Browsed by
Month: April 2025

RENUNGAN: TGL. 8 APRIL 2025

RENUNGAN: TGL. 8 APRIL 2025

Rm Ignasius Joko Purnomo O.Carm

Yohanes 8:21-30

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

    Dari dahulu hingga sekarang ini, siapa Yesus itu sebenarnya selalu menjadi pembicaraan, diskusi, bahkan perdebatan yang menarik. Ada orang yang memahami dan megimani bahwa Yesu situ adalah Sang Mesias, Putra Allah yang turun ke dunia, ada yang masih ragu, dan bahkan ada pula yang menolaknya mentah-mentah.

    • Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus kembali menegaskan identitas-Nya di hadapan orang-orang Yahudi.  Ia berkata “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia.” Sebuah pernyataan dan penegasan yang menggemakan nama Allah sendiri, seperti yang dinyatakan kepada Musa: “Aku adalah Aku” (Kel 3:14). Dengan mengatakan “Aku-lah Dia”, Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah sendiri. Tentu ini adalah pengakuan yang sangat berani, yang besar, dan sekaligus yang menjadi alasan mengapa banyak pemuka agama Yahudi menganggapnya menghujat dan ingin membunuh-Nya.
    • Bagi Yesus, peristiwa penyaliban diri-Nya akan membuat banyak orang mengerti dan sadar bahwa Dia benar-benar berasal dari Allah – datang dari atas. Penyaliban-Nya bukanlah  tanda kekalahan, tetapi sebagai tanda kasih dan penyataan kemuliaan-Nya. Justru melalui salib, identitas Yesus sebagai Sang Mesias dan Putra Allah dinyatakan dengan jelas. Di kayu salib, kita melihat kasih Allah yang tidak terbatas, yang rela menderita demi keselamatan umat-Nya.
    • Saudara-saudari terkasih. Dengan sangat jelas Yesus menyatakan bahwa Ia tidak berasal dari dunia ini. Ia datang dari Bapa, dan hanya siapa yang percaya kepada-Nya akan beroleh hidup. Ia mengingatkan setiap orang: “Jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Tanpa iman kepada Yesus, manusia tetap tinggal dalam dosa. Tidak cukup hanya menjadi orang baik atau religius secara lahiriah. Yang menyelamatkan adalah pengenalan dan iman kepada Yesus sebagai Anak Allah, Sang Penebus.
    • Hari ini kita juga diingatkan bahwa Salib adalah pusat iman kita. Dari salib, kita belajar bahwa Allah tidak jauh, bahwa dalam penderitaan dan kegelapan pun, Allah hadir dan bekerja menyelamatkan. Pada saat-saat kita mengalami berbagai persoalan yang membebani hidup kita, mari kita mengarahkan pandangan kita kepada salib Yesus. Di sana kita melihat cinta yang melampaui logika. Kasih yang tidak menuntut balas. Hari ini kita diundang untuk percaya, bukan hanya dengan pikiran dan kata-kata, tapi dengan menyerahkan seluruh hidupku ke dalam tangan-Nya. Ia tidak mau ada dari antara kita yang binasa. Ia ingin kita datang kepada-Nya, agar kita tidak mati dalam dosa, tapi memiliki hidup yang kekal bersama-Nya. Semoga Tuhan memberkati kita semua.
    Kasih dan Pengkhianatan

    Kasih dan Pengkhianatan

    Minggu Prapaskah ke-5 [C]
    6 April 2025
    Yohanes 8:1-11

    Kisah perempuan yang tertangkap dalam berzina merupakan kisah yang sering muncul pada masa Prapaskah, terutama pada Tahun C. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini?

    Sekilas, kisah ini tampak sederhana, namun mengandung pelajaran yang sangat dalam yang perlu kita gali. Meskipun kita sering mengaitkannya dengan belas kasih dan pengampunan Allah, yang tentunya benar, ada hal yang lebih dalam dari sekadar apa yang terlihat. Dalam Alkitab, perzinaan bukan hanya merupakan dosa besar; perzinaan juga merupakan metafora untuk penyembahan berhala, sebuah pengkhianatan rohani yang paling berat. Nabi Hosea, misalnya, dipanggil untuk menikahi seorang wanita yang tidak setia untuk melambangkan relasi Allah yang setia dengan Israel yang tidak setia (Hosea 1-3). Yehezkiel mengutuk Yerusalem dan Samaria sebagai “saudara perempuan yang berzina” karena mengejar ilah-ilah asing (Yehezkiel 23:30). Demikian pula, dalam Perjanjian Baru, Yakobus menegur mereka yang memprioritaskan “persahabatan” duniawi di atas Tuhan, dengan menyebut mereka sebagai “pezina”. (Yakobus 4:4).

    Hubungan antara perzinaan dan penyembahan berhala mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan. Dia tidak menciptakan kita sebagai budak yang dikendalikan oleh rasa takut atau sebagai robot yang tidak berpikiran yang terikat oleh program. Sebaliknya, Dia menciptakan kita sebagai orang yang bebas dan mampu mengasihi, yang menginginkan sebuah relasi kasih dengan kita; hubungan yang dibangun di atas pengabdian dan bukan kewajiban. Dalam istilah mistik, Tuhan mengundang kita untuk menjadi kekasih rohani-Nya, yang berarti kita mengasihi-Nya di atas segalanya dan melayani Dia bukan karena takut, tetapi karena cinta yang dalam dan tulus.

    Salah satu orang kudus yang paling awal berbicara tentang “perkawinan rohani” ini adalah St. Katarina dari Siena. Pada usia enam tahun, ia menyatakan dirinya sebagai mempelai Kristus, menolak pernikahan duniawi untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Pada usia 20 tahun, dia mengalami pernikahan rohani dengan Kristus. Dan cintanya yang luar biasa menyatukannya secara mendalam dengan Kristus sampai-sampai ia ikut merasakan luka-luka-Nya. Dia menerima stigmata sekitar lima tahun sebelum dia meninggal dunia.

    Gereja secara terus-menerus mengajarkan bahwa kita, secara kolektif, adalah Mempelai Kristus. Sama seperti Hawa yang dibentuk dari sisi Adam ketika dia tidur, Gereja lahir dari sisi Yesus yang tertusuk di kayu salib. Melalui pembaptisan, kita dilahirkan kembali sebagai anggota Gereja-Nya, yakni Kekasih-Nya. Melalui Ekaristi, kita dipelihara dan ditopang oleh Tubuh dan Darah-Nya. Oleh karena itu, kasih kita kepada Allah haruslah melebihi segala sesuatu yang lain, dan bahkan kasih kita kepada keluarga dan teman-teman haruslah mengalir dari kasih kita kepada Kristus.

    Inilah sebabnya mengapa lebih mengutamakan sesuatu yang lain di atas Tuhan merupakan perzinaan rohani. Kisah Yesus yang mengampuni perempuan yang berzina menggambarkan kasih dan kerahiman Allah yang tak tergoyahkan dan juga ketidaksetiaan kita. Masa Prapaskah memanggil kita kembali kepada cinta kita yang pertama dan yang paling sejati; satu-satunya cinta yang membawa kebahagiaan abadi.

    Roma
    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Refleksi:
    Bagaimana kita berelasi dengan Allah – sebagai seorang hamba yang taat kepada tuannya, atau sebagai seorang kekasih yang merespon Cinta-Nya? Apakah kita mengasihi Allah di atas segalanya? Apakah kita mengasihi orang lain demi Tuhan? Keterikatan tidak sehat apa terhadap dunia yang perlu kita periksa? Bagaimana kita dapat kembali kepada cinta sejati kita?

    Translate »