Alhamdulillah – syukur kepada Allah

Alhamdulillah – syukur kepada Allah

Rm 7:19-25a; Lk 12:54-59

Santu Paulus berhadapan dengan sebuah  kontradiksi fundamental di dalam diri dan berjuang untuk mengatasinya: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

Jiwa dan roh beroperasi melalui tubuh insani dan setiap kita berjuang tanpa henti untuk memperoleh kebebasan sejati dari perbudakan ini. St. Paulus menamai pertentangan internal ini sebuah kecenderungan dasar yang dikendalikan oleh kuasa jahat. Secara manusiawi solusi untuk mengatasi kenyataan pahit ini sebetulnya tidak ada karena berada di luar jangkauan atau kapasitas kita: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”

Kita semua yang masih mengenakan tubuh insani dalam arti dan tingkatan tertentu memiliki pengalaman seperti yang dialami Paulus. Ada kontradiksi internal antara keinginan  daging versus keinginan Roh, kebaikan versus kejahatan – hukum Allah versus hukum dosa. Di dalam keadaan paling sulit dan tanpa jalan keluar, manusia harus tunduk dan berpaling kepada Tuhan. “There’s light at the end of the tunnel”: pesimisme harus dilawan dengan kepercayaan diri yang kuat bahwa selalu ada cahaya atau bantuan Tuhan di tengah kemelut hidup!

Tuhan adalah harapan akhir dan hanya Tuhan yang memiliki kata final. Hanya Dialah yang mampu melepaskan kita dari segala kontradiksi dan penderitaan dan menganugerahkan kita kebebasan sejati sebagai anak-anak Allah. Di dalam iman akan Yesus yang wafat di salib, skandal terbesar manusia dan sejarah, ada jalan keluar: “Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Kebangkitan adalah jawaban dan jaminan Allah atas semua pergumulan jasmani dan rohani kita di dunia. Semoga cahaya kebangkitan Tuhan selalu menaungi, membimbing dan memberi jalan keluar dari semua kemelut dan perjuangan hidup kita.

Comments are closed.
Translate »