BERTEKUN DALAM IMAN
Sabtu, 17 Juli 2021
Matius 12: 14-21
Allah peduli dengan segala derita dan kesulitan umat-Nya. Bagimana cara Allah peduli bisa dilihat secara nyata dengan apa yang telah dilakukan oleh Putera-Nya Yesus Kristus. Sejak manusia terlempar dari taman firdaus karena jatuh dalam dosa, hubungan antara manusia dan Allah menjadi rusak, karena manusia tidak setia. “Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.”(Kej 3:24). Namun Allah tidak kemudian membiarkan manusia hidup dibawah perbudaan dosa, maka Dia mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus untuk memulihkan hubungan yang sudah rusak tersebut, lewat korban Kristus di atas kayu salib, sebagai tanda bahwa Allah berbelas kasihan kepada seluruh umat manusia. “Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.”(Kolose 1:20).
Dengan demikian melalui Yesus Kristus harapan akan keselamatan dibuka kembali dan manusia tidak lagi dibawah kendali dosa, sebab kini Roh Kudus menyertai dan menuntun ke jalan yang benar. Jalan dan kesempatan yang sudah ada di depan mata setiap orang, yaitu Yesus Kristus, Sang Jalan yang menuju keselamatan. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6). Dengan pilihan bebasnya manusia harus memilih, apakah memilih jalan kepada kehidupan atau sebaliknya? Proses memilih bukan sesuatu yang mudah, sebab masing-masing orang dituntut untuk bisa mempertanggung jawabkan pilihannya dengan cara berani menyangkal diri dan memanggul salibnya setiap hari. “Kata Yesus kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”(Luk 9:23).
Saat ini, terasa bahwa pandemi covid 19 telah melumpuhkan sebagian sendi-sendi kehidupan masyarakat dan negara. Apakah ini adalah salib yang harus dipikul? Salib adalah tanda suatu pengorbanan. Ketika seseorang berkorban demi suatu nilai yang luhur dan suci ; membela kehidupan, menegakkan kebenaran, keadilanan, sikap rendah hati, murah hati, pengampunan, kepedulian dan kedamaian untuk semua orang. Dengan pengorbanan Yesus yang rela menderita, disalibkan dan wafat, Dia telah menebus dosa-dosa manusia, sehingga harapan dibuka kembali untuk keselamatan umat manusia. Pandemi Covid dan hal-hal lain yang menjadi tantangan hidup adalah realita yang harus dihadapi. Semua itu bisa menjadi jalan menyadari arti menjadi murid Kristus, yang tidak bisa lagi hanya mengandalkan diri sendiri. Dengan demikan seseorang terdorong untuk semakin dekat dengan Tuhan, dan membuka diri juga untuk peduli dengan sesamanya yang menderita.
Kristus telah datang dan hadir di antara manusia. Kehadirannya adalah harapan bagi semua orang. “Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap” (Mat 12:21). Oleh karena itu, saat seseorang berjalan bersama Kristus, maka ia tidak akan kehilangan harapan. Harapan akan terus mengalir dari dalam diri seseorang, karena iman yang ia hayati. Harapan bersumber dari Allah yang selalu berbelas kasihan untuk umat-Nya. “Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.”(Kis 14: 22).
Serawai, Rm. Didik Setiyawan, CM