TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ORANG YANG PERCAYA
Jumat, 16 Juli 2021
Matius 12:1-8
Manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari Allah, karena manusia ada dan hidup berkat kehidupan yang diberikan oleh Allah. Olah karena itu relasi antara manusia dan Allah adalah hal yang tidak bisa dipisahkan, dan justru harus semakin disadari, agar setiap orang samakin hidup sejalan dengan kehendak Allah. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”(Efesus 2:10). Tidak jarang banyak orang sudah lupa atau bahkan tidak menyadari keterkaitannya dengan penciptanya. Apa tandanya? Tandanya yaitu ketika manusia membuat suatu keputusan dan tindakan, yang hanya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan materi, untung-rugi, dan hal-hal profan lainnya. Sementara itu pertimbangan dari sudut Allah dan kemanusiaan diabaikan. Namun jika seseorang sudah mampu menempatkan Allah menjadi bagian dari hidupnya, maka ia akan berpikir dan bertidak sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh Allah yang penuh kasih dan Adil. Jika apa yang diputuskan dan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang melawan nilai-nilai universal yang dimiliki oleh Allah, maka dengan sendirinya ia atau mereka melawan kehendak Allah.
Dengan demikian seseorang akan bisa semakin dekat dengan Allah ketika hidupnya sejalan dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah adalah apa yang telah diberikan Allah kepada manusia, yaitu belas kasihan. “Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.”(Mat 12:7). Oleh karena itu, ketika seseorang bersikap dan bertindak dengan murah hati dan adil kepada sesama, terlebih kepada mereka yang lemah dan menderita, ia melakukannya untuk Allah juga. “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudar-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”(Mat 25:40). Allah telah terlebih dahulu berbelas kasihan kepada manusia dan Dia hadir dalam diri Yesus Kristus Putera-Nya dan telah menyatakan belas kasihan-Nya yang tidak terbatas kepada manusia. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”(Yoh 3:17).
Ketika seseorang ada bersama dengan Kristus, maka ia akan dihidupi jiwa dan raganya oleh Kristus, sehingga ia bisa menjadi saksi Kristus dengan hidup seperti Kristus. “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula, bersama-sama dengan Aku.”(Yoh 15:27). Orang beriman tidak berjalan sendirian, sebab Roh Kudus akan selalu menyertainya. Segala yang dilakuakan oleh orang beriman bersumber dari relasinya dengan Kristus. Oleh karena itu, ia akan mampu menghadapi dan melakukan yang bagi manusia tampaknya mustahil, namun bagi mereka yang percaya, semuanya menjadi mungkin. Hal yang sering kali sulit dilakukan orang banyak orang adalah bermurah hati dan memaafkan sesamanya. Karena kekuatan Roh Kudus, maka hal itu bisa dilakukan oleh orang yang percaya. “Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada mustahil bagi orang yang percaya.”(Mrk 9:23).
Serawai, Rm Didik Setiyawan, CM