Senin, 27 September 2021

Lukas 9: 46-50

            Yesus heran dengan apa yang diperbincangkan para murid-Nya. Mengapa Dia heran? Karena selama bersama dengan para murid-Nya, Dia telah menunjukkan cara hidup yang jelas yaitu menekankan pelayanan kasih, kepedulian, dan kerendahan hati. “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan baigi banyak orang.”(Mat 20:28). Akan tetapi,  mengapa justru mereka berdebat soal siapakah yang terbesar diantara mereka? Jadi tidak “nyambung”. “Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.”(Luk 9:46).

            Bagaimana bisa terjadi bahwa para murid melihat tetapi tidak menangkap? Mereka diajak oleh Yesus untuk melayani yang sakit, papa, dan menderita, namun hati mereka ditempat yang berbeda. Tampak ada sesuatu yang hilang sehingga proses menyerapan dan mengendapan Sabda Tuhan dan peristiwa yang dilihat dan dialami tidak menyentuh hati mereka. “Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menangkap.”(Mat 13:14).

            Sesuatu yang hilang yang manjadikan proses internalisasi tidak terjadi adalah hati yang penuh perhatian.  Mengapa tidak ada hati yang perhatian pada Sabda Allah dan belas kasihan-Nya? Karena hati mereka tidak ada di sana, tetapi ada di tempat yang bebeda, yaitu di dalam diri mereka sendiri dengan segala keinginannya. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”(Luk 12:34). Yesus sabar terus mendampingi para murid-Nya sampai akhirnya mereka mengerti, walaupun melalui proses yang panjang. Dan proses itu terjadi karena pertolongan Roh Kudus yang membimbing mereka. “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran. Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.”(Yoh 16:13).

            Oleh karena itu, jika seseorang ingin menyatu dengan Yesus Kristus yang diimaninya, maka tidak ada jalan lain selain mengosongkan dirinya dan membiarkan Tuhan Yesus bersemayam di dalam hatinya. Sikap demikianlah yang diangkat oleh Yesus Kristus ketika menghadirkan anak kecil ditengah-tengah mereka. Yesus mengajak para murid-Nya belajar rendah hati supaya mereka bisa mengosongkan dirinya dalam siap menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus. “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”(Luk 9:48).

Serawai, Rm. Didik, CM