Browsed by
Month: November 2024

Memberi dengan tulus

Memberi dengan tulus


(1Raj. 17:10-16; Ibr. 9:24-28; Mrk. 12:38-44)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, bacaan Injil minggu ini membawa kita ke dalam suasana
Bait Allah di Yerusalem, sebuah bangunan megah dengan serangkaian pelataran yang
semakin eksklusif. Pelataran pertama terbuka untuk semua, termasuk orang-orang
non-Yahudi; pelataran kedua untuk pria dan wanita Israel; pelataran ketiga hanya
untuk laki-laki Israel; dan pelataran keempat, yang mengelilingi tempat suci di pusat
Bait Allah, hanya diperuntukkan bagi para imam. Di pelataran kedua, yang dikenal
sebagai pelataran wanita, terdapat tembok dengan tempat-tempat persembahan di
mana orang bisa memasukkan koin. Setiap koin yang dijatuhkan mengeluarkan suara
yang menandakan nilainya, semakin nyaring suaranya, semakin tinggi nilai koin itu.
Dalam suasana inilah, Yesus duduk mengamati orang-orang yang memberi
persembahan. Banyak orang kaya datang dan memasukkan koin dalam jumlah besar,
namun kemudian datanglah seorang janda miskin. Ia hanya memasukkan dua keping
uang kecil, hampir tanpa suara. Yesus memperhatikan ini dan berkata, “Sungguh, janda
miskin ini memberi lebih dari semua orang lain. Sebab mereka semua memberi dari
kelimpahannya, tetapi dia memberikan seluruh yang dimilikinya, seluruh hidupnya.”
Tentu, kisah janda ini adalah contoh yang luar biasa. Yesus tidak mengajak semua
murid-Nya untuk memberikan seluruh harta bendanya; panggilan seperti itu adalah
panggilan khusus—untuk para rasul, para pertapa, misionaris, biarawan, dan biarawati.
Bagi umat beriman, Yesus mengajarkan agar kita menggunakan berkat materi yang kita
miliki “menurut kehendak Allah,” dengan mengingat bahwa kita hanyalah pengelola,
bukan pemilik mutlak. Suatu saat, kita akan diminta pertanggungjawaban atas
bagaimana kita mengelola harta yang dipercayakan pada kita. Namun, contoh janda ini
tetap relevan bagi kita semua: kita diajak untuk tidak menaruh harapan utama pada
harta duniawi, melainkan pada Tuhan, dengan setia mengikuti kehendak-Nya dan
percaya pada penyelenggaraan-Nya.
Hari ini, kita mengenang tiga contoh iman dan kemurahan hati yang mendalam.
Pertama, adalah Santo Martinus dari Tours, yang pada 11 November diperingati bukan
hanya karena berbagai kebajikannya, tetapi juga karena kebaikannya yang terkenal—
ketika ia membagi jubahnya menjadi dua untuk diberikan kepada seorang pengemis
yang hampir telanjang.
Kedua, contoh dari bacaan pertama (1 Raja-raja 17:10-16). Nabi Elia meminta air dan
makanan dari seorang janda miskin di masa kelaparan. Wanita itu menjawab, “Tidak
ada lagi makanan, hanya segenggam tepung dan sedikit minyak. Aku sedang
mengumpulkan kayu bakar untuk membuat makanan terakhir bagi aku dan anakku,
dan setelah itu kami akan mati.” Namun, Elia mendorongnya untuk percaya:
“Buatkanlah roti bagiku terlebih dahulu, dan lihatlah, tepungmu tak akan habis dan
minyakmu tak akan berkurang hingga Tuhan mengirimkan hujan.” Dan benar, mukjizat
itu terjadi; tepung dan minyak janda itu tidak pernah habis selama masa kelaparan.
Janda ini, dengan imannya yang teguh, mengingatkan kita pada janda di dalam Injil hari
ini. Keduanya mencontohkan bahwa dalam ketidakberdayaan sekalipun, ketika kita
berbagi dengan keyakinan kepada Allah, maka kasih karunia-Nya akan cukup bagi
semua orang.
Dan akhirnya, contoh yang paling besar dan mendalam dari penyerahan diri
sepenuhnya kepada Allah ada pada Yesus Kristus, seperti diceritakan dalam bacaan
kedua (Ibrani 9:24-28). Yesus menyerahkan seluruh hidup-Nya, bahkan hingga wafat di
kayu salib. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku,” demikian doa-Nya
sebelum wafat, dan Bapa membalas kasih dan penyerahan-Nya dengan kebangkitan.
Dari kematian dan kebangkitan Yesus, kita semua memperoleh keselamatan.
Saudara-saudariku terkasih, kita semua dipanggi untuk memberi dengan tulus. Melalui
permenungan hari ini, dan melalui teladan dari janda miskin, Santo Martinus, dan
Yesus Kristus sendiri, menggerakkan hati kita untuk hidup dengan penuh pengabdian
dan penyerahan diri kepada Tuhan. Dalam setiap hal kecil yang kita berikan dengan
tulus, ada kuasa dan berkat yang luar biasa, yang tidak hanya menguatkan kita, tetapi
juga menjadi sumber penghiburan dan kekuatan bagi sesama. Mari kita selalu ingat,
betapa Tuhan memandang bukan pada besar kecilnya pemberian kita, melainkan pada
kasih dan iman yang menyertainya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Iman Janda yang Miskin

Iman Janda yang Miskin

Hari Minggu ke-32 dalam Masa Biasa [B]
10 November 2024
Markus 12:38-44

Dalam Injil Markus, Yesus memuji seorang janda miskin yang memberikan dua peser uang terakhirnya ke Bait Allah. Dia menunjukkan mengapa tindakan janda itu begitu luar biasa: “Janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh hidupnya.” (Markus 12:44). Yesus mengaguminya karena, meskipun sangat miskin, dia menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa. Tetapi ada pesan yang lebih dalam di sini. Apakah itu?

Kita perlu bertanya, “Mengapa janda ini miskin?” Pada zaman Yesus, para janda termasuk golongan yang paling rentan, terutama jika mereka tidak memiliki keluarga yang mendukung dan melindungi mereka. Karena itu, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk memperhatikan para janda (lihat Ul. 14:29 dan Yes. 1:17). Namun, dalam perikop Injil ini, ada petunjuk mengapa janda ini jatuh miskin. Sebelum memuji janda tersebut, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat bukan hanya karena mereka mencari popularitas, tetapi karena sesuatu yang lebih jahat, “Mereka menelan rumah-rumah janda” (Mrk. 12:40).

Bagaimana para ahli Taurat mengeksploitasi para janda? Ada beberapa kemungkinan:
Pertama, Penyalahgunaan Otoritas Hukum. Para ahli Taurat, sesuai gelarnya adalah ahli dalam hukum dan implementasi hukum Musa atau Taurat. Oleh karena itu, mereka dipercaya sebagai penasihat hukum atau bahkan wali, terutama bagi para janda yang membutuhkan bantuan untuk mengatur urusan mereka setelah kematian suami mereka. Bagaimanapun juga, para ahli Taurat ini adalah hamba-hamba Allah! Sayangnya, beberapa dari mereka menyalahgunakan kepercayaan ini, menggunakan pengetahuan hukum mereka untuk memanipulasi proses hukum demi keuntungan pribadi, bahkan melakukan penipuan.

Kedua, Pinjaman berbunga tinggi. Beberapa ahli Taurat terlibat dalam praktik pinjaman dengan bunga tinggi. Dengan kedok memberikan bantuan keuangan, mereka meminjamkan uang kepada para janda dan secara bertahap menjebak mereka dalam utang yang sangat besar. Ketika para janda tidak dapat melunasi utang-utang tersebut, mereka terpaksa menyerahkan rumah dan harta benda mereka, yang pada akhirnya menjadi miskin.

Meskipun kita tidak tahu persis bagaimana janda dalam cerita ini dieksploitasi, kita tahu bahwa dia menderita ketidakadilan. Meskipun demikian, responsnya sangat luar biasa. Alih-alih merasa sakit hati atau menyalahkan Tuhan, ia tetap bermurah hati. Bahkan dalam penderitaannya, ia tetap mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, dan hidupnya. Mengapa? Karena imannya bertumpu pada Tuhan itu sendiri, bukan pada perwakilan manusia yang memiliki kekurangan seperti para ahli Taurat. Sementara manusia dapat gagal atau bertindak tidak adil, Allah tidak. Ia percaya bahwa Allah menjaganya, dan memang, Yesus melihat tindakannya dan mengakui iman dan pengorbanannya.

Kisah ini membuka mata kita akan kenyataan pahit yang dapat terjadi bahkan di dalam Gereja kita. Namun, teladan sang janda juga mengajarkan kita bagaimana merespons tantangan-tantangan ini tanpa kehilangan iman.

Pertanyaan Refleksi:
Apakah kita membantu membawa orang lain lebih dekat kepada Allah, atau justru menjauhkan mereka dari Tuhan? Apakah kita menggunakan posisi dan pengetahuan kita untuk menolong orang lain atau mengambil keuntungan dari mereka? Ketika hal-hal buruk terjadi, apakah kita menyalahkan Allah atau tetap percaya kepada-Nya? Apakah kita berusaha melawan ketidakadilan di dalam komunitas dan Gereja kita, atau apakah kita diam saja?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Homily for the feast of the dedication of the Lateran Basilic

Homily for the feast of the dedication of the Lateran Basilic

Fr Agustinus Sutiono O.Carm

We celebrate the Dedication of the Basilica of St. John Lateran because it is the head and mother church of all churches in the world. There is an inscription in Latin on the façade of the basilica that reads, “the mother and mistress of all churches of Rome and the world.” Every bishop has a cathedral and the Pope’s cathedral is the Basilica of St. John Lateran, not the Basilica of St. Peter. There was a story behind this. The emperor Constantine had been given the palace in Rome that belonged to the Lateranus family, and after his conversion to Christianity he gave it to the Pope. The Lateran Palace was then adapted to become a church and was dedicated on November 9, AD 324, and the Pope then lived in there for the next 1000 years and the basilica was his cathedral. It was first called the Basilica of the Savior but later was also dedicated to St. John the Baptist and St. John the Evangelist, and so it acquired the name Basilica of St. John Lateran.

Celebrating the dedication of the Pope’s cathedral today shows our unity with the Pope and our love and respect for him. Not only that, but it shows that we are united with each other in the Church. St. Paul described this unity in his first letter to the Corinthians as the Body of Christ. For as with the human body which is a unity although it has many parts, so it is with Christ. We were baptized into one body in a single Spirit, Jews as well as Greeks, slaves as well as free men, and we were all given the same Spirit. Now Christ’s body is ourselves, each of us with a part to play in the whole. We are the temple of God itself. We are a dwelling place of God which also function as a meeting place of God and his people, just like the idea of the tent of meeting in the Old Testament. This dignity bears a great significance for the presence of the Church as well ours.

From the book of Ezekiel, we gained a vision of a river flowing from the Temple in Jerusalem and bringing life everywhere it went. We could see it as a vision of the Church receiving life-giving grace from Jesus. In the Letter to the Ephesians, we read, that we are built upon the foundations of the apostles and prophets, and Christ Jesus himself is the cornerstone. Every structure knit together in him grows into a holy temple in the Lord; and we too in him are being built up into a dwelling-place of God in the Spirit. We are God’s building whose foundation is Jesus Christ. These passages from Scripture remind us to make Jesus the foundation stone and corner stone of our lives because there is a life-giving river flowing from him to fill us with his grace. As the wáter that flowing from the Temple itself symbolizes the wisdom of God, we are made aware that everyone of us, after having a meeting with God in Temple, carries the task of that living wáter, whose presence brings life, growth, strength, freshness and healing, not the otherwise. Moreover, everyone of us is a meeting place of God, the Divinity, and our humanity.

As we celebrate today the dedication of the “the mother and mistress of all churches of Rome and the world” we can pray also for those who have got lost going through life that they may find the Church as a true mother and that Jesus may become the foundation stone and corner stone of their lives. May we live out our being with dignity as the dweling place of God´s Spirits, every good spirits and  may our presence among others also help others see God’s presence, love and wisdom. Amen.

Translate »