Browsed by
Month: February 2025

Celakalah Kamu yang Kaya?

Celakalah Kamu yang Kaya?

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa [C]

16 Februari 2025

Lukas 6:17, 20-26

Hari ini, kita merenungkan Sabda Bahagia Yesus menurut Santo Lukas. Tidak seperti versi Matius, di mana Yesus mengucapkan delapan berkat, dalam Injil ketiga, Yesus menyatakan empat berkat dan empat “celaka”. Salah satu pernyataan yang paling mencolok adalah ketika Yesus berkata, “Celakalah orang kaya!” Apakah ini berarti bahwa menjadi kaya secara otomatis membawa kita ke neraka? Apakah Santo Lukas menyimpan kebencian terhadap orang-orang kaya?

Jawabannya adalah TIDAK. Menjadi kaya tidak secara otomatis membawa kita kepada penghukuman, dan Lukas juga tidak membenci orang kaya. Faktanya, Injil yang ditulisnya menjadi bukti pertama akan hal ini. Lukas mendedikasikan Injilnya kepada seorang pria bernama Teofilus, yang seperti telah kita bahas sebelumnya, kemungkinan besar Teofilus adalah orang kaya yang mendukung Lukas dalam usaha penulisan Injilnya. Lukas sangat menghormati Teofilus, dan Teofilus, pada gilirannya, sangat peduli terhadap Lukas dan pelayanannya.

Kedua, penting untuk memahami arti kata “celaka”. Dalam Alkitab, istilah ini tidak berarti kutukan. Sebaliknya, kata ini berfungsi sebagai peringatan keras. Para nabi dalam Perjanjian Lama menggunakan kata “celakalah” untuk memanggil bangsa Israel untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Namun, jika orang Israel tetap keras kepala, “celaka” akan menjadi kenyataan, dan mereka akan menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka (lihat Yesaya 5:8-22; Amos 6:1; Habakuk 2:6-20). Dalam Injil, Yesus mengikuti jejak para nabi ini, dengan menggunakan kata “celakalah” sebagai panggilan untuk bertobat dan berubah.

Pada saat yang sama, kita harus membaca kata-kata Yesus secara keseluruhan. Ketika Dia berkata, “Celakalah kamu yang kaya, karena kamu telah menerima penghiburanmu,” jelaslah bahwa “celakalah” tidak ditujukan kepada semua orang kaya, tetapi secara khusus kepada mereka yang menemukan kebahagiaan mereka semata-mata dalam kekayaan mereka. Dengan kata lain, peringatan ini ditujukan kepada mereka yang mengandalkan kekayaan duniawi dan bukan kepada Tuhan. Bahkan orang-orang miskin yang mengidolakan uang dan mengejarnya sebagai segala-galanya dalam hidup pun termasuk dalam kategori “celaka” ini.

Hal yang sama berlaku untuk peringatan-peringatan Yesus yang lain. Celakalah kita jika kita mencari kesenangan jasmani dan kenikmatan duniawi sementara mengabaikan Kerajaan Allah. Celakalah kita jika kita mengejar popularitas dan ketenaran alih-alih berjuang untuk kemuliaan Allah. Kekayaan, kesenangan jasmani, dan ketenaran tidaklah serta merta jahat – semuanya itu bisa saja baik, tetapi hanya sebagai sarana untuk mencapai apa yang benar-benar baik. Pada akhirnya, semua hal ini akan lenyap ketika kita mati, dan kita akan berdiri di hadapan penghakiman Tuhan tidak dengan membawa hal-hal ini. Seperti yang pernah dikatakan Ayub, “Dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku, dan dengan telanjang pula aku akan pergi. Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil, kiranya nama Tuhan dipuji!” (Ayub 1:21).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Bagaimana perasaan kita setelah membaca Injil ini? Bagaimana sikap kita terhadap kekayaan dan harta benda duniawi? Bagaimana kita menggunakan kekayaan, harta benda, dan kesenangan jasmani? Bagaimana kita memuliakan Allah dalam hidup ini?

RENUNGAN: TGL. 13 FEBRUARI 2025

RENUNGAN: TGL. 13 FEBRUARI 2025

Rm. Ignasius Joko Purnomo O.Carm

      Markus 7:24-30

Saudara-saudari terkasih.

    Hari ini Bacaan Injil mewartakan kepada kita kisah perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Siro-Fenesia yang datang memohon kesembuhan bagi anaknya yang kerasukan roh jahat. Dalam kisah ini kita melihat betapa luar biasanya sikap iman Perempuan Siro-Fenisia itu. Iman sejati mengatasi segala rintangan, baik itu budaya, sosial, maupun spiritual.

    Perempuan Siro-Fenisia ini berasal dari daerah yang bukan Yahudi, dan dalam konteks budaya saat itu, orang Yahudi dan non-Yahudi memiliki hubungan yang tegang. Namun, imannya yang besar mendorongnya untuk melampaui batas-batas suku dan budaya itu. Ia tidak membiarkan perbedaan budaya atau status sosial menghalanginya untuk mendekati Yesus.

    Bahkan ketika Yesus awalnya menanggapi permohonannya dengan kata-kata kasar yang seolah-olah menolak, perempuan ini tidak putus asa. Yesus berkata: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, karena tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Sudah barang tentu hal ini adalah ujian iman yang besar. Namun, perempuan ini tidak mundur. Sebaliknya, ia menanggapinya dengan kerendahan hati dan keteguhan iman yang luar biasa. Perempuan ini tidak meminta hak istimewa atau menuntut Yesus untuk melakukan mukjizat. Ia hanya memohon belas kasihan, dengan berkata: “Benar, Tuhan, tetapi anjing-anjing di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Jawaban ini menunjukkan kerendahan hati dan penyerahan diri yang total kepada kehendak Tuhan.

    Akhirnya, Yesus menanggapi iman perempuan ini dengan sangat luar biasa. Yesus berkata: “Karena perkataanmu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Iman perempuan ini tidak hanya menyentuh hati Yesus, tetapi juga mengubah situasi yang mustahil menjadi mungkin. Iman yang tulus dan rendah hati memiliki kuasa untuk menggerakkan hati Tuhan.

    • Saudara-saudari terkasih.

    Dalam hidup kita, seringkali kita menghadapi batasan-batasan yang membuat kita ragu untuk mendekati Tuhan atau untuk memperjuangkan apa yang kita percayai. Mungkin kita merasa tidak layak, atau kita takut akan penolakan.  Mungkin kita juga sering dihadapkan pada situasi yang seolah-olah Tuhan tidak mendengarkan doa kita atau bahkan menolak permohonan kita.

    Perempuan Siro-Fenisia ini mengajarkan kita bahwa iman yang sejati adalah iman yang berani melampaui segala batas. Iman yang tidak terhalang oleh ketakutan atau prasangka, tetapi yang percaya bahwa Tuhan mampu melakukan yang mustahil. Iman yang sejati adalah iman yang tetap percaya meskipun dihadapkan pada tantangan. Iman yang tidak mudah goyah oleh keadaan, tetapi yang tetap teguh dalam keyakinan bahwa Tuhan memiliki rencana yang terbaik bagi kita.

    Ketika kita datang kepada Tuhan dengan hati yang rendah, mengakui bahwa kita tidak layak tetapi percaya pada kasih-Nya yang besar, maka kita membuka diri untuk mengalami kuasa-Nya yang ajaib. Perempuan ini mengajarkan kita bahwa iman yang sejati adalah iman yang rendah hati, yang mengakui ketergantungan kita pada Tuhan dan yang menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya. Iman yang tidak hanya percaya pada kemampuan Tuhan, tetapi juga yang mengubah hati kita dan situasi kita. Iman yang membawa kita kepada penyerahan total kepada kehendak Tuhan dan yang percaya bahwa Tuhan akan bertindak sesuai dengan waktu dan cara-Nya yang sempurna.

    • Saudara-saudari terkasih.

    Sikap iman perempuan Siro-Fenisia adalah teladan yang luar biasa bagi kita semua. Iman yang berani melampaui batas, yang tetap percaya meskipun dihadapkan pada tantangan, yang rendah hati dan penuh penyerahan, dan yang memiliki kuasa untuk mengubah hati Tuhan. Marilah kita meneladani imannya dan membawa segala permohonan kita kepada Tuhan dengan keyakinan yang sama. Semoga kita semua dapat mengalami kuasa iman yang sejati dalam hidup kita dan menjadi saksi kasih Tuhan yang melampaui segala batas.

    Translate »