanya apakah kita ingin masuk surga, kita dengan cepat menjawab, “Ya!” Namun, jika ditanya apakah kita ingin menjadi santo atau santa, antusiasme kita sering kali memudar. Hal ini mengejutkan karena semua orang di surga adalah orang kudus. Menjadi santo-santa berarti berada di surga! Jadi mengapa kita memisahkan gagasan tentang surga dengan menjadi orang kudus?
Setidaknya, ada tiga alasan:
Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan dan tanda-tanda yang akan terjadi sebelum kedatangan-Nya, langit menjadi gelap, bulan dan matahari yang redup, dan bintang-bintang yang berjatuhan. Hal ini dapat berarti akhir dari sebuah era atau bahkan akhir dari dunia. Namun, hal ini juga dapat memberikan pelajaran yang berharga: dunia yang kita kenal ini bersifat sementara, akan hancur, dan jika kita berpegang teguh padanya, kita juga akan hancur dan kehilangan segalanya. Kita harus memilih: apakah kita akan mati bagi dunia ini dan hidup untuk Tuhan, atau mati bersama dunia ini dan kehilangan Tuhan.
Kita memohon kepada Tuhan untuk menolong kita mati bagi diri kita sendiri, melepaskan dunia, dan hidup lebih bagi Kristus. Sehingga, kapan pun Yesus datang, kita akan siap untuk berdiri di hadapan-Nya, benar-benar hidup, seperti orang-orang kudus di surga.
Roma
Valentinus B. Ruseno, OP
Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:
Seperti apakah surga itu? Bagaimana kita memandang orang-orang kudus dan peran mereka dalam hidup kita? Apakah kita ingin menjadi orang kudus, atau kita terlalu melekat pada dunia? Hal-hal apakah yang kita lekatkan dalam hidup ini? Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kedatangan Yesus?
Fr. Agustinus Sutiono O.Carm
We heard a parable from Jesus. This is God incarnate speaking the veritable truth of His Father, the truth that cannot err nor fail. This parable starts chapter 18, and it begins with somewhat of a strange introduction. Luke says, “He spoke a parable to them, that men ought always to pray and not lose heart.” Jesus introduced this parable by explaining that its purpose is to encourage us to pray in a certain manner and not lose heart. God will give to a person what is his due, what is owed him, what is fair for him, what is true in the matter. If even corrupt judges sometimes administer justice for those who plead for it, how much more will the Judge of all creation vindicate His people who cry out to Him.
In its immediate context, Jesus’ parable follows the last verse of Luke chapter 17, which concluded His warning of an impending judgment. Jesus spoke of God’s wrath and doom surrounding His return. He talked about days of darkness and calamity ahead. If Jesus was referring to the first-century catastrophic calamity of the destruction of Jerusalem, we may understand why He would follow this message and announcement by saying: “When these things happen, don’t give up. Don’t lose heart. We may be in affliction or surrounded with suffering and death, but keep praying, and do not faint.” The focus of this parable is persistent prayer. Most of our prayers have not gone much beyond the infantile level. We knelt by our beds with our mother and said, “God bless mommy and daddy and Uncle Frank and Aunt Ginny and make me a better boy or girl.” Our prayers shall have gone way beyond that, praying with our hearts pouring with passion and our souls groaning by the Holy Spirit before the throne of grace, praying with certainty of the merciful heart of the Lord.
Jesus said: “Hear what the unjust judge said. Shall God not avenge His own elect who cry out day and night to Him, though He bears long with them?” Jesus was making a contrast between God as Judge and the unjust judge. It was not a mere contrast, but rather the formula Jesus used frequently in His parables: “How much more.” He said: “If this crooked, corrupt, miserable human being who holds the office of judge, who has no regard for God and no regard for people, will sometimes administer justice because he’s tired of people pleading for it, how much more will the Judge of heaven and earth vindicate His people who cry unto Him day and night?” This saying affirms what he taught before: “If you who are evil, know how to give good gifts to your children, how much more will your Father who is in heaven give good things to those who ask him!” Jesus ended His parable with a strange question: “Nevertheless, when the Son of Man comes, will He really find faith on the earth?” We are to pray with faith, meaning with practical knowledge about the essence of God and with the attitudes that reflect our fidelity to his essence.
Fr Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Ignasius Joko Purnomo O.Carm
Yesus menggambarkan situasi di mana orang harus siap secara rohani untuk menerima kedatangan-Nya, tanpa terganggu oleh godaan duniawi atau keinginan untuk menyelamatkan harta benda. Ketika “Anak Manusia menyatakan diri” atau kedatangan Kristus tiba, kita diharapkan untuk sungguh fokus pada Tuhan, bukan pada hal-hal duniawi.
Di dunia, kita seringkali terikat dengan kepemilikan materi, ambisi, atau kenyamanan. Namun, Yesus mengingatkan bahwa semua itu bersifat sementara. Pada hari Tuhan tiba, keterikatan pada barang-barang duniawi justru bisa menjadi beban yang menghalangi kita untuk siap menyambut-Nya. Yesus mengajak kita untuk tidak terikat pada hal-hal duniawi sehingga kita dapat menerima Yesus dengan hati yang bebas dan ikhlas.
Yesus ingin agar murid-murid-Nya / kita semua menyadari dan memahami bahwa keselamatan sejati tidak tergantung pada upaya kita untuk menjaga harta duniawi, tetapi pada kesetiaan kita kepada Tuhan. Menyerahkan hidup sepenuhnya kepada-Nya adalah langkah yang bijaksana, karena pada saat terakhir, hanya iman dan hubungan kita dengan Tuhan yang akan menyelamatkan.
Yesus juga menyebutkan istri Lot yang menoleh ke belakang saat melarikan diri dari Sodom dan berubah menjadi tiang garam (Lukas 17:32). Yesus mengajak kita semua agar kita tidak tergoda untuk melihat kembali atau berpegang pada kehidupan lama yang penuh dengan hal-hal duniawi. Menoleh ke belakang atau tetap terikat dengan masa lalu bisa menghambat kita untuk maju dalam iman.