HATI YANG RINDU

HATI YANG RINDU

Rabu, 1 September 2021

Lukas 4:38-44

            Yesus menyatakan bahwa kehadiran-Nya adalah untuk mewartakan Kerajaan Allah. “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.”(Luk 4:43). Dengan demikian melalui Yesus Kristus, Allah menyatakan belas-kasihan kepada manusia. Mengapa manusia  perlu menerimanya? Karena jika melihat dosa-dosa yang telah dilakukan oleh manusia, maka manusia sudah tidak layak untuk menerima keselamatan, sebab dengan dosa yang begitu berat, mereka sendiri telah menolak Allah. Akan tetapi Allah tidak akan bisa mengingkari diri-Nya yang adalah Kasih dan setia, maka Dia dengan kehendak-Nya sendiri mengulurkan tangan-Nya kepada manusia lewat Yesus Kristus dan menyelamatkan mereka. “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh kasih karunia-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita oleh kasih karunia kamu diselamatkan.”(Efesus 2: 4-5).

            Oleh karena itu, bukan manusia yang menentukan keselamatan, tetapi Allah yang mampu menjadikan semua kembali menjadi baik dan mengampuni dosa-dosa manusia sehingga mereka beroleh kasih karunia dan keselamatan. Tidak sedikit orang yang merasa dirinya lebih layak, sudah merasa lebih baik dari pada yang lain, sehingga mereka merasa dekat dengan Allah. Sikap yang dibutuhkan bukan sikap sebagai orang yang sudah merasa baik dan benar, jika seseorang mau menerima berkat dan keselamatan dari Allah. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”(Efesus 2:8). Sikap yang dibutuhkan untuk menerima Kerajaan Sorga,  justru sebaliknya, yaitu sikap yang didorong hati yang miskin, artinya hati yang tidak pantas di hadapan Allah, serta hati yang rindu serta haus akan belas-kasihan dan pengampunan dari Allah. “Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”(Mat 5:3).

            Dengan demikian, kesombongan adalah hambatan yang terbesar dalam mengalami kebaikan, damai, kasih dalam Kerajaan Allah. Artinya jika seseorang mampu berdiri sendiri, merasa lebih dari yang lain dan merasa sudah cukup dengan dirinya sendiri sehingga tidak merasa membutuhkan belas-kasih Allah, maka ia menutup sendiri pintu hatinya untuk menerima berkat dan keselamatan dari Allah. Orang yang rendah hati adalah pribadi yang siap untuk menerima kabaikan dan kasih Tuhan. Mereka yang rendah hati adalah orang yang tidak lagi memegahkan dirinya dihadapan Allah dan manusia, sebaliknya mereka yakin bahwa damai dan sejahtera ada di dalam kedekataannya dengan Allah. Karena imannya tersebut maka ia selalu haus/rindu akan belas kasih Kristus Yesus. Di dalam Dia, ia menemukan tujuan akhir hidupnya. “Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberikan minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.”(Wahyu 21:6).

                                                                                                                                             Serawai, Rm. Didik, CM

Comments are closed.
Translate »