Browsed by
Month: February 2026

KETEKUNAN DAN HATI BAPA YANG BAIK

KETEKUNAN DAN HATI BAPA YANG BAIK

Renungan Lubuk Hati
Hari Biasa Pekan Prapaskah I
Matius 7:7-12

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Pernahkah Anda merasa lelah berdoa? Kita sudah meminta, tapi rasanya tidak diberi. Kita sudah mencari, tapi rasanya tidak kunjung bertemu. Kita sudah mengetok pintu berkali-kali, tapi seolah-olah Tuhan sedang tidak ada di rumah.Dalam Injil hari ini, Yesus ingin meyakinkan kita tentang satu hal penting: Tuhan itu jauh lebih baik daripada manusia yang paling baik sekalipun.

Sebuah Cerita: Ayah dan Sepeda Kecil
Ada seorang anak kecil bernama Andi. Suatu hari, Andi merengek kepada ayahnya, “Ayah, aku mau pisau yang tajam itu! Aku mau main potong-potong kayu!” Ayahnya sayang kepada Andi, tapi ayahnya tidak memberikan pisau itu. Kenapa? Karena pisau itu berbahaya bagi Andi. Sebagai gantinya, ayahnya membelikan Andi sebuah sepeda kecil agar Andi bisa bermain dengan aman di halaman. Andi menangis karena dia merasa permintaannya ditolak. Dia berpikir ayahnya pelit. Namun, beberapa tahun kemudian setelah Andi besar, dia baru sadar: “Untung dulu Ayah tidak kasih pisau, kalau dikasih, mungkin jariku sudah putus.”

Apa Pelajaran bagi kita?
Seringkali kita bersikap seperti Andi. Kita meminta “pisau” kepada Tuhan karena menurut kita itu bagus. Tapi Tuhan, sebagai Bapa yang Mahatahu, melihat bahwa apa yang kita minta justru bisa melukai kita. Tuhan tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tetapi Dia selalu memberi apa yang kita butuhkan.

Minta, Cari, Ketok: Ini adalah kata kerja yang aktif. Artinya, doa bukan sekadar duduk diam, tapi sebuah usaha yang tekun. Jangan menyerah hanya karena satu kali doa belum terkabul. Hati Sang Bapa: Yesus berkata, “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia minta roti?” Jika kita yang berdosa saja tahu memberikan yang baik kepada anak kita, apalagi Tuhan? Dia tidak akan memberikan “ular” (hal buruk) saat kita minta “ikan” (berkat).

Di akhir bacaan, Yesus menutup dengan kata-kata yang indah: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Ini adalah kunci. Jika kita ingin Tuhan murah hati kepada kita, kita pun harus murah hati dan penuh kasih kepada sesama selama masa Prapaskah ini.

Masa Prapaskah adalah waktu untuk membangun kembali kepercayaan kita kepada Tuhan. Jika saat ini Anda merasa doanya belum dijawab, jangan berhenti mengetok. Mungkin Tuhan tidak memberikan “pisau” yang Anda minta, tapi Dia sedang menyiapkan “sepeda” yang jauh lebih indah dan aman untuk Anda.
Percayalah, tangan Tuhan tidak pernah tertutup bagi anak-anak-Nya yang bersungguh-sungguh. Tuhan Memberkati. Amin.

RD. Ignasius Adam Suncoko
Imam Diosesan Keuskupan Malang

Hati yang terbuka

Hati yang terbuka

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas 11:29-32

Rabu 25 Februari 2026

Dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, kita bersinggungan dengan banyak tanda. Apa itu tanda? Tanda adalah sesuatu yang kelihatan, representasi dari maksud atau tujuan yang tidak kelihatan, misalnya penunjuk arah, lampu lalulintas, dan lain-lain. Siapa saja yang memahami serta mentaati perintah yang direpresentasikan melalui tanda-tanda tersebut, maka ia akan selamat.

Namun dalam warta hari ini Tuhan Yesus menegur dengan keras orang-orang yang meminta tanda, Orang-orang jaman ini adalah generasi yang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Yunus” [Luk 11:29]. Meminta tanda sebenarnya bukanlah tindakan yang jelek. Karena pada kenyataannya beberapa nabi juga minta tanda kepada Tuhan Gideon (Hak 6:36-40]; Musa [Kel 4:1-9]. Permintaan tanda menjadi tindakan buruk ketika disertai dengan unsur menguji, mencobai. Yesus menyebut generasi yang Ia hadapi sebagai generasi jahat karena meminta tanda (bukti) meskipun sudah menyaksikan banyak mukjizat. Tindakan gerenasi itu menunjukkan kedegilan hati mereka.

Yunus yang berada di dalam perut ikan selama 3 hari, menandakan Anak Manusia akan berada di dalam rahim bumi, dan bangkit pada hari ketiga. Karenanya jika mereka memahami peristiwa Yunus sebenarnya merupakan tanda atau bukti tertinggi. Sebab tanda tersebut merujuk pada kematian dan kebangkitan Yesus. Orang-orang Ninive membuka diri terhadap pewartaan atau peringatan Yunus dan bertobat, maka mereka selamat.

Jika Yunus menjadi tanda bagi orang-orang Ninive, Yesus menjadi tanda nyata keselamatan Allah bagi setiap orang yang percaya. Dialah jalan, kebenaran dan kehidupan. Dialah yang diutus Allah ke dunia agar orang percaya kepadaNya dan beroleh hidup kekal. Di tengah zaman modern, era kecerdasan buatan ini, sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus mengembangkan sikap percaya, membukan hati, menyerahkan diri kepada kehendak dan kemahakuasaan Allah. Jika kita sungguh percaya, berserah kepada Allah, maka kita akan menjadi  pribadi yang dapat dipercaya oleh sesama. Semoga kita semakin mengimani Yesus Kristus, agar kita dapat termasuk di dalam kawanan orang-orang yang percaya dan karenanya kita layak diselamatkan oleh Tuhan.

Translate »