Kasih yang menuntut pengorbanan
Kis 25:13b-21 Yoh 21:15-19
Hari ini kita membaca dalam Injil kisah percakapan antara Yesus dan Simon Petrus, murid kepercayaan-Nya. Yesus melontarkan pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi aku?” Simon Petrus pun menjawab: “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”
Mengenal dan mengasihi Tuhan adalah sikap utama kemuridan kita. Di sini ada keterbukaan untuk dipanggil dan dibentuk oleh Guru yang memanggil kita. Untuk masuk ke dalam diri, mengenal batas-batas kemampuan kita, kelemahan, kegagalan, termasuk rasa bersalah dan pertobatan. Di dalam proses pengenalan diri ini, kemuridan kita diasa, dipertajam dan ditantang.
Namun kemuridan kita harus dilandasi oleh kasih. Yesus secara berulang menanyakan apakah Petrus benar-benar mengasihi Gurunya. Pengakuan iman Petrus dan tindakan heroik untuk membela Gurunya di depan umum, kini diuji kembali. Bukan lagi di depan banyak orang, oleh paksaan dan keberanian untuk membela diri agar dilihat dan dikagumi. Kali ini dalam suasana kedekatan, persahabatan dan kebebasan, kebatinannya diuji. Ia ditantang untuk membuktikan kata-katanya. Apakah kasih yang diucapkannya akan terbukti di dalam hidupnya. Sebab kasih yang sejati memiliki konsekuensi yang besar: mengarahkan kita pada pilihan dan komitmen untuk berkorban.
Panggilan Simon Petrus, seperti juga murid-murid Yesus yang lain, adalah juga panggilan kita. Yesus menuntut dari kita bukan apa-apa, melainkan kasih dan pengorbanan kita. Hanya kasih yang dapat membawa kita mengambil bagian di dalam keilahian hidup Yesus. Hanya kasih yang dapat menuntun kita untuk mengasihi satu sama lain. Kesetiaan kita pada iman hanya akan bertahan jika ada keterbukaan kepada Roh kasih dan kesetiaan Allah sendiri: “Peliharalah domba-domba-Ku.”