Tidak cukup hanya persekutuan doa
Senin, 6 September 2021
Luke 6:6-11
Makna Sabda Allah sebagai Kabar Gembira perlu kita temukan dalam bacaan-bacaan harian, terutama bacaan Injil karena makna sejati dari Injil adalah Kabar Sukacita (euangelion, artinya Kabar Baik). Hari ini kita merenungkan cuplikan kisah perjumpaan Yesus dengan orang yang mengalami kelumpuhan tangan kanan dan juga perjumpaan dengan ahli-ahli taurat. Yesus menghendaki setiap orang mengalami belas kasih Allah, mengalami keselamatan. Dikisahkan pada hari Sabat, Yesus menyembuhkan orang yang mengalami kelumpuhan tangannya. Ahli-ahli taurat dan orang Farisi mengamat-amati apa yang dilakukan Yesus yaitu menyembuhkan orang lumpuh. Mereka mengecam tindakan Yesus karena dianggap melanggar hukum, melanggar tradisi orang Yahudi. Yesus tentu mengetahui dan menyadari apa yang dipikirkan oleh para ahli taurat dan orang farisi. Bagi orang-orang farisi, menjadi suatu kewajiban untuk menguduskan hari sabat. “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” (Kej 20:8) dan “tetaplah ingat dan kuduskanlah hari sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu” (Ul 20:5). Oleh karena itu, tindakan menyembuhkan orang sakit dianggap melanggar hukum. Melalui kisah Injil hari ini, Yesus menegaskan dan meluruskan cara pandang tersebut. Yesus menghadirkan Pribadi Allah yang menyembuhkan, menyelamatkan. Yesus adalah Penyelamat yang membebaskan manusia dari kematian melalui mukjijat penyembuhan. Dengan menyembuhkan orang yang mati tangannya, Yesus menyelamatkan orang yang lumpuh (tak berdaya, terasing, tersingkir). Yesus menjadi tanda kehadiran Allah, Bapa yang penuh belas kasih. Kita melihat keselamatan dan belas kasih dalam diri Yesus Kristus.
Yesus meletakkan keselamatan dan tindakan belas kasih di atas segala peraturan atau hukum taurat. Merayakan hari Minggu sebagai hari Tuhan, dimaknai sebagai perayaan karya keselamatan Allah, karya penebusan Yesus Kristus melalui wafat dan kebangkitanNya. Hari sabat dimaknai sebagai karya keselamatan Allah itu yang dirayakan dan Kabar Gembira yang harus diwartakan. Persekutuan hidup kita bukan hanya persekutuan doa yang terisolir dari kondisi penderitaan, ketidakadilan, kehidupan orang miskin, melainkan persekutuan cinta kasih yang membebaskan: berpihak pada orang yang tertindas, menjadi teman perjalanan bagi mereka yang menderita dan terpinggirkan. Bagaimana menjadikan hari Minggu sebagai hari yang dikuduskan? Tentu tidak cukup hanya berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi tetapi juga berpartisipasi dan terlibat dalam tindakan belas kasih, dengan melayani mereka yang sakit, miskin dan terlantar dan juga di saat yang sama kita juga menemukan sukacita dan kegembiraan dalam mencintai Allah dan sesama. “Hari ini adalah kudus bagi Tuhan Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis” (Neh 8:10).
“Tuhan Yesus, dalam kemenanganMu dan kebangkitanMu, Engkau memberikan kepada kami jaminan keselamatan. Ubahlah hati kami sehingga kami mampu untuk mengasihi dan melayani sesama dan menemukan sukacita sejati”