IMAN YANG BERBUAH

IMAN YANG BERBUAH

Kamis, 2 September 2021

Lukas 5:1-11

            Simon Petrus menunjukkan sikap imannya ketika ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Yesus dan melaksanannya. Apa yang tidak mungkin terjadi menurut akal budi manusia, namun bisa terjadi, karena Simon percaya kepada Tuhan Yesus. “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga. Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.”(Luk 5:5-6). Terjadilah mujizat atau keajaiban ketika seseorang sungguh mengandalkan Tuhan dan percaya kepada-Nya.

            Bagaimana agar seseorang bisa memiliki iman yang kuat seperti dimiliki oleh Petrus? Titik tolak seseorang untuk percaya berawal dari Allah, dan bukan dimulai dari pemikiran diri sendiri. Simon Petrus percaya kepada Tuhan Yesus, karena ia berani menaruh harapannya bukan pada dari pemikirannya sendiri, namun pada Sabda Tuhan Yesus yang diucapkan-Nya. Dengan demikian ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, maka ia melepaskan ikatan dari pemikiran yang ada di dalam dirinya, kemudian menyerahkan hidup, dan harapaannya kepada belas kasih Allah dan kuasa-Nya.  Di dalam diri seseorang yang percaya akan terjadi proses pertobatan, artinya perubahan sikap dan tindakan dari berfokus pada diri sendiri beralih berfokus pada Allah pusat hidupnya. Setelah itu, mereka yang percaya kepada Kristus hidup di dalam Kristus, dan segala yang dipikirkan dan yang dilakukan sama seperti yang dipikirkan dan dilakukan oleh Kristus Yesus. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”(Filipi 2:5).

            Harapan Yesus Kristus kepada para murid-Nya adalah agar mereka mengenal, percaya dan mau mengikuti-Nya. Dengan percaya dan mengikuti Kristus, maka mereka hidup di dalam Kerajaan Sorga.  Mujizat-mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus juga bertujuan agar semua orang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, sehingga mereka bisa masuk dalam Kerajaan Sorga. “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3:14-15). Dengan demikian menjadi murid-murid Kristus, bukan berhenti pada pencarian diri sendiri dengan segala keinginannya, namun menjadi alter Kristus (menyerupai Kristus) agar lewat mereka banyak orang percaya kepada Yesus dan diselamatkan. Mengapa Yesus harus memilih dua belas rasul-Nya, dan mengapa mereka diutus pergi mewartakan Injil ke seluruh penjuru dunia? Jika seseorang tahu maksud Yesus Kristus, maka ia akan siap untuk membawa Kristus dimana pun ia berada, dan ambil bagian dalam panggilan mewartakan Karajaan Allah.”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”(Mat 28:19).

            Dalam masa ini, apakah seruan Tuhan Yesus untuk pergi mewartakan Injil tersebut masih membakar semangat murid-murid Kristus? Tidak jarang mereka yang telah percaya lebih asyik tenggelam di dalam arus mencari menyamanan dunia, sehingga lebih fokus pada urusan diri masing-masing. “Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.”(Luk 8:14). Iman menjadi mandul, artinya tidak berbuah, jika iman tersebut hanya disimpan dan dipendam untuk diri sendiri. Hal itu, bukan dimaksudkan oleh Tuhan, sebab Dia ingin bahwa iman itu bisa berbuah dan buahnya lebat. “Dan Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah serratus kali lipat.”(Luk 8: 8).

                                                                                                                                                               Serawai, Rm. Didik, CM

Comments are closed.
Translate »