TETAP HIDUP DALAM HARAPAN
Kamis, 15 Juli 2021
Matius 11:28-30
Sekarang dunia sedang dilanda pandemi covid-19. Banyak sekali dampak yang telah dimunculkan dari pademi tersebut ; banyak tenaga medis, dan masyarakat yang meninggal dunia, banyak orang kehilangan pekerjaan, para pelajar dan mahasiswa tidak bisa belajar dengan tatap muka, banyak tempat usaha dan perusahaan bangkrut, tempat ibadah untuk sementara banyak yang ditutub, dsb. Dalam situasi semacam ini, semua orang bertanya: “Kapan pandemi ini berakhir?”. Tidak ada orang yang bisa menjawabnya. Dibalik pertanyaan tersebut, semua orang memiliki harapan yang sama agar pandemi tersebut bisa segera berakhir. Realitanya, hingga saat ini, pandemi masih belum berakhir, sebaliknya justru muncul varian-varian yang baru dan datang gelombang kedua dari penyakit tersebut.
Ditengah-tengah wabah yang memilukan ini, kehidupan manusia harus bisa berjalan. Setiap hari orang harus berjuang untuk memperhatankan hidupnya. Sekalipun pandemi masih ada, namun masing-masing tidak boleh menyerah, karena masih banyak hal harus dikerjakan. Oleh karena itu, masing-masing harus tetap berjalan. Apakah yang membuat masing-masing orang tetap miliki semangat untuk berjuang? Seseorang memiliki semangat jika ia memiliki harapan. Dengan demikian harapan adalah motivasi untuk bangkit dan berjuang. Jika orang tidak memiliki harapan, hal itu berarti orang tidak bisa melihat peluang dan kesempatan lagi.
Bagaimanakah menumbuhkan harapan tersebut? Harapan bukan ada di luar diri manusia, tetapi ada di dalam hati dan budi manusia. Oleh karena itu harapan bersumber dari keyakinan atau kepercayaan masing-masing orang. Dengan demikian inti kekuatan harapan ada di dalam diri masing-masing orang, yaitu di dalam hatinya. “ Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari. Engkau akan merasa aman, sebab ada harapan, dan sesudah memeriksa kiri kanan, engkau akan pergi tidur dengan tenteram.”(Ayub 11:17-18). Pandemi dan hal-hal lain lagi bukan menjadi alasan seseorang untuk berputus asa, namun adalah peluang untuk memantapkan harapan dan mempertajam kepekaan dan kesadaraan seseorang untuk berbenah diri demi kehidupan yang lebih baik lagi.
Harapan hadir dalam diri seseorang jika ia memiliki sumber harapan itu di dalam hatinya sendiri, yaitu relasinya dengan Tuhan. Yesus datang untuk menghadirkan harapan bagi manusia. Sekalipun dosa-dosa manusia begitu tak terhitung, namun Yesus datang memberikan pengampunan dosa bagi manusia dan keselamatan. Yang dibutuhkan seseorang untuk menemukan harapannya kembali adalah mau terbuka dan mendengarkan Sabda-Nya. “Marilah, baiklah kita berperkara! Firman TUHAN. Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri ini.”(Yesaya 1:18-19).
Dengan jelas Tuhan Yesus menyatakan kerinduan-Nya agar setiap orang tetap memiliki harapan di dalam hidup. Oleh karena itu, Dia mengajak semua orang untuk datang dan percaya kepada-Nya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:28). Yesus Kristus telah mengalahkan segala penyakit dan maut/dosa dengan pengorbanan di atas kayu salib dan bangkit mulia untuk membawa semua orang pada kehidupan baru. “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”(Mat 8:17)
Serawai, Rm. Didik Setiyawan, CM